Rabu, 05 September 2012

ARTI SEBUAH GELAR KEBANGSAWANAN BAGI MASYARAKAT DESA GUNUNG BATU DAN MASYARAKAT KOMERING

Gelar bangsawan adalah sebuah simbol atau status hidup diri seseorang apakah ia berada golongan berada (The have) atau golongan rakyat jelata. Dalam kehidupan masyarakat keraton atau kerajaan dulu sikap hidup seperti ini mutlak diperlukan, apalagi memang saat itu sikap hidup feodalistik masih kuat dibumi nusantara ini. Setiap daerah dibumi Nusantara ini utamanya yang memiliki kerajaan, sudah pasti mereka mempunyai sebuah simbol dalam bentuk gelar bangsawan. Tentu gelar bangsawan antara daerah satu dengan yang lain dibumi Nusantara ini tidak sama. Lain lubuk lain ikannya, lain padang lain belalang. Sikap feodalisitik ini terus masih berkembang sampai pada masa tahun tahun 1945 sebelum bergabungnya kerajaan kerajaan dalam bingkai Republik Indonesia. Bahkan sikap seperti ini belum hilang sampai sekarang. beberapa keraton atau kerajaan yang masih eksis sampai sekarang bahkan masih mempertahankan tradisi ini, seperti Kraton Solo dan Kraton Jogya. Bahkan kedua kraton ini diakui oleh beberapa budayawan dan pakar sejarah jawa sebagai lembaga yang sudah "TERAKREDITASI DAN TERSERTIFIKASI" dalam mengeluarkan gelar bangsawan karena perjalanan sejarahnya yang panjang terlepas bila ada sisi buramnya, dan memang setiap kerajaan itu tidak seratus persen sejarahnya bersih, tapi karena kuatnya identitas dua keraton ini mau tidak mau, suka atau tidak suka, dua keraton inilah yang eksis dan mempunyai nama didunia internasional, sehingga bagi orang yang mendapatkan gelar dari dua keraton ini dianggap SAH dan bangga!. Sehingga tidak heran saya pernah melihat ketika ada seseorang tokoh pemuda mendapat gelar bangsawan ini, dia sangat "BAHAGIA" dan bangga dengan gelar bangsawan tersebut, seperti bahaginya dia ketika menikah. Sehingga disetiap acara nama gelar bangsawan ini sering dicantumkan. Boleh jadi ketika ada acara yang tidak begitu penting seperti acara arisan atau rapat RT, nama gelarnya tetap dicantumkan untuk menunjukkan identitas dirinya yang bangsawan. Pertanyaan sekarang yang perlu dikaji adalah sebegitu pentingkah makna gelar bangsawan pada masa kini? seberapa besar urgensinya untuk kehidupan sekarang ini.? Apakah gelar bangsawan ini menjadi sebuah hal yang penting dalam hidup manusia? salahkah mereka yang memegang dan mempertahankan gelar bangsawannya pada era sekarang. Irikah orang yang tidak mempunyai gelar bangsawan?.

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini memang wajar muncul, kenapa demikian? karena saat ini kita berada dizaman yang lebih mengedepankan rasionalitas dan demokrasi bahkan sudah masuk dalam tataran Liberalisasi. Pola hidup yang serba modern dan terbuka ini, mau tidak mau telah mengubah cara pandang masyarakat terhadap berbagai hal termasuk tentang status gelar bangsawan ini. Gelar seperti Kanjeng Sultan, Ratu, Pangeran, Tumenggung, Raden Mas, Raden Roro, Andi, Cut, Tengku, Harya/Aria, dll sering sekali kita dengar bersama. Gelar gelar seperti ini sudah tidak asing, setiap orang pasti pernah mendengarnya. Namun demikian bagi mereka yang sudah masuk tataran hidup yang modern, seringkali mereka memandang bahwa gelar bangsawan itu sudah tidak terlalu relevan dengan kehidupan sekarang ini. ini sudah modern bung! menurut mereka. Sebaliknya bagi mereka yang masih ingin mempertahankan budaya lamanya ini merasa bahwa sikap mereka ini tidak bisa dipersalahkan begitu saja karena menurut mereka ini juga bagian dari melestarikan budaya. Mereka ini juga punya alasan dengan mangatakan, "kalau bukan kita yang melestarikan, siapa lagi mas?" Bagaimana dengan kita sendiri?? kalau saya ditanya secara pribadi, saya akan menjawab, "tegantung dari makna dari gelar itu sendiri dan bagaimana pengaruhnya pada kita". Tidak semua gelar bangsawan itu kita bisa sandang begitu saja. Ada beban berat bagi mereka yang memahami makna dari gelar bangsawan itu. Alangkah bijaknya ketika seorang menyandang gelar bangsawan semua perilakunya sesuai dengan gelar bangsawannya, karena gelar bangsawan itu tidak hanya sekedar gelar, ia mengandung, memberikan dan membawa sebuah pesan khusus dari atribut masa lalu leluhurnya yang penuh ajaran ajaran yang luhur, namun ketika seorang yang memiliki gelar bangsawan perilakunya justru "rusak" gelar bangsawan orang ini tidak lebih sebagai pepesan kosong..

Gelar bangsawan, siapapun berhak memperolehnya jika memang ia berhak, namun dalam tataran aplikasi hidup yang sesungguhnya, gelar bangsawan untuk orang yang sudah mencapai taraf hidup yang mendekati nilai nilai keilahian, hanyalah merupakan masa lalu dunia saja. Banyak orang yang dahulunya memiliki gelar bangsawan seabrek abrek gelar bangsawan , namun ketika dia memasuki dunia religi yang dalam, dia menanggalkan gelar bangsawan karena ia malu kepada Allah SWT..Buat orang orang seperti ini gelar bangsawan bukan "maqomnya". mereka bahkan tidak malu mengatakan diri mereka ALFAQIR, HAMBA YANG HINA DIMATA ALLAH, MANUSIA LEMAH, SEONGGOK DAGING YANG HIDUP, DAN ISTILAH ISTILAH yang merendahkan diri mereka dimata Allah SWT, mereka sudah lebih banyak "mabuk" terhadap Tuhannya, sehingga hal-hal yang duniawi seperti gelar gelar bangsawan ini sudah mereka campakkan dalam hidup ini. Gelar bangsawan buat mereka hanyalah merupakan "perhiasan dunia" yang tidak begitu pennting

Leluhur leluhur kita yang dahulu hijrah dari satu tempat ketempat lain, sudah banyak yang memakai konsep hidup ini. ketika mereka berpindah atau hijrah ketempat lain seringkali identitas kebangsawanannya sudah dihilangkan, mereka hidup sudah sebagai rakyat biasa, sehingga gelar-gelar kebangsawanannya hanya menjadi sebuah nama biasa digunakan. Didesa Gunung Batu dan sebagian besar Komering , sepertinya kalau kita mau teliti lebih dalam, kondisi ini ada. Dahulu, ketika saya sering mendengar nama-nama Pangeran, Raden, Karia/Aria/Harya, Tumenggung, Patih, bahkan Ratu (pemimpin) didesa Gunung Batu saya sedikit terkejut, kok ada gelar gelar bangsawan seperti ini, anehnya gelar ini disandang oleh kebanyakan rakyat umum digunung batu atau komering. semakin penasaran saja dengan adanya kondisi seperti ini, namun setelah saya pelajari sejarah nenek moyang bangsa komering dan migrasi mereka kedaerah ini, saya mengambil kesimpulan bahwa memang tidak bisa dipungkiri bahwa banyak dari leluhur rakyat komering itu dahulunya juga adalah banyak yang berasal dari kalangan bangsawan yang mungkin dianggap "mbalelo". Komering pada masa lalu adalah merupkan sebuah surga dan tempat yang cocok untuk pelarian poltik kerajaan-kerajaan seperti Banten, Demak, Cirebon dan kerajaan kerajaan lain. Komering seperti tanah tak bertuan. Sehingga ketika nenek moyang orang komering datang, mereka seolah-olah menjadi penguasa didaerahnya masing masing..sehingga lambat laun budaya pemakaian gelar bangsawanpun hidup kembali. tetapi walaupun budaya gear bangsawan ini hidup kembali, sikap mereka kebanyakan tidak menganggap bahwa gelar ini tinggi. Sehingga ketika mereka memakai gelar gelar ini mereka biasa saja sebagai manusia. Gelar-gelar ini biasanya ada juga ketika mereka menikah, sehingga ketika mereka menikah mereka diberikan gelar atau JAJULUK itu, dan namanya terserah dari mereka, namun pada umumnya nama-nama gelar atau JAJULUK mereka cukup keren karena seperti bernuansa Bangsawan. Sehingga tidak usan heran di komering walaupun ia petani/nelayan atau orang biasa namun ternyata banyak juga yang memakai gelar raden bahkan gelar Ratu. Di desa Gunung Batu atau Komering bahkan orang lebih hormat kepada ulama atau umaro atau orangtua dibandingkan orang-orang yang memiliki gelar bangsawan. Sikap hormat kepada Ulama atau Umaro dan orang tua bahkan melebihi terhadap siapapun. Bahkan menurut ibu dan paman saya, di Kampung kita sih tidak perlu gelar bangsawan karena sudah banyak "bangsawannya" . Mau bangsawan apa? dikomering dan desa gunung Batu itu tinggal pilih saja....mau Raden? banyak! mau Ratu? banyak, pokoknya tinggal pilih, bahkan bila ada nama "bangsawan" yang aneh dan lebai, pasti akan menjadi sebuah ledekan dan gurauan antar penduduk, namun yang diledekpun tidak akan marah, malah semakin bangga..Memang sikap kekeluargaan, persaudaraan, ramah tamah lebih utama daripada hanya sebuah gelar bangsawan, sehingga tidak usah heran didesa ini, semua mendapatkan perlakuan sama, duduk sama tinggi berdiri sama rendah ...semua disikapi dengan humor yang cukup menyegarkan tentang gelar bangsawan ini...tidak ada yang dihormati kecuali karena ahlak dan perilakunya dibandingkan gelar bangsawan..

Tidak ada komentar: