Rabu, 25 April 2012

DRAMA MENCEKAM LOLOSNYA PARA CUCU RADEN FATAH DARI MAUT (Cikal bakal menyebarnya mereka kesemua wilayah Indonesia termasuk Desa Gunung Batu!!)

Bagaimana sebenarnya nasib para anak cucu Raden Fatah dalam kisruhnya perebutan tahta? Bagaimana nasib anak-anak dari Pati Unus, Trenggono, Raden Kikin, Prawata dalam konflik yang mencekam dan berkepanjangan itu? apakah mereka menyaksikan ayah mereka terbunuh dalam konflik yang berkepanjangan itu..Konfilk tahta Demak ini memang merupakan lembaran hitam dalam catatan sejarah kerajaan Islam di Indonesia. Intrik-intrik yang terjadi konlik itu seolah-olah seperti sebuah cerita sinetron yang berlatar belakang kerajaan. Membaca konflik tahta demak ini , seolah-olah seperti membaca komik cerita silat saja.

Dalam literatur sejarah kadang kita dapati informasi yang simpang siur mengenai nasib kelanjutan dari cucu dari raden fatah ini, ada yang mengatakan 4 orang anak Raden fatah ini beberapa tidak ada keturunan, ada yang menyatakan cucu-cucunya tersebut tewas secara mengenaskan, ada yang mengatakan nasibnya hilang tak tentu arah dan masih ada lagi informasi-informasi yang bila dikaji secara mendalam banyak datanya yang tidak sesuai dengan fakta yang sesunggguhnya, apalagi bila sumber itu berasal dari penulis luar (penjajah) dan penguasa-penguasa yang menang. Tentu data-data yang kita peroleh penuh dengan distorsi dan sarat dengan kepentingan (apalagi penjajah dan kerajaan yang berkuasa saat itu).

Sebenarnya bagaimana nasib dari anak cucu dari raden fatah ini? apakah mereka ikut tertumpas dengan adanya konflik ini? Ternyata dibalik beredarnya informasi sejarah yang simpang siur mengenai nasib cucu-cucu dari raden fatah ini, saya mendapati sebuah fakta yang mencengangkan bahwa sebagian besar cucu-cucu beliau ini ternyata banyak yang selamat dan justru memiliki keturunan yang melimpah ruah diberbagai penjuru tanah air, bahkan juga dibeberapa negara tetangga. Mungkin untuk lebih jelasnya akan kita urutkan disini bagaimana nasib mereka dan bagaimana mencekamnya nasib mereka saat mereka meloloskan diri dari berbagai peristiwa, utamanya dalam konflik demak yang berkepanjangan ini.

Yang Pertama adalah PATI UNUS: Beliau ternyata mempunyai keturunan yang berhasil meloloskan diri dari pembunuhan dari pasukan portugis serta berhasil keluar dan menyingkir dari incaran "oknum" bangsawan Demak yang tidak ingin keturunan Pati Unus menjadi Sultan Demak karena faktor keturunan dan etnis (ARAB dan BANGSAWAN KETURUNAN ASLI MAJAPAHIT, - Info Pak  Syeikh Malaysia). Keturunan dari Pati Unus ini tidak berhasrat menggantikan Pati Unus yang mati Syahid di MALAKA karena kondisi demak saat itu sangat mencekam. Kedua anak beliau yang lolos dari malaka dan bangsawan demak ini adalah Raden Abdullah Malaka yang kemudian mendirikan kerajaan Pakuan di Sunda dan Raden Abdullah Aria yang menyingkir Ke Jambi. Sampai saat ini keturunan mereka tersebar dimana-mana.

Yang kedua RADEN KIKIN atau PANGERAN SEKAR SEDA LEPAN: Beliau diyakini sebagian ahli nasab dan sejarah bahwa beliau mempunyai dua orang putra yang bernama Ratu Sahibul dan Aria Mataram Hadiningrat. Kedua orang ini diyakini sebagai anak RADEN KIKIN yaitu salah satunya adalah Ratu Sahibul yang dinyatakan dan telah diberitakan tewas ditepian sungai bengawan solo oleh fihak Jaka Tingkir, sehingga sampai saat ini sebagian besar masyarakat Jawa percaya bahwa anak dari RADEN KIKIN ini tewas dengan tragis dan tidak diketahui apakah dia punya keturunan atau tidak. Bersamaan dengan berita tewasnya Ratu Sahibul lenyap pula keberadaan Aria Mataram Hadiningrat adiknya ini. Lenyapnya Aria Mataram ini bahkan menjadi pertanyaan besar Jaka Tingkir dan juga para pengikutnya. Padahal bersamaan lenyapnya Aria Mataram ini, Aria Mataram justru berangkat bersama-sama kakaknya yang telah dinyatakan tewas menuju Sumatra Selatan dalam hal ini wilayah Komering dan sekitarnya. Adapun keturunan dari Ratu Sahibul dan Aria Mataram sampai saat ini masih banyak berada didesa Gunung Batu, Palembang, Desa Surabaya Nikan OKU, Jakarta, Bandung, Jambi, Bengkulu, dll.

Yang ketiga adalah SULTAN TRENGGANA : 24 Keluarga besarnya termasuk mungkin beberapa anaknya menyingkir dari Demak setelah kematian dirinya. Pasca Kematian Sultan Trenggana tahta Demak makin membara, kondisi demak makin mencekam, saling intai, saling sikut, saling curiga terjadi antar sesama saudara demi untuk memperebutkan tahta yang lowong. Diantara sekian orang yang mungkin merasa jiwanya terancam ini akhirnya memutuskan untuk meninggalkan demak yang semakin hari semakin mencekam. Mereka terdiri dari 24 keluarga keturunan dari Sultan Trenggono. 24 keluarga ini menuju Palembang bahkan akhirnya mampu mendirikan Kesultanan Palembang dibawah kepemimpinan Ki Gede Ing Suro dan dilanjutkan oleh Ki Gede Ing Suro Muda yang diteruskan oleh keturunannya dan kesultanan Palembang ini mampu bertahan sampai tahun 1825 Masehi sebelum dibubarkan oleh fihak kolonialis Belanda.

Yang Keempat adalah SUNAN PRAWATA; Pendapat mayoritas mengatakan bahwa dia adalah anak dari Sultan Trenggono, walaupun ada juga yang meragukan dengan mengatakan bahwa Prawata ini sebenarnya adalah adik dari Sultan Trenggono. Menurut saya agak masuk akal juga bila dia dikatakan adik Sultan Trenggono, karena buat apa 24 keluarga Trenggono menyingkir ke Palembang jika tidak terancam, padahal mereka ini adalah kerabat dekat Prawata dan juga keturunan dari Sultan Trenggono, kenapa harus menyingkir kalau memang kondisinya saat itu bisa mereka hadapi, ingat waktu itu kedudukan Trenggono masih kuat, keturunan trenggono masih banyak apalagi boleh jadi diantara 24 keluarga itu ada terdapat anak-anaknya. Kalau Prawata naik sebagai adik sepertinya wajar, namun kalau ia naik, kedudukannya sebagai seorang sepupu Ratu Sahibul memang agak beresiko dan sudah pasti akan menimbulkan kecemburuan, karena usia mereka mungkin tidak terlalu jauh. Namun untuk tidak berpanjang pembahasan, baiklah bila memang ia anak dari Sultan Trenggono, paling tidak keturunan yang ia miliki yaitu ARIA PANGIRI ternyata berhasil lolos dari maut, setelah ayahnya terbunuh ditangan pengikutnya Ratu Sahibul. anak Prawata yang bernama ARIA PANGIRI berhasil bersembunyi dibawah tempat tidur sampai kemudian ditemukan pasukan Demak. Aria Pangiri ini akhirnya dididik oleh Ratu Kalinyamatbibinya. Dari Aria Pangiri ini juga nanti boleh jadi banyak menurunkan keturunan, namun sampai saat ini saya memang masih belum mendapati siapa saja keturunan beliau ini. Namun saya yakin beliau pasti punya keturunan yang banyak.

Ternyata memang dibalik berita yang mengatakan bahwa anak cucu yang mungkin diberitakan tewas dan tidak punya keturunan, pada kenyataannya mereka semua yang diberitakan itu ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Banyak dari mereka bahkan mampu meloloskan diri drama mencekam dalam huru hara tahta untuk kemudian menyingkir kemudian hidup normal dan mampu melanjutkan garis keturunan sampai saat ini. Tuhan memang adil dalam menjaga garis keturunan seseorang.

Tidak ada komentar: