Senin, 22 Juli 2013

SEJARAH MUNCULNYA KALIMAT “TERPUTUSNYA KETURUNAN” RASULULLAH SAW

Berbicara tentang seluk beluk keturunan Rasulullah SAW tidaklah semudah kita seperti kita membicarakan keturunan keturunan yang lain. Membahas keturunan yang lain, mungkin jarang menimbulkan perbedaan cara pandang, namun ketika orang bertemu dengan pembahasan tentang keturunan Rasulullah SAW ini jadi lain kasusnya, boleh dikatakan jika mau bicara tentang keturunan yang satu ini gampang gampang susah, kenapa demikian? Karena ketika kita bicara tentang klan yang satu ini, ternyata dalam pembahasannya bisa memunculkan pro dan kontra, ada yang mengakui keberadaan mereka dan sebaliknya ada juga yang tidak mengakui keberadaan mereka. Pembahasan akan lebih tajam lagi tentang Garis Keturunan Rasulullah ini bila didapati oleh orang yang kontra bahwa penyambung nasab Rasulullah SAW ternyata dari fihak perempuan dalam hal ini Sayyidatuna Fatimah Azzahra, padahal umumnya garis Keturunan biasanya berasal dari laki-laki. Nah repotnya ketika kedua kubu ini bertemu, yang terjadi adalah justru perdebatan perdebatan panjang yang ujungnya tidak akan pernah selesai. Kenapa bisa terjadi perdebatan perdebatan tersebut yang ujungnya justru tidak berkejuntrungan?, itu karena salah satu fihak tidak punya pengetahuan yang mendalam akan sejarah islam, khususnya sejarah keluarga besar Nabi Muhammad SAW. Tidak jarang saya sering mendengar kalimat-kalimat dengan Nada yang sangat sinis dalam menyikapi adanya keturunan Nabi Muhammad SAW misalnya dengan mengatakan, “keturunan Nabi Muhammad sudah tidak ada lagi”, “keturunan Nabi Muhammad SAW sudah habis dikarbala”, “keturunan Nabi Muhammad SAW cuma ngaku ngaku saja”, “keturunan Nabi Muhammad SAW itu tidak ada, karena Nabi Muhammad SAW anak laki-lakinya sudah meninggal”, “Keturunan Nabi Muhammad SAW itu sudah tidak ada, karena sudah lebih dari 1400 tahun yang lalu, jadi bagaimana mungkin orang mengklaim kalau dirinya adalah keturunan Nabi Muhammad SAW”, “yang namanya Keturunan Itu harus dari laki, lha Nabi Muhammad SAW kan gak ada penerusnya”, “mau keturunan siapa kek, yang penting imannya” (kalimat yang sering saya dengar dari beberapa fihak yang memang dari awalnya tidak senang dengan yang namanya keturunan Rasulullah SAW”, “Mana ada keturunan Nabi Muhammad SAW kayak gitu”, “mana ada keturunan Nabi di daerah anu......”

Kalimat kalimat yang menyatakan keraguan akan keberadaan keturunan NABI MUHAMMAD ini cukup banyak saya temui, bahkan tidak tanggung-tangggung, keraguan akan keberadaan keturunan Rasulullah SAW ini bahkan pernah dilakukan oleh banyak oknum yang katanya ulama-ulama serta sejarawan Islam seperti yang dilakukan oleh Syekh Tonthowi pada tahun 1985. Bahkan sampai saat ini masih didapati dibeberapa negara Timur Tengah masih ada yang tidak percaya bahkan tidak senang dengan adanya pendapat yang menyatakan bahwa keturunan Nabi Muhammad SAW itu ada. Bahkan yang lebih kejam lagi, bagi mereka yang benci dengan keturunan Rasulullah SAW sampai sampai makam keturunan dan keluarga Nabi Muhammad SAW banyak yang mereka hancurkan dan mereka ratakan dengan tanah hanya karena dianggap bisa memunculkan kemusyrikan, contohnya Mekkah dan Madinah yang semua makam keturunan Nabi Muhammad SAW hampir sudah tidak berbekas lagi. Untungnya dibeberapa Negara seperti Yordania, Mesir, Yaman, Irak, Iran, Indonesia, Turki dan Khususnya Indonesia dll masih bisa mempertahankan makam-makam keturunan dari Nabi Muhammad SAW. Di Syiria bahkan belum lama ini ada ulama yang berani pasang badan jika makam Cucunya Rasulullah SAW yaitu Sayyidah Zaenab akan dihancurkan. Kebencian akan keturunan Rasulullah SAW memang sudah lama terjadi, dan itu sudah dimulai pada masa Rasulullah SAW hidup sampai sekarang, dan puncak kebencian kepada keturunan Rasululllah SAW terjadi pada masa Dinasti Bani Umayyah. Pada masa Muawiyah bin Abu Sofyan, kurang lebih 70.000 mimbar jumat diperintahkan untuk mencaci maki Sayyidina Ali yang merupakan ahlul baitnya Nabi. Sampai sampai pada masa itu orang lebih senang disebut kafir daripada disebut sebagai pengikut Sayyidina Ali. Adanya permusuhan kepada keluarga Nabi ini menyebabkan banyak dari mereka menyingkir dan menyebar keberbagai belahan dunia..

Tidak jarang dari sikap yang ragu akan keberadaan keturunan Nabi Muhammad SAW itu kemudian menjadi sikap benci dan klimaknya adalah antipati. Nah berkaca dari banyaknya fakta yang saya temukan akan sikap sikap yang meragukan tentang keberadaan Keturunan Nabi Muhammad SAW, saya tertarik untuk mengangkat tema tentang sejarah munculnya kalimat atau statement yang menyatakan NABI MUHAMMAD SAW putus keturunannya, hal ini patut kita ketahui, agar kedepannya kita jadi bisa memahami adanya keberadaan keturunan Nabi Muhammad SAW ini...

Adanya ketidak percayaan keturunan Nabi Muhammad SAW ini, rupanya menular juga dinegara kita ini, tidak jarang banyak sekali oknum oknum yang menyatakan bahwa keturunan Nabi Muhammad SAW itu tidak ada. Yang lebih konyol lagi sikap mendustakan keturunan Nabi Muhammad SAW ini bahkan menular kepada beberapa orang yang mengaku “ahli nasab” dengan mengatakan jika nasab walisongo yang merupakan keturunannya Rasulullah SAW juga putus. Bahkan yang lebih aneh bin Ajaib Syekh Abu Hasan Assadzili dan Syekh Abdul Qodir Jaelani saja mereka katakan nasabnya tidak jelas...Gila!!! kedua ulama besar yang merupakan rajanya Ulama pada masa itu nasabnya dituduh palsu dan coba diutak utik oleh banyak manusia munafik yang tidak mengerti ilmu nasab. Menyikapi adanya pengingkaran terhadap Keturunan Nabi ini, Prof Dr. Hamka pernah mengatakan ketika ditanya seseorang dengan pertanyaan “ BENARKAH HABIB ALI KWITANG DAN HABIB SOLEH BIN MUHSIN ALHAMID ADALAH KETURUNAN NABI MUHAMMAD SAW?” . Mendapat pertanyaan tertulis itu HAMKA langsung menjawab “bahwa keberadaan Keturunan Nabi Muhammad SAW itu memang ada, bahkan di Indonesia ini merupakan negara yang sangat banyak keturunannya Nabi Muhammad SAW”. Hamka bahkan tegas mengatakan bahwa ia sangat marah jika ada orang yang sok usil utak atik nasab keluarga besar Nabi Muhammad SAW, menurut Hamka, “JANGANKAN NASAB NABI MUHAMMAD SAW, NASAB SAYA SAJA YANG SAYA KETAHUI HANYA SAMPAI 7 KETURUNAN, SAYA AKAN MARAH MARAH BILA DIUTAK UTIK, APALAGI INI NASABNYA RASULULLAH YANG JUSTRU SUDAH 30 ATAU 40 GENERASI” . Bayangkan Prof Dr Hamka yang merupakan ulama besar Indonesia berkata demikian. Dan Prof Dr Hamka menurut saya tidak perlu berkecil hati dengan Nasabnya, karena siapa bilang beliau nasabnya hanya sampai 6 atau 7 generasi saja..bukankah ia juga bernasab kepada............, bukankah ayah dan kakeknya merupakan keturunan........ bukankah nama beliau juga merujuk kepada seorang Ulama besar yang merupakan datuknya walisongo yang berada di Naserabad India? ......(soal nasab Hamka....., ah, biarlah ulama nasab saja yang menjawab nasab beliau....tidak pantas dan bukan kapasitas saya untuk mengungkapkan nasab beliau disini....biarlah Ulama ahli Nasab yang mempelajari dan meneliti nasab beliau tersebut.......)

Adapun sejarah munculnya kalimat “putusnya keturunan Nabi Muhammad SAW” adalah sebagai berikut :

Budaya Arab Jahililiah pada masa itu adalah dalam memandang garis keturunan terutama keturunan laki-laki, selalu mendapat posisi yang sangat mulia, kedudukan laki-laki adalah mutlak dan terhormat pada bangsa Quraish, tidak punya anak laki-laki pada masa itu, adalah aib yang besar, apalagi jika ia adalah seorang pemuka quraish..Tidak punya anak laki-laki itu adalah nista dimata bangsa Quraish, bahkan tidak jarang dengan sikap jahiliah mereka, ketika beberapa dari mereka mengadopsi seorang anak laki, maka anak laki-laki yang diadopsi itu akan dijadikan sebagai penerus keturunan, artinya anak hasil adopsi atau anak angkat itu dijadikan garis nasab. Bangsa Arab pada masa itu khususnya Kaum Quraish menganggap bahwa kematian seorang anak laki-laki berarti putus keturunan. Kalau seseorang yang pada masa itu itu anak laki-lakinya meninggal dan dia tidak punya lagi anak selain anak perempuan, maka orang tersebut menjadi terhina dimata bangsa Quraish, Orang yang tidak punya keturunan laki-laki dalam pergaulan akan selalu tersisih dan dilecehkan. Begitu kuatnya akan budaya pengagungan akan anak laki-laki, sampai sampai bagaimana caranya setiap orang dari suku quraish berusaha terus menerus mendapatkan anak laki-laki.

Nah dengan budaya akan pengagungan anak laki-laki ini, Nabi Muhammad SAW yang beristrikan Sayyidatuna Khodijah Al Kubra juga ternyata merasakan kebahagiaan ketika mendapatkan anak laki-laki, Beliau Rasulullah SAW sebagai seorang ayah cukup berbahagia ketika memperoleh anak laki-laki. Beliau berharap kelak putra putranya itu menjadi penerus perjuangan dakwah beliau. Rasulullah SAW sendiri dari istri beliau yaitu Sayyidatuna Khadijah Al Kubra mempunyai putra dan putri yaitu Zainab, Ruqayyah, Ummi Kalsum, Fatimah Azzahra, Qosim, Abdullah (beliau wafat masih kecil), ada juga sejarawan Islam yaitu Ibnu Hazm yang menyebut nama Ibrahim sebagai anak Rasulullah SAW. Ibrahim sendiri adalah anak dari istri Rasulullah SAW yang bernama MARIYAH AL QIBTHIYYAH. Artinya keberadaan Ibrahim setelah wafatnya anak laki laki Rasulullah SAW dari rahim Siti Khadijah Al Kubra. Namun dari kesemua anak laki beliau ini, yang mahsyur adalah Qosim ini karena kelak dari Qosim inilah turunnya surat al quran, sehingga tidak jarang Rasulullah SAW sering dipanggil dengan gelar ABUL- QOSIM. Nah saat Rasulullah SAW sedang menikmati kebahagiaannya sebagai seorang ayah dari anak anak beliau tersebut, ternyata Allah berkehendak lain. Abdullah wafat saat masih kecil.....Namun yang lebih mengguncang hati dan perasaan RasulullahSAW ketika Qosim yang sedang lucu-lucunya tidak lama kemudian dalam usia 6 tahun wafat melalui sakit.....Betapa sedih hati Nabi Muhammad SAW ketika mendapati keadaan jika anak laki-laki terakhirnya wafat. Tidak terbayang bagaimana perasaan Rasulullah SAW saat itu. Disaat Rasulullah SAW sedang berduka, tiba tiba ada beberapa orang kafir Quraish mengeluarkan pernyataan yang menyakitkan hati Rasulullah SAW dengan mengatakan bahwa “MUHAMMAD KETURUNANNYA SUDAH TERPUTUS.....”. Salah satu manusia kurang ajar yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW keturunannya terputus adalah AL’ASH bin WA’IL AS SAHMY. Manusia kurang ajar yang satu ini sering mengucapkan didepan khalayak ramai dengan ucapan “DIA (MUHAMMAD) ADALAH ORANG YANG PUTUS KETURUNAN (TIDAK AKAN PUNYA KETURUNAN), BILA IA SUDAH MATI KITA TIDAK AKAN BERHADAPAN DENGAN KETURUNANNYA DAN KALIAN AKAN DAPAT BERISTIRAHAT DARI GANGGGUANNYA...”. Begitu mendengar hinaan ini betapa hancur dan sedihnya hati Rasulullah SAW. Pernyataan AL Ash bin Wa’il As-Sahmy ini bahkan ditambahkan dan diperkuat lagi oleh UQBAH BIN ABI MU’AIT dengan mengatakan “TIDAK SEORANG ANAK LAKI-LAKIPUN YANG HIDUP BAGI MUHAMMAD, SEHINGGA KETURUNANNYA TERPUTUS”, sudahkah berhenti hinaan ini? Belum.....masih ada lagi yaitu hinaan yang datang dari AL-WALID BIN AL-MUGHIRAH dan biang kerok kafir quraish, siapa lagi kalau bukan si Dungu alias ABU JAHAL, kedua orang ini mengatakan “LIHATLAH, MUHAMMAD TIDAK AKAN PUNYA KETURUNAN”. Tidak bisa dibayangkan betapa tersayatnya hati Rasulullah SAW mendengar hinaan dan caci maki ini. Namun Allah SWT rupanya tidak membiarkan Hambanya yang mulia ini bersedih, tidak lama kemudian turunlah ayat yang membantah pernyataan AL’ASH bin WA’IL AS SAHMY, yaitu SURAT AL KAUTSAR 1-3 yang berbunyi : SESUNGGUHNYA KAMI (ALLAH) TELAH MELIMPAHKAN BANYAK NIKMAT KEPADAMU (HAI MUHAMMAD), MAKA TEGAKKANLAH SHOLAT KARENA TUHANMU DAN BERKORBANLAH, ORANG YANG MEMBENCIMU ITULAH YANG SEBENARNYA PUTUS (DARI RAHMAT ALLAH). Beberapa ulama ahli tafsir seperti Imam As-Suyuthi dalam kitabnya “Asbabun Nuzul” dan dalam kitab tafsirnya “Ad-Dur Al Mantsur” bahwa keturunan Nabi Muhammad SAW tidak terputus justru yang terputus keturunannya adalah orang orang yang menghina Nabi Muhammad SAW tersebut. Selain imam Assuyuti SURAT AL-KAUTSAR ayat 1-3 banyak diriwayatkan, bantahan dari surat Al Kautsar ini juga diantaranya misalnya diriwayatkan oleh Ibnu Jabir yang bersumber dari Syammar bin Athiyah, Ibnu Mundzir yang bersumber dari Ibnu Juraij. Terutama ayat 3 Yaitu INNA SYAA NIAKA HUWAL ABTAR, adalah merupakan jawaban penegasan untuk mereka yang sudah menghina Nabi. Kata “ABTAR” pada akhir surat tersebut antara lain bermakna “ORANG YANG TERPUTUS KETURUNANNYA “. Kata “ABTAR” dimaksud tidak bermakna lain selain keturunan. Dan sejarah membuktikan, bahwa orang orang yang pernah menghina Nabi Muhammad SAW, keturunannya terputus semua...beberapa tokoh Quraish yang menghina Nabi Muhammad SAW, mereka terputus keturunannya, Abu Jahal (si dungu) keturunannya terputus, anaknya Ikrimah tidak melanjutkan nasabnya, Ikrimah justru masti syahid dalam peperangan, Allah masih mentakdirkan anak abu jahal selamat dari pengaruh bapaknya. Al Ash bin Wa’il As-Syahmi juga putus keturunannya. Salah satu anaknya adalah tokoh Islam yang bernama Amr bin Al Ash. Amr bin Al Ash adalah salah tokoh yang ikut menjatuhkan Imam Ali bin Abi Thalib dalam perundingan Tahkim, Amr bin Ash terkenal licin, cerdik, lihai dan licik dalam dunia politik. Amr bin Al Ash berhasil mengalahkan Abu Musa Al Asyari dalam perundingan tahkim. Amr bin Al Ash dalam sikap politiknya lebih cenderung mendukung muawiyah bin Abi sofyan, apalagi dukungan Amr bin Al Ash ini karena amr bin AL ‘ASH dijanjikan wilayah mesir oleh Muawiyah bin Abu Sofyan. Sikap Amr bin Al Ash banyak tidak disukai oleh para pendukung Imam Ali dan para sahabat Imam Ali yang jujur, termasuk Abdullah bin Abbas yang sangat mengetahui persis siapa amr bin Al ash ini sebenarnya, Abdullah bin Abbad sangat khawatir dengan Amr bin Al Ash ini dan terbukti, pada saat perundingan, ternyata kelicikan amr bin al ash berhasil mengecoh abu musa al asyari yang memang tikipalnya polos dan jujur. Kalahnya perundingan politik ini menyebabkan kedudukan Imam Ali makin lemah dan akhirnya kelak berhasil direbut oleh muawiyah melalui tangan anak Imam Ali yaitu Sayyidina Hasan. Mengenai Amr Bin Al Ash ini tidak diketahui keturunan dia mempunyai keturunan yang berlanjut apa tidak, yang jelas sikapnya yang pro kepada Muawiyah menyebabkan Banyak orang sakit hati.

Bagaimana dengan generasi selanjutnya pasca wafatnya anak Nabi Muhammad SAW yaitu Qosim atau Ibrahim dan hubungannya dengan Surat Al Kautsar itu? ternyata setelah hinaan hinaan tersebut muncul, justru Rasulullah SAW melalui anaknya SAYYIDATUNA FATIMAH melahirkan SAYYIDINA HASAN dan SAYYIDINA HUSEIN yang kelak memiliki banyak keturunan dan tidak terputus sampai sekarang!!!. Mereka keturunan Al Imam Hasan dan Al Imam Husein menjadi generasi penerus NASABNYA RASULULLAH SAW hingga saat ini. Surat AL Kautsar ayat 3 membuktikan bahwa keturunan Rasulullah SAW hingga kini langgeng pada saat ini. SAYYIDATUNA FATIMAH dengan pernikahannya dengan IMAM ALI bin ABI THALIB mendapat kehormatan sebagai wanita satu satunya penyambung nasabnya Rasulullah SAW dan hal ini ditegaskan oleh Rasulullah SAW dengan mengatakan “SEMUA ANAK ADAM BERNASAB KEPADA ORANGTUA LELAKI (AYAH MEREKA), KECUALI ANAK-ANAK FATIMAH.AKULAH AYAH MEREKA DAN AKULAH YANG MENURUNKAN MEREKA” (seperti yang terdapat pada tafsir al manar oleh syekh muhammad abduh), juga sebuah Hadist yang berbunyi “semua sebab dan nasab putus pada hari kiamat, kecuali sebab dan nasabku (HR attobroni, Alhakim, Al Baihaqi)”, Dan pernyataan Rasulullah SAW ini juga dipertegas lagi dengan Hadist beliau yang berbunyi “DUA ORANG PUTRAKU (maksudnya adalah Al Hasan dan Al Husein) adalah Imam-imam baik disaat mereka sedang duduk maupun sedang berdiri” (terdapat dalam kitab Al Ahkam-Imam Bukhari, dan Al Imarah oleh Imam Muslim. Nah Rasulullah SAW dalam berbagai hadist tentang Ahlul Bait sering menyebut kedua cucunya adalah “PUTRA-PUTRAKU”. Kalimat “PUTRAKU-PUTRAKU (ANAK ANAK KAMI)” biasanya hanya disebutkan sebagai sebuah hubungan garis nasab. Nah dengan adanya kalimat penyebutan bahwa Al HASAN dan AL HUSEIN sebagai “PUTRA-PUTRA” RASULULLAH SAW maka berarti dengan dengan tegas dan diperkuat dengan adanya SURAT AL KAUTSAR maka keturunan Rasulullah SAW ada dan eksis. Sayyidatuna Fatimah Azzahra (azzahra/wanita berkilau atau bercahaya) memang wanita Istimewa dimata Rasulullah SAW. Bahkan Rasulullah SAW mengatakan dalam Hadist Riwayat Ahmad dan Alhakim bahwa Sayyidatuna Fatimah adalah “wanita wanita penghuni surga yang paling afdhol disamping juga Khadijah binti Khuwalid, Maryam binti Imron dan Asiyah binti Muzahim...Sayyidatuna Fatimah adalah orang yang paling mirip Rasulullah SAW dari mulai wajah, kulit, Rambut ,cara berjalan dan tentu ahlaknya. Beliau Sayyidatuna Fatimah Azzahra bahkan dijuluki “UMMU ABIHA” karena Rasulullah SAW melalui wahyu sudah mengetahui hanya Fatimahlah diantara putra putrinya yang akan meneruskan keturunannya. Dan dalam beberapa riwayat beliau ini selama hidupnya tidak pernah mengalami menstruasi atau haid serta nifas sehingga ibadah yang beliau lakukan tidak pernah terputus karena adanya halangan tersebut.....Subhanallah.....Allahu Akbar!!! , Tidak haid dan nifasnya Sayyidatuna Fatimah ini bukanlah karena penyakit, namun itu adalah salah satu mukjizat Rasulullah SAW, dan bagi Allah tidak ada yang tidak mungkin, sekalipun ribuan teori mengatakan seorang perempuan haruslah haid karena anatomi tubuhnya, namun untuk wanita terbaik yang satu ini adalah sebuah pengecualian! dan itu adalah bentuk Mukjizatnya Rasulullah SAW. Adanya kondisi yang tidak haid menyebabkan Rasulullah SAW memberikan gelar khusus kepada Sayyidatuna Fatimah dengan gelar “AL-BATUL” (salah satu maknanya adalah “ORANG SUCI”), pantaslah jika beliau dijadikan tali penerus dan penyambung keturunan Rasulullah SAW. Rasulullah SAW dalam menyayangi Sayyidatuna Fatimah betul betul luar biasa, Beliau berkata “FATIMAH ADALAH BAGIAN DARIKU, APA YANG MEMBUATNYA MARAH MAKA MEMBUATKU MARAH (HR RIWAYAT BUKHARI, TURMUZI, AHMAD,HAKIM)”. Dalam kehidupan Sayyidatuna Fatimah Azzahra, beliau tidak mengenal yang namanya kemewahan, bahkan mengenakan kalung saja menjadi pantangan. Dari segi materi keluarga Sayyidatuna Fatimah dan Suaminya Imam Ali bin Abi Thalib sangatlah miskin, tapi apabila dilihat dari sisi lain keluarga Sayyidatuna Fatimah dan Imam Alilah yang paling berkah diantara putra putri Rasulullah SAW yang lain, bagaimana tidak? Hanya dari keturunan merekalah yang masih berlanjut hingga kini.

Adapun sejarah keturunan Rasulullah SAW melalui Al Hasan dan Al Husein terus berkembang dan menyebar kemana mana, namun memang dari sekian anak anak dari Al Hasan dan Al Husein hanya beberapa saja yang nasabnya hingga kini masih terjaga, sedangkan anak anak mereka sebagian besar tidak meneruskan garis nasabnya dikarenakan tidak punya keturunan atau wafat saat belum menikah. Keturunan Sayyidina Husein sendiri hanya melalui jalur Imam Ali Zaenal Abidin/Ali Assajad/Ali Al Ausath. Imam Ali Zaenal Abidin adalah satu satunya saksi hidup peristiwa pembantaian karbala, Imam Ali Zaenal Abidin adalah satu satunya anak Sayyidina Husein yang selamat dari pemusnahan kejam Yazid bin Muawiyah. Sedangkan anak Sayyidina Hasan yang meneruskan garis nasabnya adalah Hasan Mutsanna dan Muhammad Al Hanafiah. Sampai saat ini keturunan Rasulullah SAW masih terus bertahan, dan jumlahnya puluhan juta orang diseluruh dunia.

Daftar Pustaka
Abdussalam Al Hinduan, Rasulullah SAW Mempunyai Keturunan & Allah Memuliakannya, Surabaya, Penerbit Cahaya Hati, Tahun 2008
HMH Alhamid AL Husaini, Riwayat Kehidupan Nabi Besar Muhammad SAW, Jakarta, Penerbit Alhamid Alhusaini Press, Tahun 1990.
HMH Al Hamid Al Husaini, Rumah Tangga Nabi Muhammad SAW, Jakarta, Penerbit Pustaka Hidayah, Tahun 2009.
Umar Muhdor, Tuntutan Tanggung Jawab Terhadap Ahlul Bait Dan Kafa’ahnya, Jakarta, Yayasan Nusantara , Penerbit Yayasan Nusantara, Tahun 1999.
HMH Al Hamid Alhusaini, AlHusain bin Ali RA Pahlawan Besar dan kehidupan Islam pada Zamannya, Semarang, Toha Putra, 1978.

1 komentar:

elfizonanwar mengatakan...

APAKAH ADA KETURUNAN AHLUL BAIT?


Dalam Al Quran yang menyebut kata 'ahlulbait', rasanya ada 3 (tiga) ayat dan 3 surat.


1. QS. 11:73: Para Malaikat itu berkata: "Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait. Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah".


Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna 'ahlulbait' adalah terdiri dari isteri dari Nabi Ibrahim.


2. QS. 28:12: Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusukan(nya) sebelum itu; maka berkatalah Saudara Musa: 'Maukahkamu aku tunjukkan kepadamu 'ahlulbait' yang akan memeliharanya untukmu, dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?

Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna 'ahlulbait' adalah meliputi Ibu kandung Nabi Musa As. atau ya Saudara kandung Nabi Musa As.


3. QS. 33:33: "...Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu 'ahlulbait' dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya".


Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya QS. 33: 28, 30 dan 32, maka makna para ahlulbait adalah para isteri Nabi Muhammad SAW.


Sedangkan ditinjau dari sesudah ayat 33 yakni QS. 33:34, 37 dan 40 maka penggambaran ahlulbaitnya mencakup keluarga besar Nabi Muhammad SAW. para isteri dan anak-anak beliau.


Jika kita kaitkan dengan makna ketiga ayat di atas dan bukan hanya QS. 33:33, maka lingkup ahlul bait tersebut sifatnya menjadi universal terdiri dari:


1. Kedua orang tua Saidina Muhammad SAW, sayangnya kedua orang tua beliau ini disaat Saidina Muhammad SAW diangkat sbg 'nabi' dan rasul sudah meninggal terlebih dahulu.


2. Saudara kandung Saidina Muhammad SAW, tapi sayangnya saudara kandung beliau ini, tak ada karena beliau 'anak tunggal' dari Bapak Abdullah dengan Ibu Aminah.


3. Isteri-isteri beliau.


4. Anak-anak beliau baik perempuan maupun laki-laki. Khusus anak lelaki beliau yang berhak menurunkan 'nasab'-nya, sayangnya tak ada yang hidup sampai anaknya dewasa, sehingga anak lelakinya tak meninggalkan keturunan.

Lalu, masih adakah orang yang ngaku 'keturunan' Ahlul Bait itu??? Rasanya yang ngaku masih punya 'keturunan' Ahlul Bait di Indonesia maupun di dunia ya itu adalah keturunan Ali bin Abi Thalib itu kalau nasabnya nyambung.

Jadi orang yang ngaku 'keturunan ahlul bait' adalah bukannya dari keturunan dari Nabi Muhammad SAW. Hal ini sesuai dengan Hadits Nabi Muhammad SAW sbb.:

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:


ليس مِن رجلٍ ادَّعى لغير أبيه وهو يَعلَمه إلاَّ كفر بالله، ومَن ادَّعى قوماً ليس له فيهم نسبٌ فليتبوَّأ مقعَدَه من النار ))، رواه البخاريُّ (3508)، ومسلم (112)، واللفظ للبخاري


“Tidak ada seorangpun yang mengaku (orang lain) sebagai ayahnya, padahal dia tahu (kalau bukan ayahnya), melainkan telah kufur (nikmat) kepada Allah. Orang yang mengaku-ngaku keturunan dari sebuah kaum, padahal bukan, maka siapkanlah tempat duduknya di neraka” (HR. Bukhari dan Muslim).