Jumat, 17 Oktober 2014

ULAMA MASTUR, AHLI SEJARAH JAYAKARTA, AHLI SILSILAH JAYAKARTA, PENDIRI DAN PELOPOR GERAKAN PENDEKAR PITUAN PITULUNG (PITUNG), ORANG YANG PALING DICARI PENJAJAH BELANDA SEPANJANG HIDUPNYA, PENYUSUN KITAB FENOMENAL AL FATAWI (Kitab rahasia silsilah, adat istiadat dan sejarah Jayakarta dan Betawi)



Beliaulah yang selama ini menjadi kunci dalam membuka tabir sejarah Jayakarta, selama ini terus terang untuk memahami sejarah Jayakarta kita masih sering berpatokan pada tulisan-tulisan penjajah kolonial. Tidak sedikit orang yang hingga kini ,masih percaya penuh terhadap data sejarah yang berasal dari sejarawan sejarawan penjajah kolonial baik itu yang berasal dari Portugis atau Belanda beserta antek anteknya.

Saya sendiri sempat merasa resah tatkala mendapatkan fakta seperti itu, apa iya Jayakarta yang kini bernama Jakarta tidak punya akar sejarah yang kuat. Jakarta yang merupakan Ibukota Negara, masak iya tidak punya sejarah mandiri, masak iya Jayakarta sejarahnya hanya berdasarkan sudut pandang sejarawan kolonial yang kadang sering tidak obyektif dan serba Eropa Sentris . Rasanya aneh bin ajaib jika mengatakan Jayakarta dengan penduduk aslinya yang sering disebut BETAWI tidak punya akar sejarah yang kuat. Sebagai orang yang lahir dan besar di Jayakarta jelas adanya fakta bahwa sejarah seolah "dikendalikan" oleh sejarawan yang berasal dari penjajah kolonial, telah membuat saya resah dan kadang geregetan. Seolah-olah putra putri Jayakarta dengan suku Betawi tidak ada yang berprestasi dimata Penjajah, padahal jelas Jayakarta telah banyak menghasilkan putra-putri terbaik bagi bangsa ini seperti Syekh Junaid Al Batawi yang merupakan Maha Guru Ulama Mekkah pada pertengahan abad ke 18 dan 19.

Sejarah Jayakarta jelas harus kita angkat kembali, tentu dengan sudut pandang yang lebih jujur dan sesuai dengan logika sejarah. Sejarawan yang berasal dari Kolonial tetap harus diwaspadai, sekalipun mereka sering mengatakan bahwa karya yang mereka tuangkan adalah untuk ranah ilmiah, tetap saja ujung dari karya mereka itu kebanyakan justru untuk menguntungkan "TUAN BESARNYA".

Bicara Jayakarta atau Suku Betawi adalah hal yang menarik. Sebenarnya sudah banyak pakar-pakar sejarah Kota Jakarta yang pernah menulis tentang kota dan juga suku yang satu ini, namun demikian dari sekian tulisan yang ada, masih belum membuat saya puas, tulisan tulisan Engkong Ridwan Saidi, Habib Alwi Shihab, Babe Firman Muntaco, Prof Yasmin Shahab, Sagimun MD, Aziz, serta beberapa tulisan lain yang berasal dari penulis luar negeri sampai saat ini belum membuat saya betul betul telah terpenuhi rasa keingintahuan tentang apa sebenarnya Jayakarta ini.

Berdasarkan kegelisahan saya ini, maka sejak beberapa tahun yang lalu, saya selalu mencoba menyambangi beberapa daerah Jakarta untuk mencari berbagai informasi yang berkaitan dengan sejarah Jayakarta, khususnya pada wilayah yang merupakan kantong-kantong asli penduduk Betawi.

Dari penyelusuran saya, akhirnya saya mendapatkan sebuah data langka dan menakjubkan. Data itu ternyata berasal dari keturunan seorang tokoh yang ternyata banyak menyimpan rahasia sejarah yang mencengangkan. Selama ini data yang dimiliki beliau sebenarnya dulu pernah dipublikasikan, namun sayangnya data-data yang dikeluarkan tersebut kurang mendapatkan respon.

Data tersebut berasal dari seorang ulama asli keturunan Jayakarta yang bernama KH RATU BAGUS AHMAD SYAR'I MERTAKUSUMA (tulisan tentang beliau pernah saya buat beberapa waktu yang lalu).

Melalui keturunan beliau ini saya akhirnya bisa tahu sejarah asli Jayakarta. Jelas tulisan yang dibuat beliau ini bukanlah tulisan sembarangan, apalagi beliau adalah seorang ulama yang pernah 5 tahun menetap di Mekkah dalam rangka memperdalam ilmu agamanya. Melihat kitab yang disusun beliau, seolah-olah saya sedang melihat sebuah ENSIKLOPEDIA SEJARAH JAYAKARTA dan BETAWI. Saya dibuat begitu tercengang akan tulisan beliau. Seorang ulama bila sudah mampu membuat tulisan ARAB GUNDUL MELAYU, itu bukanlah ulama sembarangan, seorang ulama yang mampu menulis sejarah dan runutan garis keturunan tentulah bukan ulama biasa. Pada masa itu dapatlah dikatakan langka seorang mampu menulis sebuah kitab silsilah dan sejarah Jayakarta serta sejarah Nusantara secara rapi dan tersusun dan dilakukan dengan tulisan tangan!. Setahu saya ulama kita yang pernah menulis dan faham tentang sejarah dan garis keturunan di Nusantara hanya beberapa orang seperti Sayyid Bahruddin Azmatkhan (dengan kitab Al Mausuuah Li Ansaabi Al Imam Al Husaini, KH Bisri Mustofa (dengan kitab Tarikh Aulianya), KH Muhammad Dahlan, Mbah Kholil Bangkalan (Paku Ulama Jawa). Nah siapa sangka jika dari bumi BETAWI juga ada tokoh yang luar biasa seperti beliau ini..

Beliau ini juga selama hidupnya terus diburu penjajah kolonial Belanda, karena beliau dianggap orang yang berbahaya, kitab yang beliau susun yang berjudul AL FATAWI juga dicari cari Belanda untuk dimusnahkan serta untuk mengetahui siapa saja sebenarnya keturunan keturunan asli Jayakarta yang masih hidup. Beliau adalah pelopor berdirinya gerakan PENDEKAR PITUAN PITULUNG atau PITUNG. Tidak heran karena dianggap dedengkot dan "biang kerok" beberapa pemberontakan di Betawi, beliau dicari belanda hidup atau mati. Sosok beliau ada, namun Belanda sendiri sering kebingungan karena sosok Pitung itu sering membingungkan. Dan salah satu yang membuat mereka seperti itu adalah KH RATU BAGUS AHMAD SYAR'I MERTAKUSUMA. Beliau inilah sosok Pitung yang paling dicari-cari, keberadaannya bagai seperti "hantu" oleh penjajah, karena setiap didatangi tempat tempat yang dianggap ada hubungannya dengan beliau, selalu beliau ini tidak bisa diketemukan oleh Belanda. Tidak heran untuk menghindari kejaran belanda, dimasa hidupnya beliau selalu berhijrah, mulai dari Malaysia, Medan, Jambi sampai kemudian akhirnya di Palembang Sumatra Selatan.

KH RATU BAGUS AHMAD SYAR'I MERTAKUSUMA jelas bukanlah tokoh sembarangan, sekalipun keberadaannya dianggap misterius atau mungkin dianggap "bukan siapa-siapa" ditanah Jayakarta serta orang Betawi, namun bukti karyanya yang berjudul KITAB AL FATAWI jelas menunjukkan bahwa beliau adalah tokoh yang luar biasa. KITAB AL FATAWI yang beliau susun yang sumbernya berasal dari data turun temurun yang dimulai semenjak masa FATTAHILLAH jelas itu merupakan kitab yang ....(SUBHANALLAH...saya hanya bisa menuliskan kalimat ini...). Jelas sekali jika sumber kitab itu memakai cara yang bersanad, sesuatu yang sering dipakai ulama dalam mempelajari sebuah ilmu. Ilmu yang benar itu jelas harus ada sanadnya, sehingga apapun nanti yang ditulis bisa dipertanggungjawabkan. Kitab Al Fatawi yang disusun beliau beliau jelas betul betul sebuah kitab yang detail, rapi dan juga unik, karena disamping tulisan KH RATU BAGUS AHMAD SYAR'I ternyata juga piawai dalam membuat gambar bangunan tempo dulu serta peta-peta pelayaran dan peta bumi lainnya. jelas ingatan dan referensi yang beliau miliki sangat kaya. KItab Al Fatawi sendiri merupakan kitab yang bisa mencounter pendapat pendapat sejarawan kolonial yang sering tidak seimbang dalam mengemukakan data.

Bagi saya beliau ini adalah sosok ulama yang multi talent yang bisa disejajarkan dengan ulama-ulama lain. Salah seorang guru saya bahkan mengatakan bahwa KH RATU BAGUS AHMAD SYAR:I MERTAKUSUMA Ini ternyata pernah bertemu dengan SAYYID BAHRUDDIN AZMATKHAN. SAYYID BAHRUDDIN AZMATKHAN adalah ahli nasab WALISONGO pada era tahun 1918 s/d 1992. Ah...pantas saja kalau keduanya pernah bertemu, karena dua-duanya itu adalah ahli nasab dan juga ahli sejarah keluarga besar WALISONGO. Dan memang jika dirunut NASAB atau garis keturunan dari SAYYID BAHRUDDIN AZMATKHAN dan KH RATU BAGUS AHMAD SYAR'I MERTAKUSUMA, ternyata kedua-duanya adalah keturunan dari MARGA AZMATKHAN AL HUSAINI yang merupakan keturunan dari Sayyidina Muhammad Rasulullah SAW melalui jalur Imam Ahmad Al Muhajir di Hadramaut. Artinya kedua-duanya satu nasab!.

KH Ratu Bagus Ahmad Syar'i Mertakusuma sendiri, adalah kakek dari penyusun kitab WANGSA ARIA JIPANG JAYAKARTA yang bernama RATU BAGUS GUNAWAN MERTAKUSUMA yang juga merupakan pejuang Sejarah Jayakarta. Dalam buku Wangsa Aria JIpang bahkan Biografi KH Ratu Bagus Ahmad Syar'i Mertakusuma ditulis cukup lengkap. Beliau masih merupakan Dzurriyah dari Keluarga besar Aria Jipang atau Aria Penangsang yang merupakan Cucu Raden Fattah Sang Pendiri Kesultanan atau Kekhilafahan Demak Bintara di Jawa Tengah.

Dari awal saya sendiri juga merasa bahwa beliau ini pasti bukan keturunan sembarangan. Dalam melacak sejarah seorang tokoh, biasanya faktor nasab atau garis keturunan itu tidak boleh dianggap remeh. Ilmu Nasab atau ilmu yang mempelajari garis keturunan langsung adalah faktor yang sering membuka rumitnya informasi sejarah. Kenapa ilmu nasab sering membantu dalam hal pelacakan sejarah seorang tokoh? karena dalam ilmu nasab FAKTOR SANAD adalah hal yang waji dijaga. Tidak heran dari data-data yang dimiliki KH RATU BAGUS AHMAD SYAR'I MERTAKUSUMA Ini, datanya bahkan tertulis sejak masa FATTAHILLAH, belum lagi kalau disambung sampai ujung (sampai kepada Rasulullah SAW).

Kesimpulannya apa yang ditulis beliau dalam kitab Al Fatawi semua bersumber dari data-data yang bersanad. Beliau adalah ulama, beliau juga seorang sufi, beliau juga pejuang sejati, beliau juga ketua adat, beliau juga penulis, beliau juga pendekar, (beliau adalah ulama yang multi talent sejati). Insya Allah apa yang telah beliau tulis itu semua bersumber dari data-data yang bisa dipertanggungjawabkan....

Al Fatehah untuk KH RATU BAGUS AHMAD SYAR'I MERTAKUSUMA AL FATTAH AZMATKHAN AL HUSAINI.............

Sumber :
Kitab Al Fatawi, As-Sayyid KH Ratu Bagus Ahmad Syar'i Mertakusuma, Penerbit Al Fatawi, Tahun 1897 s/d 1954.
Wangsa Aria JIpang Jayakarta, As-Sayyid Ratu Bagus Gunawan Mertakusuma, Penerbit Agapress, Jakarta 1986.

Jumat, 10 Oktober 2014

KAPITEN SOUW BENG KONG - PROFIL SALAH SATU TOKOH ETNIS CHINA & SEJARAH KOLONI-KOLONI PRIBUMI PADA MASA KEKUASAAN PENJAJAH VOC DI BATAVIA (STRATEGI POLITIK DEVIDE ET IMPERA DI JAYAKARTA)

Jakarta kini sedang mengalami gunjang ganjing pada masalah politik. Salah satu hal yang membuat bergejolaknya Jakarta adalah berkaitan dengan suksesi kepemimpinan. Berhasilnya Jokowi untuk naik menjadi Presiden, otomatis membuat peta kemimpinan DKI Jakarta berubah, secara konstitusi wakilnya yang bernama Basuki Cahaya Purnama atau yang lebih akrab dengan panggilan Ahok dipastikan akan menggantikan posisi Jokowi. Secara konstitusi memang Ahok “layak” menjadi Gubernur DKI yang selanjutnya. Namun pada kenyatannya ternyata dengan naiknya Ahok ini telah banyak menimbulkan Pro dan Kontra, terutama pada masyarakat Betawi.
Mengapa naiknya Ahok ini telah menimbulkan Pro dan Kontra pada masyarakat Betawi?
Saya sendiri melihat permasalahan ini dari sisi sejarah dan budaya. Sebenarnya masyarakat Betawi itu kulturnya sederhana saja, yang penting bagaimana mereka itu bisa diakui dan dihormati serta dijaga perasaannya sebagai penduduk asli. Sebagai penduduk asli Jakarta tuntutan hal itu menurut saya wajar dan lumrah, dimanapun kita berada yang namanya penduduk asli memang sudah selayaknya dihormati, terlepas bagaimana keadaan mereka, kehormatan pada penduduk asli jelas harus dijaga, baik itu berkaitan dengan idiologi mereka, budaya atau istiadat mereka, bukankah dulu ada peribahasa “dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung”. Tengoklah dulu bagaimana ketika Walisongo datang ke Nusantara dalam rangka menyebarkan Dakwah Islamiah. Walisongo dalam proses dakwahnya sangatlah menjunjung tinggi adat istiadat setempat, kepada penduduk Pribumi mereka santun dan mampu menjaga perasaanya. Walisongo bisa dijadikan sebagai contoh didalam menjalankan pola kepemimpinan. Mereka menyentuh dulu hati rakyat, mereka juga memberikan contoh kepada masyarakat, hasilnya? Sampai sekarang Islam adalah agama yang mayoritas di negeri dengan catatan bahwa Islam yang ada di Indonesia adalah Islam yang santun, damai dan toleran, Rahmatan Lil Alamin benar-benar diterapkan oleh Walisongo.
Sebagai pemimpin dari sebuah daerah yang multi kultur tapi masih banyak penduduk aslinya memang sudah selayaknya Ahok mempelajari ungkapan bijak itu. Selayaknya pula Ahok belajar dari strategi-strategi pemimpin dulu dalam melakukan manajemen kepemimpinan. Proporsional serta adil itu adalah kata kuncinya. Kearifan pada sejarah dan budaya lokal itu perlu difahami secara mendalam, apalagi posisinya kini sudah menjadi pemimpin. Seharusnya Ahok belajar dari tokoh-tokoh Etnis China yang berhasil berbaur dan bisa diterima ditengah masyarakat seperti Masagung, Yunus Yahya, Hembing, dan masih banyak lagi lainnya. Tidak semua Etnis China itu buruk, banyak pula mereka yang berjasa terhadap bangsa ini, oleh karenanya saya fikir Ahok bisa belajar banyak dari mereka. Mudah-mudahan kedepannya kita berharap kepada Ahok untuk bisa mengubah gaya kepemimpinannya yang lebih fleksibel dan toleran.
Namun demikian dalam tulisan saya kali ini, saya tidak akan banyak berbicara tentang Ahok, saya ingin mencoba mengangkat beberapa tema tentang bagaimana sebenarnya peran serta Etnis China dalam perjalanan Sejarah Kota Jakarta (Jayakarta) ini. Salah satu topik menarik yang ingin saya angkat adalah tentang salah satu tokoh etnis China yang bernama Souw Beng Kong. Kenapa sosok ini menarik untuk diangkat? Karena sosok ini adalah orang pertama dari etnis China di Batavia (nama dari Jan Pieterzoon Coen) yang ikut merancang dan membantu pembangunan bekas wilayah Jayakarta yang telah runtuh di tahun 1619 Masehi (lihat tulisan dibawah). Pada tulisan ini saya juga akan secara singkat menulis tentang profil beberapa “koloni-koloni suku” yang berada pada masa kekuasaan Penjajah VOC.
Souw Beng Kong sendiri adalah salah satu tokoh etnis China yang hidup diera Jan Pietierzoon Coen. Jan Pieterzoon Coen sendiri adalah tokoh VOC yang telah membumi hanguskan Kraton Jayakarta dan membunuh penghuninya secara kejam dan brutal pada tahun 1619 Masehi. Pasca runtuhnya Kraton Jayakarta, JP Coen kemudian membangun kembali kota Jayakarta untuk kemudian nama tersebut dia ganti menjadi Batavia. Nah untuk membangun kota Batavia ini, maka JP memanggil orang-orang yang dianggapnya bisa membantu keinginannya, diantaranya adalah Souw Beng Kong ini. Souw Beng Kong kemudian dijadikan seorang “Kapitan”. Kapitan sendiri adalah sebutan bagi mereka yang membawahi sebuah suku atau sebuah pemukiman besar yang berada dilingkungan penjajah, dengan bahasa sederhana mereka ini bisa disebut kepala kampung.
Menurut Mona Lohanda (Dalam Adi Windoro,2007:123-125) sejarah munculnya Kapitan adalah berasal dari tentara pribumi yang membantu Jan Pieterszoon Coen dalam menyerang Jayakarta, kebanyakan mereka berasal dari Ambon, Bali, Banda, Bugis dan Melayu. Setiap kelompok membentuk semacam kompi dan hidup bersama menurut adat istiadat dan kepercayaan mereka masing-masing, mereka juga memilih kepala kampung dari anggota anggota mereka yang dianggap cakap, idealnya kepala kampung itu hidup ditengah orang-orangnya dan bertanggungjawab menangani masalah kependudukan mereka, mengingat fakta bahwa para pemukim pertama itu adalah tentara, sangat wajar jika kepala Kampung mereka diberi pangkat KAPTEN/KAPITAN. Artinya Kapitan sendiri sebuah jabatan yang diberikan kepada seseorang yang mewakili etnisnya dalam berurusan dengan VOC. Artinya dia hanya mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan etnis dan wilayahnya semata. Sejak tahun-tahun awal kekuasaan VOC, Jan Pieterzoon Coen memang berupaya mengisi kota Batavia dengan penduduk dari berbagai daerah, seperti Bali, Bandan, Ambon, termasuk di dalamnya etnis Tionghoa atau China. Kemudian, penduduk ini dialokasikan di kawasan Ommelanden, luar kota Batavia, dan dipisahkan sesuai kelompok. Mereka kemudian hidup sesuai adat istiadat dan kepercayaan masing-masing dengan pimpinan kepala kampung.
Sebutan kepala kampung ini sama dengan Kapten atau Kapitan. Sekalipun mereka adalah dahulunya Tentara, namun jenjang pangkat ini, seolah-olah tidak memiliki arti, karena secara jenjang kepangkatan militer, VOC tidak terlalu menganggapnya, apalagi mereka adalah dahulunya Tentara Bayaran. Menurut Ade Sukirno (1995:23). Kota Jakarta sejak bernama Sunda Kelapa, Jayakarta, Jacatra, Batavia, Betawi, Jakarta, bahkan Pelabuhan Kelapa memang banyak menghimpun etnis dan berbagai suku bangsa kedalam kehidupan kota dan masyarakatnya. Setelah Portugis dan muncul masa Penjajahan Belanda, yang berhasil memerintah seratus tahunan menyambung masa perdagangan monopolinya selama 250 tahun, kota ini menjadi koloni-koloni etnis yang sangaja diciptakan Belanda. Penciptaan Suku bangsa yang terpisah dan akhirnya dipecah belah satu sama lainnya sangatlah menguntungkan Belanda karena tidak adanya kekompakan diantara mereka. Mereka mudah untuk diatur untuk bercekcok agar saling baku hantam sehingga Belanda dengan politik adu dombanya dapat terus memerintah dan berkuasa secara leluasa dikota perjuangan ini.
Sukirno (1995:23) juga menambahkan, sejarah lama mengungkapkan tabir bahwa Belanda memang tidak segan-segan untuk menyerahkan pangkat atau jabatan tinggi kepada tiap “kepala suku” atau koloni bangsa pribumi yang dibentuknya, asalkan semua itu menguntungkan posisi Penjajah. Bahkan posisi tinggi yang hampir setaraf dengan jabatan penguasaan pemerintahan kala itu misalnya, secara mudah diberikan penjajah Belanda kepada Pedagang etnis China yang menjadi saingan dalam berdagang dengan berbagai alasan. Lewat kepala suku yang dibentuk secara mudah itu, Belanda mengontrol dan mengatur mereka, bahkan tidak jarang jika memang diperlukan, pihak penjajah segera mengadakan tindakan keji dalam bentuk “Devide Et Impera” (politik adu domba) yang terkenal. Akibat paling buruk yang dirasakan bangsa Indonesia adalah kehadiran koloni-koloni didalam kota secara terkotak-kotak telah meninggalkan suasana sifat rasa kedaerahan yang terlalu fanatik dan kurang membaur antara sesama manusia dari suku yang lain. Bahkan kondisi itu sampai sekarang masih membekas dan sangat dirasakan oleh Jakarta yang sudah berubah menjadi Kota Metropolitan. Persaingan antar suku atau ras masih tampak dan membekas diberbagai segi akibat semua golongan ras di zaman penjajahan rata rata memiliki wawasan kebangsaan yang rendah, rasa kedaerahan yang sempit, serta kurang menyadari betapa pentingnya semangat dan persatuan.
Dahulu pada masa berkuasanya para “kepala suku” itu, Keberadaan mereka banyak sekali, mereka ada yang bernama Kapitan Jonker, Kapitan Arab, Kapitan Bali (Buleleng), Kapitan Melayu, Kapitan Ambon (Jongker), Kapitan Bugis seperti Wan Abdul Bugis, Kapitan Makassar, Kapitan Jawa, dan Kapitan Sumbawa. Nah Diantara sekian Kapitan ada Kapitan yang cukup terkenal, yaitu Kapitan Souw Beng Kong dari China. Para Kapitan ini benar-benar mendapatkan kepercayaan yang tinggi dari Penjajah VOC.
Kapitan Souw Beng Kong sendiri ditunjuk Gubernur Jenderal VOC Jan Pieterzoon Coen sebagai kapitan pada 1619 untuk membangun tata kota baru. Menurut Alwi Shihab (2002:46) Sow Beng Kong ini merupakan teman akrab Jan Piesterszoon Coen sejak di Banten, kemudian dibawa dia dibawa ke Batavia. Jan Pieterszoon Coen sering mendatangi kediaman Beng Kong yang luas dan besar, sambil minum teh. Mereka menggunakan bahasa Portugis, yang sampai abad ke 18 merupakan alat komunikasi sehari-hari berbagai etnis di Batavia baik Barat maupun non Barat. Jelas disini bahwa hubungan antara Souw Beng Kong dengan JP Coen sangat dekat, sehingga wajarlah bila kemudian JP Coen ini menjadikan Beng Kong tangan kanannya dalam membangun kota yang baru di Jayakarta tersebut.
Sang Kapitan ini (Souw Beng Kong) bertanggung jawab atas perdagangan dan perkembangan warga China di Batavia. Jadi meski berlabel Kapitan, jabatan ini tidak lagi berkait dengan fungsi militer. Beng Kong sendiri bertugas selama 17 tahun, dalam masa pemerintahan lima Gubernur Jenderal. Kapitan jelas adalah orang yang loyal pada pemerintah kolonial Belanda. Fungsi mereka adalah penyambung lidah pemerintah kolonial. Souw Beng Kong sendiri seperti layaknya sebagian etnis China di Jakarta pada hari ini, kesibukan Beng Kong pun tidak jauh berbeda. Ia pemilik berbagai usaha seperti pembuatan mata uang koin tembaga, pemilik kapal, kontraktor, dan pengawas rumah perjudian dan rumah penimbangan. Salah satu buah karya Sang Kapitan pun masih bisa kita lihat hingga kini, yaitu bagian Muara Ciliwung yang diluruskan menjadi Kali Besar untuk kelancaran lalu-lintas kapal. Sampai akhir hidupnya Sou Beng Kong masih tetap setia terhadap pemerintahan penjajah VOC ini, dimata Penjajah VOC Souw Beng Kong adalah “anak emas” sekalipun suatu saat dia melakukan kesalahan, namun karena dianggap mempunyai jasa yang besar, fihak Penjajah VOC masih tetap memaafkannya. Sejak dijadikannya Souw Beng Kong menjadi Kapitan, etnis Tionghoa pada masa itu banyak mendapatkan “fasilitas’ yang istimewa dari penjajah VOC. Apalagi VOC juga banyak mendapatkan keuntungan finansial yang tidak sedikit dengan banyaknya pendatang Tionghoa ke Batavia itu. Dimata penjajah VOC etnis ini dianggap lebih menguntungkan karena dianggap ulet dan cakap dalam bekerja, sedangkan etnis pribumi dianggap penjajah VOC dianggap sebagai etnis yang malas (sebuah cap negative yang sering dilontarkan penjajah kafir VOC kepada bangsa ini).
Sebenarnya diantara sekian kapitan-kapitan yang disebut, ada juga kapitan-kapitan yang berjasa terhadap perkembangan Dakwah Islamiah, bahkan mereka ada yang berasal dari etnis Tionghoa, namun keberadaan mereka ini jarang diangkat, seperti misalnya Kapitan Dossol. Dossol adalah kapitan peranakan Tionghoa pertama di Batavia. Setelah itu jabatan dilanjutkan oleh putranya, Tamien Dossol, dan kemudian Aliemuddin yang merupakan anak Tamien Dossol. Keluarga Dossol, khususnya Tamien Dossol, tercatat sebagai orang berjasa atas keberadaan Masjid Jami Kebon Jeruk di Jalan Hayam Wuruk. Masjid yang dibangun pada 1786 itu didirikan di atas tanah milik Kapitan Tamien Dossol (1780-1797). Disamping itu ada juga beberapa Kapitan yang mblelo atau membangkang terhadap penjajah VOC seperti Kapiten Jongker. Kapiten Jongker sendiri adalah seorang muslim yang berasal dari Pulau Seram. Dia sebenarnya adalah tawanan perang VOC namun kemudian karena dianggap berpotensi dalam bidang militer, maka kemudian VOC memanfaatkan ketrampilan Jongker. Awalnya dia memang mengabdi kepada penjajah VOC namun kemudian akhirnya dia menjadi musuh nomor satu penjajah VOC. Sebenarnya Kapiten Jongker ini tidaklah mengabdi secara penuh kepada penjajah VOC, walaupun secara fisik ia terlihat mengabdi, tapi itu dilakukannya karena terpaksa. Yang mungkin banyak orang tidak tahu, Kapiten Jongker yang merupakan muslim tulen ini ternyata istrinya adalah berasal dari keluarga besar Aria Jipang Jayakarta yang bernama Ratu Ayu Fatimah Nitikusuma.Artinya perlawanan Kapiten Jongker terhadap VOC tidak lepas perannya dari keluarga besar Aria Jipang yang ada di Jayakarta. Kapiten Jongker ini secara diam-diam melakukan hubungan diam-diam dengan keluarga besar Aria Jipang yang mempunyai basis pertahanan di Rawa Belong Palmerah. Kapiten Jongker sendiri akhirnya wafat syahid karena dibunuh oleh Penjajah VOC.
Sejak syahidnya Kapitan Jongker, keberadaan Kapitan kapitan lain diawasi secara ketat, tidak jarang Penjajah VOC sering mengadu domba antara Kapitan yang satu dengan yang lain. Satu Kapitan diangkat, satu lagi diinjak, satu kapitan dipuji yang lain dicerca, satu suku dipuji suku lain dikatakan jelek, intinya politik adu domba antar Kapitan dan antar suku yang ada di bekas wilayah Jayakarta ini terus menerus dilakukan oleh Penjajah VOC. Semua koloni-koloni yang berada pada kekuasaan Penjajah VOC yang berada di Batavia (nama dari JP Coen) betul-betul dipersempit ruang geraknya. Sedangkan pemukiman-pemukiman yang dihuni oleh keluarga besar Jayakarta luput dari pengawasan Penjajah karena posisi mereka berada jauh dari pusat pemerintahan Penjajah VOC, disamping jauh posisi pemukiman keluarga besar Jayakarta tertutup aksesnya bagi fihak luar., karena kalau sampai posisi pemukiman keturunan Jayakarta terbongkar maka habislah keturunan-keturunan mereka oleh penjajah kafir VOC itu.
Pemukiman-pemukiman keluarga besar Jayakarta memang tidak menggunakan pola pemerintahan ala penjajah, apalagi dengan adanya gelar KAPITAN itu. Sebab kalau mereka menggunakan istilah Kapitan itu, berarti mereka menyatakan diri tunduk pada penjajah, sekalipun tidak semua Kapitan itu jadi “pengikut setia” Penjajah VOC, namun tetap saja keluarga besar Jayakarta tidak memakai gelar-gelar yang diberikan oleh Penjajah VOC seperti Gelar Kapitan ini. Sampai runtuhnya Kraton Jayakarta ditahun 1619 M, keluarga besar Jayakarta memang tidak pernah menyatakan diri tahluk kepada penjajah VOC. Secara De Fakto kota Jayakarta sudah berhasil dipegang oleh para penjajah kafir tersebut, namun secara de jure perlawanan jihad fisabilillah itu masih terus berlangsung dibumi Jayakarta baik yang dilakukan secara gerilya maupun secara terbuka dan ini tercatat dan diceritakan secara turun temurun oleh keluarga besar Keturunan Jayakarta, baik yang ada di Rawa Belong Jakarta Barat, Kayu Putih Tanah Tinggi (kini menjadi Kayu Putih Utara Jakarta Timur) Jelambar (Jakarta barat) , Jatinegara Kaum (Jakarta Timur) dan wilayah Jayakarta yang lain. Keluarga besar Jayakarta sampai tahun 1945 terus melakukan perjuangan dibawah tanah.
Adanya pemukiman yang independen seperti yang saya sebut diatas ini jelas telah menjaga kerahasiaan sejarah maupun melindungi garis keturunan yang mereka miliki. Jika dibandingkan dengan pemukiman-pemukiman yang dihuni beberapa suku dan dipimpin oleh seorang KAPITAN, keberadaan pemukiman independen seperti yang saya sebut diatas tidaklah terlalu sulit untuk dilacak akar sejarah maupun akar garis keturunannya, sedangkan daerah-daerah koloni atau pemukiman-pemukiman yang dipimpin oleh para Kapitan, keberadaan penduduk aslinya kini sulit sekali untuk dilacak, jangankan sejarahnya, garis keturunannyapun sulit untuk dideteksi, hal ini karena banyak dari penduduk aslinya sudah berpindah keberbagai daerah, kini nama-nama tersebut kebanyakan hanya menjadi nama sebuah kampung, sedangkan penduduk aslinya nyaris terdeteksi. Lebih repot lagi jika kita menemukan mereka yang mengaku dirinya asli dari daerah tersebut tapi ternyata mereka buta sejarah dan juga buta akan garis keturunannya. Jika kita datang ke Kampung Melayu, Kampung Ambon, Kampung Bandan, Kampung Jawa, Kampung Bali, Kampung Makasar, dan kampung-kampung lainnya yang pernah tercatat dalam sejarah Jakarta kebanyakan justru penduduk daerah tersebut bukan lagi berasal dari nama-nama daerah tersebut.
Bagaimana kisah selanjutnya dari etnis Tionghoa atau China itu pasca masanya Kapitan Sow Beng Kong itu?
Setelah masa Souw Beng Kong berlalu, perlakuan penjajah VOC terhadap etnis ini sebenarnya masih sama, namun menjelang tahun-tahun 1730 - 1740an sikap Penjajah VOC itu mulai ada perubahan. Kisah etnis Tionghoa/China yang paling memilukan bahkan pernah dialami ketika ketika penjajah VOC di tahun 1740 Masehi melakukan pembantaian besar-besaran terhadap etnis ini di daerah Angke Jakarta Barat. Etnis Tionghoa sebelum terjadi pembantaian ini sangat sabar terhadap perlakuan VOC. Mereka diperas dan diperlakukan secara tidak manusiawi oleh Penjajah VOC. Bangkrutnya keuangan Belanda, membuat Belanda menjadikan etnis ini sebagai sapi perahan. Akibat dijadikan sapi perahan ini banyak membuat mereka melakukan perlawanan. Namun demikian Penjajah VOC pun akhirnya tidak tinggal diam.
Etnis Tionghoa pada tanggal 9 Oktober tahun 1740 Masehi betul-betul menjadi buruan VOC untuk dibunuh-bunuhi, kurang lebih 10.000 orang etnis tewas secara mengenaskan! Tapi tahukah anda, bahwa dari sekian yang dibunuhi-bunuhi tersebut ternyata banyak juga dari mereka yang merupakan muslim dan muslimah Tionghoa, terutama mereka yang sering disebut sebagai China Gundul. Sepertinya penjajah VOC ini sangat paranoid ketika mendengar idiologi yang satu ini. Secara historis memang banyaknya Etnis China atau Tionghoa yang muslim adalah sebuah kewajaran, karena salah satu tokoh China yang pernah datang ke Negeri ini dalam rangka melakukan titian Muhibah adalah seorang Muslim yang bernama Laksamana Muhammad Cheng Ho.
Prof Hembing (2005:vii) bahkan menulis bahwa etnis Tionghoa yang banyak masuk Ke Nusantara ini tidak lepas juga dari jasa Laksamana Muhammad Cheng Hoo dengan misi persahabatan dan kerukunan. Laksamana Cheng Ho adalah muslim yang berasal dari keturunan Ahlulbait. Sehingga dengan banyaknya etnis Tionghoa yang muslim sangat wajarlah jika Penjajah Belanda sangat benci dengan keberadaan mereka disamping faktor ekonomi (perdagangan). Menurut Alwi Shihab (2004:104) bahkan saat Sow Beng Kong menjabat sebagai Kapitan ia dibantu oleh sekretarisnya yang bernama Jan Con, alias Gouw Tjay. Orang kedua pada masyarakat China ini termasuk kelompok yang disebut China Gundul, sebutan seperti ini diberikan unttuk warga China yang beragama Islam. Gambaran ini menunjukkan bahwa sejak awal dibangunnya Batavia, sudah banyak Etnis Tionghoa yang beragama Islam. Namun demikian pada masa itu para Imigran Tiongkok itu lebih menyukai hidup damai dan menghindari keributan. Adanya kapitan-kapitan dari etnis Tionghoa adalah salah satu bentuk keterlibatan mereka agar VOC tidak berbuat “macam-macam” kepada mereka. Namun pada akhirnya dikemudian hari tahun 1740 Masehi terjadilah peristiwa memilukan di Batavia, yang mungkin sampai saat ini tidak akan pernah bisa dilupakan oleh mereka. Kali Angke jelas bagi mereka yang pernah membaca kisah pembantaian tahun 1740 Masehi itu, tentu akan terus menciptakan duka yang mendalam….
Itulah beberapa catatan sejarah mengenai kiprah tentang salah satu tokoh etnis Tionghoa serta beberapa sejarah koloni-koloni yang ada di Jayakarta, terlepas Pro dan Kontra dalam menyikapi keberadaan mereka, yang jelas keberadaan mereka itu pernah mewarnai perjalanan Kota Jakarta ini. Ambil sisi positif hilangkan sisi negativ.
Semoga mencerahkan…..

Daftar Pustaka:

Adi, Windoro (2010). Batavia 1740, Menyisir Jejak Betawi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Mertakusuma, Ratu Bagus D Gunawan (1986). Wangsa Aria Jipang di Jayakarta. Jakarta: Penerbit AgraPress,
Shihab, Alwi (2002). Robin Hood Betawi. Jakarta: Republika.
Shihab, Alwi (2004). Saudagar Baghdad Dari Betawi. Jakarta: Republika.
Sukirno, Ade (1995). Pangeran Jayakarta, Perintis Jakarta Lewat Sejarah Sunda Kelapa. Jakarta: Grasindo
Wijayakusuma, Hembing (2005). Pembantaian Masal 1740, Tragedi Berdarah Angke. Jakarta: Pustaka Populer Obor.

BERDIRINYA PEMERINTAHAN HIKMAH JUMHURIYAH JAYAKARTA 1527 M DAN DITERAPKANNYA HUKUM DAN ADAT ISTIADAT BERDASARKAN PAPAT KALIMA PANCER

Tahun 1527 Masehi adalah tonggak bersejarah berdirinya sebuah pemerintahan yang berazaskan Islam yang berada di wilayah Sunda Kelapa. Sunda Kelapa sendiri adalah wilayah tua yang cukup bersejarah di Nusantara, sehingga tidak heran sebelum daerah ini berubah namanya menjadi Jayakarta, Sunda Kelapa adalah sebuah wilayah yang cukup penting bagi beberapa kerajaan seperti terdahulu, Bagi Kerajaan Pajajaran, Banten, Cirebon dan juga Demak kedudukan Sunda kelapa sangat dianggap vital. Keberadaannya yang strategis diwilayah barat tentu sangat mengundang hasrat bangsa – bangsa lain untuk bisa menguasai daerah ini. Puncak dari keinginan beberapa bangsa yang ingin menguasasi daerah Sunda Kelapa adalah dengan datangnya bangsa Portugis ditahun 1527 disekitar bulan Juni – September. Kedatangan Pasukan Portugis ke Sunda Kelapa, karena sebelumnya Portugis sudah melakukan perjanjian dengan Kerajaan Pajajaran. Perjanjian ini diabadikan pada Batu Padrao yang kini tersimpan di museum nasional. Jelas perjanjian itu banyak mengkhawatirkan banyak fihak, terlepas isinya mengenai kerjasama ekonomi, tapi karena yang melakukan perjanjian itu adalah Portugis, jelas membuat fihak terutama Kesultanan Demak khawatir dan ini juga dirasakan oleh Majelis Dakwah Walisongo.
Kedatangan Bangsa Portugis yang dikomandoi oleh Fransesco De Sa ini jelas membawa misi penjajahan dengan berkedok perdagangan. Kedatangan Portugis ini telah juga mendapat restu dari Kerajaan Portugis yang memang mempunyai misi ingin menguasai Asia. Langkah Portugis ini jelas telah terbaca dengan cermat oleh keluarga besar Majelis Dakwah Walisongo dan Keluarga Besar Kesultanan Demak. Tentu sebagai fihak yang pernah bertempur dengan Pasukan Portugis pada tahun 1511 dan 1521 Masehi, Kesultanan Demak tidak mau kecolongan untuk yang ketiga kali. Pertempuran sebelumnya Fihak Demak mengalami kekalahan karena fihak Portugis sudah melakukan gerakan mata-mata untuk mencari kelemahan pasukan Demak. Kekalahan menyesakkan tahun 1521 jelas masih membekas, apalagi kekalahan itu karena bocornya kekuatan Demak. Oleh karena itu menjelang kedatangan Portugis ke Sunda Kelapa, fihak Kesultanan Demak yang pada saat itu pemimpinnya bernama Sultan Trenggono/Sayyid Abdurrahman/Sultan Ahmad Abdul Arifin/Sultan Demak III) tidak mau jatuh ke lubang yang sama, Sultan Trenggono kemudian mengutus beberapa senopatinya untuk terjun langsung menghadapi Pasukan Portugis yang akan mendarat di Sunda Kelapa. Kesultanan Demak mengutus Fattahillah dan beberapa putra-putra terbaiknya.
Setelah mendapat restu dari Majelis Dakwah Walisongo. Berangkatlah pasukan Fattahillah dengan semangat membara untuk menahlukan Portugis. Dari Kesultanan Demak Pasukan Jihad Fattahillah bergerak ke Kesultanan Cirebon untuk melakukan Koordinasi dengan Sunan Gunung Jati dan juga menambah kekuatan pasukan, kemudian dari Kesultanan Cirebon mereka bergerak ke Kesultanan Banten untuk menambah pasukan lagi serta memantau perkembangan pasukan Portugis. Dari Banten ini Pasukan Fattahillah langsung bergerak cepat menuju Sunda Kelapa. Pergerakan Fattahillah dilakukan lebih cepat beberapa hari karena beliau sudah mendengar jika Pasukan Portugis sudah berangkat dari perairan Banten menuju Sunda Kelapa.
Kedatangan pasukan jihad Fatahillah dipantai Sunda Kelapa, ternyata lebih dahulu dibandingkan Pasukan Portugis. Sedangkan Pasukan Portugis dengan kapal Galeonnya terhambat karena diserang badai laut. Fihak Portugis tidak tahu jika kedatangan mereka itu sudah dinantikan oleh para pasukan Mujahidin Demak, Banten dan Cirebon. Saat kapal mereka akan merapat di pelabuhan Sunda Kelapa, maka Fattahillah memerintahkan pasukan Mujahidin keluar dan menyerbu habis-habisan Kapal kapal Portugis. Dengan diiringi pekikan takbir Allahu Akbar yang menggema dimana-mana terjadilah peperangan dahsyat. Pekikan takbir jihad ini jelas membuat suasana menjadi menggetarkan bagi fihak Portugis. Kapal Galeon yang besar dan gagah tidak berkutik menghadapi kapal-kapal Jung milik pasukan gabungan Mujahidin yang pergerakannya lebih lincah. Kapal Galeon milik Portugus tersebut memang sengaja dibiarkan mendekat diperairan dangkal, karena kalau mereka bergerak diperairan dalam, kapal kapal tersebut bisa melakukan manuver, dan strategi ini sudah dibaca baik oleh Fattahillah. Dan memang berdasarkan pengalaman bertempur di Malaka, kapal kapal Galeon itu sulit untuk ditundukan jika berada diperairan dalam. Satu kapal besar Portugis berhasil ditenggelamkan, pasukan Portugis yang sudah mendarat langsung diserang habis habisan. Sudah tentu pasukan Portugis sangat syok, sehingga akhirnya Fransesco De Sa sebagai komandan akhirnya memerintahkan beberapa kapal lain segera mundur. Fransesco De Sa sebagai Komandan Kapal Kapal perang Portugis tentu tidak menyangka akan mendapat serangan Jihad Fisabilillah tersebut.
Fattahillah berhasil memenangkan Pertempuran hidup mati itu, semua pasukan menangis haru dan bertakbir karena telah berhasil mengusir bangsa Panjajah yang akan menguasai Sunda Kelapa. Kemenangan Fattahillah ini jelas sangat membuat Fihak Kesultanan Demak berbahagia karena mereka telah berhasil mengusir musuh besar tersebut. Portugis boleh menang di Malaka, tapi untuk di Sunda Kelapa dan Pasuruan jangan harap mereka bisa menang. Sultan Trenggono sebagai orang yang memerintahkan penyerangan ke Sunda Kelapa sangat senang dengan perlawanan heroik para Mujahidin.
Pasca kemenangan inilah akhirnya Fattahillah diberikan mandat oleh Sultan Trenggono untuk mendirikan pemerintahan Islam di Sunda Kelapa. Sebelumnya beliau mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta (Kemenangan yang Sempurna) dengan mengambil inspirasi Surat Al Fath “Inna Fatahna Laka Fathan Mubina”.
Pemerintahan Jayakarta didirikan dengan nama PEMERINTAHAN HIKMAH JUMHURIYAH JAYAKARTA. Pemerintahan ini azas hukumnya adalah Islam dengan naungan dari Kesultanan Demak. Adapun idealism politik nasionalisme/Kebangsaannya memakai landasan Dasar Negara yang bernama PAPAT KALIMA PANCER.
Disamping PEMERINTAHAN HIKMAH JUMHURIYAH JAYAKARTA, AL HAJ FATTAHILLAH juga mendirikan Lembaga Keadatan Jayakarta. Azas Islam yang diterapkan dalam kehidupan Jayakarta adalah Azaz Islamnya Walisongo. Dimana Islam yang dikembangkan adalah Islam yang santun, damai dan toleran dan bijak dalam menghadapi adat istiadat setempat.
Pada zaman Fattahillah yang juga merupakan IMAM BESAR NEGARA JAYAKARTA, yang dimaksud dengan PAPAT KALIMA PANCER adalah sebagai berikut :
1.GURU – Al Adliah : Disimbolkan dengan SEBATANG TONGKAT yang artinya Syara’ Hukum Adat bersendi Kepada Kitabullah dan Hadist
2.RATU – Al Wathoniyah : Disimbolkan dengan LUMBUNG yang artinya pemerintahan yang Makmur dan Adil
3.WONG TUA/ORANG TUA – Al Basyariah : Disimbulkan dengan PAYUNG yang artinya perikemanusiaan
4.KAROBAT – Al Jamiyatul Ra’iyah : Disimbulkan dengan selembar DAUN SIRIH yang artinya Persatuan dan Kesatuan Adat Melayu.
5.SYAHADAT – Al Ikhlas : Disimbulkan dengan sebuah huruf ALIF yang artinya ALLAH itu AHAD/Satu dengan mengucapkan Ikrar Syahadat/Janji Islam

Perkembangan selanjutnya pada masa berdirinya GUSTI KHALIFAH PERTAMA (1680), telah terdapat pergantian Istilah, sedangkan azas pokoknya tetap tidak berubah. Adapun perubahan istilah istilah itu adalah sebagai berikut :
1.Gambar Huruf Alif diganti menjadi gambar PENTA/KERIS PANGERAN JAYAKARTA yang berbentuk BASMALLAH. DImaksudkan sebagai KEIMANAN SYAHADAT AL AHAD atau Tuhan Yang Maha Esa
2.Gambar TONGKAT tetap tidak berubah, dimaksudkan sebagai TONGKAT KEADILAN yang bernama Al Adliah.
3.Gambar PAYUNG tidak dirubah, dimaksudkan Kemanusiaan yang bernama Al Basyariah.
4.Gambar DAUN SIRIH tetap tidak berubah dimaksudkan sebagai LAMBANG PERSATUAN DAN KESATUAN RAKYAT dan kemudian diberi nama AL JAMIATUL RA’iYAH.
5.Gambar LUMBUNG tetap tidak berubah dimaksudkan sebagai LAMBANG PEMERINTAHAN PRIBADI yang aman, sejahtera, adil dan diberi nama AL WATHONIYAH.

PAPAT KALIMA PANCER ini diikat dengan sangsi, apabila terdapat warga atau masyarakat Jayakarta ingkar terhadap janji PAPAT KALIMA PANCER itu maka kepada yang melanggar itu akan diberikan “IKAB”. IKAB adalah Sangsi atau Hukuman Tanpa Kurungan dengan diberikan pelajaran dan pendidikan, Tujuannya adalah agar Warga Jayakarta baik itu secara pribadi atau secara masyarakat agar mematuhi sumpah PAPAT KALIMA PANCER itu..
Dengan Pendidikan PAPAT KALIMA PANCER Lembaga Adat Jayakarta telah memberikan stimulus atau dorongan yang konsekuen untuk melaksanakan disiplin bermasyarakat dan bernegara sebagai Insan yang merdeka guna ibadah kepada Allah dan melakukan muamalah terhadap alam dan sesame manusia dalam lingkungannya masing-masing.

Sumber :
Iwan Mahmud Al Fattah, Fattahillah Sang Mujahid Agung Pendiri Kota Jayakarta, Penerbit Majelis Dakwah Walisongo, 2014.
Ratu Bagus D Gunawan Mertakusuma, Kitab Petunjuk Adat Istiadat Jayakarta. Penerbit Al Fatawi, Jakarta: 1992.

Jumat, 03 Oktober 2014

WAJAH ASLI DEDENGKOT PITUNG (Fakta jika Pitung bukan legenda)

INILAH WAJAH ASLI DEDENGKOTNYA PITUNG, BELIAU ADALAH K.H. RATU BAGUS AHMAD SYAR'I MERTAKUSUMA, PEMIMPIN GERAKAN PITUNG SEJAK TAHUN 1890an s/d TAHUN 1926 menggantikan posisi RATU BAGUS ROJI'IH yang gugur tertembak. INILAH DEDENGKOT PITUNG YANG PALING DICARI CARI PENJAJAH, Berkali-kali lolos, sempat tertangkap namun berhasil meloloskan diri dari penjara Jambi. BELIAULAH YANG SELAMA INI memegang sejarah asli Jayakarta, Sejarah Pitung berhasil diselamatkan oleh beliau...INILAH ANGGOTA PITUNG TULEN Dan paling sulit ditangkap Belanda. Watak beliau keras dan tegas terhadap penjajah, sepanjang hidupnya beliau ini merupakan orang yang paling benci dengan penjajah, sebagai musuh besar penjajah, keberadaan beliau selalu bergerak dari satu tempat ketempat yang lain. perjuangan beliau lebih banyak dibelakang layar, namun jangan ditanya kalau soal strategi, pemikiran, keagamaan dan juga pencak silatnya. Perjuangan ditahun 1910 s/d 1940 an memang kemudian lebih banyak beliau amanatkan kepada keponakannya yang juga pahlawan besar Betawi yaitu Muhammad Husni Thamrin, sedangkan beliau terus menerus bergerak dari satu daerah kedaerah lain. beliau lebih memilih hijrah ketimbang harus tunduk dan berhadapan dengan saudaranya sendiri (terutama mereka yang condong dan pro kepada penjajah).

Versi sejarah Pitung yang asli yang baru beredar setelah tahun 1986 adalah berkat jasa keturunan beliau ini. Selama ini beberapa versi yang beredar mengenai Sejarah Pitung adalah versi sejarah yang berasal dari Penjajah. Sampai saat ini masih banyak fihak yang percaya jika Film Si Pitung yang diperankan Dicky Zulkarnaen versi yang benar, padahal itu bukanlah versi yang asli.

Beliau berasal dari Keturunan Aria Jipang/Aria Penangsang dari Jipang Panolan (kini masuk wilayah Cepu Jawa Tengah). Aria Penangsang sendiri mempunyai 38 orang anak dari 10 orang istri (menikah dengan waktu yang berbeda dan tetap memakai hukum Islam dengan 4 istri), diantara anaknya yang di Jayakarta adalah KI Mas Wisesa Adimerta atau Raden Mandurugo, kemudian beliau mempunyai anak yang bernama Raden Surya Kawisa Adimerta dan kemudian Raden Surya Kawisa Adi Merta ini mempunyai anak : 

1. Pangeran Mertakusuma (makam di Masjid Angke Jakarta Barat) beliaulah leluhur dari KH Ahmad Syar'i Mertakusuma
2. Pangeran Nitikusuma I (kelak menurunkan Raden Muhammad Ali bin Raden Amsirin Nitikusuma, Si Pitung dari Petamburan atau yang lebih terkenal pada itu dengan Panggilan Muhammad Ali Perang)

Adapun nasab leluhur beliau adalah sebagai berikut : 

1. Sayyidina Muhammad Rasulullah SAW
2. Sayyidah Fatimah Az-Zahra Ra
3. Al Imam Husein As-Shibti RA
4. Al Imam Ali Zaenal Abidin/Ali Assajjad
5. Al Imam Muhammad Al Baqir
6. Al Imam Jakfar Asshodiq
7. Al Imam Ali Al Uraidhi
8. Al Imam Muhammad An-Naqib
9. Al Imam Isa Arrumi
10.Al Imam Ahmad Al Muhajir
11.Al Imam Ubaidhillah
12.Al Imam Alwi Al Mubtakir
13.Al Imam Muhammad Maula Ashouma'ah
14.Al Imam Alwi Atsani/Shohib Baitu Jubair
15.Al Imam Ali Kholi'Qosam
16.Al Imam Muhammad Shohib Marbath
17.Al Imam Alwi Ammul Faqih 
18.Al Imam Abdul Malik Azmatkhan 
19.As-Sayyid Al Amir Abdullah Azmakhan 
20.As-Sayyid Sultan Ahmad Syah Jalaluddin Azmatkhan 
21.As-Sayyid Husein Jamaluddin Jumadil Kubro Azmatkhan 
22.As-Sayyid Ali Nurul Alam Azmatkhan /Maulana Malik Israil/Arya Gajah Mada
23.As-Sayyid Abdullah Umdatuddin Azmatkhan /Sultan Champa/Syarif Abdullah 
24.As-Sayyid Hasan Azmatkhan /Raden Fattah/Sultan Demak I
25.As-Sayyid Ali Azmatkhan/Raden Bagus Surowiyoto/Pangeran Sekar Seda Lepen
26.As-Sayyid Husein Azmatkhan/Aria Jipang/Aria Penangsang/Ratu Sahibul Ma'rifah
27.Ki Mas Wisesa Adimerta/Raden Mandurogo
28. Raden Surya Kawisa Adimerta
29.Pangeran Mertakusuma & Pangeran Nitikusuma 1 

Jelas dari rincian nasab ini keluarga besar Pitung adalah keluarga yang berasal dari Dzuriyyahnya Rasulullah SAW melalui jalur keluarga besar Azmatkhan Al Husaini. Azmatkhan Al Husaini sendiri adalah salah satu cabang keluarga dari Bani Ba'alawi yang ada di Yaman Hadramaut. Pemakaian nama Marga AZMATKHAN sendiri berasal dari Negeri India. . Marga ini diperoleh setelah salah satu keluarga besar Bani Ba'alawy terutama Imam Abdul Malik hijrah ke negeri India dalam rangka berdakwah.Didapatkannya nama marga AZMATKHAN ini karena Sayyid Abdul Malik dianggap berjasa dalam dakwah di daerah Kesultanan NAserabad Lama (Salah satu wilayah India). Beliau diberikan gelar AZMATKHAN yang berarti, AZMAT = MULIA, KHAN = BANGSAWAN (biasanya pada masa itu gelar KHAN adalah untuk bangsawan India, bahkan hingga kini masih sering dipakai, tapi tidak semua KHAN keturunan Alawiyyin, kecuali nama AZMATKHAN milik Sayyid Abdul Malik)

Dari India terutama daerah Naserabad, Haydarabad dan daerah daerah Islam lainnya, keluarga besar ini terus berdakwah. Salah satu cicit Sayyid Abdul Malik Azmatkhan yang bernama Sayyid Husein Jamaluddin Jumadhil Kubro kemudian hijrah ke Asia Tenggara dalam rangka dakwah Islamiah dengan terlebih dahulu singgah ke Champa (kini berada di Vietnam Selatan), dari Champa kemudian bergeser ke Patani (Thailand) kemudian bergeser lagi Ke Kelantan, Malaka dan sekitarnya hingga akhirnya mereka menyebar ke Pulau Jawa, Beberapa keturunan dari Sayyid Husein Jamaluddin Jumadil Kubro yang terkenal adalah WALISONGO dan SULTAN-SULTAN dari Kesultanan DEMAK,CIREBON, BANTEN, MATARAM, PALEMBANG, TERNATE TIDORE. Selain Walisongo keturunan keluarga besar Sayyid Abdul Malik Azmatkhan juga banyak menyebar kebeberapa keluarga pribumi untuk melakukan akulturasi melalui jalur pernikahan sehingga tidak heran banyak dari mereka sudah menjadi pribumi termasuk keluarga besar Pitung ini. Tidak heran jika keluarga besar Azmatkhan Al Husaini kelak lebih banyak memakai nama-nama Pribumi serta gelar-gelar bangsawan yang berasal dari Budaya Nuswantara. Dapat dikatakan bahwa mereka ini adalah generasi generasi awal rombongan keluarga besar Ahlul Bait yang datang ke Nuswantara. Dan beberapa keturunan Azmatkhan Al Husaini di Jayakarta adalah Pangeran Wijayakusuma bin Fattahillah Jelambar, Pangeran Ahmad Jaketra Jatinegara Kaum, dan Keluarga Aria Jipang Rawa Belong, Keluarga Pangeran Soegiri Jatinegara Kaum. Untuk keluarga besar Pitung sendiri,mereka ada di Rawa Belong, Petamburan, Kayu Putih Tanah Tinggi (Kini mereka ada di Kayu Putih Utara 1/Mesjid Al Ghoni).

Inilah Dedengkot Pitung yang Asli! beliau wafat ditahun 1954 dalam usia 74 tahun di Palembang. Beliau hijrah ke Palembang dan menetap di daerah 16 Ilir Palembang (di Depan Pasar Skana), beliau hijrah karena beliau adalah buruan yang paling dicari oleh penjajah dan dianggap sebagai biang keladi perlawanan dibawah tanah beberapa pejuang Betawi. 

Mohon izin Bang Indra Rizki, foto beliau saya share, ini penting agar generasi muda jakarta tidak melupakan orang-orang yang pernah berjasa kepada Jayakarta.Jakarta

Sumber : 

Al-Allamah As-Sayyid Bahrudin Azmatkhan Al Hafiz & As-Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan, Al Mausu'uah Li Ansaabi Al Imam Al Husaini (Ensiklopedia Nasab Al Husaini), Penerbit Majelis Dakwah Walisongo Jakarta, Edisi ke 24, Volume ke II, 2014. 

Al Allamah As-Sayyid Bahruddin Azmatkhan Al Hafiz, Dzurratul Falah Li Itrati Sulthon Abdul Fattah, Penerbit Majelis Dakwah Walisongo Jakarta, 2014. (Edisi Revisi dari tahun 1954 Masehi).

Ratu Bagus D Gunawan Mertakusuma Al Fattah Azmatkhan. Wangsa Aria Jipang di Jayakarta (Inti Sari Kitab Al Fatawi), Penerbit Agrapress Jakarta, 1986.

SEKILAS KITAB AL FATAWI, KITAB RUJUKAN KELUARGA BESAR PITUAN PITULUNG & WANGSA ARIA JIPANG JAYAKARTA



Kitab ini adalah berisikan tentang :
1. Sejarah Jayakarta 
2. Adat Istiadat Jayakarta
3. Silsilah beberapa keluarga besar Jayakarta

Adapun kitab ini ditulis secara turun temurun dan bersanad. Ketelitian serta adanya sanad adalah hal yang penting dalam setiap pencatatan yang dilakukan keluarga besar ini. Dan sudah tentu sanad yang dimiliki oleh keluarga besar ini berasal dari keluarga besar Walisongo, terutama Keluarga besar Kesultanan Demak karena Aria Jipang sendiri adalah cucu Raden Fattah dan juga menantu beberapa Walisongo. Dan salah satu pemegang sanad ilmu nasab Walisongo pada masa itu adalah Sunan Kudus yang merupakan guru terdekat dari Aria Jipang. Sunan Kudus atau sering digelari dengan panggilan WALIYUL ILMI adalah ulama multi talent pada masa itu. Faktor sanad adalah hal mutlak yang dipegang teguh dalam penulisan sejarah dan lebih khusus lagi pada penulisan garis keturunan. Keluarga Besar Aria Jipang lebih memilih riwayat yang bersumber daripada ulama daripada penjajah, dan itu sampai sekarang masih terus dipertahankan. Kebenaran sebuah sejarah mungkin akan terus menjadi perdebatan, namun demikian keluarga besar Aria Jipang masih terus setia dengan ilmu nasab dan juga sejarah yang berasal dari riwayat ulama dan penguasa yang mempunyai mata rantai atau sanad yang pasti.
Penulisan kitab ini dilakukan oleh mereka yang menjabat sebagai pemangku adat Jayakarta atau sesepuh yang ada pada waktu itu. Seorang yang saat itu menjadi pemangku adat jelas harus orang yang mengerti agama dan mengerti tata pemerintahan. Mereka bertugas menyelamatkan sejarah Jayakarta yang telah banyak didistorsikan penjajah kafir. Mereka biasanya orang yang dituakan dan biasanya merupakan anak tertua cucu tertua, artinya nasab atau garis keturunan mereka tidak boleh terputus. Jadi keberadaan mereka sangatlah jelas. Sekalipun pada masa itu Jayakarta sudah dinyatakan lenyap oleh para penjajah kafir, namun perlawanan secara gerilya masih terus dilakukan oleh para keturunan Jayakarta yang berada di Pedalaman-pedalaman atau daerah pinggir Jayakarta seperti Rawa Belong, Kayu Putih Tanah Tinggi (kini Pulo mas), Angke, Jelambar, Marunda, Jatinegara, dll.. Jayakarta boleh jatuh, namun Iman dan semangat jihad fisabillah masih terus menggelora. Satu hal yang perlu difahami bahwa keluarga besar Aria Jipang yang didalamnya termasuk para pejuang Pitung bukanlah keluarga Feodal atau "gila akan keningratan" justru banyak dari mereka yang berhasil jadi ulama dan juga berhasil melakukan akulturasi budaya dengan penduduk setempat. Kalaupun ada gelar RATU BAGUS atau RADEN (untuk perempuan RATU AYU atau RADEN AYU) didepan nama mereka, itu hanyalah untuk identitas keluarga agar lebih mudah diidentifikasi dalam pencatatan keturunan keluarga besar. Gelar-gelar tersebut juga sebagai rem dalam bertingkah laku, gelar-gelar tersebut juga tidak perlu mendapat pengakuan resmi dari fihak penjajah.
Dari mulai masa Al Haj Fattahillah bin Maulana Mahdar Ibrahim bin Maulana Abdul Ghofur bin Sultan Barokat Zaenal Alam bin Husein Jamaluddin Jumadil Kubro Azmatkhan Ba'alawy Al Husaini sampai kepada KH Ahmad Syar'i Mertakusuma Al Fattah Azmatkhan Ba'alawi Al Husaini pencatatan terus dilakukan. Namun perlu diketahui bahwa pencatatan kitab ini tidak dilakukan secara terbuka apalagi disebarkan. Kitab Al Fatawi hanya dibuat satu buah, sebab jika dibuat banyak, dikhawatirkan akan jatuh ketangan penjajah kafir, dan kalau itu terjadi maka habislah keluarga Jayakarta yang selama ini masih berjuang dibawah tanah dan berada ditempat-tempat tersembunyi. Sikap ini bukanlah sikap pengecut, tapi ini adalah sikap kehati-hatian karena berdasarkan pengalaman yang ada, faktor penghianatan selalu ada, dan penghianatan inilah yang sering merusak perjuangan keturunan Jayakarta itu. Kalau sampai saat ini masih ada fihak yang percaya mutlak dengan sumber-sumber yang berasal dari sejarawan Portugis atau Belanda atau naskah-naskah kuno yang kontroversial ya silahkan saja....Namun keluarga besar diatas tetap berpatokan kepada riwayat atau tulisan para ulama terutama kepada mereka yang mempunyai sanad.
Kitab ini ditulis dengan menggunakan bahasa arab gundul, namun sejak tahun 1910 kitab ini mulai diterjemahkan secara bertahap oleh beberapa keluarga besar diatas yang salah satunya adalah Ratu Bagus KH Ahmad Syar'i Mertakusuma yang merupakan Dedengkot Pitung. Tugas KH Ahmad Syar'i kemudian dilanjutkan oleh anaknya yang bernama Ratu Bagus Abdul Madjid Mertakusuma pada tahun 1935 dan terakhir pada tahun 1975 beberapa bagian penting dari kitab ini telah selesai diterjemahkan oleh satu adik dari Ratu Bagus Abdul Madjid yang bernama Ratu Bagus Semaun Mertakusuma. Hasil terjemahan kitab tersebut adalah dengan munculnya buku yang berjudul WANGSA ARIA JIPANG DI JAYAKARTA yang disusun oleh RATU BAGUS DJAKA GUNAWAN MERTAKUSUMA yang merupakan cucu dari RATU BAGUS KH AHMAD SYAR'I MERTAKUSUMA. Terakhir kitab ini dipegang oleh ALM RATU BAGUS MUHTADIN MERTAKUSUMA (paman dari BABE FIRMAN MUNTACO, Penulis Handal Betawi). Ratu Bagus Muhtadin Mertakusuma adalah adik dari Ratu Bagus Muntaco Mertakusuma bin Ratu Bagus Abdul Halim Mertakusuma (Babe Tinggal) yang wafat pada tahun 1942 dan dimakamkan di Karet Bivak Jakarta.
Sumber :
Ratu Bagus D Gunawan Mertakusuma, Wangsa Aria Jipang Jayakarta, Penerbit Agrapress Jakarta, 1986.
Al Allamah Sayyid Bahruddin Azmatkhan, Ensiklopedia Nasab Al Husaini, Penerbit Majelsi Dakwah Walisongo Jakarta, Edisi ke 24 Vol II, 2014.

KAMPUNG INDAH NEGERI DONGENG

(Kisah salah satu kampung Betawi yang lenyap, dan kisah para pejuang Jayakarta yang selalu diburu penjajah, Potret Hitam Putih Kita 1 abad yang lalu, Apakah sudah berubah?)

Dikutif dari Novel Sejarah Betawi : SI Manis Jembatan Ancol
Oleh : Ratu Bagus Yusuf Wisnu Mertakusuma (Abu Syahwal)
Ditulis dalam versi bahasa Betawi


Ini jalanan milik anak-anak, jalanan masa lalu nyang belon berobah. Malahan bekas telapak kaki bocah masing bebayang ditanah atawa diatas tai kebo’ kering. Disini waktu jadi bebalik mundur, ngebeber kejadian dulu ngejeleg diterawang angan. Anak-anak pade girang pake’ baju’ baru baru. Duit di kantong gemerincing. Nek –nenek, Mak-emak, mpo’mpo, cang-ncing bererot pake’ selendang pelangi. Suara bedug nerutug kagak putus ditabuh seantero penjuru kampung. Dimana-mana penuh ketupat, dodol, tape uli, rangginang, geplak. Karim netesin aer mata tapi bibirnye katawa die ngelilir kaya’ bangun mendusin. Dari atas gerobak semua keliatan masing kaya’ dulu, kanan kiri sawah subur seablak abak. Orang-orangan sawah pake’ baju rombeng jogged-jogged ditiap petakan. Segeroyokan burung bondol berenang di samudra padi nyang lagi nguning. Semilir angin nyorein ngegiring sampe mulut kampung nyang bebates kebon bambu. Seribu daon bambu bekibas adem ngipasin awak nyang ude kering kejemur sepanjang jalan. Roda gerobak masing ngegelinding selangkangan kuda basah bekeringet pedahal kudu ngelangkahin kebon kelape ame ngeliwatin dua tikungan di ujung.
Kesebut Kampung Pulo kecuali asli pribumi, orang luar jarang nyang tau dimane tempatnye. Disini seturu turunye masing sanak keluarga. Moyang cikal bakalnye ude lame nyetu ame bumi. Kendati begitu tetep masing dihormatin karomahnye, bukan dijadiin tempat keramat buat minta barokah. Semue warge kampung paham bener ame risalah tauhid. Ditandain puun kayu putih nyang tumbuh diatas tanah tinggi dijadiin tunggak kesejarahan. Ditanah ini dulu leluhurnye ngebangun kehidupan nyang selaras ame alam. Keberkahan senantiasa dilimpahkanNYa sepanjang hayat seluas tanah subur. Di sini jadi kaya’ Pulo Emas. Ape aje nyang diolah ame warge jadi emas. Puun-puun kelapa ditanem buahnye banyak, diolah jadi minyak punya nilai emas. Padi di sawah subur panen melimpah kagak digegares tikus, bisa berobah jadi emas. Pribase kate tiap jengkal tanah disini mengandung emas. Ngomong ngerahulnye gendi atawa kuwali, tempayan gerabah dibikin dari tanah bisa berobah jadi emas. Bukan disihir, tapi pake’ akal pikiran, pake’ tenaga ame keringet ditambah semanget disertain do’a. Hasilnye lebih dari pade sekedar emas. Bekah, sehat, selamet……………
Seluruh warge kampung idup rukun dalem ikatan tali silaturahim. Nyang tuwa nyayangin nyang muda, nyang muda hormatin nyang Tuwa. Orang Alim dijadiin panutan. Lantaran punye panutan buat becermin diri mentakan kagak keilangan arah tujuan idup, kagak kecabut dari akar kepribadian budayanye.
Keadaan sekeliling kampung belon berobah masing asri kayak dulu waktu Karim bocah. Kalo ade nyang berobah paling warge kampung nyang dulu masing bocah sekarang udah bangkotan. Nyang dewasa jadi laki-aki. Nyang dulu udah aki-aki sekarang pada ngelonjor dibawah puun kemboja. Tapi kagak semua, masing ade Ki Wahab, bekas panjak topeng nyang kesohor di jamannye.
Orang bilang die awet muda panjang umur. Awaknye masing keker saban ari kerjenye ngutrek kagak betah diem, rajin nanem puun. Biasa kalo ade nyang liwat ngelintas di deketnye ngasi salam die bales salam die mentak diliat nyang baru nyampe’ cucunye die ngelonjak girang. Masing diatas gerobak ngasi salam :
“Assalamu Alaikum.” 
“Waalaikum Salam. Masya Allah, Cu….Tumben amat banyak ari banyak bulan ujug ujug nyampe siang ari bolong. Pada sehat Cu.” Sambut Ki Wahab.
“Alhamdulillah. Berkah, sehat, Ki.” Bari cium tangan kakeknye.
Husen ngasi salam sama kaya’ Karim, kagak ketinggalan Kebot.
“Nyak lu…..nyak lu.” Ki Wahab beberekan.
Nek-nenek pake’ krudung mulut penuh sirih nubruk nyongsong cucunye girang. 
“Alhamdulillah, cu, Ayo dah pada masuk, mau ngopi apa mau makan ?. “ Nyi Wahab nyerte cucunye masuk.
“Ngopi ama makan sekalian, nyak. “ Jawab Kebot sekenanye.
“Akh, tumanan bae’ elu mah Bot!. Onoh nangka kaya’ kaya bedug, besok bawa ke pasar, ya…..”
“Lha’ pan besok katanya mau ngegedeng?”
“Besok lusa, mentakan elu jangan merat.” Pesen Nyi Wahab wanti wanti, lantas bareng-bareng pada duduk di bale.
“Pagimana ceritanye nih, bisa nyampe bareng ama si Kebot? “ Eh, nyang ini…..Teja sulaksama anyor katon.” Tanya Ki Wahab.
“Aye Usen, Ki. Sobat dari kecil, kaya sudara. Dulu belajar ngaji bareng. Sekarang aye uda bebini, Karim belon.”
“Calon mah udah ada kali ya? Cu,. Awak kaya’ kabo gude; udah wayahnya diadu, belon berani, apa. ? ”Seloroh Ki Wahab.
“Berani, Ki. Cuman waktunya aja belon nyampe’. Kerja aja belon.” Jawab Karim nimpalin canda kakeknye.
“Waktu mah saban ari nyampe, montong ditungguin. Mentakan udah jangan ngablu abur-aburan ora puguh juntrugannya. Belajar kerja disini ama aki, Ya ? ….”
“Ya, Ki. Tapi belajar kerja apaan?” Tanya Karim.
“Terserah apa minatnye, banyak nyang bisa dipelajarin misalnya ngolah bikin minyak kelapa, bikin gula aren atawa bikin gerabah. Nyang penting asal bari senang ngelakoninnya, mentak kagak jadi kepaksa. Kalo kepaksa jadi beban mangka berat ngejalaninya, Tuh kaya’ si Kebot kapan asalnya senang dia ngelakoninnya. Jadi kalo kata aki mah, nyang namanya kerja ora kudu jadi kuli aja. Yaa, Tong, orang nyang kerja jadi kuli, ibarat tanah nempel di kaki, lagi masing senang ya kebawa, udahnya kagak senang dicuci ilang, abis…..Taro’ dah kepake’ terus selama awak masing kuat sehat, sampe’ tua bongkok ubanan, ya kuli bae’…..ora ada benernya jangan Sentara salahnya, benernya ajah masing salah!.

Nyi Wahab ke luar bawa nampan kopi berikut k kue kering…
“Disini mah cu, kerja asal mau aja, montong nguli di kota. kaya’ Cang cing lu ahli nukang kayu bikin segala macem perabot, meja, kursi, apa bae’. Kalu mau boleh belajar dah. Apa pengen belajar nandak topeng? Nah belajar dah sama aki.” Kata Nyi Wahab ngebujuk. Karim ame Husen ketawa aje nanggapinnye. Biarin sembari ngebanyol nasehat nenek ame kakeknye ude bisa ngebuka kebuntuan pikirannye selama ini.
“Alhamdulillah, saya terima Ki, Mupakat, Sen? “
Kagak banyak cingcong Husen nerima ajakan Karim bari senang ati lapang dada.
“Ya setuju bangen Im, Saye bole ikut , Ki?”.
“Selama niatnya ibadah, senang aki ngajaknya.”
“Ki, aya mau belajar ngolah bikin minyak kelapa.” Kate Karim.
“Nah, belajar dah ama wa’ Jamil….”

Tentrem banget tinggal di Kampung Pulo ini. Warganye conggah lagi bocah-bocah keliatan pade sehat kagak ade nyang korengan. Bajunye biar kagak bagus tapi bersih jarang banget nyang blegod. Belon pernah nemuin perempuan pade pake kebemben nenangga duduk besusun ngebiyakin kutu sembari ngobrol ngalor ngidul. Begitu juga orang lelakinye langka nyang nganggur, laha’ lehe’ pagi nungguin sore. Disini orang demen bekeringet dari nyang mude ampe’ nyang ampir jompo rajin megang kerjaan. Seenteng-entengnya nganyam tiker atawa bikin bakul.
Sedari pagi buta ude rame orang bererot bawa bakul ame ani-ani nuju sawah. Sekarang lagi musin motong, semua warga kampung ambil bagian gotong royong ngegedeng. Kesempatan bagus buat anak perjaka ngelirik lirik anak prawan. Kalo cocok serente ame jodo tinggal ngadep Pengulu ngundang kerabat ame tetangga. Cucu-cucu Ki Wahab Nyang perjaka nyang perawan uda duluan berangkat, cuman masing ketinggalan satu, si Karim. Diseret didorong tetap aje ogah. Alesannye pengen bebenah ngerapiin padepokan, tempat perabotan gamelan Topeng. Kakeknye, Ki Wahab, ngancem. Pokoknye besok mah kagak ada alesan, kudu nurut. Arepannye siape tahu ade anak perawan nyang kecantol atinye ame si Karim nyang uda bangkotan masing ngejomblo’.
“Ki, aya ama Usen bedua pengen ngerawat gamelan nyang keliatan udah banget ora ditole-tole. Separo tempatnya bakal aya pake, ya, Ki, Boleh?”
“Atuh puguh boleh Cu. Nah, kebeneran banget kalu begitu. Ayo sekarang kita kerjain, sebab besok pan udah pasti repot.”
Bangunan Padepokan ini misah sendiri dari bangunan Ki Wahab, jarak antaranya kira-kira dua puluh meter. Pekarangannye bersih teduh dinaungin puun sawo. Dinding ame kusen pintunye keker, boleh jadi dibikin dari kayu nangka tuwa, ubinnye dari bata merah nyang kotakannye lebih dari sejengkal. Ke atas kagak pake’ langit-langit jadi keliatan susunan gentengnye. Daon pintunye diapit ame jendela kiri kanan. Mentak semua dibuka keliatan perabotan ude belapis debu tebel, malahan di kayu penggantung goong kawa-kawa ngerajut sarang.
“Ki enaknye semua perabot gamelan kite keluarin dulu.“ Usul Husein.
Ki Wahab ame Karin setuju.
“Ayo dah pindahin ke luar. Dulu disini tempat latihan, sebelah sono tempat nandak, disini gamelan.” Kate Ki Wahab buka kenangan.

Husen ngebopong gendang rampag. Karim ame Aki ngegotong gambang. Seterusnye kenong. Wow, goongnye berat banget. Satu peti isi topeng diangkat bedua temengke-mengke’. Nyang satu peti lagi rada entengan, isinye pakean penari topeng nyang ude bau’ apek langsung dijembreng di bawah mateari.
Nyi Wahab bawain gendi aer berikut cangkir, Cing Ipah ngusung kuwe dongkal.

“Pade ngombe’ dulu dah.” Kate Nyi Wahab.
“Iya, makasih, Nyi. Enak banget nih kerja belon tuntas disuguhi makanan.” Kate Husen girang.
“Alhamdulilah……,” Kate Karim sembari nepak nepok tangan lantas meper di celananye.

Ki Wahab ikut duduk ngedeprok ngadepin gendi aer, duduk diseberangnye Nyi Wahab ame Cing Ipah.
“”Cobain dah, ntu dongkal nCing nyang ngeja dari beras padi cere’.” Kate Cing Ipah ade bontot emaknye Karim.
“Padi pulut si padi mayang….Padi cer’ patah tangkenye….”
“Tuh! Kumat lagi bae’ dah aki-aki. Udah ngapah, Ki. Montong ngedoja mulu….”Kate Nyi wahab haru.
“Enyak lu, Nok, kalu baba udah nembang pokoknya…”
“Eit teruisin dah. Gua gedig juga bukan gua alem. Dasar aki-aki Bedodoran!.“ Potong Nyi Wahab bari ngancem.

Karim ketawa kepingkel-pingkel ngelihat banyolan kakek-neneknye ampe kuwe dongkal nyang lagi die gayem nyembur mental keluar. Husen juga kagak bisa nahan ketawa geli. Cing Ipah juga cekikikan lantas bangun ngeloyor ke dapur. Nyi Wahab ikut bangun, sebelon ngeleos die ngegertak pengen ngegedig Ki Wahab. Lakinye bales ngegertak juga.
Kesenangan ame kebahagiaan macem begini nyang die pade reguk dulu waktu semua penonton ketawa cekakakan. Itu semua ude mendem tiga pulu taon silem nyisain kenangan pahit getir. Kalo diinget mentak jadi kesian sedih mereres. Dari wayah titet sampe’ wayah dur jalan kaki berombongan mikul perabot gamelan beriringan ame panjak berikut kembang panggung, Nyi Wahab. Mentas di mane warge kampung nyang nanggap buat hiburan ngeramein hajatan. Begitu juga udahannye, ngegotongim perabotan lagi bawa pulang. Mana awak cape’ ya ngantuk, masuk angin tulang pada pegel pating ngilu dapet upah kagak seberape duit. Tapi itu dojaan buat pengabdian seni. Perjuangan ngegugah semanget idup memperhalus akal budi, ngasi hiburan ame tuntunan ke jalan nyang lurus. Kagak adil rasanye kalo perjuangan ini dianggap perbuatan maksiat kagak punya nilai ibadah, nyang andenye ditimbang beratan mudoratnye dari pade mangpaatnye. Seni tu ibaratnye mata uang punya dua sisi. Di tangan orang beriman uang jadi berguna banget buat nunjang kebutuhan idup, tapi ditangan orang dzholim uang bisa jadi alat perusak atawa buat bikin kejahatan. Boleh percaya boleh kagak, para Wali Sembilan dakwah siar agama pake kesenian wayang.
Semua perabotan gamelan masing bagus, masing bisa dipake’ gendang rampag tiga, satu biang dua anak. Plituran kayunye mengkilap, sedengan kulitnye masing kuat. Begitu juga gambang bilah kayunye masing utuh. Cuma goong ame kemong nyang keliatannye burek, tapi kalo digosok pasti kilap cakep lagi. Kotak peti topeng dibuka tutupnye, isinye rapi besusun masing-masing kebungkus sarung. Husen ame Karim ngebukain sarungnye satu persatu, disekain dijejer rapi. Aki Wahab mandangin harta paling berharge miliknye itu, tau’ perasaan ape nyang ade didalem atinye. Senang, sedih, atawa haru. Husen ngebuka sarung topeng nyang rada gede sendiri, warnanye merah serem banget. Gigi caling gede mata melotot kumis jenggot kasar. Husen ketawa, lucu……..
“Ki, ini topeng setan ape?. Serem banget.” Tanya Husein.
“Itu bukan topeng setan, tapi Butha Kala.”
“Butha Kala, Jin Ape Iblis?, Ki.”
“Bukan Jin bukan Iblis. Emang siapa nyang pernah ngeliat tampang rupa atawa jogrogan Jin?.” Ki Wahab balik nanya.
“Katanya mah cuman Nabi Sulaiman.” Jawab Karim.
“Pinter, Cu. Topeng nyang serem itu cuman gambaran atawa bayangan sipat angkara murka manusia. Dulu selagi masing muda Aki belajar bikin topeng ama orang Cirebon. Selain juga pelajarin watak tokoh wayangnya” Tutur Ki Wahab buka kenangan masa mudanye.
“Jadi Topeng ini ude tuwa umurnye ye Ki?” Tanya Husen lagi.
“Lha, bandingannya kaya’ kakek ama cucu.”
“Terus cerita Ki, biar aya dengerin.” Pinta Karim.
“Bujug! Bisa ora tumpas ampe’ tengah malem, Cu. Ntar dah kapan waktu lagi sempet.” Kate Ki Wahab ngejanjiin cucunye.
“Nemang ngapa Ki, kesenian topeng ini ora diterusin lagi?. Apa orang udah pada bosen nonton topeng?” Mancing kakeknye supaya cerita terus.

Aki Wahab kagak buru-buru ngejawab, kayaknye ade nyang dirahasiain di dalem atinye. Sebenernye die bisa ngejawab secara spontan tapi cerdas, lucu gak konyol, cuman bingung darimane kudu mulainnye.
“Kalo dikata bosen, kali juga betul. Selera penonton udah begeser, sekarang orang cuman demen nonton bodorannye bae’. Asal pada bisa ketawa ajah. Banyolan ora puguh, ngolok-ngolok kebodohan, ngetawain kekurangan atawa kecatatan kita mlulu. Aki mah ogah kalo tibang ngeja” orang ketawa ajah. Aki pengen orang nyang nonton dapet pelajaran atawa nasehat nyang bisa bikin orang jadi bener, jadi pinter. Sering Aki nolak manggung sebab permintaan orang nyang nanggap supaya bawain cerita tahayul ora puguh, kaya’ lakon “beranak dalem kubur” atawa “dongeng seribu satu malem”, “cerita Jin ame lampu wasiat”. Apa manpa’atnya?. Cerita bohong nyang bikin orang jadi pada bodo….”
“Lha, terus panjak panjak nyang laennya pada kemana? Ki, Apa semua pada berenti kaya’ Aki, apa semua pada berenti pangsiun kaya’Aki, apa masing terus ngelakonin topeng nurutin permintaan cerita nyang ora puguh itu? “ tanya Karim penasaran pengen tau.
“Ya, sebagian ada nyang masing nerusin, sebagian ada nyang berenti ngikut Aki kerja tani, mentak dulu waktu Uwa Jamil, pengen nerusin ngelakonin topeng, Aki Larang, Jangan!, Lebih baek majuin Pesantrian, ngajar ngaji, ngajar maen silat, ngajar kerja tani. Bikin minyak kelapa atawa bikin gula aren.”
“Wah, hebat banget tuh Wa’Jamil, bisa ngajar segala macem, ampe ngajar maen silat. Ayew mau Ki belajar silat sama Wa’ Jamil.” Kate Husein motong omongan. Karim nimpalin seambari becanda.
“Yah, ntar udah ada jago silat, paling jadi centeng Tuan Tanah.”
“Na’udzu billah min Dzalik! Amit-amit, jauh-jauhin dah!.” Bales Husen sembari nepak ubin lantai tiga kali.
Aki Wahab mesem bangga ngeliat kesungguhan Husen.
“Ya. Alhamdulillah, bagen santrinya ora banyak, tapi satu juga kagak ada nyang jadi centeng atawa jawara tukang diadu berantem kaya’ ayam jago. Santri nyang udah hatam punya kemampuan ngajar boleh buka pesantrian ngumpulin murid ditempat laen. Nyang penting kerjaan buat dapet nafkah idup jangan dilupain.”

“Masya Allah, Sobat, kenape ente kagak pernah ngomong kalu punya uwa’ disini Guru Pesantrian. Coba dari dulu ane tau. Kite kan betemen ude lama, kenape ade nyang masing dirahasiain , Im?.” Kate Husein nyeselin sikap Karim.
“Begini, Sen, emang uda kewajiban si Karim ngejaga kerahasiaan Pesantrian di sini, Sebab dia juga kudu megang amanat Guru nyang juga sahabat Aki. Kesebut namanya Ki Dalang orang nyang paling dimusuhin Belanda berikut anjing piaraannya, pesen wanti-wanti jangan sampe’ pihak luar atawa fihak musuh ada nyang tau. Sebab kalo bole seturun-turunannya jangan ade yang idup.” Bukan cuman tujuh turunan, tapu seturun turunnya kudu dibabat abis.” Tutur Ki Wahab ngasi tau sikap cucunye sekalian ngejelasin akibat jelek nyang bakal kejadian kalao kagak bisa ngejaga kerahasiaan keberadaan kerabatnye.
“Lha, ngapa begitu, Ki. Nemang punya salah apa Ki Dalang ama Belanda ampe’ anak cucu turunannya dibabat abis kagak bole idup?” Tanya Karim jadi mingkin penasaran. Waktunye sekarang ade kesempatan buat ngorek tau sejati bapa kandungnye nyang ude lama ngilang kagak ketahuan juntrungannye.
“Kalo menurut pihak kita mah, Ki Dalang itu seorang pejuang sejati. Orang nyang Sholih, ngebela kaumnya. Itu sebabnya dia jadi musuh Belanda.” Ki Wahab ngebisikin omongan ke kuping Karim, tapi bukan ngerahasiain amanat buat Husein.
“O,jadi Ki Dalang itu masing…..” Kate Karim, tapi Aki Wahab cepet Nyetop.
“Sttt, jangan diucap di lisan. Bagen pecah di perut asal jangan pecah di mulut, ngarti?” Pesen Ki Wahab buat cucunye.
“Iya, Ki. Tapi ngapa kejem amat! Ora adil rasanya, lha kapan anak cucunya belon tentu salah ngapa musti nanggung dosa?.” Kate Karim ngehujat.
“Betul!. Tapi ditakutin bakal ada dendem di mana nanti bakal ada perlawanan, peperangan pasti berkobar lagi.”
“Tapi, Ki, ngapa anak cucu Raja atawa Sultan nyang laennya di negeri ini masing punya hak idup? Aya jadi ora abis pikir, Ki…..”
“Montong dipikirin dah Cu, ora bakal abis…….”
“Ya, pasti kepikiran terus, Ki. Biar gimana juga perjuangan bapa’ aya belon tuntas, pagimana kabarnya?. Di mana adanya sekarang?’ Karim kagak bisa nerusin omongannye, suaranye keganjel di tenggorokan ada barang manggang dadanye.
“Khabar terakhir Aki denger dia ikut hijrah ke Sumatra bareng ama Ki Dalang.”
“Jadi masing idup, ya Ki.” Kate Karim naro harepan.
“Ngapa Ki Dalang kudu hijrah ke Sumatra?.” Apa takut ditembak Belanda?.
“Pejuang ora takut mati!. Kalo dia hijrah lantaran ngindarin bentrok atawa perang sesama anak bangsa sendiri. Jadi sedari jaman dulu balad pungguwa JAYAKARTA ora sanggup ngusir Belanda lantaran Belanda bisa bayar upah mahal ama balad punggawa pribumi nyang ora amanah, tega pisan makan bangke sudara dewek.” Ki Wahab beber riwayat leluhur.

Topeng-topeng nyang dijejerin dihadepan Ki Wahab dipandangin satu persatu ame bekas panjak itu kaya’ ngelampiasin kangen ame sobat lama yang baru ketemu. Salah satu dari topeng topeng itu dipegang terus digerak-gerakin keliatan idup kaya’ benyawa, ditangan seniman sesuatu yang biasa bisa jadi luar biasa.
“Kapan Aki ketemu di Dalang?.” Tanya Karim masing penasaran.
“Ya…udah lama juga. Waktu itu dia cerita begini:

Dia lagi jalan sendirian siang ari sepi abis turun ujan. Ngedadak dibelakangnya ada bendi nyang lagi bawa penggede Belanda dikawal ama dua orang naek kuda depan belakang. Pas uda deket Ki Dalang, pengawal betereak kaya’ orang ngegebah binatang nyang ngalangin jalan. Emang biasanya kalo penggede lagi liwat ngadak jalan jadi sepi. Nyang kebetulan ada dijalanan buru-buru pada nyingkir dulu, ngumpet. Ini mah Ki Dalang ora nyingkir, karuan aja dua orang pengawal itu marah, turun dari kudanya langsung ngelabrak Ki Dalang. Katanya : Dasar orang kampung, songong kagak tau adat, ada penggede liwat kagak mau nyingkir lu! Gua dupak mampus lu! Ayo minggir!........”. Kalo Tuan lu punya hak liwat dijalanan ini, apalagi gua!....” Pengawal nyang satu lagi nyentak lebih galak. Jadi elu nyang punya kuasa di sini?!. Ki Dalang Ora ngerasa takut seujung kuku digertak begitu. Dia Jawab: udah pasti sebab ini memang tanah moyang gua. Tapi maap sudara, gua ogah perang tanding ama sudara sendiri, nanti apa kata orang, sudara dijadiin musuh. Musuh dijadiin temen, Mendingan elu nyang nyingkir sekarang! Serenta ngomong begitu kuda kuda pengawal digaplok jatoh ngegeleper, gelosoan di tanah kaya’ ayam dipotong.
Penggede Belanda cabut pestol mau nembak KI Dalang, tapi nyang mau ditembak melesat seklebatan ilang kesaruan puun puun disekiter itu.
Topeng nyang dipegang Ki Wahab lantas digeletakin lagi dijejeran topeng-topeng dihadapannye.
“Sedari kejadian itu Belanda jadi yakin kalo musuh utama nyang paling ditakutin masing ada nyang idup, masing gentayangan di kota Betawi. Maka disebar mata-mata buat nyelidikin siapa sebetulnya orang itu. Perentahnye, tangkep bunuh mati.”
“Masya Allah, dasar aki-aki panjak topeng, kalo uda cerita lupa waktu. Udah wayah dzuhur, Ki. Ayo buruan pada netepin pada waktu dulu. Kalo udah boleh pada makan, onoh nasi udah nemprak nungguin.” Ngedadak Nyi Wahab ngengetin waktu.
“Tuh ‘kan, begitu mulu dari dulu kelakuan ne’-nenek, nyapnyap bae’…….Ayo dah Cu, kita sholat jama’ah……”
“Ntar kudu terusin lagi ceritanye Ki.” Kate Karim sembari nyangklekin kaen sarung di pundak.
“Kalo ada bae’ nyang mau ngedengerin mah Tong, ujiannah nyampe bedug ora mingser pisan. “Kate Nyi Wahab sembari ngeleos.

KETERANGAN: :
Kampung Indah Negeri Dongeng adalah sebuah kisah nyata yang berasal dari KAMPUNG TUA BETAWI didaerah Pulo Mas Jakarta Timur. Daerah Pulo Mas (kini menjadi Pacuan kuda, Sekolah, Apartemen, Kantor polisi, dll) seabad yang lalu bernama KAMPUNG KAYU PUTIH TANAH TINGGI. Kampung Betawi ini dahulunya subur dan makmur serta sangat alami. Sampai tahun 60an akhir daerah ini masih bernama Kayu Putih Tanah Tinggi. Kondisinya masih banyak pesawahan-pesawahan dan kebun-kebun. Di dalam kampung ini banyak dihuni keluarga besar keturunan Jayakarta asli, terutama keturunan keluarga besar atau Wangsa Aria Jipang di Jayakarta. Didaerah ini dahulunya banyak bersembunyi para pejuang Mujahidin Jayakarta. Beberapa pejuang Jayakarta bahkan pernah menjadikan daerah ini sebagai markas perjuangan, Daerah ini merupakan salah satu Front pertahanan wilayah timur Mujahidin Jayakarta dalam melawan penjajah kafir. Keberadaan daerah yang satu ini memang sangat dirahasiakan, seolah kampung ini kampung biasa, namun isinya banyak para pejuang dan Mujahidin Jayakarta.. Didaerah ini pula kelak didirikan Pondok Pesantren Kayu Putih Tanah Tinggi oleh Datuk Qidam (Kakek Syekh Abdullah Ghani/Wan Gani). Kini pesantren itu telah hilang. Pada masa Gubernur Ali Sadikin, daerah Kayu Putih Tanah Tinggi ini akhirnya digusur untuk kepentingan Pemda DKI pada tahun 1972. Makam-makam para pejuang Islam Jayakarta akhirnya tergusur, sesuatu yang sangat disesalkan oleh keluarga besar Wangsa Aria Jipang Jayakarta, dengan digusurnya daerah maka tergusur pula makam-makam pejuang-pejuang Mujahidin Jayakarta. Sampai saat ini kisah penggusuran tersebut masih begitu membayang dibeberapa orangtua dikawasan Kayu Putih Utara (Sekitar masjid Al Ghoni). Lokasi tempat makam para pejuang Islam sampai kini tidak bisa dibangun …Wallahu A’lam Bisshowab kenapa itu terjadi.
Adapun nama-nama yang disebut dalam kisah diatas memang ada orangnya. Tokoh seperti Ki Dalang memang ada sosoknya, sosok KH Ahmad Syar’I Mertakusuma juga masuk dalam cerita ini. Pada masa itu daerah Kayu Putih Tanah Tinggi posisinya masih berada dipinggir Jayakarta. Dan bahasa Betawi yang digunakan adalah bahasa Betawi yang cukup khas dan unik. Pada masa itu hubungan Kayu Putih Tanah Tinggi dan daerah lain sangat erat, bahkan tingkat hubungan juga merambah kedaerah-daerah seperti Bekasi. Bahkan beberapa pejuang Betawi seperti Bang Fi’i Cobra (Letkol Imam Syafi’i) atau Haji Darip Klender (Pejuang tangguh yang paling militant dari Front Jakarta Timur) pernah menjadikan daerah ini sebagai daerah gerilya dalam perjuangan pada masa sebelum kemerdekaan, bahkan mereka juga sering sowan kepada sesepuh-sesepuh daerah ini, kebetulan BANG FI’I COBRA & HAJI DARIP KLENDER juga keturunan asli Jayakarta dari Wangsa Aria Jipang Kayu Putih Tanah Tinggi ini. KIni daerah Kayu Putih Tanah Tinggi tinggal kenangan, daerah tersebut sudah menjadi pemakaman padat, seperti Apartemen, Lapangan Pacuan Kuda, Sekolah, Kantor Polisi dan berbagai bangunan lain.
KAMPUNG INDAH NEGERI DONGENG KINI TELAH HILANG……….