Jumat, 19 Desember 2014

FOTO ILUSTRASI ARIA JIPANG JAYAKARTA (LELUHUR KELUARGA BESAR PAHLAWAN BETAWI, PENDEKAR PITUAN PITULUNG (PITUNG) DARI RAWA BELONG


Selama ini masyarakat di Betawi mengetahui bahwa PITUNG adalah ikon mereka, namun banyak yang tidak mengetahui jika PITUNG yang anggotanya ada 7 orang itu sebenarnya mempunyai keterikatan silsilah dengan tokoh-tokoh daerah lain. Salah satu tokoh besar yang merupakan leluhur Keluarga Besar Pitung adalah Aria Penangsang bin Pangeran Sekar Seda Lepen bin Raden Fattah Azmatkhan dari Kesultanan Demak.

Mungkin akan ada yang bertanya, bukankah saat Jayakarta berdiri tahun 1527 Masehi, sejarahnya lebih identik dengan Fattahillah?. Memang benar bahwa Jayakarta itu berdiri atas andil seorang Fattahillah, tapi jangan lupa Komando tertinggi dalam merebut Pelabuhan Sunda Kelapa adalah Sultan Trenggono yang merupakan Sultan Demak yang ke III. Sultan Trenggono adalah paman Aria Penangsang, disamping itu Fattahillah adalah juga paman sekaligus mertua Aria Penangsang, karena Fattahillah telah menikah dengan bibi Aria Penangsang yang bernama Ratu Mas Nyawa binti Raden Fattah Azmatkhan, Aria Penangsang juga menikah dengan anak Fattahillah, jadi sangatlah masuk akal jika dikemudian hari Aria Penangsang dilibatkan dalam pemerintahan Jayakarta. Butuh orang yang handal untuk mengembangkan kota Jayakarta, apalagi kota Jayakarta ini masih terus menjadi incaran bangsa bangsa lain dan Aria Penangsang masuk kualifikasi itu. Adapun motif direbutnya Pelabuhan Sunda Kelapa itu murni untuk menghadang Portugis masuk ke wilayah Jawa. ini penting ditegaskan agar jangan ada tuduhan direbutnya Sunda Kelapa motifnya ekonomi (sebuah analisis yang gegabah). Dihadangnya Portugis masuk Sunda Kelapa itu agar wilayah Jawa tidak dicaplok oleh mereka dan kemudian mereka menjalankan salah satu misinya dalam menyebarkan ajaran yang mereka anut. Pengalaman Di Kesultanan Pasai dan Malaka tentu menjadi pelajaran berharga bagi keluarga besar Kesultanan Demak. Lagi pula disamping Sunda Kelapa, Kesultanan Demak juga berhasil mengusir Portugis di Jawa Timur (Pasuruan),jadi dua blok penting bisa mereka selamatkan.  Bisa dibayangkan kalau Portugis bercokol di Sunda Kelapa dan Jawa Timur, mungkin Betawi dan jawa "wajahnya" tidak seperti sekarang ini. Hal yang paling disesalkan Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten pada saat itu, adanya perjanjian sefihak antara Pajajaran dengan fihak luar negeri. Jelas dengan adanya perjanjian Kerajaan Pajajaran dengan Kerajaan Portugis bisa mengancam kedaulatan kesultanan kesultanan Nusantara, apalagi Portugis wataknya sudah diketahui oleh bangsa NUsantara, perjanjian itu termuat pada Batu Padrao yang kini tersimpan di Museum Nasional di Jalan jakarta

Aria Penangsang dalam keluarga besar Pitung atau Keluarga besar Nitikusuma dan Mertakusuma (salah satu Marga keturunan Aria Penangsang) lebih dikenal dengan nama Aria Jipang Jayakarta. Keberadaan beliau di Jayakarta tercatat jelas dalam Kitab Al Fatawi dan Wangsa Aria Jipang Jayakarta yang ditulis oleh salah satu keturunannya yang bernama KH RATU BAGUS AHMAD SYAR'I MERTAKUSUMA. Puncak kejayaan beliau dalam mengembangkan kota Jayakarta terjadi pada tahun 1540 Masehi dimana disitu dia menjabat sebagai Mangkubumi Pemerintahah Hikmah Jumhuriyah Jayakarta.Salah satu bukti bahwa beliau pernah di Jayakarta, adalah dengan adanya Wisma (Keraton) Aria Jipang di Rawa Belong (kini sudah hilang karena dirubuhkan Harian Kompas).

Pada saat beliau di Jayakarta inil, beliau mempunyai istri yang merupakan cucu dari Prabu Surawisesa (Raja Pajajaran terakhir) yang bernama Ratu Ayu Jati Balabar (kelak nama ini dipakai menjadi nama daerah Jelambar). Di Jayakarta inilah keturunan-keturunan beliau terus berkiprah dalam pemerintahan Jayakarta. Sekalipun pada tahun 1619 M Jan Pieterzoon Coen mengambil alih kota Jayakarta, keberadaan Keluarga besar keturunan Aria Jipang masih terus melakukan perang gerilya melawan penjajah VOC. Dengan bekerjasama dengan Kesultanan Banten, Cirebon, Mataram, perjuangan keluarga besar Aria Jipang tidak pernah berhenti. Perjuangan baru berhenti setelah Indonesia memperoleh kemerdekaan yang hakiki setelah pengakuan kedaulatan Belanda di tahum 1949.

Sosoknya sendiri dalam sejarah Kesultanan Demak penuh dengan distorsi. Sosoknya sampai saat ini masih sering digambarkan secara buruk dalam sastra dan sejarah Jawa. Apabila kita membaca Babad Tanah Jawi, betapa buruknya gambaran terhadap beliau ini, padahal sebenarnya beliau ini adalah seorang ulama, sufi, mursyid beberapa Thariqoh, Ahli dalam bidang silsilah dan nasab, hafizh qur'an, ahli pemerintahan, ahli tata negara, ahli militer, ahli bela diri dan juga pemikir yang handal, namun entah mengapa sosoknya banyak digambarkan secara negatif, anehnya dalam riwayat kehidupan dirinya, tidak satupun adanya ajaran kekerasan, justru ajarannya banyak yang bersifat sufi.

Dalam sejarah Kehidupan Sunan Kudus atau Sayyid Jakfat Shodiq bin Sayyid Raden Usman Haji bin Sayyid Fadhol Ali Murtadho yang merupakan Walisongo Karismatik, Aria Penangsang ini adalah bintangnya pondok Pesantren Kudus. Beliau adalah santri terbaik sekaligus santri yang paling disayang Sunan Kudus, saking sayangnya Sunan Kudus kepada beliau, kelak salah satu cucunya dinikahi dengan Aria Penangsang pada saat di Palembang. Sosok Aria Penangsang sendiri dalam riwayat keturunannya adalah tinggi besar, kekar dan berkarakter, matanya tajam, pakaiannya sama persis dengan gurunya, selalu memakai ikat kepala seperti Walisongo dan juga memakai pakaian khas ulama dengan sorban disamping pundaknya. Senjata utamanya bernama Keris Setan Kober yang selalu setia berada dipinggangnya. Aria Penangsang sendiri dalam hidupnya senang melakukan Riyadhoh, beliau senang menyepi dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ketika fitnah yang melanda Kesultanan Demak akibat propaganda musuh-musuh kesultanan demak,  yang paling sering difitnah dan dijadikan sasaran tembak adalah beliau, itu karena sikap istiqomah beliau dalam melebarkan sayap dakwah Islamiah. Rupanya pada masa itu banyak kaum munafiqun yang tidak senang Islam berkembang terus menerus. Beliau akhirnya lebih memilih berhijrah ke daerah Sumatra Selatan pada tahun 1549 Masehi. Beliau hijrah karena perintah dari gurunya yaitu Sunan Kudus. Beliau disuruh berhijrah dalam rangka melebarkan sayap dakwah di Sumatra Selatan khususnya wilayah Komering dan Ogan, karena wilayah ini masih minim penyebaran Islam. Komering dan Ogan adalah wilayah kekuasaan keluarga besar penguasa Palembang pada masa itu, dan penguasa Palembang pada masa itu adalah masih keturunan Raden Fattah Azmatkhan dari jalur Sultan Trenggono, artinya Keberadaan Aria Penangsang Ke Komering memang sudah tepat. Bersama beberapa keluarga besar Kesultanan Demak rombongan besar keluarga besar Aria Penangsang, Anak-anak Sunan Kudus, Keluarga Sunan Giri, Keluarga Fattahillah, Keluarga Jumadhil Kubro, Keluarga Sunan Kalijaga, Keluarga Sultan Trenggono mereka hijrah ke Sumatra Selatan dalam hal ini mereka menuju wilayah Palembang, Komering, Ogan dan sekitarnya. Mereka datang secara bergelombang, dimulai dari tahun 1546 s/d 1549 Masehi. Dalam catatan sejarah Palembang dan Demak mereka terdiri dari 24 keluarga. Hingga kini keturunan mereka banyak terdapat didaerah daerah tersebut, termasuk keluarga besar Raden Fattah Azmatkhan. Ini adalah rombongan hijrah terbesar setelah rombongan besar dari Champa pada periode periode awal datang Majelis Dakwah Walisongo di Jawa. 

Jika dikatakan bahwa beliau adalah orang yang jahat, pembunuh, ambisius, anehnya dari tulang sulbinya telah banyak lahir pejuang-pejuang militan Islam dan ulama-ulama besar, termasuk keluarga besar Pitung dan juga beberapa waliyullah yang tersebar di berbagai wilayah. Data sejarah kitab Al Fatawi menunjukkan jika keturunan Aria Jipang memang rata-rata militan terhadap keberadaan penjajah kafir, tidak heran beberapa keturunan beliau banyak dibunuh bunuhi oleh Penjajah dan juga antek-anteknya. Karakter beliau memang sejak dulu dikenal keras dan tegas, namun keras dan tegas disini bukan berarti beliau ini jahat, Beliau keras dalam melawan ketidakadilan, kezaliman dan kesewenang-wenangan terutama ketika itu terjadi ditengah masyarakat dan dilakukan oleh penguasa. Sedangkan sikap tegasnya adalah dalam hal penerapan ajaran Islam. Beliau adalah penganut agama Islam yang taat. Pemahaman keagamaan beliau diatas rata-rata. Islam yang beliau anut juga tidak berbeda dengan Islamnya Walisongo yang menganut faham Ahlussunnah Wal Jamaah. Khilafah Islamiah di negeri ini bagi beliau wajib diterapkan (seperti pada masa kakeknya dulu). Beliau adalah penganut Mazhab Syafi'i, Akidahnya Asy'ari, Thoriqohnya banyak dari mulai dari As-sadzili, Nur Muhammadiyah juga Sirullah. Sikap keras dan tegasnya ini sering disalah fahami oleh sebagian orang yang hidup pada masanya, padahal jangankan membunuh, dengan binatang saja dia sangat penyayang. Tuduhan dia bahwa sebagai biang keladi kerusuhan berdarah di Kesultanan Demak sampai saat ini masih saja dipercaya sebagian orang, mereka lebih percaya cerita-cerita babad tanah jawi, darmagandul. Padahal isi dari kedua buku tersebut penuh dengan kesesatan karena isinya penuh dengan fitnah dan pembunuhan karakter terhadap walisongo dan khususnya bagi keturunan Raden Fattah termasuk Aria Penangsang. 

Sebagai seorang pendakwah dan juga saudagar, beliau ini tidak pernah menetap lama di satu tempat. Beliau banyak mengembara kemana-mana, sehingga di berbagai tempat yang beliau singgahi, beliau sering dinikahkan oleh keluarga besar Walisongo yang ada didaerah itu. Sepertinya beliau ini selalu menjadi rebutan, ini adalah hal yang wajar, karena kakeknya sendiri adalah seorang Sultan Besar di pulau Jawa bahkan juga di Nusantara ini, yaitu As-Sayyid Raden Fattah Azmatkhan. Disetiap tempat beliau mempunyai nama-masing, sehingga tidak heran nama lain dari Aria Penangsang ini sangat banyak, sedangkan yang terkenal di Jayakarta adalah Aria Jipang Jayakarta.

Aria Penangsang sendiri wafat bukan di Demak atau di Jayakarta, makam yang ada di Demak yang namanya sama dengan beliau adalah salah satu anak dan cucunya. nama itu dipakai anak dan cucunya itu untuk mengenang kebesaran seorang Aria Penangsang. Aslinya nama beliau adalah As-Sayyid Husein Azmatkhan Al Husaini. Beliau sendiri wafat didaerah yang berdekatan dengan Palembang yaitu, daerah Indralaya Ogan Ilir Sumatra Selatan dalam usia lebih dari 100 tahun. 

Aria Jipang sendiri kelak banyak meninggalkan keturunan diberbagai tempat. Mereka ada di Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jayakarta, Yogyakarta, Lampung, Sumatra Barat, Aceh, Sumatra Selatan, Malaka, Kelantan dan daerah-daerah lainnya. Dalam catatan kitab Al Mausuuah Li Ansaabi Al Imam Al Husaini yang disusun keturunan Sunan Kudus, jumlah keturunan Raden Fattah jumlahnya sangat  mencengangkan, dari jalur keturunan Aria Penangsang saja jumlahnya sudah cukup banyak dan tersebar diberbagai daerah, ini baru satu jalur, belum yang jalur lain, ini membuktikan jika keluarga besar Raden Fattah adalah keluarga yang mampu menjaga dan memelihara silsilah dan sejarah mereka. Dengan jumlah yang banyak ini tidaklah mengherankan sejak dahulu antara satu daerah dengan daerah yang lain bisa saling berhubungan, jangan heran kalau masa lalu antara Jayakarta, Demak, Palembang atau wilayah lain itu bisa saling berhubungan, karena memang tokoh-tokoh yang berada didaerah tersebut masih satu garis keturunan. Jangan dikira pada masa lalu mereka ini tidak saling berhubungan, sekalipun transportasi masih sangat sederhana namun tali silaturahim antar trah tetap dipelihara.

Inilah leluhur dari para pejuang-pejuang Jayakarta.........dari dirinya telah banyak lahir pejuang-pejuang Mujahidin yang rela mati demi menegakkan kehormatan khilafah Islamiah dibumi Jayakarta.  Dari tulang sulbi beliau telah lahir banyak ulama dan mujahidin seperti : Waliyullah Mbah Nurkarim Cigugur, Waliyullah Mbah Raden Jangkung Cigugur, Waliyullah dan Pejuang Pangeran Papak garut, Waliyullah Mbah Raden Nala Taruna Kusuma Cimahi, Mujahid Pangeran Ateng Kertadria, Adipati Aria Wiratanudatar, KH Ahmad Syar'i Mertakusuma, Waliyullah Syekh Abdullah Ghoni, Maha Guru Ulama Betawi Syekh Junaid Al Batawi, Syekh Mujtaba Al Batawi, Guru Mansur Sawah Lio, Marijan Sekarmaji Kartosuwiryo, KH Muhammad Khozin Mansur Ponpes Mambaul Hikam Jawa Timur, Para Pendekar Pitung, Para Pendekar Ki Dalang, Beberapa pahlawan Aceh, dan juga beberapa ulama-ulama dan mursyid thariqoh diberbagai daerah.

Semoga hidupnya bisa menjadi suri tauladan....amin...

Sumber :


  • Al Mausuuah Li Ansaabi Al Imam Al Husaini, 2104, Edisi II Vol 24, Al Allamah As-Sayyid Bahruddin Azmatkhan & As-Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan, Penerbit Majelis Dakwah Walisongo, Jakarta.
  • Kitab Al Fatawi, 1954, KH Ratu Bagus Ahmad Syar'i Mertakusuma, Penerbit Lembaga Keadatan Jayakarta Al Fatawi, Palembang.
  • Wangsa Aria Jipang Jayakarta, 1986, Ratu Bagus Gunawan Semuan Mertakusuma, Agapress, Jakarta. 
  • Ari Penangsang dan Sejarah Desa Gunung Batu, 2005. Iwan Mahmud Al Fattah, Penerbit (Pribadi), Jakarta.

<photo id="1" />

DIALAH PAHLAWAN SEJATI KOTA JAYAKARTA AL HAJ FATTAHILLAH (SI MATA ELANG UTUSAN DARI KOTA WALI)


Namanya begitu harum dan melegenda dalam benak masyarakat Jayakarta
Namanya sering disebut sebut dalam sejarah khilafah Islam Nusantara
Namanya tidak lekang dengan perjalanan masa dari dulu dan sampai kini
Namanya Agung dalam benak sejarah poros Aceh hingga Jayakarta

Berjalan dan mengembara dia, mulai Pasai, Malaka, India, Mekkah, Turki hingga akhirnya berlabuh di Demak
Darahnya diambil menjadi orang-orang besar Demak Banten, Cirebon, Demak Palembang, Lampung dan Jayakarta
Berjalan dari Demak melewati Banten, Cirebon hingga tiba di Sunda Kelapa
Hanya satu tujuannya, Jihad Fi Sabilillah...

Operasi senyap dimulai........
Setiap celah inci intelijen diperkuat
Majelis Dakwah Walisongo merestuinya
Mujahidin Kesultanan Islam Nusantara bersatu

Malaka boleh jatuh...
Pasai boleh runtuh...
Kesultanan Maluku boleh saja rontok...
Tapi ini adalah Sunda Kelapa Bung Portugis!

Langkahmu hai bangsa asing, kini menghadapi benteng kukuh ditepi pantai..
Mendekat mereka itu akhirnya dengan perasaan percaya diri
TIba-tiba teriakan Komando jihad keluar dari mulut Jenderal cerdik ini dari balik kerimbunan pohon-pohon bakau
Semua bergerak cepat maju menyongsong Syahid...

Wajah-wajah siap mati terlihat dengan senyum lebar
Tanpa ampun mereka bergerak bagaikan angin dan kilat
menyongsong turunnya pasukan yang dendam dengan khilafah Islamiah
Pertemuan dua kekuatan Barat dan Timur terjadi 

Pertempuran membara terjadi pada dunia sisi....
Berhadapan dengan bangsa sendiri, berhadapan dengan Portugis
Lautan menjadi seperti perang api
Gelegar Meriam, meluncurnya anak panah dan tombak dengan deras
Daratan seolah-olah seperti kisah pada perang Badar 

"Perang salib" kecil terjadi di bumi Sunda Kelapa...
Satu membawa pesan khilafah Islamiah
Satu membawa pesan dari negerinya yang pernah jatuh ketangan Khilafah Usmani
"Perang Salib" yang kelak menentukan wajah Jayakarta nanti..

Takbir berkumandang dan menggema dengan ayunan pedang sana sini
Tunggang langgang Fransisco De Sa dengan pasukannya karena kaget..
Syok.....ternyata masih ada yang bisa meruntuhkan kesombongan mereka..

Pertempuran secara kolosal belum selesai.....
Semua kapal Jung milik para Mujahidin menari nari diperairan dangkal dengan cepat dan taktis
menggiring kapal Galeon yang mati kutu karena tidak bisa bermanuver diperairan dangkal

Hancur luluh hati Si Bangsa Asing ketika mereka akhirnya harus keluar dariu bumi Sunda Kelapa berkat kecerdikan di Mata Elang...
Pandangan kosong menatap pasukan Jihad dibawah pimpinan si Mata Elang 
Tumbang akhirnya mereka di tanah Sunda Kelapa
Tanah yang akan mereka jadikan "Palestina" tahun 1527...

Kemenangan........... terjadi begitu mengharu biru ditengah pekikan takbir....
Si Bangsa asing dengan perasaan yang menyakitkan akhirnya kembali ke Malaka... 
Mereka terpuruk dan tercabik cabik di Sunda Kelapa...
Tapi apa lacur, tidak ada satupun sejarah mereka menulis peristiwa ini 
Si Mujahid Agung justru dituduh orang rendahan dan pembawa amarah....
Kejayaan mereka runtuh di tangan si mata elang, maka dendamlah mereka...
HIngga akhirnya kisah Si Mata Elang tidak mereka goreskan di tinta sejarah mereka...

Pemenang Sejati memang selalu dipinggirkan oleh pena sejarah 
Pemenang sejati cuma jadi "keranjang sampah" Penjajah Kafir...
Pemenang Sejati hanya dikenang oleh mereka yang cinta kebenaran


MAKAM PAHLAWAN BETAWI YANG TERLANTAR, ANGGOTA PITUNG YANG PALING DIBURU PENJAJAH KAFIR (RATU BAGUS ROJI’IH NITIKUSUMA/Ji’ih)









Hari Sabtu tepatnya tanggal 13 Desember 2014 bakda zuhur, untuk yang kesekian kalinya saya dan salah satu keturunan Keluarga Besar Pitung melakukan riset atau penelitian sejarah dan silsilah didaerah Rawa Belong Jakarta Barat khususnya wilayah Kemandoran VIII, kemandoran pada masa lalu masih merupakan bagian atau wilayah yang satu dengan Rawa Belong. Rawa Belong sendiri sejak dahulu merupakan basis kekuatan dan basis pertahanan Mujahidin Jayakarta khususnya dari rumpun keluarga besar keturunan Aria Jipang Jayakarta dalam menghadapi penjajah kafir. Dari daerah ini kelak banyak menurunkan pendekar-pendekar tangguh  legendaris dan mujahidin Jayakarta yang diantaranya adalah Pendekar Pituang Pitulung (Pitung). Sampai saat ini disetiap gang-gang yang ada diwilayah Rawa Belong masih banyak tradisi ilmu bela diri, seperti di Gang Adam, Gang Madrasah, Gang Idris, dan gang-gang lainnya. Di Rawa Belong penduduk Betawinyapun masih sangat dominan. Gerakan-gerakan asli silat di Rawa Belong Alhamdulillah sampai saat ini masih terjaga keasliannya. Berbagai aliran silat didaerah ini sangat banyak dan hebatnya mereka satu sama lain saling menghormati.  Bahkan banyak dari daerah ini yang merupakan dedengkot ilmu silat Betawi seperti Babe Nung.

Dalam perjalanan kali ini fokus penelitian kami adalah mencari jejak makam Pahlawan Besar Betawi yang bernama RATU BAGUS ROJI’IH NITIKUSUMA. Penelitian ini kami lakukan demi lestarinya sejarah di Jayakarta dan khususnya pada masyarakat Betawi. Penelitian saya lakukan bersama Irfan Nitikusuma (Dzurriyah dari Keluarga Besar Nafiun Nitikusuma). Kebetulan kesamaan misi kami sama, apalagi dia dan saya memang punya jiwa petualang dan menyenangi sejarah dan silsilah sejak kecil.

Beliau Ratu Bagus Roji'ih Nitikusuma lebih banyak dikenal dengan panggilan JI’IH. JI’IH adalah salah satu dedengkot Gerakan Pendekar Pituan Pitulung (Pitung). Beliau ini didalam gerakan Organisasi Pitung mempunyai peranan kunci, karena nantinya semua strategi gerakan para Pendekar Pitung berada dibawah komandonya, sedangkan Panglimanya adalah RATU BAGUS MUHAMMAD ALI NITIKUSUMA.  Namun demikian jumlah anggota Pitung adalah 7 orang dan semuanya juga mempunyai peranan penting masing-masing. Justru sebenarnya dibalik gerakan Pendekar Pituan Pitulung ada sebuah kekuatan yang lebih besar dan tidak kalah dahsyatnya yaitu Lembaga Keadatan Jayakarta Al Fatawi dibawah komando KH RATU BAGUS AHMAD SYAR’I MERTAKUSUMA. Lembaga Keadatan Jayakarta inilah yang membentuk berdirinya organisasi Gerakan Pendekar Pituan Pitulung (Pitung) atau 7 Pendekar Penolong.

Sosok Ratu Bagus Roji’ih atau Ji’ih ini sendiri pernah digambarkan dalam Film Pitung yang diperankan Dicky Zulkarnaen di tahun 1972. Sayangnya kisah didalam film ini banyak sekali distorsinya. Film tersebut justru telah merusak sejarah asli keluarga besar Pendekar Pituan Pitulung (Pitung).  Yang lebih membuat saya kaget dan geleng geleng kepala adalah ketika ada dialog yang menyebutkan bahwa  JI’IH adalah orang yang RADA-RADA. Rada-rada dalam istilah orang Betawi  ditujukan bagi orang yang setengah waras, Ini jelas adalah bentuk penghinaan terhadap seorang Pejuang Islam seperti beliau. Menurut salah satu cicit KH Ratu Bagus Ahmad Syar'i Mertakusuma, pada saat pembuatan film tersebut memang masyarakat Rawa Belong tidak dilibatkan sama sekali, para pemegang sejarah Jayakarta termasuk sejarah Pitung juga tidak dilibatkan sehingga akhirnya jadilah film pitung tersebut seperti yang kita tonton, film tersebut justru banyak terjadi pemutar balikkan fakta. 

Dalam penelitian kali ini, kami sebelumnya telah banyak mendapatkan data tentang Ratu Bagus Roji’ih Nitikusuma ini dari sumber yang mengetahui sejarah Pitung yang asli. Dari sekian data yang kami dapati tentu hal yang paling penting adalah tentang keberadaan makam beliau. Sampai hari ini mungkin keberadaan makam para anggota Pitung memang banyak yang misterius termasuk Ji’ih. Hal ini memang patut dimaklumi karena semua anggota Pitung adalah burunon kelas wahid penjajah. Ketidak jelasan makam anggota Pitung karena pada saat kematian beberapa anggotanya, fihak keluarga atau masyarakat di Rawa Belong dulu semuanya tutup mulut. Penduduk Rawa Belong dan sekitarnya banyak yang menutup diri dan mengalami trauma terhadap penjajahan dan penindasan yang mereka alami. Semua tidak mau terbuka untuk memberi tahu dimana makam-makam anggota Pitung.

Walaupun demikian, sekalipun masyarakat Rawa Belong saat itu banyak yang menutupi keberadaan makam para anggota Pitung, toh beberapa sesepuh Keluarga Besar Jayakarta yang berada di Rawa Belong dan juga Jakarta Barat pada umumnya mengetahui betul letak makam Anggota Pitung terutama makam Ratu Bagus Roji’ih Nitikusuma ini. Salah satu  sesepuh Jayakarta yang mengetahui makam Ratu Bagus Roji’ih adalah KH Ratu Bagus Ahmad Syar’i Mertakusuma. Nah berdasarkan informasi yang diberikan oleh salah seorang cicitnya, akhirnya kami mencoba mencari dimana sebenarnya letak makam Pahlawan Betawi yang satu ini.

Menurut Cicit KH Ratu Bagus Ahmad Syar’i Mertakusuma, bahwa makam Ratu Bagus Roji’ih Nitikusuma terdapat ditengah-tengah kampung. Beliau sendiri sangsi apakah masih ada makam tersebut, karena saat beliau berkunjung itu sekitar 34 tahun yang lalu. Berdasarkan data 34 tahun yang lalu inilah kami masih berkeyakinan jika makam beliau masih ada.

Allah Maha Besar.....Kami tidak harus bersusah payah menemukan makam beliau ini, saat memasuki Jalan Kemandoran VIII kami sempat bertanya kepada dua orang ibu-ibu pengajian, mereka bingung karena menurut mereka gak ada makam yang kami maksud, tapi pas mereka menyebut “apakah makam itu makam keramat?” sontak saya jawab dengan PD (padahal kami juga belum tahu), “iya benar bu...”, kata si ibu itu, “oh kalau begitu didepan sana itu ada makam keramat, masuk aja dari gang kecil sebelah kiri tanya ibu Yuli”.

Berbekal keterangan ibu-itu  itu saya dan Irfan Pitung langsung menuju TKP dan sempat bertanya kepada pemilik rumah dan tanah disekitar itu, dan alhamdulillah akhirnya kami dengan diiringi perasaan berdebar kamipun menemukan makam PAHLAWAN BETAWI  yang legendaris Ini.

Saat melihat makam beliau, saya terharu  sekaligus sedih sekali, karena makam beliau ini, disamping menyendiri dan terkurung tembok pabrik dan rumah penduduk, kondisinya sangat memprihatinkan dan kotor sekali. Saya sampai sempat berkata, “Ya Allah, ini kok Pahlawan Betawi kenapa gak ada yang peduli ya?” tapi sayapun akhirnya sadar,  bahwa kondisi makam seperti itu karena memang banyak orang yang tidak tahu siapa yang dimakamkan disitu.

Di samping makam beliau saya sempat mendoakan arwah beliau begitu juga Irfan, setelah itu kami sempat beberapa saat melihat suasana sekitar makam yang kondisinya nyaris betul-betul seperti “kapal pecah”.  Suasana makam memang benar-benar memperihatinkan. Kondisi makam beliau ini mengingatkan saya akan beberapa makam Keturunan Aria Jipang Jayakrta diberbagai daerah yang banyak jadi tokoh besar namun  rata-rata makamnya banyak yang berbentuk sederhana dan banyak pula yang terlantar. Makam Aria Jipang Jayakarta yang ada di Palembang bahkan dahulunya sangat sederhana, tidak mencerminkan kalau dirinya adalah seorang bangsawan dan tokoh besar Kesultanan Demak.

Nisan makam Ratu Bagus Roji’ih sendiri hanya ditandai dengan batu kali, dan ini nyaris sama dengan beberapa makam tua yang ada di sekitar kemandoran. Jarak antara satu makam dengan makam yang lain bahkan tidak berjauhan.  Di lokasi makam ini kemudian Irfan Pitung menelpon salah satu cicit KH Ratu Bagus Ahmad Syar’i Mertakusuma untuk memastikan penemuan makam Ratu Bagus Roji’ih Nitikusuma. Dan beliau yang ada di Bandung mengatakan bahwa makam yang kami temukan memang benar makam Ratu Bagus Roji’ih Nitikusuma yang merupakan Pahlawan Betawi dari organisasi Gerakan Pendekar Pituan Pitulung atau Pitung. Beliau sangat bersyukur kami telah menemukan makam Pahlawan Betawi ini. Allahu Akbar!!!.

Dari makam Ratu Bagus Roji’ih yang telah berhasil kami temukan, kami masih belum bisa berpuas diri, maka oleh karena itu kami akhirnya mencari siapa pemilik tanah makam tersebut. Berdasarkan petunjuk dari mantunya, Akhirnya bertemulah kami dengan Haji Manih sang pemilik tanah  yang asli orang Betawi. Kami datangi rumahnya dan Alhamdulilah beliau sangat menerima kami dengan ramah. Kami akhirnya ngobrol dengan sangat akrab, sayangnya Babe Haji Manih juga tidak mengetahui keberadaan sejarah makam ditanahnya.  Yang jelas sejak dari zaman kakeknya makam tersebut sudah ada. Haji Manih sendiri usianya mungkin sekitar 65 tahunan. Namun demikian menurut beliau, makam tersebut memang berapa kali ada yang menziarahinya, bahkan berapa kali pernah sampai ada yang bergadang kata beliau.

Dari makam Ratu Bagus Roji’ih Nitikusuma dan juga berdasarkan petuntuk  Haji Manih, kami kemudian kembali berpetualang mencari jejak makam-makam tua disekitar Kemandoran yang kami curigai sebagai makam Anggota Pitung lainnya (Insya Allah saya akan coba melacak dari data kitab Al Fatawi dan Wangsa Aria Jipang). Dari Makam Ratu Bagus Roji’ih Nitikusuma kemudian kami bergerak ke Makam Wan Ipeh (menurut Haji Manih beliau adalah orang keramat dan berasal dari arab), setelah dari sini kami menuju sebuah makam yang misterius yang berada dipinggir jalan Kemandoran I. Makam ini belum ada petunjuk yang berarti namun menurut penduduk setempat ada saja orang yang berziarah ketempat itu. Dari makam ini kami kemudian menuju lokasi terakhir yaitu makam yang selama ini diyakini sebagai makam “SI PITUNG” yang berada persis didepan TELKOM daerah Pengumben Jakarta Barat.  Makam yang diyakini sebagai PITUNG ini (Padahal Pitung adalah organisasi yang terdiri dari 7 orang). Makam yang satu ini terpelihara dengan  baik, didepannya ada pohon Bambu dan bekas-bekas ziarah yang masih ada, kondisi sekitar makam juga bersih dan sangat nyaman kalau ingin berziarah ke makam yang satu ini. Beberapa riwayat mengatakan kalau makam ini adalah Pitung yang bernama Sholihun bin Nafiun. Ratu Bagus Sholihun bin Nafiun Nitikusuma sendiri memang ada namanya dalam silsilah keluarga besar Wangsa Aria Jipang Jayakarta.

Ratu Bagus Roji’ih Nitikusuma atau Ji’ih wafat pada tahun 1899 Masehi. Beliau mati syahid karena tertembak oleh Belanda. Ini membuktikan jika cerita-cerita kesaktian para anggota Pitung adalah tidak benar, karena Anggota Pitung dalam melakukan perjuangan tidak melulu mengandalkan kesaktian, memang ilmu kesaktian dijajaran Pendekar Pitung itu ada, tapi ilmu-ilmu itu tidak dominan dilakukan dalam melakukan jihad fi sabililah, buktinya Ratu Bagus Roji’ih dan Ratu Bagus Muhammad Ali bin Ratu Bagus Syamsirin Nitikuma syahid tertembak. Kebanyakan anggota Pitung justru mempelajari ilmu Thariqat terutama saat mereka belajar agama dan belajar silat kepada Haji Naipin dari Kampung Kiapang Tanah Abang. Lagipula kalau mereka punya kelebihan “metafisika”  yang mendukung perjuangan mereka, itu adalah pemberian Allah yang dinamakan Maunah. Maunah sendiri terjadi untuk orang yang dikehendaki Allah. Jika Mu’jizah Untuk Nabi, Karomah untuk Waliyullah, Istidraj untuk orang kufur nikmat, tukang sihir dan sejenisnya, maka Maunah inilah sering nempel kepada beberapa anggota Pitung, tapi itu tidak mutlak dan harus terhadi terus menerus, kalau memang saatnya ajal datang ya meninggal. Ratu Bagus Roji’ih pun akhirnya pada akhirnya memang tewas tertembak.

Sampai kematiannya beliau tidak pernah menyatakan menyerah. Jenazahnya kemudian diselamatkan oleh beberapa kerabatnya dan kemudian dimakamkan secara diam-diam disebuah tempat tersembunyi diperkampungan yang kini bernama jalan kemandoran VIII.  Kematian Ratu Bagus Roji’ih tentu sangat menguncang anggota Pitung yang lain terutama Ratu Bagus Muhammad Ali Bin Ratu Bagus Syamsirin Nitikuma yang merupakan Panglima  Komando Gerakan Pendekar Pituang Pitulung (Pitung). Fakta ini sekaligus membantah versi film Pitung tahun 1972 dan beberapa tulisan lain yang mengatakan jika JI’IH tewas setelah kematian Ratu Bagus Muhammad Ali Nitikusuma yang merupakan Dedengkot gerakan Pendekar Pitung. Ratu Bagus Muhammad Ali Nitikusuma sendiri gugur syahid tahun 1903 Masehi, dan kemudian mayatnya dibelah menjadi dua oleh Penjajah Kafir yang bekerjasama dengan salah satu oknum etnis tertentu.  Mereka sengaja memotong tubuh Ratu Bagus Muhammad Ali Nitikusuma untuk menunjukkan  kepada masyarakat bahwa orang sakti yang dibangga banggakan di tanah Betawi bisa dikalahkan penjajah kafir dan antek anteknya dengan cara keji seperti ini. Jelas ini adalah fitnah mereka, seolah mereka ingin mengatakan, “ini lho orang sakti....orang sakti saja bisa kami kalahkan, apalagi mereka yang tidak sakti”. Padahal kematian seseorang itu tidak ada hubungan dengan sakti atau tidak sakti, jika memang waktunya meninggal ya meninggal, mau dia sakti atau tidak kalaupun memang sudah takdirnya harus wafat ya wafat menurut kehendak Allah. Insya Allah dalam waktu dekat kami juga akan mencari keberadaab jejak makam dari Ratu Bagus Muhammad Ali bin Ratu Bagus Syamsirin Nitikusuma. Adanya pemotongan mayat Ratu Bagus Muhammad Ali bin Ratu Bagus Syamsirin Nitikusuma seperti mengulang sejarah para leluhurnya yaitu Ratu Bagus Aria Kertadrian yang dihukum mati dengan cara diputus tangan dan kakinya  setelah diikat tali dan disangkutkan kepada  kuda di empat penjuru, sehingga akhirnya tercabik cabiklah jasad Ratu Bagus Kertadria atau Raden Ateng Kertadria. Disisi lain seperti penjajah ingin memutus mata rantai hubungan antara para pejuang dengan rakyat. Dengan tidak adanya makam yang jelas karena tubuhnya tercerai berai, maka rakyatpun tidak ada tujuan untuk berziarah, padahal dengan adanya makam maka hubungan antara masyarakat dengan para pejuang atau ulama tersebut masih bisa tersambung terutama ketika kita mengingat jasa mereka dalam melawan penjajah.

Adapun keberadaan makam Ratu Bagus Roji’ih Nitikusuma pada perkembangan selanjutnya semakin diperkuat saat kami bertandang pada malam harinya kejalan Madrasah II atau Gang Adam untuk bertemu dengan beberapa dedengkot Rawa Belong Jakarta Barat dalam rangka mengenal lebih dekat seni bela diri Cingkrik dan silat asli keluarga besar Rawa Belong. Sayangnya beberapa dedengkot Rawa Belong yang ada didaerah ini sedang tidak ada ditempat karena banyaknya acara, namun kami akhirnya ditemani oleh beberapa anak muda yang peduli terhadap kelestarian budaya betawi di Rawa Belong, justru mereka ini juga tahu keberadaan makam JI’IH tersebut.

Keberadaan makam Ratu Bagus Roji’ih Nitikusuma atau Ji’ih sudah seharusnya kita hormati dan kita lestarikan,  itu pantas kita lakukan, karena beliau ini adalah seorang Mujahid dan juga seorang yang syahid dalam memperjuangkan rakyat dan juga menegakkan kehormatan Islam. Masyarakat dan tokoh-tokoh Betawi sudah selayaknya memberikan perhatian khusus terhadap keberadaan makam beliau ini.

Semoga dengan ditemukannya makam Pahlawan Betawi banyak fihak yang bisa terketuk hatinya....

Wallahu A’lam Bisshowab..........

Rabu, 10 Desember 2014

GURU MANSUR SAWAH LIO, PAKUNYA ULAMA BETAWI DAN HUBUNGANNYA DENGAN PENULIS KITAB AL FATAWI


Jayakarta……………….

Daerah yang kaya akan nilai-nilai Islam. Dinegeri ini Islam telah bediri dengan tegak dan terhormat sejak dahulu, puncak dari kejayaaan Islam adalah dengan direbutnya pelabuhan Sunda Kelapa di tahun 1527 Masehi dari tangan Kerajaan Pajajaran melalui salah satu jenderal perangnya yang legendaris dari Kesultanan Demak yaitu As-Sayyid Fathullah/Fattahillah bin Maulana Mahdar Ibrahim bin Maulana Abdul Ghofur bin Sultan Barokat Zaenul Alam. Setelah  berhasil menguasai Pelabuhan Sunda Kelapa, Fattahillah juga berhasil mematahkan ambisi Portugis yang akan menguasai pelabuhan penting ini. Paska direbutnya pelabuhan Sunda Kelapa  berdirilah PEMERINTAHAN HIKMAH JUMHURIYAH yang bernama JAYAKARTA. Maka sejak itulah kejayaan Islam mulai menggema  dibumi yang didirikan oleh para pejuang, ulama dan syuhada Islam ini. Sejak masa itulah mulai banyak bermunculan ulama-ulama yang berpengaruh di negeri Jayakarta. Di kemudian hari dari sebuah negeri di Jayakarta ini, muncullah  nama yang juga tidak kalah populernya dengan Jayakarta  yaitu Betawi. Jika Jayakarta adalah nama sebuah wilayah dan pemerintahan maka Betawi lebih identik dengan nama suku.

Kehidupan masyarakat Betawi yang berada dinegeri Jayakarta sejak dahulu terkenal sebagai sebagai masyarakat yang religius. Kesederhanaan dan kesahajaan mereka sangat selaras dengan nilai-nilai agama Islam yang mereka anut. Kehidupan masyarakat Betawi yang agamis itu sendiri tidak lepas dari peran serta para ulama-ulama terdahulu. Ulama dan masyarakat Betawi bagaikan dua sisi mata uang yang saling melekat. Kehidupan masyarakat Betawi yang  religius bahkan pernah membuat kagum seorang ulama besar Indonesia yaitu HAMKA (Haji Abdul Malikbin Abdul Karim Amrullah). Di matanya masyarakat Betawi sangat khas dan tinggi kadar keislamannya.

Ulama dimata masyarakat Betawi sangatlah terhormat dan dicintai. Kedudukan mereka seolah tidak bisa tergantikan dengan posisi jabatan masyarakat yang lain. Sehingga dalam perkembangan sejarah Islam di Betawi,  satu demi satu ulama bermunculan dan memberikan pengaruh yang tidak sedikit. Pada  setiap kemunculannya para ulama Betawi selalu memberikan sumbangsih yang tidak sedikit dalam memajukan perkembangan agama Islam di bumi Jayakarta ini. Bagi masyarakat Betawi tentu sebagian mereka  pernah mendengar nama-nama seperti seperti :

Datuk Ibrahim Al Magribi dari Condet Jakarta Timur, Sayyid Husein bin Abu Bakar Alaidrus Luar Batang Jakarta Utara, Syekh Junaid Al Batawi dari Pekojan Jakarta Barat, Syekh Mujtaba dari Kampung Mester/Kampung Melayu Jakarta Timur (sepupu Syekh JunaidAl Batawi), Al Habib Bahsin Jamalullail dari Mangga Dua Jakarta Pusat, Syekh Abdullah Al Masri, Datuk Qidam dari Kayu Putih Tanah Tinggi Jakarta Tmur, Syekh Abdullah Ghoni dari Kayu Putih Tanah Tinggi Pulo Mas Jakarta Timur, Al Habib Usman bin Yahya Mufti Betawi, Habib Umar bin Hoed Al Attas Pasar Minggu Jakarta Selatan, Guru Mughni Kuningan Jakarta Selatan, Guru Syariun dari Mampang Prapatan Jakarta Selatan, Guru Alif dari Duren Tiga Jakarta Selatan, Guru Amin dari Kalibata Pulo Jakarta Selatan, Guru Zaenuddin (Guru Ending) dari Kalibata Pulo Jakarta Selatan, Syekh Abdurrahman bin AbdullahAl Batawi (kakek dari Abuya KH Rusdi Ali dari Kampung Melayu Jakarta Selatan),  Haji Abdurrahman Abdullah Penghulu Betawi/Qodhi Betawi tempo dulu, Guru Marzuki Klender Jakarta Selatan, Guru Majid Pekojan Jakarta Barat, Guru Kholid Gondangdia Jakarta Pusat, Guru Mahmud Romli, KH Ratu Bagus Ahmad Syar’i Mertakusuma dari Kampung Bambu Larangan Cengkareng Jakata Barat, Muallim Tabrani dari Paseban Jakarta Pusat, Al Habib Ali Kwitang Jakara Pusat, Al Habib Ali Bungur Jakarta Pusat, Habib Salim Jindan Otista Jakarta Timur, Sayyidul Walid  Abdurrahman bin Ahmad Assegaf dari Bukit Duri Jakarta Selatan, Al Habib Muhammad bin Ahmad Al Haddad Al Hawi Jakarta Timur, Al Habib Muhsin bin Muhammad Al Attas Al Hawi Jakarta Timur, Al Habib Kuncung Pasar Minggu-Kalibata Jakarta Selatan, Al Habib Abdullah bin Husein Syami Al Attas dari Batu Ceper Jakarta Pusat, Al Habib Abdullah bin Salim Al Attas (Kakek Habib Hud Al Attas Kebun Nanas Jakarta Timur), Al Habib Salim Bin Toha Al Haddad Gang Damai Pasar Minggu, Al Habib Abbas Alaidrus Rawa Bokor Jakarta Barat, Habib Novel bin Jindan, Habib Syekh Bin Ali Al Jufri, Al Habib MuhammadAl Baqir Al Attas Kebun Nanas, Habib Husein Al Attas Gang Buluh, Habib Abdul Qodir Al Haddad Al Hawi, Al Habib Muhammad bin Sholeh Al Attas, Habib Husein bin Umar bin Hud Al Attas Gang 100 Tanjung Barat Jakarta Selatan, KH Diahudin Abdul Khoir Bukit Duri Jakarta Selatan, KH Abdullah Syafi’i Bukit Duri Jakarta Selatan, KH Tohir Rohili Attahiriah Jakarta Selatan, KH Najihun Duri Kosambi Cengkareng Jakarta Barat, KH Fathullah Harun (hijrah ke Malaysia), KH Zayadi Muhajir (Azziyadah) Klender Jakarta Timur, KH Nur Ali (Ponpes Attakwa) Bekasi Ujung Harapan, KH. Mukhtar Thabrani Macan Bekasi, KH. Muhajirin Amsar Addari Macan Bekasi, KH Asmawi Madali dari Harapan Jaya Bekasi, KH Muhammad Sasi Cililitan Jakarta Timur (Pejuang 45), KH Hasbiyallah Klender (Al Wathoniyah), KH Sibro Malisi Kuningan Ponpes Darussaa’dah Jakarta Selatan, KH Ashari bin Mualim Hamim Pondok Melati Hankam Pondok Gede, KH Hasyim Adnan dari Utan Kayu Jakarta Timur, Mualim Abdul Hadi Cipinang Cibembem Jakarta Timur, Muallim H Gayar, Guru Naim Cipete Jakarta Selatan, Mualim Yunus Bukit Duri Jakarta Selatan, Muallim Muhammad Ali dari Rawa Belong Jakarta Barat, KH Damanhuri dari Paseban Jakarta Pusat, Muallim KH Syafi’i Hadzami dari Jakarta Selatan, DR. KH Nahrowi Abdussalam, KH Abdussalam (Masjid Al Bahri Jembatan Bypass) Jakarta Timur, KH Ahmad Junaidi (Guru Habib Umar bin Abdurrahman Assegaf bukit duri) dari Menteng Dalam Jakarta Pusat, KH Abdul Rozaq Khaidir Mampang Prapatan Jakarta Selatan, Muallim Bakri dari Citayam, KH Asmuni Marzuki dari Cipinang Jakarta Timur, KH Fudoli El Muhir (Pendiri FBR), H Darip Klender Jakarta Timur, Haji Naipin dari Kampung Kiapang Kebon PalaTenabang Jakarta Pusat, Haji Juhri Gondangdia Jakarta Pusat dan masih lagi  ribuan ulama betawi lain yang tidak bisa sayas ebutkan satu persatu, nama diatas hanya sebagian saja yang saya ketahui.

Sedangkan yang masih hidup yang saya ketahui dan kebetulan beberapa orang dari beliau pernah sayat emui diantaranya adalah :

KH Murtadho bin Syekh Abdullah Ghoni Kayu Putih Utara (sudah sangat sepuh), KH Maulana Kamal Yusufdari Paseban Jakarta Pusat, KH Syaifuddin Amsir Jakarta Timur, KH AbdurrahmanNawi Al Awwabin Depok, KH Musfik Amrullah, KH Abdurrasyid Abdullah Syafi’i dari Assyafi’iyah, KH Kazruni Ishak dari Mampang Prapatan Jakarta Selatan, KH Hasbullah bin Guru Amin Jambul Kalibata Jakarta Selatan, KH  Abdul Hamid Husein Gang Haji Samali Pejaten Pasar Minggu, KH Syukur Ya’kub dari Komplek Dapur Susu Fatmawati Jakarta Selatan, KH Dr. Lutfi (cicit Guru Mugni) Kuningan, KH Ahmad Shodri AlWathoniyah Cakung Jakarta Timur, KH Abdul Hayyin Naim Pondok Labu Jakarta Selatan, KH Yunus Sasi dari Cililitan, Habib Abdurrahman bin Muhammad Al Habsyi Kwitang, Habib Syekh bin Abdurrahman Al Attas Asem Baris Raya Tebet Jakarta Selatan, Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf Tebet Jakarta Selatan, Habib Umar bin Abdurrahman Assegaf Bukit Duri, Habib Muhammad bin Abdurrahman Assegaf Ceger Jakarta Timur, Habib Alwi bin Abdurrahman Assegaf Bukit Duri, Habib Hamid Al Kaff Pondok Ranggon,  Habib Mahdi Al Attas ( Mantu Habib Husein Gang Buluh), Habib Umar Petamburan (ayah Habib Salim Selon), Habib Riziq Shihab (Imam Besar FPI), Habib Hud bin Muhammad Baqir AlAttas, Ustadzah Tuti Alawiyah, Ustadzah Suryani Tahir,  Ustadzah Dr. Faizah Sibro Malisi, KH Fachurrozi Ishak Macan Podium. Belum lagi ulama-ulama yang bukan orang Betawit api lama menetap di Betawi seperti KH Idham Kholid, Hamka, KH Sirajudin Abbas,  Gus Dur, dan masih banyak yang lainnya.

Mempelajari sejarah ulama betawi memang bagaikan mengarungi samudra lautan ilmu, kita tidak akan habis-habisnya mendapati fakta dan data dari sejarah kehidupan mereka.

Dalam sejarah ulama di Betawi, disamping banyak nama ulama  yang telah saya sebut diatas, ada rupanya salah satu nama yang cukup mentereng di Betawi, beliau adalah Guru Mansur. Lengkapnya beliau bernama KH Muhammad Mansur bin Imam Abdul Hamid bi Imam Muhammad Damiri bin Imam Habib bin Radin Abdul Mukhit bin Pangeran Cakrajaya NItikusuma IV. Dalam penggelaran seorang ahli agama di Betawi, pada masa lalu gelar yang sering dipakai adalah GURU. Seorang bila sudah dipanggil dengan gelar Guru, itu setingkat dengan Kyai Haji pada masa sekarang. Bahkan kedudukan GURU pada masa lalu seperti seorang GURU BESAR pada dunia perguruan tinggi, lagi pula gelarGURU lebih ketara Kebetawiannya. Sampai pada masa tahun 1960an pemakaian gelar GURU masih bertahan, namun memasuki tahun tahun 1970an sampai sekarang gelar GURU untuk ulama Betawi sudah tidak pernah terdengar lagi. Pada saat ini untuk menggelari seorang ulama di Betawi gelar Kyai Haji atau KH lebih banyak digunakan.

Adapun mengenai biografi Guru Mansur yang saya peroleh dari beberapa buku sejarah ulama Betawi dituliskan sebagai berikut:

Beliau lahir pada tahun 1878  dan wafat pada tahun 1967 Masehi. Pada tahun 1894, Guru Mansur berangkat ke Mekkah ketika berusia 16 tahun bersama ibunya. Sebelum berangkat ke Makkah Guru Mansur mendapat didikan pertama kali dari orang tuanya yang merupakan ulama. Beliau sangat taat terhadap orang tuanya. Sejak mulai belajar telah tampak hasrat dan keinginan yang keras untuk mengaji ilmu sebanyak banyaknya, maka kemudian ia mendatangi sendiri beberapa orang guru antara lain kakaknya sendiri seperti Haji Imam Mahbub,  Imam Tabrani, dan Imam Mujtaba Mester (Syekh Mujtaba Al Batawi).

Semasa mudanya beliau sangat tertarik dengan ilmu Hisab. Pada umur 16 tahun tepatnya tahun 1894 M beliau pergi bersama ibunya ke Mekkah untuk menunaikan rukun Islam yang ke lima. Beliau tinggal di Mekkah selama 4 tahun untuk menuntut ilmu. Beliau berguru kepada :

1.Guru Mukhtar
2.Guru Muhyiddin
3.Syekh Muhammad Hayyath
4.Sayyid Muhammad Hamid
5.Syekh Said Yamani
6.Syekh Umar Al-Hadromy
7.Syekh Ali Al-Mukri
8.Syekh Muhtar Atharid Al Bogori
9.Syekh Umar Bajunaid Al Hadrami
10.Syekh Ali Al-Maliki
11.Tuan Guru Umar Sumbawa (guru terakhirnya ini pernah mengangkat beliau sebagai sekretaris pribadi karena dianggap cakap dan rapih serta tertib tulisannya).

Dalam menuntut ilmu Guru Mansur dikenal sebagai orang yang sangat mementingkan Silsilah Intelektual (Isnadul Masyayikh).

Ilmu yang dipelajari Guru Mansur merupakan ilmu standar dunia islam pada masa itu, referensinya juga standar. Beliau mendalami Ilmu Al Quran dengan memperoleh mandat untuk mengajarkan tiga jenis Qiraat yaitu Qiraat Hafs, Warasy dan Abi Amr. Beliau juga mendalami Ilmu Fiqih, Ushulul Fiqih, Tafsir Qur’an, Hadist dan Ilmu Hisab yang merupakan spesialisasinya.

Setelah mukim selama 4 tahun, Guru Mansur kemudian kembali ke tanah air dengan terlebih dahulu singgah di Aden (Yaman), Benggala, Kalkuta, Burma,India, Malaya (Malaysia) dan Singapura. Sekembalinya di kampung halamannya, Guru Mansur mulai membantu ayahnya mengajar di madrasah Kampung Sawah Lio Jembatan Lima. Sejak tahun 1907, beliau mengajar di Jamiatul Khair, Kampung Tenabang. Di sinilah beliau mulai mengenal tokoh-tokoh Islam seperti Syekh Ahmad Syurkati dan KH Ahmad Dahlan yang juga anggota perkumpulan Jamiatul Khair.

Tentu dengan  diterimanya beliau mengajar di Jamiatul Khair menandakan tingginya kualitas ilmu agama yang beliau miliki. Jamiatul Khair yang didirikan oleh para Sayyid Hadramaut yang berada di Betawi adalah merupakan pioneer lembaga pendidikan. Tidak mudah untuk bisa mengajar di Jamiatul Khair, karena kebanyakan pengajar di Jamiatul Khair adalah mereka yang pernah mengajar di Mekkah ataupun Mesir dan juga beberapa Negara timur tengah lain. Kebetulan Guru Mansur masuk kualifasi sebagai seorang pengajar di lembaga  pendidikan di Betawi ini. Disamping mengajar beliau juga menjadi penasehat dalam organisasi Ijtimatul Khoiriyah.

Beliau juga merupakan salah satu ulama yang cukup disegani diseantero Betawi pada masa itu. Biografinya sendiri sudah banyak yang menuliskannya, sehingga untuk mencari data tentang Guru Mansur tidaklah sulit. Guru Mansur sendiri adalah termasuk generasi ulama yang cukup senior dibumi Jayakarta ini. Beliau seangkatan dengan Guru Marzuki, Guru Mughni, Guru Majid Pekojan, Guru Kholid, Habib Ali Kwitang, Habib Ali Bungur,Habib Salim Jindan dan beberapa ulama Betawi lainnya yang kiranya berada dijajaran senior. Keberadaan Guru Mansur sendiri telah banyak memberikan pengaruh pada masyarakat Betawi pada masa itu. Sehingga tidak heran pada masanya, nama beliau ini cukup harum dikalangan ulama dan juga masyarakat Betawi, dan kelak salah satu tetesan darahnya juga berhasil berkiprah dalam dunia dakwah diNusantara ini yaitu Ustadz Yusuf Mansur, “macan” biasanya memang selalu melahirkan“macan”.

Salah satu kemampuan Guru Mansur yang cukup terkenal adalah kemampuan akan ilmu Falaknya. Penetapan waktu awal menjelang bulan Ramadhan atau Idul Fitri di kota Jakarta biasanya merujuk kepada pendapat beliau. Salah satu karya beliau yang berkaitan dengan Ilmu Falak adalah Kitab SULLAMUNNAYYIRAIN yang ditulisnya pada tahun 1925 Masehi. Kitab ini disamping praktis dan mudah dipelajari, kitab ini  telah teruji selama puluhan tahun dan telah dipraktekkan oleh tokoh tokoh ulama dalam menentukan awal bulan Hijriah, Bahkan Guru Mansur telah menulis beberapa tulisan yang berkaitan dengan ilmu falak seperti :

1.Mizartul I’tidal
2.Khulashotul Jadawil
3.Diroyatul Ulum Wamanzhorootinnujum
4.Wasiilatthulllaab
5.Hadza Majmuu’ Khomsu Roasail Fi Amalisshaum Wal Fitri Bihisabissuhur awil Ahillah Aw Rukyatul Hilal
6.Dawairul Falakiyah
7.Taudihul Adillah Fi Shihhatisshaum Wal Fitr
8.Tazkirotunnafiah Fi Shihatutisshaum Wal Fitr
9.Rubu’l Mujayyab
10.Kaifiyyatu Amalil ijtima, Khusuf wal Khusuf.

Disamping ilmu Falak beliau juga mumpuni pada  ilmu-ilmu agama Islam yang lain (sudah dijabarkan diatas). Beliau sendiri adalah seorang penulis produktif dan seorang pemikir yang cerdas, berbagai karyanya telah banyak lahir dan selalu dijadikan rujukan banyak orang. Guru Mansur sendiri sepertinya memang dilahirkan untukmenjadi seorang ulama besar. Beliau mempunyai kecerdasan luar biasa dalam menyerap ilmu pengetahuan agama, khususnya saat berada di Mekkah. Saya sendiri banyak mengetahui sejarah Guru Mansur dari beberapa tulisan-tulisan yang bertebaran dan ditulis oleh beberapa budayawan dan sejarawan Betawi. Berawal dari tulisan-tulisan tersebut saya termotivasi untuk ikut berkiprah dan memperkaya Khazanah sejarah Betawi ini, terutama dari sejarah para ulamanya.Jika sebagian orang sudah banyak menuliskan sejarah beliau secara umum, maka dalam penelitian kali ini saya akan memfokuskan pada sisi silsilah dari seorang Guru Mansur. Kenapa saya fokus pada sisi penulisan ini? Karena dengan kita mengetahui silsilah seorang tokoh justru nanti kita akan tahu secara utuh siapa tokoh tersebut. Meneliti Silsilah atau Nasab (Garis Keturunan Langsung daril aki-laki) sering memecahkan kebuntuan seseorang dalam mempelajari biografi seorang tokoh. Sepengalaman saya jika kita masuk pada penelitian nasab seseorang, maka mau tidak mau kita akan banyak bertemu dengan kajian-kajianpada ilmu lain. Tidak jarang ketika saya meneliti nasab seseorang tokoh, akhirnya saya harus ikut-ikutan mempelajari semua yang berkaitan dengan tokoh tersebut,saya harus mempelajari Arkeologinya, Sejarahnya, Politiknya, Antropologinya ,Geografinya, Sosiologinya, Idiologinya. Tidak jarang juga saya jadi harus membaca tentang Militer, intelijen, Seni, Tehnik, Kedokteran, Perekonomian,Filsafat, Psikologi, DNA, Pendidikan, Bahasa, dan bidang-bidang pengetahuan lainnya yang tentu berkaitan dengan tokoh tersebut, bahkan gara-gara saya meneliti seorang tokoh mau tidak mau sayapun pernah harus  memperdalam kembali ilmu navigasi, pemetaan, sosiologi pedesaan yang pernah saya dapati saat di Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung Wanadri Bandung demi untuk mempelajari diaspora keluarga besar tokoh tersebut dalam melakukan perjalanan. Pada intinya Ilmu Nasab memang tidak melulu membicarakan garis keturunan semata, dan inilah yang menjadi kekuatan ilmu tersebut. Dengan ilmu ini kita akan kaya akan pengetahuan yang universal.

Seperti biasanya, dalam mengambil sebuah sumber, saya selalu berusaha mendapatkan data yang paling dekat dengan tokoh yang akan saya teliti. Oleh karena itu maka sayapun berusaha mencari siapa kiranya yang saat ini mewarisi perjuangan dari Guru Mansur ini. Sekalipun dibeberapa buku sudah cukup jelas, namun tidak Afdhol rasanya jika saya tidak bertemu dengan sumber primer yang berkaitan dengan Guru Mansur. Akhirnya belum lama ini saya bisa bertemu dengan salah seorang cucu Guru Mansur yang bernama KH Fattahillah. Dari beliaulah saya banyak mendapatkan informasi tentang Guru Mansur.

Dalam dua kali wawancara saya dengan cucu Guru Mansur dikediaman beliau di Kampung Sawah Lio Jembatan Lima Jakarta Barat. Saya banyak mendapatkan informasi yang berharga tentang biografi seorang Guru Mansur. Rumah yang ditempati KH Fattahillah sendiri adalah milik Guru Mansur. Rumah ini satu-satunya rumah tua dan masih bertahan dengan baik ditengah gempuran dan kepungan rumah-rumah dari etnis lain (saat ini daerah sawah lio jembatan lima banyak dihuni etnis china). Dahulunya lingkungan disekitar Guru Mansur adalah kawasan Betawi dan sarat dengan kehidupan Islam.  Namun kini keadaan berbalik, banyak masyarakat Betawi yang asli sudah pindah ketempat lain, sehingga semakin kesini lingkungan sawah lio sudah “berubah wajah”. Mudah-mudahan Keluarga Besar Guru Mansur masih bisa bertahan ditengah kondisi tersebut.

Sisi lain yang juga tidak kalah menarik yang akan saya angkat dalam penelitian kali ini adalah tentang hubungan Guru Mansur dengan keluarga besar Jayakarta. Saya tertarik pada sisi ini, karena dalam beberapa tulisan yang dibuat oleh keluarga besar keturunan asli Jayakarta seperti yang terdapat pada Kitab Al Fatawi, Kitab Wangsa Aria Jipang Jayakarta dan beberapa sumber lain, menyebutkan bahwa Guru Mansur ini merupakan keturunan asli Jayakarta. Untuk membuktikan tulisan tersebut, maka sayapun segera “blusukan” menemui keturunan beliau tadi yang kiranya masih eksis meneruskan tongkat estafet dakwah Islamiah. Tentu keturunan Guru Mansur lebih mengetahui siapa sesungguhnya beliau itu ketimbang orang lain, apalagi yang saya ketahui, cucu Guru Mansur  ini sangat perhatian sekali dengan Sejarah Islam dan tokoh-tokoh Jayakartanya. KH Fattahillah sendiri leluhur dari ayahnya berasal dari Rawa Belong Jakarta Barat. Nah begitu beliau menyebut nama Rawa Belong, saya justru jadi tertarik, karena Rawa Belong merupakan salah satu basis perjuangan dari Mujahidin Jayakarta yang diantaranya adalah Pendekar Pituan Pitulung (Pitung). Tidak mungkin rasanya seorang GURU MANSUR mengambil mantu dari Rawa Belong tanpa melihat bibit bobot dan bebet. Karena pada masa lalu biasanya seorang ulama dalam mengambil mantu selalu melihat siapa leluhur dari calon mantu itu. KH Fattahillah sendiri mengakui, pada masa hidupnya GURU MANSUR mempunyai banyak murid dari Rawa Belong. Bahkan menurut beliau banyak murid-murid Guru Mansur yang dari Rawa Belong sering menginap ditempat Guru Mansur karena kemalaman dan juga karena ada keperluan lain. Menurut beberapa sahabat saya dari Rawa Belong, mereka juga sering mendengar bahwa kakek-kakek mereka itu dulunya pernah belajar kepada Guru Mansur.

Salah satu cerita yang juga tidak kalah menariknya tentang Guru Mansur adalah tentang perjuangannya dalam menegakka namar ma’ruf nahi mungkar. Jika melihat beberapa biografi beliau, terutama yang berhubungan dengan perjuangan beliau dalam menghadapi Belanda, kelihatan sekali jika watak beliau itu tidak jauh berbeda dengan watak-watak para Mujahidin Jayakarta seperti Para Pendekar Pituan Pitulung (Pitung) dan Juga Para Dedengkot Gerakan Ki DALANG. Ciri khas keras, tegas dan tidak kenal kompromi dalam menghadapi penjajah kafir ini betul-betul ketara pada sosok GURU MANSUR.

Menurut KH Fattahillah sendiri, orangtua dan kakek Guru Mansur sendiri wataknya lembut dan komunikatif. Ayah dan kakek Guru Mansur sendiri terkenal sebagai ulama yang tawadhu. Keluarga Besar yang satu ini memang pada masa itu terkenal sebagai keluarga santri dan terkenal religius.

Namun demikian, memang pada dasarnya watak asli, biar disimpan seperti apapun kalau memang harus muncul ya keluar juga, kekerasan dan ketegasan beliau suatu saat meledak juga, terutama ketika berhadapan dengan Penjajah Kafir Belanda. Guru Mansur bahkan merupakan ulama yang terkenal militan dalam melawan penjajah belanda, di Masjid Al Mansur Sawah Lio, masjid yang didirikan para leluhurnya, beliau bahkan dengan gagah berani mengibarkan bendera merah putih diatas menara Masjid, padahal saat itu Belanda ingin berkuasa kembali ditahun 1948. Butuh nyali macan untuk berani mengibarkan bendera merah putih ditengah suasana yang menegangkan. Disisi lain Belanda juga berfikir dengan siapa mereka berhadapan kali ini, kalau Guru Mansur ditangkap atau dibunuh justru akan bisa menciptakan revolusi pada masyarakat Betawi, karena beliau ini disamping militant juga sangat karismatik dihadapan masyarakat Betawi dan juga dikalangan ulama Jakarta, Jawa maupun daerah-daerah lain. Kelas beliau ini sebenarnya memang sudah bukan kelas lokal tapi beliau ini kelasnya nasional, karena kepakaran ilmunya. Sikap militant Guru Mansur ini bahkan beliau tularkan kepada murid-muridnya dan juga pada masyarakat Betawi pada umumnya. Perkataan beliau yang terkenal bahkan kemudian diabadikan untuk sebuah ormas Betawi yang bernama Forum Betawi Rempug yaitu “BETAWI REMPUGLAH!”. Beliau mengumandangkan kata-kata itu agar masyarakat Betawi bersatu dalam melawan penjajahan Belanda. Nama rempug sendiri menurut pendiri FBR mengambil dari perkatan Guru Mansur.

Kisah lain yang tidak kalah menariknya ketika beliau menuntut agar hari Jum’at dinyatakan sebagai hari libur bagi umat Islam, terlihat sekali dari beliau ini agar syariat Islam bisa kembali berdiri tegak dibumi Jayakarta. Bahkan pada tahun 1925 M tatkala masjid Cikini yaitu Masjid Al Makmur di Jalan Raden Saleh hendak dibongkar dan pembongkaran ini disetujui oleh Raad Agama (pengadilan agama) Guru Mansur melancarkan protes keras sehingga akhirnya pembongkaran masjid tersebut berhasil dibatalkan. Sepertinya Belanda dan juga fihak Pengadilan Agama berfikir ulang untuk menghadapi ulama yang keras dan tegas ini.

Pernah juga ketika pada tahun 1948 tatkala kota Jakarta berada dalam kekuasaan agresi Belanda yang kedua, Guru Mansur sering berurusan dengan  Hoofd Bureau kepolisian di Gambir Jakarta Pusat karena berani memasang bendera merah putih di menara masjid Kampung Sawah seperti yang sudah saya uraikan diatas. Meskipun di bawah ancaman senjata Penjajah kafir beserta antek anteknya, Guru Mansur tetap mempertahankan Sang Saka Merah Putih untuk terus berkibar di menara masjid Al Mansur Sawah Lio, inilah sebuah peristiwa di Jakarta yang patut kita kenang, ditengah agresi Belanda yang membabi buta, ada seorang ulama yang berani dan “nekat” melawan kezaliman ala Firaun tersebut.

Beliau Guru Mansur bahkan pernah dibujuk para antek-antek Penjajah Kafir Belanda agar mengubah sikapnya yang keras tersebut terhadap Belanda, beliau dibujuk dan diminta agar menuruti saja dengan apa yang akan dikehendaki oleh Penjajah Kafir Belanda, tidak tanggung-tanggung, beliau ditawari setumpuk uang yang menggiurkan, namun rayuan tersebut jelas ditolak mentah-mentah oleh Guru Mansur. Dengan suara tegas dan lantang,Guru Mansur menjawab, “Islam tidak mau ditindas, saya enggak mau ngelonin kebatilan”. Watak anti Belanda beliau ini betul-betul wajib kita kenang. Bagi keluarga besar Jayakarta mereka yang senang “menghamba” kepada penjajah Belanda, sering dijuluki dengan gelar orang-orang “BATAVIEREN”. Terus terang saya sangat kagum dengan konsistensi sikap beliau terhadap Penjajah Kafir Belanda. Dalam catatan KH Fattahillah Guru Mansur memang  orang yang tegas dan mempunyai disiplin yang tinggi, disamping itu sepanjang hayatnya beliau selalu menjaga sholat berjamaah di Masjid Al Mansur, sehingga beliau selalu berwasiat  kepada murid-muridnya bahwa keridhoannya berada dalam masjid.

Guru Mansur adalah pendidik yang teliti dan tegas, setiap selesai sholat subuh beliau mengajarkan santri santrinya, cara beliau mengajar, beliau menyerahkan tanggung jawab pengajaran kepada santri senior untuk mengajarkan yang lebih yunior, kemudian beliau periksa langsung hasil pengajaran kepada santri yunior itu, apabila ada kekurangan atau tidak hafal, beliau menanyakan siapa yang mengajar, maka yang akan menerima sangsi pukulan rotan adalah yang mengajarnya. Setelah mengajar biasanya beliau minta dibacakan beberapa surat kabar kepada santrinya atau setelah makan malam, beliau memanggil santrinya untuk berdialog dan menanggapi berita-berita yang terjadi baik dalam maupun luar negeri. Adapun santri-santri beliau berasal dari Jawa Barat, Lampung, Madura, Kalimantan. Dalam memberikan pelajaran kepada santri-santrinya tidak pernah dihentikan walaupun dalam keadaan apapun. Setiap Jumat pagi beliau membuka pengajian umum, pada masa itu banyak berdatangan kaum muslimin dari berbagai daerah dan tingkatan sosial masyarakat, dari kyai, ustadz dan awam. Di Majlisnya beliau sering membahas berbagai masalah dan memberikan pelajaran tafsir dan hadist. Pada masa Revolusi sedang berkecamuk di Tanah air tidak sedikit jasa dan pengorbanan Guru Mansur, karena kepada beliaulah tempat orang meminta fatwa dan bekal dalam menghadapi perjuangan kemerdekaan, bahkan rumah, pesantren dan masjidnya pernah dijadikan markas para pejuang.

Jalinan komunikasi dan sillaturahim juga beliau lakukan dengan tokoh-tokoh seperti HOS Cokroaminoto (Keturunan Raden FattahAzmatkhan), KH Ahmad Dahlan (Keturunan Sunan Giri Azmatkhan), KH Hasyim Asy’ari (Keturunan Jaka Tingkir Azmatkhan), KH Mas Mansur, Syekh Ahmad Surkati (PendiriAl Irsyad) dll. Sehingga kelahiran organisasi Islam yang ada di Indonesia tidak lepas dari andil Guru Mansur baik itu lewat pikiran dan pendapatnya,tidak heran pribadi Guru Mansur dikenal dan dihargai oleh semua lapisan masyarakat Islam Indonesia. Beliau bahkan pernah menjabat sebagai Rais Aam Nahdatul Ulama Cabang Betawi ketika masa KH Hasyim Asy’ari (Kakek Gus Dur).

Terus terang saat membaca kisah-kisah ini, saya sangat takjub, sikap kerasnya itu mengingatkan saya akan seorang tokoh betawi yang dicari-cari Belanda yaitu KH Ratu Bagus Ahmad Syar’i Mertakusuma. KH Ratu Bagus Ahmad Syar’i Mertakusuma sendiri terkenal keras dan tegas terhadap Penjajah Belanda, haram hukumnya bagi beliau dan keluarga besar Jayakarta bekerjasama dengan Belanda dalam bentuk apapun. Kekerasan kedua tokoh ini banyak kemiripannya, sehingga mengundang saya untuk meneliti, apakah kedua tokoh mempunyai hubungan?

Dari penelitian yang saya lakukan tentang Nasab dari Guru Mansur, memang ditemukan fakta jika Guru Mansur merupakan keturunan asli Jayakarta. Leluhur Guru Mansur adalah Mujahidin Jayakarta. Salah satu leluhurnya yang cukup menonjol adalah Pangeran Cakrajaya Adiningrat. 

Pangeran Cakrajaya naik menjadi Pangeran Adiningrat setelah sebelumnya Pejabat Adiningrat yang terdahulu wafat. Nama gelar Pangeran Cakrajaya itu sendiri adalah Pangeran Cakrajaya Nitikusuma IV. Pangeran Cakrajaya adalah tokoh berpengaruh di Jayakarta pada masa itu. Beliau merupakan Panglima Perang Mujahidin Jayakarta. Pangeran Cakrajaya sendiri mempunyai banyak jaringan di Kesultanan Mataram pada masa itu, bolak-balik beliau ini dari Mataram dan Jayakarta untuk mengadakan konsolidasi dalam rangka perjuangan jihad fisabillah di bumi Jayakarta. Pangeran Cakrajaya sendiri di mataram sempat menjabat sebagai Tumenggung disalah satu wilayah Mataram. Hubungan Jayakarta dan Mataram pada masa Pangeran Cakrajaya sangatlah baik, sehingga tidak heran diwilayah tempat tinggal Pangeran Cakrajaya, khususnya Kampung Pekojan dan Sawan Lio dahulunya banyak dihuni oleh para keturunan Mataram dan Juga Jayakarta. Namun untuk masa sekarang sudah banyak dari mereka yang hijrah keberbagai wilayah Jabodetabek.

Pangeran Cakrajaya Nitikusuma IV inilah yang kelak menurunkan Guru Mansur termasuk juga Syekh Junaid Al Batawi, bahkan Syekh Mujtaba Al Batawi yang juga merupakan ulama besar di Mekkah dan Betawi dan hidupnya bersamaan dengan  masa Syekh Junaid Al Batawi menurut KH Fattahillah juga masih satu rumpun nasab.

Pangeran Cakrajaya Nitikusuma IV sendiri berdasarkan data yang saya pelajari adalah merupakan Pangeran Adiningrat Jayakarta yang ke 8. Pangeran Adiningrat di Jayakarta setingkat dengan Sultan atau Raja di beberapa wilayah, hanya saja karena Jayakarta sebuah daerah yang sering bergejolak baik secara politik, sejarah ataupun militer, maka keberadaan para Pangeran Adiningrat ini selalu dirahasiakan keberadaanya. Pusat dan lokasi pemerintahannya juga dirahasiakan. Khusus mengenai Pangeran Cakrajaya ini, posisi beliau sangatlah unik, karena beliau menetap disebuah wilayah yang justru berdekatan dengan pusat kekuasaan pemerintahan penjajah. Bisa dibayangkan bagaimana bahayanya posisi beliau itu. Saya sendiri berfikir, bisa saja beliau menetap ditempat itu untuk mencari sebanyak-banyaknya celah kelemahan dari fihak penjajah serta memperbanyak informasi tentang penjajah untuk kemudian diteruskan kepada para Mujahidin Jayakarta dan juga Mujahidin Kesultanan Mataram. Lagipula dalam sebuah strategi milter terkadang musuh yang berada dekat di jantung kekuasaan musuhnya sering tidak diduga.

Walaupun demikian pada akhirnya Pangeran Cakrajaya Nitikusuma IV akhirnya gugur syahid dalam perjuangannya dan kemudian akhirnya beliau dikuburkan dihalaman Masjid Al Mansur Kampung Sawah Lio Jakarta Barat. Setelah gugurnya Pangeran Cakrajaya ini strategi perjuangan, khususnya diwilayah Pekojan mulai dirubah, sudah tentu dengan gugurnya Pangeran Cakrajaya Nitukusuma IV mengakibatkan kecurigaan fihak Belanda terhadap wilayah Pekojan. Sudah tentu sedikit banyak data tentang Pekojan termasuk keluarga besar Pangeran Cakrajaya Nitikusuma IV mulai tercium dan inilah yang kemudian disikapi secara seksama oleh keluarga besar keturunan Pangeran Cakrajaya Nitikusuma IV.

Paska wafatnya Pangeran Cakrajaya Nitikusuma IV ini strategi perjuangan keluarga besar Jayakarta dirubah, khusus untuk wilayah Pekojan dan sekitarnya, strategi perjuangannya difokuskan pada bidang pendidikan agama. Pekojan dijadikan kawasan pendidikan yang seolah-olah jauh dari politik dan perlawanan. Sedangkan keluarga besar Nitikusuma yang berada di luar Pekojan seperti daerah Rawa Belong, Kayu Putih Tanah Tinggi, Jelambar, Cengkareng Bambu Larangan, Angke, dan daerah-daerah lain tetap difokuskan pada perang gerilya. Sengaja bidang pendidikan agama ini dikuatkan agar Belanda tidak terlalu curiga, mereka tahunya bahwa Pekojan dan sekitarnya hanya merupakan tempat ngaji biasa. Bahkan untuk mengelabuhi Belanda, salah seorang anak dari Pangeran Cakrajaya yang bernama Raden Abdul Muhit diangkat menjadi Kapiten di wilayah Pekojan. Kapiten sendiri semacam kepala kampung atau kepala suku pada koloni-koloni Penjajah. Mereka semua bertugas mengkoordinir masyarakatnya. Dengan menjadi Kapiten ini pada akhirnya keluarga besar Raden Abdul Muhit tidak lagi dicurigai oleh Belanda karena dianggap loyal, padahal dengan beliau menjadi Kapiten, justru telah memudahkan semua akses dan informasi yang beliau dapat untuk kemudian diberikan dan disikapi oleh keluarga besar Pejuang Jayakarta. Kapiten Abdul Muhit ini sepertinya mengikuti jejak Kapiten Jongker yang pura-pura menurut tapi ternyata diam-diam melakukan perlawanan. Memang terkesan agak riskan dan bertabrakan dengan konsep perjuangan keluarga besar Jayakarta yang sama sekali selalu ingin memutus mata rantai hubungan dengan penjajah. Namun untuk kali ini sepertinya keluarga besar Jayakarta yang ada Pekojan harus berfikir matang dan bijak kembali, bagaimana caranya agar perjuangan didaerah Pekojan ini bisa bertahan tanpa harus dicurigai terus menerus oleh Belanda sebab posisi dan keberadaan mereka sangat dekat dengan pusat kekuasaan.

Dan itu terbukti, dengan memakai cara seperti ini, Pekojan kemudian menjadi ramai dengan kegiatan-kegiatan keagamaan, banyak ulama-ulama besar berdatangan ke Pekojan seperti Syekh Arsad Al Banjari, Syekh Nawawi Al Bantani, Sayyid Usman Bin Yahya, Habib Hamzah Al Attas, dll. Dan itu tercatat didalam sejarah Guru Mansur, Masjid-masjid bersejarah bahkan banyak yang berdiri didaerah Pekojan seperti Masjid Al Munawir Pekojan, Langgar Tinggidi Pekojan, Masjid Al Mansur Pekojan. Pada masa lalu luas daerah Pekojan tidak seperti sekarang, menurut KH Fattahillah, Sawah Lio juga termasuk Pekojan. Strategi cerdas leluhur Guru Mansur benar-benar tepat, bahkan pada masa Kapiten Abdul Muhit banyak jamaah haji yang bisa berangkat atas rekomendasi beliau,termasuk cucu beliau yang bernama Syekh Junaid Al Batawi, bahkan Syekh Nawawi Al Bantani sebelum berangkat ke Mekkah beliau ke Pekojan dulu untuk bertemu keluarga besar Syekh Junaid Al Batawi. Posisi Pekojan yang dekat dengan pusat kekuasaan, jelas menguntungkan, apalagi lalu lintas utama adalah Kapal Laut yang lokasinya di pelabuhan Sunda Kelapa dan itu berdekatan dengan Pekojan.Tentu untuk memasuki pelabuhan Sunda Kelapa yang dijaga Belanda tidak mudah, mereka akan diperiksa tentang tujuan perjalanannya. Namun dengan adanya rekomendasi dari Kapiten Abdul Muhit banyaklah jamaah haji yang saat itu bisa berangkat.

Disinilah menurut saya  kecerdasan politik keluarga besar Guru Mansur. Dengan cara seperti ini tanpa dicurigai dan dideteksi Belanda mereka akhirnya mampu menjalin hubungan dan jaringan komunikasi dengan ulama Mekkah dan Madinah, tentu dengan adanya jaringan seperti ini telah mampu merubah pola fikir masyakarat Nusantara saat itu, terutama mereka yang dari Jayakarta yang sedang melaksanakan ibadah haji. Pada masa itu untuk naik haji tidaklah semudah seperti sekarang. Diperlukan sebuah rekomendasi dan jaminan seorang yang berpengaruh untuk keberangkatan haji. Keberangkatan haji bagi penjajah Belanda selalu dicurigai, karena biasanya setelah pulang haji, masyarakat Jayakarta semakin militan dan benci kepada penjajah, hal ini masuk akal karena selama mereka mukim atau melaksanakan haji di Mekkah, tidak bosan-bosannya ulama Mekkah yang berasal dari Nusantara selalu menanamkan Jihad Fisabilllah dalam melawan penjajahan yang dilakukan kafir Belanda maupun para penjajah dari bangsa lain. Belanda sendiri baru sadar betapa bahayanya pengaruh haji dalam pemerintahan mereka pada akhir akhir abad ke 19, sehingga pada masa akhir akhir abad ke 19  tersebut mereka kemudian mengutus Snouck Horgronje untuk mengetahui seberapa besar pengaruh haji terhadap militansi umat Islam di Nusantara termasuk Jayakarta.

Strategi politik keluarga Guru Mansur yang ada di Pekojan kemudian mulai bergeser ketika munculnya GURU MANSUR. Pada masa Guru Mansur, perlawanan beliau bersikap terbuka. Dan hebatnya perjuangan beliau ini juga didukung oleh masyarakat Betawi pada masa itu.

Berkaca dari sikap perjuangan, karya-karya, serta idiologi yang beliau miliki itu maka pada akhirnya kita harus tahu, siapa sebenarnya leluhur utama atau leluhur yang paling terkenal dari Guru Mansur ini? Sebab bukan tidak mungkin ada darah tokoh besar yang mengalir pada diri ulama yang karismatik ini. Faktor nasab bagi saya adalah hal yang tidak boleh dianggap remeh, orang boleh saja menganggap remeh terhadap hal yang satu ini, namun kalau kita mau jujur terhadap dunia seperti ini, buktinya sampai sekarang Inggris, Belanda, Amerika Serikat dan lebih khusus lagi bangsa  Yahudi masih kuat menjaga tradisi silsilah yang mereka miliki, silahkan anda pelajari garis silsilah Presiden AS. Sampai sekarang semua Presiden AS saling sambung menyambung dalam geneologinya itu, artinya buat mereka silsilah adalah hal yang penting dalam kehidupan mereka, bahkan di Negara Amerika Serikat sendiri ada sebuah perpustakaan silsilah terbesar didunia. Bagi bangsa arab garis keturunan adalah hal yang wajib dijaga, sampai sekarang kalau anda tanyakan nasab-nasab yang dimiliki orang arab, banyak dari mereka yang hafal diluar kepala, jangan ditanya bila itu berkaitan para nasabnya para Sayyid, sampai saat ini catatan nasab mereka begitu terpelihara bahkan ada lembaga nasab dimasing masing negara yang mereka tempati.

Dari data kitab Al Fatawi dan juga Wangsa Aria Jipang Jayakarta, serta Kitab Al Mausuuah LI Ansaabi Al Imam Al Husaini diketahui bahwa Pangeran Cakrajaya adalah keturunan Aria Jipang Jayakarta. Aria Jipang Jayakarta (As-Sayyid Husein) adalah anak Pangeran Sekar Seda Ing Lepen atau Raden Bagus Surawiyata atau Raden Kikin (As-Sayyid Ali) bin Raden Fattah atau Sayyid Hasan Azmatkhan Al Husaini atau Sultan Demak I. Keberadaan Aria Jipang di Jayakarta mungkin banyak yang belum tahu, namun jika mereka membaca secara utuh sejarah Fattahillah dan hubungannya dengan Kesultanan Demak, keberadaan Aria Jipang di Jayakarta bukanlah hal yang aneh, bahkan menurut saya wajib hukumnya beliau ada di Jayakarta, kenapa demikian? Karena direbutnya Pelabuhan Sunda Kelapa oleh Fattahillah, itu karena  berkat pemimpin tertinggi dalam operasi tersebut, yaitu  Sultan Trenggono atau SULTAN AHMAD ABDUL ARIFIN atau SAYYID ABDURRAHMAN AZMATKHAN dari Kesultanan Demak yang merupakan kerabat dekat Aria Jipang atau Aria Penangsang ini. Sosok Aria Penangsang atau Aria Jipang sendiri dalam sejarah Kesultanan Demak sering digambarkan negatif, terutama kalau anda baca Buku Babad Tanah Jawi, sebuah buku yang isinya banyak menghancurkan karakter Walisongo dan juga Raden Fattah. Padahal sejatinya Aria Penangsang adalah seorang yang handal dalam bidang militer, handal dalam bidang pemerintahan bahkan ahli dalam bidang beladiri, beliau juga sangat agamis (beliau bahkan seorang Mursyid pada sebuahThariqoh), beliau juga hafal qur’an. Sejarah buruk tentang Aria Jipang atau Aria Penangsang patutlah dicurigai siapa penulis Babad Tanah Jawi ini. Sebab dalam sejarahnya Aria Jipang justru hidupnya banyak berdakwah, bahkan keturunannyapun banyak yang menjadi ulama dan juga pejuang-pejuang militan. Dari sisi kematiannya, beliau juga wafat dengan sangat  wajar (tidak terbunuh seperti cerita Babad Tanah Jawi) dalam usia lebih dari 100 tahun di Palembang (Ogan Ilir Indralaya) Sumatra Selatan.

Pada masa tahun 1527 M, saat direbutnya Pelabuhan Sunda Kelapa, posisi Kesultanan Demak sedang mencapai puncak kejayaannya, bahkan pada tahun ini pula Kesultanan Demak berhasil meruntuhkan Kerajaan Majapahit dibawah pimpinan Prabu Udara atau Brawijaya VII. Setelah direbutnya Sunda Kelapa dan tumbangnya Majapahit oleh Kesultanan Demak dengan jenderal perangnya Fattahillah, maka kemudian Sultan Trenggonopun mengutus orang-orang terbaiknya untuk membantu Fattahillah dalam mengembangkan kota Jayakarta yang baru, maka kemudian terpilihlah nama Aria Jipang atau Aria Penangsang. Terpilihnya Aria Penangsang atau Aria Jipang ke Jayakarta, karena track record beliau dikenal handal dalam bidang pemerintahan maupun militer, berapa kali terjadinya pertempuran antara Demak dan Majapahit, maka panglima perang yang sering tampil adalah Aria Penangsang ini seperti pada saat di Surabaya, Jipang, Gresik, Pasuruan, Blambangan dan juga beberapa daerah lainnya. Aria Penangsang sendiri adalah keponakan Sultan Trenggono, karena Sultan Trenggono adalah adik dari ayah Aria Penangsang. Adapun Fattahillah sendiri adalah adik ipar dari Sultan Trenggono, karena Fattahillah menikah dengan Ratu Mas Nyawa binti RadenFattah. Ratu Mas Nyawa ini satu bapak satu ibu dengan ayah Aria Penangsang yang bernama Raden Bagus Surawiyata yang kelak terkenal dengan gelar Pangeran Sekar Seda Ing Lepen. Disamping sebagai Paman Aria Penangsang, Fattahillah juga sekaligus sebagai mertua Aria Penangsang, karena anaknya telah dinikahi Aria Penangsang. Jadi dari keterangan ini bukanlah hal yang aneh jika keturunan Kesultanan Demak banyak terdapat di Jayakarta bahkan hingga saat ini. Dalam perkembangannya keturunan dari Aria Penangsang atau Aria Jipang banyak yang berkiprah dipemerintahan Jayakarta, mereka bahkan banyak yang menjadi pemimpin perlawanan dalam melawan penjajah kafir belanda.

Kesimpulannya  jika dilihat dari data di atas ini memang antara Guru Mansur, Syekh Junaid Al Batawi, Syekh Mujtaba Al Batawi dan KH Ratu Bagus Ahmad Syar’i Mertakusuma satu keturunan. KH Ratu Bagus Ahmad Syar’’i sendiri nasabnya berasal dari cabang lain, namun ujungnya tetap berasal dari Aria Jipang Jayakarta. Jika KH Ratu Bagus Ahmad Syar’i itu memiliki Marga atau FAM MERTAKUSUMA, maka Guru Mansur, Syekh Junaid Al Batawi, Syekh Mujtaba Al Batawi memiliki marga atau FAM NITIKUSUMA. Perlu diketahui pemakaian nama marga pada keturunan Aria Jipang Jayakarta ini sudah lama terjadi. Marga ini fungsinya adalah untuk menyatukan tali silaturahim antar keturunan Aria Jipang Jayakarta. Marga yang digunakan ini bukan untuk gagah gagahan atau feodalisme. Marga-marga tersebut mempunyai arti dan makna filosofis yang mendalam dan menjaga orang yang memakainya untuk berhati-hati dalam bersikap dan berperilaku.

Didalam sejarah keluarga besar Guru Mansur sendiri memang jarang yang menggunakan nama FAM NITIKUSUMA, hal ini dilakukan agar keberadaan keluarga besar Jayakarta yang ada di Pekojan tidak terlacak, nama NITIKUSUMA, MERTAKUSUMA merupakan daftar hitam yang paling dicari oleh para penjajah belanda dengan intelnya yang berkeliaran, tentu cepat atau lambat jati diri nama tersebut akan mudah terlacak, justru kebanyakan keluarga besar Guru Mansur banyak yang menggunakan nama-nama gelar Al Batawi. Pemakaian gelar Al Batawi bahkan lebih familier dibandingkan dengan nama Fam Nitikusuma. Disamping itu nama-nama gelar ruhani sering dipakai oleh keluarga Guru Mansur seperti nama Imam. Saat itu nama Imam menunjukkan dirinya seorang ulama, khususnya pada kawasan Pekojan. Nama Imam ini muncul setelah era Kapitan Abdul Muhit yang merupakan leluhurnya Guru Mansur.  Disamping itu demi keamaan dan kepentingan politik  keluarga Guru Mansur yang ada di Pekojan menghindari pemakaian gelar-gelar bangsawan Jayakarta seperti yang digunakan saudara-saudara dan kerabatnya yang berada di Rawa Belong, Tanah Tinggi Kayu Putih Pulo Mas, Jelambar dan wilayah wilayah lainnya. Gelar-gelar seperti Ratu Bagus, Radin tidak mereka tonjolkan, pemakaian gelar bangsawan lebih banyak dipakai di Pekojan pada masa Pangeran Cakrajaya Nitikusuma IV.

Sekalipun keluarga besar Guru Mansur lebih menggunakan nama Al Batawi namun catatan nasab dan sejarah leluhurnya tetap tercatat dengan baik didalam kitab Al Fatawi maupun Kitab Wangsa Aria Jipang diJayakarta.  Hubungan persaudaraanpun masih terjalin dengan baik, terutama dengan keluarga Wangsa Aria Jipang yang berada di daerah Rawa Belong, Jelambar, Tanah Tinggi Kayu Putih Pulo Mas. Yang juga tidak kalah mengejutkan, ibudari Guru Mansur ternyata nasabnya juga bersambung kepada Keluarga besar Kesultanan Banten. Berdasarkan catatan yang disusun oleh KH Fattahillah ibu Guru Mansur adalah Syarifah Rofiah Binti Marghan bin Uyut Kunten sampai terus kepada Maulana Hasanuddin Banten. Ini menandakan jika ikatan kekerabatan antar keluarga besar Jayakarta, Banten dan Demak masih terus terjalin dengan baik.

Guru Mansur jelas merupakan trah asli Jayakarta, sehingga sudah tentu beliau mempunyai banyak keterkaitan, baik dari sisi nasab maupun perjuangan. Salah satu keterkaitan beliau dengan perjuangan Jayakarta adalah hubungan  beliau dengan KH Ratu Bagus Ahmad Syar’i Mertakusuma. Dalam biografi KH Ahmad Syar’i Mertakusuma yang ditulis oleh cucunya, hubungan antara Guru Mansur dengan penulis kitab Al Fatawi ini adalah Murid dan Guru. KH Ratu Bagus Ahmad Syar’I Mertakusuma ternyata pernah belajar dan mengaji langsung kepada Guru Mansur ditahun 1905 Masehi. Tidak itu saja, bahkan KH Ratu Bagus Ahmad Syar’i Mertakusuma ini diajarkan langsung oleh Guru Mansur tentang cara penulisan bahasa arab gundul dengan seni kaligrafi (Khot). Guru Mansur  sendiri memiliki tulisan arab yang cukup indah, beberapa tulisan beliau yang terdapat pada kitab kitab tua tempo dulu pernah saya lihat di kediaman KH Fattahillah, dan memang tulisan beliau rapi, indah dan bernilai seni tinggi. Tulisan beliau sangat rapi dan tertata, beberapa catatan pinggir di kitab-kitab beliau betul-betul mencerminkan bahwa beliau ini menguasai tehnik menulis arab yang tinggi. Pantaslah kiranya KH Ratu Bagus Ahmad Syar’i Mertakusuma belajar tulisan khot kepada Guru Mansur, apalagi dahulunya Guru Mansur memang sudah terkenal akan tulisannya yang rapi dan tertib sehingga akhirnya dijadikan sekretaris pribadi Tuan Umar Sumbawa saat di Mekkah.

Sekalipun usia mereka tidakterlalu jauh (Guru Mansur lebih tua dua tahun), namun Guru Mansur banyak memberikan masukan kepada KH Ahmad Syar’i Mertakusuma. Guru Mansurlah yang menganjurkan atau mengusulkan agar dokumentasi kitab Al Fatawi yang lama segera ditulis ulang dengan penulisan arab melayu, agar kedepannya kitab tersebut bisa dibaca oleh generasi selanjutnya. Sengaja dalam penulisan kitab Al Fatawi menggunakan arab melayu gundul, Karena pada masa itu, penulisan arab gundul melayu menjadi alternativ dari huruf latin yang lebih banyak digunakan oleh Belanda, bahkan beberapa ulama pada masa itu lebih senang menulis karyanya dengan tulisan arab melayu gundul ketimbang latin. Lagipula pada masa itu masih banyak ulama yang “alergi” menulis karyanya dengan tulisan latin, apalagi mereka yang lulusan dari Timur Tengah seperti Mekkah dan Mesir, akan sangat aneh jika mereka yang lulusan Mekkah menggunakan huruf latin. Kelebihan arab melayu gundul sendiri, tata bahasanya tidak serumit penulisan bahasa arab standard yang harus menggunakan gramar bahasa arab seperti adanya Nahwu dan Sharaf serta tata bahasa arab lainnya.  Sehingga bahasa yang digunakan pada masa itu adalah bahasa arab melayu gundul standard, karena itu  lebih mudah dibaca oleh kalangan santri dan juga sebagian masyarakat Islam termasuk Betawi, kondisi juga terjadi didaerah lain, seperti tulisan arab pegon (tulisan arab berbahasa jawa).
Adanya pengaruh ilmu tulis menulis bahasa arab (khot) dari Guru Mansur ini telah menjadikan kualitas tulisan KH Ratu Bagus Ahmad Syar’i tidak jauh berbeda dengan gurunya. Kitab AlFatawi yang beliau susun cukup rapi. Bahkan dipinggir-pinggir kitab tersebut banyak ornament-ornamen seni gambar yang unik. Kelihatan sekali antara tulisan KH Ratu Bagus Ahmad Syar’I dengan Guru Mansur terlihat unik dan nyeni.

Adanya hubungan antara Guru Mansur dan KH Ratu Bagus Ahmad Syar’I Mertakusuma telah mengungkap fakta jika Guru Mansur telah memberikan andil dalam penyusunan kitab Al Fatawi. KH RATU BAGUS Ahmad Syar’i Mertakusuma memang yang menulis kitab tersebut, namun tokoh dibalik penulisan kitab Al Fatawi jelas adalah Guru Mansur yang juga merupakan kerabat dan keluarga besar dari KH Ratu Bagus Ahmad Syar’i Mertakusuma. Tentu sebagai ketua lembaga adat jayakarta pada masa itu, Guru Mansur berharap agar KH Ahmad Syar’i bisa kiranya  mengislamisasikan kembali Jayakarta lewat Kitab Al Fatawi. Sudah tentu digunakan kembali arab melayu pada penulisan kitab Al fatawi agar isi dan kandungan kitab Al Fatawi tidak disalah gunakan oleh fihak-fihak yang tidak bertanggung jawab, dengan menggunakan penulisan ini agar terlihat jelas  penulisnya asli atau palsu. Langkah KH Ahmad Syar’I Mertakusuma adalah sebuah langkah cerdas karena beliau langsung belajar kepada pakarnya tulisan arab yaitu Guru Mansur, saya sendiri yakin Guru Mansur mengajarkan ilmu ini secara total, karena tentu beliau tahu kedudukan seorang KH Ratu Bagus Ahmad Syar’I Mertakusuma di Jayakarta pada masa itu. Melalui cara seperti inilah akhirnya kItab Al Fatawi bisa terdokumentasikan dan bisa dibaca sebagian orang yang mengerti bahasa arab melayu gundul.

Jelaslah antara Guru Mansur dan KH Ratu Bagus Ahmad Syar’I Mertakusuma mempunyai ikatan hubungan yang kuat, baik dari sisi Silsilah Kekerabatan, Silsilah Keilmuan dan juga karakter. Guru Mansur bukan saja Guru, beliau juga sahabat bagi KH Ratu Bagus Ahmad Syar’i, Guru Mansur juga motivator munculnya kitab Al Fatawi dalam bahasa arab. Keduanya seperti mempunyai banyak persamaan, dapat dikatakan bahwa keduanya nyaris sama dalam hal apapun, “LIKE TEACHER LIKE STUDENT” buat mereka, begitu bunyi perkataan yang sering saya dengar.

Pada akhirnya tulisan ini kemudian harus diakhiri…..

Guru Mansur pada tahun 1967 tepatnya tanggal 12 Mei atau 1 Shofar 1387 Jam 16.40 berpulang ke Rahmatullah. Dengan diiringi ribuan kaum muslimin beliau kemudian dimakamkan di Masjid A lMansur Sawah Lio Jembatan Lima berdekatan dengan para leluhurnya yang diantaranya Pangeran Cakrajaya Nitikusuma IV.

Ulama karismatik akhirnya kembalike haribaan Rabbnya…………….

Wallahu A’lam bisshowab….

Sumber:

Al-Allamah As-Sayyid BahruddinAzmatkhan & As-Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan, Al Mausu’uah Li Ansaabi AlImam Al Husaini, Penerbit Majelis Dakwah Walisongo Jakarta, Edisi II Vol 24,2014, Hal 188 (nasab Raden Fattah dan Aria Jipang).

Ahmad Fadli, 2011, Ulama Betawi (Studi Tentang Jaringan Ulama Betawi Dan Kontribusinya Terhadap Perkembangan Islam Abad ke 19 dan 20), Penerbit:Manhalun Nasyi-in Press Jakarta, Hal 107-112.

Iwan Mahmud Al Fattah, 2014, Fattahillah Mujahid Agung Pendiri KotaJakarta, Penerbit Majelis Dakwah Walisongo Jakarta.

Iwan Mahmud Al Fattah, 2005. Sejarah Aria Penangsang dan Desa Gunung Batu,Penerbit: Pribadi.

KH Ratu Bagus Ahmad Syar’i Mertakusuma, 1375 H/1954 M, Kitab Al Fatawi (Bab Silsilah Keluarga Besar Jayakarta), Penerbit Lembaga Keadatan Al Fatawi, Palembang,Hal 16 (Silsilah Keluarga Besar Nitikusuma).

KH Fattahillah Ahmadi, 2010, Metode Perhitungan Awal Bulan Qomariah (Sistem Sullamunniran KH Muhammad Mansur), Penerbit Lembaga Falakiah-Hisabiyah Al Mansuriyah Jakarta, Hal 1-3.

Ratu Bagus Gunawan Semaun Mertakusuma, 1986, Wangsa Aria Jipang Di Jayakarta, Penerbit Agapress Jakarta, Hal 38 (Biografi Singkat Pangeran Cakrajaya Nitikusuma).

Ratu Bagus Gunawan Semaun Mertakusuma, 1981, Intisari Al Fatawi & Catatan Perjalanan Hidup, Penerbit Al Fatawi Jakarta, Hal 4 ( Biografi KH Ahmad Syar’i Mertakusuma).

Ridwan Saidi, 1997, Profil Orang Betawi, Asal Muasal, Kebudayaan, Dan Adat Istiadatnya, PT. Gunara Kata, Hal:200-206.

Wawancara :

KH Fattahillah Ahmadi, Wawancara pertama Tanggal 8 Desember 2013 di kediaman beliau, pukul 10.00 s/d 14.00, kampung sawah lio Jembatan Lima Jakarta Barat,  wawancara kedua Hari Minggu tanggal 7 Desember 2014, Madrasah Al Mansuriah Kampung Sawah Lio Jembatan Lima Jakarta Barat, Pukul 13.00 s/d 16.30.


<photo id="1" /><photo id="2" />