Rabu, 23 Mei 2012

Basyaiban – Patriot dari Alawiyin yang dilupakan

Basyaiban – Patriot dari Alawiyin yang dilupakan


Marga BaSyeiban/BaSheban/BaSyaiban/Basy-Syaiban (باشيبان , juga dieja BaSyaiban) adalah salah satu marga komunitas Hadramaut di Nusantara. Mereka bernasab kepada Asy-Syaikh Al-Imam Abubakar BaSyeiban bin Muhammad Asadillah Baalawi Al-Hadhrami Al-Husaini. Gelar BaSyaiban diberikan karena Asy-Syaikh Al-Imam Abubakar pada suatu waktu ketika mudanya telah ‘menghilang’ dan kemudian muncul kembali setelah berpuluh-puluh tahun. Rambutnya telah semua putih namun wajahnya tetap kelihatan muda maka ia mendapat sebutan BaSyeiban/BaSyaiban/Basy-Syaiban (باشيبان) dari rambutnya yang putih (syaiban/شيبان). Asy-Syaikh Al-Imam Abubakar BaSyeiban diperkirakan wafat tahun 803 H (1382 M) di Tarim, Hadramaut. BaSyeiban adalah antara kabilah yang pertama-tama berhijrah keluar dari Hadramaut. Mula-mulanya ke Balqeum/Belgaum, Karnataka, India yang tidak jauh dari Surat dan kemudian dari sana ke Indonesia, tepatnya Jawa.

Basyaiban adalah salah satu famili yang terdapat dalam keluarga Alawiyin. Dalam beberapa buku nasab Alawiyin dituliskan bahwa keluarga Basyaiban memiliki kakek yang sama dengan famili Jamalullail, Al-Habsyi, Al-Syatri. Beliau adalah Muhammad Asadullah bin Hasan al-Turabi bin Ali bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam. Pertama kali yang menggunakan gelar Basyaiban adalah Abubakar bin Muhammad Asadullah. Beliau salah satu tokoh di zamannya, hafal alquran, mempelajari fiqih kepada syaikh al-jalil Muhammad bin Abubakar Ba’abad dan beliau memuji Imam Abubakar Basyaiban akan kecerdasannya serta memberikan ijazah tertulis kepadanya, Imam Basyaiban belajar tasawuf kepada al-arif billah syaikh Abdurrahman Assegaf hingga Syaikh Abdurrahman Assegaf memakaikan khirqah kepadanya.  Beliau wafat di kota Tarim pada awal abad 9 hijriyah.[1]

Keturunan Habib Abubakar Basyaiban

Habib Abubakar Basyaiban bin Muhammad Asadullah memiliki dua orang anak laki-laki : Muhammad dan Ahmad. Muhammad keturunannya terputus, sedangkan Ahmad memiliki keturunan hanya melalui anaknya yang bernama Muhammad al-Syaibah yang wafat di Qasam. Muhammad al-Syaibah memiliki seorang anak bernama Umar yang lahir di tahun 881 hijriyah di Qasam. Beliau hafal alquran pada usia yang relative masih kecil. Kemudian beliau pergi ke kota Tarim untuk menuntut ilmu. Di Tarim, Umar bin Muhammad Basyaiban belajar kepada para tokoh ulama di antaranya al-imam al-allamah Muhammad bin Abdurrahman Bilfaqih, al-Faqih Abdullah bin Abdurrahman Balahaj. Belajar tasawuf kepada syaikh Abdurrahman bin Ali bin Abubakar al-Sakran, Syaikh Ma’ruf bin Abdullah Bajamal dan beliau berkenan memberikan khirqah kepadanya. Di antara karangannya adalah kitab yang berjudul ‘Tiryaq al-Qulub al-Waf bi Zikri Hikayat al-Saadah al-Asyraf[2] dan Tarikh Basyaiban.[3]wafat di kota yang sama pada tahun 944 hijriyah, memiliki anak bernama Abdullah dan Abdurrahman. Abdullah keturunannya tersebar di Deccan,India.

Abdurrahman bin Umar Basyaiban wafat di Tarim tahun 993 hijriyah, memiliki dua orang anak yang salah satunya bernama Abdullah, wafat tahun 1013 hijriyah di Balqam, India. Beliau adalah famili Basyaiban yang pertama kali hijrah ke luar Tarim yaitu ke India dan Aceh.[1] Abdullah bin Abdurrahman Basyaiban memiliki dua orang anak di antaranya adalah Umar yang merupakan guru dari Syekh Nuruddin al-Raniri.

Abu Hafs Umar bin Abdullah Basyaiban dikenal di wilayah Gujarat sebagai sayyid Umar al-Aydarusi. Menurut al-Raniri, sayyid Umar Basyaiban yang menginisiasinya ke dalam tarekat Rifa’iyah di samping tarekat Aidarusiyah dan tarekat Qadiriyah.[2] Di Tarim, Sayyid Umar Basyaiban belajar kepada syaikh Abdullah bin Syech Alaydrus, Syekh Abdurrahman al-Qadhi bin Ahmad Syihabuddin, Muhammad al-Hadi dan Ahmad Syihabuddin.
Beberapa tahun di Tarim, beliau meneruskan perjalanannya ke Mekkah dan Madinah selama empat tahun belajar dan mengambil khirqah dengan para ulama Haramain, di antaranya sayyid Umar bin Abdullah al-Basri, Ahmad bin Ibrahim bin Allan, dan Abdurrahman al-Khatib. Setelah itu Ia kembali ke Tarim dan menikah. Di kemudian hari dia pergi ke Surat-India untuk belajar kepada syaikh Muhammad bin Abdullah Alaydrus yang menginisiasinya ke dalam tarekat Aidarusiyah. Sayyid Umar menganggap syaikh Muhammad bin Abdullah Aydarus bapak spritualnya. Di antara murid sayyid Umar lainnya di Indonesia adalah syekh Yusuf al-Makasari.

Melalui murid-murid utamanya, seperti al-Raniri dan al-Makasari, sayyid Umar bin Abdullah Basyaiban menyebarkan gagasan-gagasan keagamaan dari Tarim dan Haramain ke India dan wilayah Indonesia. Sayyid Umar Basyaiban tinggal di Bijapur, salah satu pusat pengetahuan Islam dan tasawuf terkemuka di India. Di sana, dia menikmati perlindungan dari sultan Adil Syah dari kesultanan Brahmani, kemudian dia pindah ke Burhanpuri dan menyelesaikan beberapa kitab yang dikarangkanya, pada akhir hayatnya beliau ke Balqam  dan wafat di sana pada tahun 1066 hijriyah.[3] Umar bin Abdullah Basyaiban meninggalkan tiga belas anak laki-laki, di antaranya bernama Abdurrahman yang menurunkan keluarga Basyaiban di Indonesia melalui salah satu putranya yaitu Sayyid Sulaiman MojoAgung Basyaiban.

[1] Ahmad bin Abdullah Assegaf, Chidmah al-Asyirah, hal. 61.
[2] HAMKA, Dari Perbendaharaan Lama (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1994) hal. 41.
[3] Muhammad bin Abubakar al-Syilli, Al-Masra’ al-Rawi, jilid 2, hal. 534.

[1] Muhammad bin Abubakar al-Syilli, Al-Masra’ al-Rawi, jilid 2 (Jeddah: Alam Ma’rifah, 1982) hal. 92.
[2] Muhammad bin Ali al-Khirrid, Ghuror al-Baha’u al-Dhowi, hal. 269. Muhammad bin Abubakar al-Syilli, Al-Masra’ al-Rawi, Jilid 2, hal. 538.
[3] Ahmad bin Abdullah Assegaf, Chidmah al-Asyirah (Jakarta: Rabithah Alawiyah, 1964) hal. 61.
Rujukan-rujukan: Tarikh Aal BaSyeban karya al-Habib ‘Umar bin Ahmad BaSyeban;Syamsuzh-Zhahirah karya al-Habib Abdurrahman bin Muhammad al-Masyhur;Syamsu Zhohirah Ta’liqat Muh. Dhiya’ Shahab;Hadramaut dan koloni Arab di Nusantara (Hadhramout et les colonies arabes dans l’Archipel indien)Penulis Berg, L. W. C. van den (Lodewijk Willem Christiaan), 1845-1927 Seri INIS ; jil. 3 (Van Den Berg, LWC, Hadramaut & Koloni Arab di Nusantara, INIS, Jakarta, 1989.);Usul Ansab Al Alawiyyin karangan al-Habib Mohammad bin Alwi bin Hud Al Attas;Usul Ansab Al Alawiyyin karangan Al-Habib Naqib AsSadah Syed Ali Zainal Abidin bin Abdullah Al Awsat Al Idrus(1041 H) Tentang kewujudan keluarga BaSyeiban di India sudah dimaklumi oleh ahli-ahli nasab yang tersebut dalam kitab-kitab mereka dan yang lain menerusi kitab-kitab berikut: 1-Kitab Risalah Usul Ansab Alawiyyin tulisan Al-Habeb Ahmad bin Ali bin Ahmad bin Syihabiddin pada halaman 104 yang menyebut beberapa nama tempat di India dan menyatakan bahawa keluarga ini dikenali dengan nama BaSyeiban dan bukannya AsSyaibani.Juga menceritakan siapa dari keluarga ini yang masuk ke Aceh serta bilangan keluarga ini pada tahun 1358 hijrah. 2-Kitab Syamsu Zhahirah karangan As-Sayyid ‘Abdurrahman bin Mohammad bin Husain Al Masyhur pada jilid ke 2 halaman 446 dan 447 menceritakan dengan detail pergerakan keluarga ini di antara Hadramaut, Balqam dan Aceh , juga disebut zuriat-zuriat BaSyeiban yang mula-mula ke Indonesia berserta tarikh kemasukan mereka dan juga tempat singgah mereka. 3-Kitab Khidmatul Asyirah karangan Habeb Ahmad bin Abdullah AsSaggaf pada halaman 61 juga menyebut tentang keluarga BaSyeiban sama dengan kitab-kitab sebelumnya dengan lebih ringkas dan juga menyebut beberapa kitab karangan keluarga ini. Marga ini dilaporkan sudah berakhir di Hadramaut, tetapi masih keturunannya masih ada hingga hari ini di Belgaum, Karnataka, India dan Nusantara. Di Indonesia marga ini banyak dijumpai di Krapyak Slamaran Pekalongan; Magelang; Sidoresmo, Surabaya,Yogyakarta. Namun demikian, keturunannya sekarang telah menyebar ke berbagai tempat di seluruh dunia. Dan Di Indonesia Semua keturunan Basyaiban Yang sohih secara nasab tergabung dalam Ittihad Ansab Basyaiban ( IAB) dan pusatnya ada di Jakarta,sedang cabangnya ada di Tiga Kota besar yaitu : Magelang,Sidoresmo dan Pekalongan.

Hal yang paling umum dan menjadi salah satu keunggulan Atau ciri khas keluarga Basyaiban ini adalah secara persebaran Nasabnya mudah dilacak,karena bila kita yang orang awam bertanya tentang si fulan yang bermarga Basyaiban hal yang pasti akan ditanyakan oleh mereka adalah Basyaiban dari jalur mana? secara wilayah adalah Tiga Kota besar tersebut (Magelang,Sidoresmo dan Pekalongan) dan secara Nasab ada 4 Jalur datuk Basyaiban Yaitu Ali Akbar,Abdul Wahab,Hasan dan Muhammad bagir (keempatnya adalah putra dari Sayid Sulaiman Basyaiban ) maka ketika jalur yg sudah ditanyakan sudah jelas,maka akan mudah bagi kita untuk mendapatkan jawaban kebenaran atau kesohihan nasab si fulan bermarga Basyaiban yg kita tanyakan karena hampir sebagian besar dari keluarga Basyaiban ini saling mengenal satu sama lain di seluruh Indonesia.Atau lebih jelasnya bisa ditanyakan IAB di masing-masing wilayahnya.Sehingga sangat sulit bagi orang awam untuk mengaku dari keturunan keluarga ini.SubhanaAlloh

Keluarga Basyaiban juga merupakan Keluarga Alawiyin yang awal datang di Nusantara,dan yang menyebarkan keturunannya adalah Sayyid Abdurrahman tajudin bin Umar Basyaiban yang menikah dengan salah satu anak keturunan dari Sunan gunung jati (bukan keturunan langsung).

Mereka menyebarkan syiar Islam secara Damai dan mudah membaur dengan Pribumi. Keluarga ini juga merupakan pejuang-pejuang tanah air yang jarang disinggung dalam sejarah Indonesia.Karakter Alawiyin mereka sangat menonjol,yaitu dimana mereka tinggal selalu membawa perubahan yang lebih baik dalam tatanan Masyarakat Indonesia dan rata-rata mereka adalah berjiwa pemimpin,sehingga di Zaman kolonialisme belanda Keluarga yang berjiwa patriot ini menjadi buruan atau buronan pemerintah karena dianggap berbahaya. maka utk menyelamatkan generasi ,mereka banyak yang membaur dengan pribumi dan menikahi perempuan-perempuan setempat sehingga anak keturunan mereka tak nampak seperti orang-orang Hadramaut atau arab secara fisik.Namun Soal pemberian nama mereka tetap bertabarruk kepada para leluhurnya sehingga bila kita melihat silsilah Nasab mereka akan sama dengan nasab para Alawiyyin yang laennya,namun pada waktu perang berkecamuk keluarga ini menggunakan dua nama sebagai Identitas demi melindungi segenap keluarganya agar terbebas dari kejaran penjajah waktu itu.Disamping itu sebagai keluarga Alawiyyin yang mengikuti Perkawinan secara Kafa’ah,mereka menjaganya dengan menikahkan sesama sodara basyaiban yang tentu saja bukan Muhrim mengingat pada masa itu alawiyyin yang lain belum berdatangan ke Nusantara. Bahkan Keluarga ini juga bisa dikatakan introvert atau tertutup sehingga kalau anak-anak mereka bermain harus dengan sesama sodaranya demi menjaga kemurnian Akhlaknya agar jangan tercemar dengan lingkungan yang buruk.Namun demikian banyak juga keluarga Basyaiban ini yg berjuang dari dalam melalui pernikahan dengan Putri keraton atau kesultanan sehingga bergelar Raden dsb,dan ini bukan hanya bagian dari strategi untuk menghalau penjajah tapi juga dalam rangka syiar Islam. Maka dengan demikian bisa dikatakan Keluarga Basyaiban ini merupakan salah satu pembabat alas Di Nusantara sehingga Alawiyyin laen yang banyak seperti sekarang bisa diterima di Nusantara.

Simak sejarah yg tak pernah diungkap tentang gerakan Sayyid Alwi bin Ahmad Basyaiban yg lebih dikenal dengan gelarnya Ngabei Danoeningrat I yang pada tahun 1801 Letnan Gubernur Jendral Sir Stamford Raffles mengangkatnya sebagai Bupati pertama Magelang, atas petunjuk dari gurunya beliau memilih daerah antara desa Mantiasih dan desa Gelangan sebagai pusat pemerintahannya.Bupati ini pulalah yang kemudian merintis berdirinya Kota Magelang dengan membangun Alun – alun, bangunan tempat tinggal Bupati serta sebuah masjid Agung Magelang. Dalam perkembangan selanjutnya dipilihlah Magelang sebagai Ibukota Karesidenan Kedu pada tahun 1818.Hal yang lupa dicatat adalah bupati Pertama ini juga seorang alim Ulama yang segolongan dengan Pangeran Diponegoro. Dan anak keturunan beliau sekarang masih ada dan menyebar di daerah Tuguran,Meteseh dan Tumbu.
Beliau sebenarnya adalah pejuang yang bergerilya dari dalam pemerintahan,beliau juga sangat mendukung gerakan Pangeran Diponegoro. maka tak heran meskipun singkat namun perang Diponegoro merupakan perang yang paling banyak menguras segenap tenaga,pikiran dan materi di pihak belanda bahkan bisa dikatakan perang terbesar bagi belanda selama menjajah Nusantara.Bisa dikatakan Habib Alwi Basyaiban ini adalah Intelijen yang handal  di masa itu sebelum kita kenal adanya FBI,beliau berjuang dengan strategi yang sangat cerdas sehingga bangsa penjajah pada masa itupun tidak ada yang tahu.SubhanaAlloh

Bantuan dari dalam oleh Sayid Alwi Basyaiban ini tak pernah disebut dalam sejarah,namun sejarah yg disimpan rapat oleh anak keturunannya akhirnya bisa kita dengar seperti sekarang. Termasuk pemahaman sebab adanya perang diponegoro yang telah dipolitisir oleh penguasa jaman dulu. Perang Diponegoro adalah bentuk ketakutan Belanda pada kekuatan Islam yang menyebar di Nusantara dan salah satunya di Magelang yang dipimpin Pangeran Diponegoro dan ulama-ulama lainnya.Bukan masalah sepele seperti yang sering kita baca di buku sejarah,yaitu masalah patok tanah,yang sangat janggal hanya untuk urusan seperti itu menyulut perang besar-besaran dari pihak Pangeran Diponegoro.Mungkin secara tersirat “patok” yang dimaksud adalah tonggak Agama Islam.Wallohua’lam

(Sumber : Rabitha Indonesia,Wikipedia dan berbagai sumber lainnya)

dikutif dari http://muhibbinberkata.wordpress.com/2012/04/22/basyaiban-alawiyin-pejuang-yang-dilupakan/

Tidak ada komentar: