Jumat, 28 September 2012

PENELITIAN NASAB/SILSILAH DISEMINARKAN???

Seminar, adalah ajang pertemuan antara satu orang dengan orang orang yang lain yang fungsinya untuk bisa meningkatan atau mengukur sebuah tema keilmuan masing-masing (ekonomi, tehnik, politik, psikologi, kedokteran, lingkungan, dll), kemudian jika dimungkinkan hasil dari seminar itu dapat disepakati dan dijadikan sebuah standar atau tolak ukur untuk orang banyak dalam penerapannya . Berbicara seminar, memang kita akan lebih banyak berhubungan dengan dunia akademisi dan ilmu pengetahuan. Bagi yang terbiasa mengikuti seminar-seminar, semakin menarik sebuah tema seminar, maka akan selalu mereka datangi. Saya sendiri dari sejak kuliah sampai saat ini masih sering mengikuti seminar-seminar, mulai dari seminar Psikologi, Agama, Motivasi, Militer, lingkungan. Hasil dari seminar yang saya ikuti, disamping ilmu pengetahuan yang saya dapat, sertifikat yang saya milikipun semakin bertambah, tapi itu sepertinya hanya sebagai hiasan dunia saja, tidak ada yang menarik dari sertifikat-sertifikat itu karena hanya sebuah kertas belaka saja. Namun pada umumnya banyak ilmu yang juga cukup bermanfaat yang saya dapati dari hasil seminar itu...

Nah sekarang apa hubungan dengan tema yang akan saya bahas?

Seperti yang saya katakan pada awal, seminar adalah sebuah pertemuan untuk membahas sebuah tema yang berkaitan kajian kelimuan, dan tema itu bisa dalam berbagai disiplin ilmu, terutama ilmu-ilmu yang berkembang dalam dunia pendidikan. Namun pertanyaannya apakah semua ilmu pengetahuan harus dan bisa diseminarkan??. Apakah semua tema bisa diangkat dan diseminarkan dalam sebuah pertemuan besar atau kecil demi demokrasi dan ilmu pengetahuan (katanya...). Saya kok ragu ya..apakah masih ada yang ingat ketika TV ONE dalam acara INDONESIA LAWYER CLUB, berdiskusi tentang masalah SARA dengan mengundang tokoh-tokoh yang bersengketa. Memang ini bukan seminar, tapi karena ini acara diisi oleh tokoh-tokoh berpendidikan tinggi, maka nuansa pertemuan akhirnya bergeser juga kearah ilmu pengetahuan (walaupun lebih banyak "cuap-cuap" saja... ). Saya sampai khawatir dan ketar ketir ketika menyaksikan bentuk diskusi dan dialog mengenai SARA ini. Menurut saya TV ONE terlalu berani mengangkat tema ini, karena tema ini adalah tema yang paling rawan sejak dulu, pembahasannyapun selalu diadakan ditempat tertutup, ini demi menghindari adanya ketegangan-ketegangan antar golongan. Lha ini malah diadakan diforum terbuka yang ditonton hampir 200 juta orang yang belum tentu semuanya mengerti tema tentang SARA. Saya memahami niat TV ONE yang untuk mencoba mencairkan ketegangan mengenai SARA ini, namun tetap saja tema seperti ini seharusnya dibuat lebih hati-hati lagi.

Bagaimana dengan ilmu nasab? Bagaimana pula dengan hasil penelitian nasab? apakah itu bisa diseminarkan?? sebuah pertanyaan besar yang penting kita bahas...

Kalau secara pribadi saya mengatakan bahwa ilmu nasab terutama hasil penelitian nasabbya tidak perlu diseminarkan. Kenapa demikian? karena ilmu nasab itu berbeda dengan ilmu-ilmu lain, ilmu yang satu ini seolah-olah selalu bergerak dibawah tanah (underground). Ilmu Islam lain seperti Fiqih, tassawuf, tauhid, itu sudah biasa diseminarkan, tapi untuk ilmu nasab, apalagi yang berkaitan dengan hasil penelitian, sebaiknya tidak perlu kearah seminar, karena akan lebih banyak menghasilkan perdebatan yang tidak berujung, apalagi bagi mereka yang tidak memahami ilmu yang satu ini. Pengetahuan ilmu nasab itu berbeda dengan ilmu ilmu lainnya. Tidak semua orang bisa mengikuti dan memahami tema yang satu ini dan ini bukan karena TAKUT!!!, tidak sama sekali!!, buat apa takut terhadap hal yang benar. Tapi karena ini berkaitan dengan ilmu yang langka maka kita harus lebih hati hati. Apalagi pembahasan ilmu nasab hanya dikuasai oleh kebanyakan ulama-ulama tertentu saja (bukan orang awam). sehingga dalam pembahasan hasil penelitian ilmu nasab harus melibatkan orang-orang yang memang faham dengan ilmu nasab, kalau yang tidak faham, dikhawatirkan salah kaprah dalam menyikapi hasil penelitian nasab itu. Bisa jadi karena ketidakfahamannya akan hasil penelitian ilmu nasab itu, akhirnya bisa jadi hasil penelitian itu dia katakan palsu atau mardud, hanya karena ia melihat ada satu catatan yang "salah" menurutnya, padahal orang ini tidak punya sanad dalam ilmu nasab. Padahal penelitian sebuah nasab itu tidaklah enteng, ulama yang meneliti sebuah nasab itu, modal utamanya disamping adanya sanad ilmu nasab, ia juga melakukan penyeleksian data yang sangat ketat, validitas data yang ia perolehpun harus banyak yang shohih. Penelitian nasab juga tidak sama seperti penelitian ilmu pengetahuan yang lain. Hasil Penelitian nasab tidak perlu diseminarkan, walaupun itu nasab tokoh terhormat. Hasil penelitian nasab hanya berguna untuk keturunan dari nasab tersebut, bukan untuk orang lain. Sekali lagi menurut saya tidak semua tema ilmu pengetahuan harus diseminarkan, apalagi dalam jumlah massa yang banyak.. Contoh kasus, apakah tema tassawuf yang kadarnya harus diseminarkan?...Jadi memang kita harus fahami , bahwa tidak semua ilmu pengetahuan wajib dan harus selalu diseminarkan..masih banyak tema-tema yang memang layak diseminarkan.

wallahu a'lam bisshowab....

Tidak ada komentar: