Senin, 31 Maret 2014

BANI AZMATKHAN NUSANTARA, MANDIRI DENGAN SEJARAH & NASAB (KRITIK TERHADAP PENDAPAT YANG MENGATAKAN BAHWA NASAB AZMATKHAN NASABNYA TIDAK TERPELIHARA SETELAH 700 TAHUN)


AZMATKHAN???

APA INI?

NAMA INDIA?

Tentu bagi yang belum mengenal nama yang satu ini akan heran, kok bisa nama yang berbau India ini pada akhir-akhir ini banyak dipakai berbagai fihak di di Nusantara , termasuk penulis. Apa tidak terlalu “lebay” ketika ada Wong Jowo, Wong Palembang, Urang Sunda, Arek Malang, Arek Suroboyo, urang Awak, Orang Betawi, Nyong Ambon, Jolma Komering, dll, tiba-tiba sekarang ini dibelakang namanya memakai gelar AZMATKHAN? Wajah Melayu tapi bergelar India. Kok Bisa?

Mari kita urai satu persatu………………….

Untuk menjawab tentang keberadaan nama Azmatkhan ini, perlu kita ketahui dahulu bagaimana sebenarnya latar belakang munculnya nama tersebut pada akhir-akhir ini. Sehingga dengan kita tahu latar belakang tersebut, kita tidak perlu menduga yang tidak tidak kepada mereka yang memakai gelar Azmatkhan dibelakang namanya, dengan kita tahu latar belakang munculnya nama tersebut, maka kita tentu tidak akan heran lagi ketika ada orang berani memakai nama yang berbau India ini, sehingga kedepannya tidak ada lagi anggapan bahwa mereka yang memakai gelar AZMATKHAN ini dianggap meniru-niru nama para aktor Bollywood seperti Amita Ba Khan (Bachan), Shah Rukh Khan dan Salman Khan. Lagipula nama KHAN dan AZMATKHAN itu sangat berbeda. KHAN belum tentu AHLUL BAIT, sedangkan AZMATKHAN adalah AHLUL BAIT. Jadi kalau ada keturunan AZMATKHAN hanya memakai KHAN saja, itu berarti secara tidak sadar, ia sudah menyatakan dirinya bukan AHLUL BAIT, padahal sejatinya dia adalah Ahlul Bait (Naudzubillah min Dzalik….). KHAN & AZMATKHAN sudah jelas beda makna dan arti. KHAN adalah gelar bangsawan India yang bukan AhluL Bait, sedangkan AZMATKHAN adalah Gelar Bangsawan plus sekaligus gelar AHLUL BAIT yang ada di INDIA khususnya keturunan SAYYID ABDUL MALIK AZMATKHAN. Kalau ada orang menisbatkan dirinya dengan AZMATKHAN tapi bukan berasal dari SAYYID ABDUL MALIK, maka nasab orang tersebut sudah jelas palsu. AZMATKHAN adalah gelar AHLUL BAIT keluarga besar SAYYID ABDUL MALIK. Kalau dipisah AZMATNYA, dan orang hanya memakai KHAN saja, ya berarti ia bukan AHLUL BAIT, padahal seorang AHLUL BAIT itu tidak boleh main-main dengan famnya, dan dia juga tidak boleh mengingkari nasabnya. Kalau memang AZMATKHAN ya AZMATKHAN bukan KHAN atau EL KHAN, EL KHON, AL KHAN. Jangan karena ingin terlihat keren dibaca orang lain, dengan seenaknya kita membuang kata AZMAT, sehingga yang dipakai hanya KHANNYA saja. Padahal AZMAT itu dalam bahasa urdu adalah sinonim dari kata SAYYID yang merupakan gelar keturunan Nabi Muhammad Shollahu Alaihi Wassalam. AZMATKHAN itu sudah baku dalam ilmu nasab, dan itu tidak boleh ketika kedua kata ini dipenggal sehingga menjadi KHAN saja.

Azmatkhan adalah salah satu Nama gelar yang dinisbatkan kepada seorang keturunan Alawiyyin yang bernama Sayyid Abdul Malik. Beliau lahir dan besar di Hadramaut Yaman. Pada masa mudanya (pertengahan abad ke 12 Masehi ) beliau berhijrah bersama keluarga besarnya ke Negeri India terutama wilayah Naserabad dan Haidarabad untuk berdakwah. Pada saat di India inilah beliau mendapatkan gelar AZMATKHAN berkat jasa-jasanya dalam dunia dakwah dan politik negeri ini. Di Negeri ini Sayyid Abdul Malik sangat dihormati oleh seluruh bangsawan Kesultanan Naserabad Kuno. Nama AZMATKHAN inilah yang merupakan cikal bakal yang menurunkan seluruh keturunan AZMATKHAN SELURUH DUNIA termasuk AZMATKHAN yang ada di Nusantara. Sejak nama Azmatkhan ini dinisbatkan kepada Sayyid Abdul Malik, maka mulai saat itulah banyak keturunan dari Sayyid Abdul Malik ini memakai gelar Azmatkhan dibelakang nama mereka, termasuk yang ada di Nusantara. Nusantara sendiri cakupan wilayahnya jika dilihat pada masa lalu, tidak hanya wilayah Indonesia saja, tapi Nusantara itu juga meliputi bebeberapa wilayah yang ada di Asia Tenggara.

Timbul sebuah pertanyaan, Kenapa Walisongo dahulunya tidak memakai gelar Azmatkhan ini?

Sebenarnya tidak juga, mereka sebenarnya memakai gelar ini, namun karena mereka ini banyak berdakwah keberbagai negeri yang berbeda dengan India dan Hadramaut, sudah tentu mereka harus menyesuaikan diri dengan medan dakwah yang mereka hadapi. Sudah tentu mereka harus berasimilasi dengan kehidupan yang ada, sehingga tidak heran akhirnya nama Azmatkhan jarang terangkat, yang terangkat justru nama dan gelar-gelar lokal, yang kesemuanya tersebut akrab di mulut dan telinga masyarakat Nusantara.
Kalau begitu sejak kapan NAMA AZMATKHAN terangkat kembali?

Berdasarkan kronologis munculnya nama AZMATKHAN ini, ternyata nama ini muncul pada tahun 2003. Munculnya nama AZMATKHAN bersamaan dengan berdirinya IKATAN KELUARGA AZMATKHAN INDONESIA (IKAZHI). Dimunculkannya kembali nama Azmatkhan ini adalah untuk mengikat tali silaturahim antar sesama keturunan Walisongo. Organisasi ini didirikan oleh para ulama keturunan Walisongo. Organisasi ini didirikan untuk menyatukan semua keturunan Walisongo yang selama ini banyak bertebaran di Wilayah Nusantara. Selama ini keluarga Walisongo sudah tersebar di berbagai wilayah Nusantara, jumlah mereka puluhan ribu, mereka terdiri dari ribuan ulama, ribuan tokoh baik tokoh lokal dan tokoh bangsa, ribuan mereka bahkan banyak yang mempunyai pondok pesantren. Begitu banyaknya keturunan Walisongo, sehingga silaturahim hanya berdasarkan Bani masing-masing saja.

Azmatkhan sendiri adalah salah satu Bani (Keluarga Besar) terbesar di Nusantara, sejarahnya sangat panjang dan penuh dengan lika liku. Bani yang satu ini dapat dikatakan Bani yang cukup tua di negeri ini bila dibandingkan dengan Bani-bani yang lain. Kalau kita mendengar Bani-bani yang lain seperti Bani yang ada di Alawiyyin, jelaslah bahwa fakta sejarah mengatakan bahwa Bani Azmatkhan memang lebih tua dari Bani Alawiyyin lainnya dan mereka telah lebih dahulu tiba di Nusantara dibanding Bani Alawiyyin yang lain itu. Keluarga Alawiyyin terakhir, yang sering kita dengar itu banyak berada di Palembang, Pekalongan, Tegal, Surabaya, Jakarta, Palu, Bondowoso, Situbondo, dll. Mereka mempunyai kantong-kantong pemukiman dan terkadang pemukiman itu sering disebut Kampung Arab. Mereka itu sering dipanggil dengan panggilan Habib (untuk laki-lakinya) dan Syarifah (Untuk yang wanita). Mereka ini baru datang ke Indonesia pertengahan abad ke 19 Masehi dalam jumlah besar-besaran. Mereka Alawiyyin yang baru datang ini kebanyakan datang dengan budaya dan kultur ala Hadhramaut (negeri leluhur Azmatkhan). Gaya mereka secara kasat mata memang sangat berbeda dengan gaya hidup Alawiyyin yang sudah lebih dahulu tiba di negeri ini seperti Keluarga Besar Azmatkhan. Bani Azmatkhan yang ada di Nusantara ini kebanyakan sudah tidak terlihat seperti orang arab. Mereka sudah banyak yang seperti pribumi baik wajah, pakaian dan gaya hidup. Namun demikian secara Fakta sejarah. Azmatkhan yang diwakili oleh Walisongo memang merupakan Bani Tertua yang ada di Nusantara.

Satu-satunya Keluarga pendakwah yang bisa “menandingi” & Menyamai tuanya Bani Azmatkhan ini adalah Bani Abdullah bin Alwi Ammil Faqih yang ada di Sulu dan Mindanau (Philipina). Azmatkhan yang namanya dinisbatkan kepada Sayyid Abdul Malik Azmatkhan adalah saudara dari Sayyid Abdullah bin Alwi Ammil Faqih. Sayyid Abdullah bin Alwi Ammil Faqih adalah Nasab yang dahulunya dianggap putus oleh beberapa fihak karena beliau ini tidak ada kabar dan berita, namun ternyata berdasarkan catatan nasab di seluruh Keluarga Besar Kesultanan Sulu dan Mindanau serta Kitab Al Mausuuah Li Ansaabi Al Imam Al Husaini, diketahui bahwa nasab ini ternyata berkembang dan memiliki keturunan. Inilah nasab yang bisa menyamai tuanya nasab Bani Azmatkhan Nusantara. Sebenarnya disamping dua keluarga ini, ada juga yang juga tua usianya, yaitu Syarifah Fatimah binti Maimun Al Husaini yang dimakamkan di Gresik. Hanya saja keluarga Syarifah Fatimah Binti Maimun ini belum merupakan Bani, dia masih merupakan keluarga kecil saja, sedangkan Azmatkhan jumlahnya cukup banyak dan merata.

Pada masa Walisongo, Bani Azmatkhan telah menjelma menjadi kekuatan yang cukup diperhitungkan. Diberbagai Kerajaan dan Kesultanan, Bani yang satu ini cukup dihormati dan berwibawa. Walisongo yang merupakan para pendakwah sejati, benar-benar sangat memberikan pengaruh yang kuat terhadap kerajaan , kesultanan dan masyarakat. Mereka benar-benar telah menyatu dengan kehidupan Nusantara. Sebagai sebuah Bani yang besar tentu saja disamping Walisongo, ada Azmatkhan yang lain yang juga tidak kalah hebatnya. Seperti yang saya katakan tadi, bahwa beberapa Kerajaan dan Kesultanan yang ada di Nusantara ini, banyak Sultan dan rajanya berasal dari rumpun Bani Azmatkhan. Dari mulai Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon, Kesultanan Banten, Kesultanan Palembang Darussalam, Kesultanan Mataram Islam semuanya adalah Azmatkhan.

Sejak kapankah sebenarnya Bani yang satu ini masuk ke Nusantara? Berdasarkan kajian sejarah Walisongo yang bersanad, diketahui bahwa Keluarga Besar Azmatkhan telah memasuki Negara pada masa pertengahan Abad 14 Masehi. Beberapa keturunan Azmatkhan pada masa pertengahan abad ke 14 ini telah banyak yang berhijrah ke Nusantara ini dalam rangka Dakwah Islamiah. Diketahui bahwa anak-anak Sayyid Abdul Malik Azmatkhan yang bernama Sayyid Abdullah Amirkhan dan Sayyid Alwi Faqih Khan, keturunannya telah memasuki Nusantara. Rupanya Nama Nusantara ini sangat menarik minat keluarga besar Sayyid Abdul Malik Azmatkhan untuk datang. Memang sejak dulu hubungan antara India dan Nusantara itu sangat terjalin erat. Sehingga tidak heran, Keluarga Besar Sayyid Abdul Malik Azmatkhan yang berdomisili di Kesultanan Naserabab Kuno yang ada Di India itu banyak yang memilih untuk berhijrah ke Negeri yang indah ini. Memang sebuah hal yang sangat menarik, ketika Nusantara dipilih menjadi medan Dakwahnya Keluarga Besar Azmatkhan. Sudah pasti ketika mereka datang Ke Nusantara, pasti ada tujuan yang penting. Bila tidak, tentu mereka tidak memilih tempat ini untuk didatangi bahkan sampai menetap. Mereka datang tidak hanya sekedar datang, namun mereka pada akhirnya menetap dan beranak pinak di negeri yang diduga sebagai negeri Atlantis pada masa lalu.

Kedua anak Sayyid Abdullah Malik ini keturunannya banyak yang menyebar ke wilayah Asia, terutama wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara. Dan yang paling terbanyak adalah Nusantara. Dari Mulai Kerajaan Champa s/d Kerajaan Majapahit keluarga Azmatkhan sangat mendominasi. Beberapa cucu dari Sayyid Abdullah Amir Khan seperti Sayyid Husein Jamaluddin Jumadil Kubro bahkan keturunannya sangat luar biasa banyaknya. Hampir semua Azmatkhan yang ada di Nusantara ini adalah keturunan Sayyid Husein Jamaludin Jumadil Kubro. Dari keturunan beliau inilah lahir Keluarga Besar Walisongo dan Keluarga Besar beberapa Kesultanan.

Bani Azmatkhan Nusantara, tentu sangat berbeda dengan Bani Alawiyin lainnya. Bani Azmatkhan Nusantara, tidak harus memakai gamis atau tidak harus mereka itu memakai kopiah putih atau atribut lainnya yang bernuansa Timur-Tengah, Bani Azmatkhan Nusantara itu sudah cukup nyaman dengan memakai sarung, batik, baju koko atau baju daerah, dan kopiah hitam atau ikat kepala yang khas masing-asing daerah. Selama atribut-atribut itu tidak bertentangan dengan Nilai-nilai Islam, maka itu tidak mengapa. Atribut-atribut seperti inilah yang mencerminkan jika Bani Azmatkhan Nusantara itu menyatu dengan kehidupan yang ada. Dan juga jangan berharap jika wajah Azmatkhan harus berwajah Arab, mungkin sebagian kecil masih ada yang berwajah arab, tapi itu tidak banyak, berharap Azmatkhan atau AHLUL BAIT harus berwajah arab adalah sebuah hal yang terlalu dipaksakan dan lucu, kenapa demikian? karena didalam darah Azmatkhan itu banyak etnis, ada Arab, India, Persia, Samarkand, China, Jawa, Sunda, Sulawesi, Kalimantan, Persia, dll. Jadi Azmatkhan itu kaya dengan darah bangsa. Bani Azmatkhan Nusantara dengan sejarahnya yang sangat panjang tentu sudah sangat Nusantara sekali karena dia sudah berakulturasi dengan budaya setempat. Jadi ketika ada beberapa fihak yang coba akan menyatukan visi dan misi Azmatkhan dengan Keluarga Besar Bani Alawiyin yang lain, ini tentu sangat berat dan nyaris merupakan MISION IMPOSIBLE, ibarat Air dan Minyak, sampai kapanpun akan sulit bersatu, terutama dalam wadah organisasi tertentu. Fihak-fihak yang ingin menyatukan, mungkin niatnya baik, namun terkadang niat baik itu juga berkaca pada sejarah yang ada. Sampai saat Secara Organisasi mungkin sulit bersatu antara Bani Azmatkhan Nusantara dengan Bani Alawiyyin yang lain. Sikap ini bukanlah menutup diri, namun berdasarkan pengalaman yang ada, biarlah masing-masing fihak berjuang dengan caranya sendiri. Azmatkhan itu sudah kenyang menghadapi berbagai persoalan bangsa ini, dari mulai berhadapan dengan Penjajah Kafir Portugis dan Penjajah Kafir Belanda sampai harus berhadapan dengan “saudaranya” sendiri, Azmatkhan itu sudah kenyang pengalaman, dari mulai bertempur sampai dikhianati mereka itu sudah kenyang, kalau masih dalam level tidak diakui nasabnya, itu adalah MASALAH YANG KECIL!. Masalah tidak diakui nasabnya, itu belum ada apa-apanya ketika mereka berhadapan dengan penjajah Kafir Portugis, Inggris dan Belanda. Kecil kalau hanya tidak diakui, jangankan tidak diakui, dibuang, disiksa, dibunuh, difitnah, dikhianati, itu sudah menjadi bagian hidup mereka. Para pejuang-pejuangn bangsa ini banyak dari yang Azmatkhan dan mereka tahu betul bagaimana rasanya sebuah perjuangan. Jadi kesimpulannya Azmatkhan itu adalah keluarga besar yang sudah kenyang makan asam garam perjuangan dari masa kemasa dalam hidup ini.

Namun demikian untuk hal-hal yang bersifat silaturahim, Bani Azmatkhan Nusantara justru selalu terbuka kepada semua fihak, tidak hanya dengan “saudaranya” sendiri tapi juga semua fihak Azmatkhan selalu terbuka dan kooperatif dalam melakukan persahabatan dan silaturahim. Selama Azmatkhan diundang untuk silaturahim, Azmatkhan selalu terbuka, namun ketika Azmatkhan sejarah dan nasabnya coba diutak atik, ya mohon maaf saja, itu berarti sama saja tidak mengakui keberadaan mereka di negeri ini, padahal mereka ini adalah keluarga pertama Ahlul Bait jalur India yang berjasa terhadap negeri ini dalam menyebarkan agama islam. Dengan mempermasalahkan nasab dan sejarah mereka, itu sama saja seperti seolah-olah mereka (para oknum yang tidak senang Azmatkhan) membuka luka lama KETIKA AZMATKHAN HARUS BERJUANG MENGHADAPI PENJAJAH KAFIR PORTUGIS DAN BELANDA. Ingatlah para pejuang AZMATKHAN itu banyak yang militan dan siap mati demi kebenaran. Namun merekapun akan semakin rendah hati ketika ada yang orang menghargai keberadaan mereka.

Bani Azmatkhan Nusantara, tentu mempunyai catatan nasab dan sejarah yang tersendiri, catatan nasab dan sejarah mereka itu tua dan terpelihara dengan baik. Sehingga keberadaan sejarah dan nasab yang mereka miliki, tentu tidak bisa disamakan dengan nasab atau sejarah yang berasal dari Bani lain, apalagi Bani yang baru datang dari negeri ini, sekalipun mereka itu dari Hadramaut. Bani Alawiyyin yang terakhir ini atau Bani Alawiyyin yang baru datang pada pertengahan bad ke 19 tidak bisa mengatakan bahwa Bani Azmatkhan Nusantara itu nasab dan sejarahnya terputus setelah 700 tahun, bagaimana mereka bisa tahu ? sedangkan mereka saja baru datang pertengahan abad ke 19 Masehi? Adalah sebuah hal yang aneh dan lucu bila ada orang mengatakan jika nasab Walisongo terputus setelah 700 tahun. Pendapat ini benar-benar aneh dan menandakan jika orang yang berkata itu adalah orang-orang yang tidak mengerti akan sejarah bangsa ini. Bagaimana bisa dia mengatakan hal yang 700 tahun lalu, padahal nenek moyangnya saja baru datang ke negeri ini pertengahan abad ke 19 Masehi. Bagaimana mungkin ia bisa bicara demikian, padahal dahulunya leluhurnya adalah imigran terakhir setelah rombongan Azmatkhan. Bagaimana bisa dia hanya berpatokan pada buku pegangan yang ia miliki, padahal penyusun kitab itu boleh jadi memang belum mendatangi dan mendatangi seluruh Keluarga besar Walisongo. Apakah mungkin Walisongo yang merupakan generasi cerdas Alawiyyin tidak meninggalkan satu keturunanpun? Dan yang juga harus diketahui bahwa yang namanya Walisongo itu adalah Majelis, atau tepatnya gerakan mereka bernama Majelis Dakwah Walisongo. Dan Majelis Dakwah Walisongo mempunyai 12 PERIODE hingga tahun 1926 Masehi. Jadi jika ada orang mengatakan nasab Walisongo 700 tahun terputus, itu berarti orang tersebut NOL BESAR PENGETAHUANNYA AKAN WALISONGO!. 100 % orang ini tidak tahu sama sekali tentang nasab dan sejarah Walisongo dan juga Azmatkhan.

Bani Azmatkhan Nusantara jelas memang ada dan eksis diberbagai kehidupan. Keberadaan mereka bukan mitos tapi fakta yang nyata. Kalaupun saat ini mereka banyak yang muncul dengan memakai gelar atau fam AZMATKHAN, itu tidak mengapa. Kita jangan terlalu naïf dengan seringnya mengatakan jika dahulu nama AZMATKHAN itu Mastur, Mastur itu ada waktunya. Dahulu Azmatkhan memang Mastur (tersembunyi/menyembunyikan diri). Namun kemasturan Nama Azmatkhan ini tentu banyak faktor, dan yang mengetahui faktor-faktor tersebut ya hanya keturunan dan keluarga besar Azmatkhan saja. Masing-masing Azmatkhan tentu punya alasan kenapa dahulunya mereka Mastur.

Bani Azmatkhan Nusantara jelas saat ini kedudukannya sudah mahsyur, FAM AZMATKHAN kini sudah dikenal banyak orang dan keluarga besar Alawiyyin lainnya. Kalaupun ada oknum yang mengatakan jika nasab dan nama Azmatkhan ini bermasalah, sekali lagi itu menandakan jika orang tersebut, buta sejarah dan buta nasab akan Bani Azmatkhan yang ada di Nusantara ini. Mereka yang sebenarnya hanya sebagian kecil ini terkadang masih sering memposisikan dirinya bukan “bagian” dari Nusantara yang tercinta ini. Semua data Nusantara, apalagi yang berkaitan dengan Azmatkhan mereka tidak anggap sama sekali, padahal mereka ini datang secara besar besaran kenegeri kita baru sekitar 200 tahunan, kalaupun ada dari mereka yang datang pada tahun-tahun 1700an, itu baru sebagian kecil, namun tetap saja Azmatkhan sudah lebih dahulu, Azmatkhan di negeri ini usianya sudah hampir 700 tahun, So jadi siapa sebenarnya yang lebih tua dan lebih mengerti tentang sejarah dan nasab di Nusantara ini?

Bani Azmatkhan Nusantara sudah jelas mandiri secara sejarah dan nasab, mereka telah memelihara sejarah dan nasab sejak mereka tiba di negeri ini sekitar 700 tahun yang lalu. Sampai kini catatan sejarah dan nasab mereka masih terpelihara dimasing masing keturunan Azmatkhan. Catatan sejarah mereka bahkan tidak terkontaminasi oleh unsur-unsur budaya dan sejarah dari tulisan para Penjajah Kafir seperti Penjajah Kafir Portugis dan Penjajah Kafir Belanda. Catatan sejarah Keluarga Besar Azmatkhan atau Walisongo bahkan sering mematahkan buku-buku kuno yang isinya banyak mendeskriditkan Azmatkhan seperti Babad Tanah Jawa. Sedangkan pelestarian nasab Azmatkhan dilakukan terus menerus dan memiliki sanad yang sampai kepada Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam.

Bani Azmatkhan Nusantara jelas mandiri secara sejarah dan Nasab…

Sumber :
1. Berdasarkan Kitab Al Mausuuah Li Ansaabi Al Imam Al Husaini
Penyusun : Sayyid Bahruddin Azmatkhan & Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan
Penerbit Majelis Dakwah Walisongo
Tahun : 1918 – 2014)
2. Kumpulan Tulisan di Madawis dan Ikrafa
3. Berbagai Literatur Sejarah dan Nasab (Pustaka Pribadi)
Wallahu A’lam Bisshowab

KLASIFIKASI SEBUAH NASAB (BERDASARKAN SANAD ILMU NASAB AZMATKHAN)

Didalam menetapkan sebuah status nasab, seringkali kita kebingungan, bagaimana sebenarnya status nasab yang kita miliki. Selama ini kita tahunya, nasab kita ini begini...nasab kita begini....pokoknya saya keturunan ini, pokoknya saya keturunan si itu....

Klasifikasi Nasab memang jarang diketahui orang banyak. Justru Selama ini banyak orang yang menekuni ilmu nasab, sering mengambil rujukan klasifikasi nasab yang masih menjadi tanda tanya, dan selama ini rujukan tersebut dibuat oleh beberapa orang yang "mengklaim" dirinya sebagai "ahli nasab". Klasifikasi ini sangat populer bahkan sering dicopi paste oleh berbagai fihak. Anehnya dari beberapa klasifikasi ini, ada beberapa istilah yang menurut saya lucu dan terkesan yang penting bahasa arab, padahal klasifikasi yang disebutkan ini jelas berkaitan dengan ilmu. Alangkah lucu istilah ini, apalagi bila ditinjau dalam kajian keilmuan, baik dari segi bahasa maupun makna.

Salah satu contoh misalnya Isitilah :

 Majhulun Nasab (sebuah istilah yang lucu bila dipakai dalam kajian ilmu, tidak ilmiah serta merupakan bahasa yang kasar) dan yang sangat aneh, istilah ini justru ditujukan kepada keluarga besar Walisongo atau Azmatkhan, seolah Azmatkhan itu bodoh dan tidak faham semua dalam pemeliharaan Ilmu Nasab...

Mardudun Nasab (seperti orang yang tertolak hajinya saja.......), bahasa yang tidak indah dan tidak ilmiah.
Ilmu Nasab sendiri kajiannya mendekati sistematika Ilmu Hadist, sehingga istilah istilah-istilahnyapun mirip dengan metodologi ilmu Hadist, coba bandingkan istilah diatas dengan istilah dibawah ini yang disusun oleh ulama Azmatkhan yang mempunyai sanad keilmuan Nasab yang sampai kepada Rasulullah SAW. Coba perhatikan istilah istilah dibawah ini.....

1. Nasab Ahad: Nasab yang sanadnya tidak mencapai derajat mutawatir, hanya diriwayatkan oleh satu orang periwayat saja.
2. Nasab Dha’if: Nasab yang tidak memenuhi syarat nasab maqbul (yang diterima dan dapat dijadikan hujjah kenasaban, yang berupa data-data yang valid), dengan hilangnya salah satu syarat-syaratnya.
3. Nasab Gharib: Nasab yang diriwayatkan sendirian oleh seorang rawi dalam salah satu periode rangkaian sanadnya. Nasab yang asing nama-namanya.
4. Nasab Hasan: Nasab yang sanadnya bersambung, yang diriwayatkan oleh rawi yang adil dan memiliki hafalan yang sedang-sedang saja (khafif adh-Dhabt) dari rawi yang semisalnya sampai akhir sanadnya, serta tidak syadz dan tidak pula memiliki illat.
5. Nasab Masyhur: Nasab yang memiliki jalan-jalan riwayat yang terbatas, lebih dari dua jalan, dan belum mencapai derajad mutawatir.
6. Nasab Matruk: Nasab yang di dalam sanadnya terdapat rawi yang tertuduh sebagai pendusta.
7. Nasab Maudhu’: Nasab dusta, palsu dan dibuat-buat yang dinisbatkan kepada Rasulullah.
8. Nasab Mudhtharib: Nasab yang diriwayatkan dari seorang rawi atau lebih dalam berbagai versi riwayat yang berbeda-beda, yang tidak dapat ditarjihkan dan tidak mungkin dipertemukan antara satu dengan lainnya. Mudhtharib: (guncang).
9. Nasab Mudraj: Nasab yang di dalamnya terdapat tambahan atau pengurangan
10. Nasab Munkar: Nasab yang bertentangan dari Kitab-kitab nasab yang mu'tabarah. dan nasab ini khayalan.
11. Nasab Mutawatir: Nasab yang diriwayatkan oleh banyak orang rawi dalam setiap tabaqah, sehingga mustahil mereka semua sepakat untuk berdusta.
12. Nasab Shahih: Nasab yang sanadnya bersambung, yang diriwayatkan oleh rawi yang adil dan memiliki tamam adh-Dhabt (hafalan yang hebat) dari rawi yang semisalnya sampai akhir sanadnya, sehingga tidak syadz dan tidak pula memiliki illat. Dan Nasab Shahih diakui serta ditahqiq oleh Para Naqib di Lembaga Nasab, baik di Tanah Air maupun di Luar Negeri.
Silahkan dibandingkan, mana yang lebih rasional, ilmiah dan sesuai dengan kajian ilmu hadist, baik dari bahasa dan makna.....

SUMBER : AL MAUSUUAH LI ANSAABI AL-IMAM ALHUSAINI
OLEH : SAYYID BAHRUDDIN AZMATKHAN & SAYYID SHOHIBUL FAROJI AZMATKHAN
PENERBIT : MADAWIS JAKARTA
TAHUN 1918 - 2014
BAB: DASAR -DASAR ILMU NASAB

SAYYID ZAENAL ABIDIN (SUNAN DEMAK) BIN SUNAN AMPEL (LELUHUR AZMATKHAN KALIMANTAN SELATAN)

Bagi sebagian pencinta Walisongo mungkin nama yang satu ini jarang didengar. Bila kita berbicara Demak, biasanya yang dibicarakan tidak jauh-jauh dari sosok Raden Fattah dan keluarganya. Memang pada umumnya Kesultanan Demak lebih identik dengan nama nama tokoh tersebut. Padahal dibalik nama Raden Fattah sebenarnya masih banyak tokoh-tokoh yang kiranya berjasa pada Kesultanan Islam pertama di Jawa ini. Kalau anda berziarah ke Makam Raden Fattah Demak, maka disekitar makam akan kita temui, wali-wali yang lain yang banyak merupakan keturunan Azmatkhan. Keberadaan sosok Sayyid Zaenal Abidin sendiri jarang diungkap, padahal dari keturunan beliau ini banyak muncul ulama-ulama dan wali wali, khususnya pada wilayah Kalimantan Selatan. Bagi sebagian Azmatkhan yang berada di Kalimantan Selatan, nama Sayyid Zaenal Abidin ini tidaklah asing. Memang kebanyakan keturunan Sayyid Zaenal Abidin banyak yang menyebar keberbagai wilayah Nusantara seperti kebiasaan keluarga besar Walisongo. Beberapa keturunan Sayyid Zaenal sendiri yang kami ketahui banyak di Kalimantan Selatan, hebatnya data tentang nasab Sayyid Zaenal Abidin ini sudah lama terdata dalam kitab Nasab Al Mausuuah Li Ansaabi Al Imam Al Husaini yang disusun oleh Sayyid Bahruddin dan Sayyid Shohibul Faroji (1918 - 1992), Penerbit Madawis Jakarta. Bahkan dapat dikatakan jika nasab Sayyid Zaenal Abdin ini sangat tersusun dengan rapi.

Sayyid Zaenal Abidin adalah anak Sunan Ampel bin Ibrahim Zaenuddin Al Akbar Asmorokondi. Sayyid Zaenal Abidin ini adalah anak kandung Sunan Ampel dari istri kedua. Sayyid Zaenal Abidin ditugaskan ayahnya untuk membantu Raden Fattah dalam melakukan dakwah Islamiah di Kesultanan Demak. Keberadaan Sayyid Zaenal Abidin di Demak adalah merupakan hal yang wajar, karena salah satu saudarinya adalah istri dari Raden Fattah yang merupakan Sultan Demak. Artinya sosok Sayyid Zaenal Abidin adalah adik ipar dari Raden Fattah. Sunan Ampel sendiri mempunyai 12 orang anak dari dua istri. Memang yang lebih terkenal adalah Sunan Bonang dan Sunan Derajat, namun jangan lupa disamping Sunan Bonang dan Sunan Derajat masih ada lagi putra putri Sunan Ampel yang juga mengikuti jejak dan langkah ayahnya termasuk Sayyid Zaenal Abidin.

Sayyid Zaenal Abidin sendiri lebih terkenal dengan nama Sunan Demak. Terkenalnya beliau sebagai Sunan Demak, menandakan jika perannya di wilayah ini sama persis seperti Wali Wali yang lain, yang tugasnya bergerak dimasing-masing daerah tertentu. Sudah tentu karena beliau ini dijuluki Sunan Demak, maka selain nama beliau yang dijuluki Sunan Demak, maka tidak ada lagi nama lain selain Sunan Demak itu. Di Demak sendiri beliau ini banyak turun kelapangan dalam rangka sosialisasi keagamaan, bersama dengan anggota Walisongo pada masa itu, beliau ini tidak segan-segan untuk berdakwah kesana kemari. Sebagai seorang putra anggota walisongo yang cukup terkenal yaitu Sunan Ampel, Kemampuan seorang Sunan Demak tidak jauh berbeda dengan Sunan Ampel dalam kapasitas keilmuan. Kealiman ilmunya hampir menyerupai Sunan Ampel. Memang rata-rata anak Sunan Ampel kebanyakan sangat alim dalam hal ilmu agama. Beliau dinamakan Sunan Demak, karena lokasi wilayah dakwahnya lebih banyak di Demak. Demak saat itu memang sedang berkembang dengan pesat. Sebagai bagian keluarga besar Azmatkhan, sudah tentu Sayyid Zaenal Abidin ini juga banyak memberikan Sumbangsih dalam perkembangan agama Islam di Bumi Demak.
Untuk membuktikan jika Kedudukan seorang Sayyid Zaenal Abidin cukup terhormat baik di Demak maupun dalam keanggotaan Walisongo, berikut ini bisa kita lihat periodesasi Walisongo angkatan ke 6 , khususnya keberadaan para anggotanya yang diantara lain adalah :

Wali Songo Angkatan ke-6, [1533 - 1546 M]

1. Syaikh Abdul Qahhar [Sunan Sedayu], asal Sedayu [Tahun 1517 menggantikan ayahnya, yaitu Syaikh Siti Jenar]
2. Raden Zainal Abidin Sunan Demak [Tahun 1540 menggantikan kakaknya, yaitu Raden Faqih Sunan Ampel II)
3. Sultan Trenggana [tahun 1518 menggantikan ayahnya yaitu Raden Fattah]
4. Fatahillah/Fathullah/FadhilahAzmatkhan/Wong Agung Pasai/Taruna Pasai/Laksamana Hoja Hasan/Adipati Jayakarta/Pangeran Jayakarta, asal Cirebon, [wafat tahun 1573]
5. Sayyid Amir Hasan, asal Kudus [tahun 1550 menggantikan ayahnya, yaitu Sunan Kudus]
6. Sunan Gunung Jati, asal Cirebon [w.1569]
7. Raden Husamuddin Sunan Lamongan bin Sunan Ampel, asal Lamongan [Tahun 1525 menggantikan kakaknya, yaitu Sunan Bonang]
8. Sunan Pakuan, asal Surabaya, [Tahun 1533 menggantikan ayahnya, yaitu Sunan Derajat]
9. Sunan Muria bin Sunan Kalijaga, asal Gunung Muria, [w. 1551]
Artinya dari keterangan diatas ini jelas menunjukkan jika Sayyid Zaenal Abidin bukanlah orang biasa, beliau adalah seorang ulama yang juga Waliyullah. Azmatkhan yang masuk menjadi anggota Majelis Dakwah Walisongo bukanlah orang sembarangan, setiap yang menjadi anggota Majelis Dakwah Walisongo tentu merupakan orang-orang yang terbaik dalam bidangnya dan juga masanya.

KUPAS TUNTAS KEANEHAN ISI BABAD TANAH JAWI (Keanehan Ke 30)

(Disarikan dari Buku Babad Tanah Jawi Episode Galuh Mataram dan diterjemahkan dari bahasa Jawa Kuno ke Bahasa Indonesia Oleh Dr. Suwito, Tahun 1970)

"Adipati Kyai Pandanarang dianggap kemaruk dan gila harta dan mempunyai istri 8 orang (Terdapat dihalaman 142)"

Jawaban saya :

Lagi-lagi tuduhan keji diberikan kepada keturunan Azmatkhan, Adipati Pandan Arang itu tidaklah seperti yang digambarkan seperti ini. Terus terang membaca kisah Pandan Arang ini membuat saya jadi aneh dengan sipembuat buku sesat ini, mengapa? Karena setahu saya kakek dan bapaknya Pandan Arang adalah Ulama besar dan masuk jajaran Walisongo juga. Kalau dia dikatakan gila harta, lho memang dia orang sudah yang kaya raya kok, namun apa karena dia kaya ini jadi alasan untuk menulis kisahnya secara negatif?, sehingga dengan entengnya penulis babad ini menulis bahwa Adipati Pandan Arang kemaruk dan gila harta?. Dan yang lebih lucu lagi, mana mungkin dia punya istri 8 dalam waktu bersamaan, Islam jelas melarang istri lebih dari 4 apalagi dalam waktu yang bersamaan. Seakan-akan dengan kisah ini Kyai Pandan Arang orang yang hiperseks. Jelas ini cerita ini tidak benar sesat!.

Adapun tentang Kyai Pandan Arang, kita harus tahu bahwa nama asli Ki Ageng Pandan Arang ini ada 2. Ki Ageng Pandan Arang I adalah Sayyid Abdul Qodir bin Maulana Ishak, Ki Ageng Pandang Arang satu bergelar Maulana Islam, Sunan Semarang, Sunan Pandan Arang I, sedangkan Kyai Pandan Arang II adalah yang bernama Sayyid Maulana Muhammad Hidayatullah bin Sayyid Abdul Qodir bin Maulana Ishak. Nama lain dari Kyai Pandan Arang II adalah Sunan Tembayat, Sunan Bayat, Sunan Pandan Arang II, Wahyu Hidayat, Pangeran Mangkubumi. Jadi Adipati Pandang Arang II adalah anak Adipati Pandan Arang I dan kedua-duanya jelas Azmatkhan. Dan Adipati Pandan Arang II yang dimaksud didalam tulisan diatas. Kata Pandan Arang sendiri berasal dari bahasa Kawi yang berarti Kota Suci.

Benar-benar keblinger buku yang satu ini...

KUPAS TUNTAS KEANEHAN ISI BABAD TANAH JAWI (Keanehan Ke 30)


(Disarikan dari Buku Babad Tanah Jawi Episode Galuh Mataram dan diterjemahkan dari bahasa Jawa Kuno ke Bahasa Indonesia Oleh Dr. Suwito, Tahun 1970)

"Sunan Geseng menyumpahi anaknya menjadi Monyet hanya karena anaknya itu melihat ayahnya sedang memancing, tidak lama kemudian sang anak berubah jadi monyet (terdapat dihalaman 141)"

Jawaban saya :

Cerita ini kok mirip cerita nenek sihir menyihir pangeran jadi kodok ya? Aneh sekali cerita ini. Sunan Geseng adalah Waliyullah dan juga Azmatkhan, beliau adalah keturunan Sayyid Fadhol Ali Murtadho (kakek Sunan Kudus), tidak mungkin beliau ini sembarangan mengucapkan sesuatu, apalagi terhadap anaknya sendiri, coba saya tanya kepada anda yang mempunyai anak, tegakah anda menyumpahi anak anda menjadi monyet hanya karena tidak sengaja melihat anda mancing? Masak Sunan Geseng digambarkan seperti itu, setahu saya seorang Waliyullah itu tidak sembarangan berbicara. Cerita diatas itu jelas bukan kiasan (dalam buku ini si anak benar benar menjadi monyet, jadi bukan perilakunya seperti monyet).Tidak mungkin doa dan ucapan seorang Wali itu seperti ini. Ucapan ini hanya bisa muncul dari orang yang tidak beradab dan tidak beretika, termasuk penulis babad ini.

KUPAS TUNTAS KEANEHAN ISI BABAD TANAH JAWI (Keanehan Ke 28)

(Disarikan dari Buku Babad Tanah Jawi Episode Galuh Mataram dan diterjemahkan dari bahasa Jawa Kuno ke Bahasa Indonesia Oleh Dr. Suwito, Tahun 1970)

"Karomah Sunan Kalijaga dari besi sebesar asam berubah menjadi bukit (terdapat pada halaman 137)"

Jawaban saya ;

Benarkah Karomah ini? Seolah-olah Karomah yang muncul pada keluarga Walisongo selalu tidak bisa diurai dalam kacamata dunia para Wali, kita tidak tahu, apakah bukit ini hanya kiasan, namun kalau saya baca didalam buku yang sesat ini, kata-kata bukit ini ya memang bukit yang sesungguhnya, bukan dalam makna lain. Jelas cerita ini perlu dipertanyakan unsur validitasnya. Setahu saya Karomah dalam tingkatan tertinggi apalagi itu sekelas Sunan Kalijaga jarang diungkap oleh para Waliyullah, tahu dari mana penulis babad ini kalau Sunan Kalijaga mempunyai Karomah ini? Yang berhak menulis karomah Waliyullah itu ya hanya ulama-ulama mursyid yang mempunyai sanad Thoriqoh. Memangnya mudah membahas sebuah Karomah dalam diri seorang Wali? Dibutuhkan ulama Mursyid yang ahli dalam membicarakan hal ini, ini penting agar nanti apa yang diuraikan oleh ulama mursyid bisa difahami orang banyak, beda sekali jika yang berbicara orang yang awam akan hal ini. Dunia seperti ini tidak boleh sembarang orang untuk membahasnya, harus orang-orang yang memang hidupnya berkecimpung pada dunia Thariqoh, semua Walisongo sendiri kebanyakan juga menekuni dunia Thoriqoh.

KUPAS TUNTAS KEANEHAN ISI BABAD TANAH JAWI (Keanehan Ke 27)


(Disarikan dari Buku Babad Tanah Jawi Episode Galuh Mataram dan diterjemahkan dari bahasa Jawa Kuno ke Bahasa Indonesia Oleh Dr. Suwito, Tahun 1970).

"Adipati Natapraja/Raden Fattah bermaksud memaksa Prabu Brawijaya masuk Islam dan menundukkan Majapahit dengan Kekerasan. Dan Raden Fattah menghadap Sunan Ampel untuk mohon dukungan (terdapat pada halaman 133)".

Jawaban saya :

Tidak ada paksaan dalam Islam, siapapun yang masuk Islam tidak dipaksa. Nabi Muhammad SAW saja tidak pernah memaksa Yahudi dan Nasrani masuk Islam. Islam itu keikhlasan, lagipula untuk apa menyerang Majapahit yang notabenenya pemimpinnya Brawijaya dan masih merupakan ayah tiri Raden Fattah. Dakwah yang dilakukan Raden Fattah adalah dakwah yang damai, persis seperti Walisongo dan Azmatkhan. Raden Fattah sendiri tidak mungkin memaksa Brawijaya masuk Islam apalagi sampai minta restu kepada Sunan Ampel. Tidak mungkin Raden Fattah berani dan lancang minta izin kepada Sunan Ampel untuk melakukan kekerasan, apalagi dengan dalih dakwah Islam. coba kita fikir pakai logika sejarah dan logika demografi, saat itu kedudukan Raden Fattah hanya merupakan Adipati dari sebuah kadipaten yang baru, sudah jelas kekuatannya juga masih jauh dibawah majapahit, mana mungkin sebuah kadipaten bisa memaksa sebuah kerajaan?, memang sudah sebesar apa kekuatan Demak pada saat itu? Lagipula dakwah dengan perang adalah jalan dan langkah darurat. jelas ini adalah cerita bohong!

Cerita penyerbuan Raden Fattah ke Majapahit tahun 1478 Masehi perlu diluruskan, coba kita baca kembali dengan teliti sejarah Majapahit (jangan dibelok-belokkan), siapa yang berperang dan menyerbu Majapahit?, Raden Fattah atau Dyah Ranawijaya? Justru yang menyerang Brawijaya V adalah Dyah Ranawijaya yang merupakan mantunya sendiri. Setelah berhasil mengkudeta Brawijaya V, Dyah Ranawijaya mengangkat dirinya menjadi Brawijaya VI dan memindahkan ibukota Majapahit yang di Mojokerto ke Kediri, dan dia juga punya nama lain yaitu Girindrawardhana. Brawijaya V dan Majapahit yang di Mojokerto jatuh, baru kemudian masuklah Raden Fattah ke Mojokerto untuk menghadapi Dyah Ranawijaya ini. Justru Raden Fattah menyelamatkan panji-panji kehormatan Majapahit milik Brawijaya V ini untuk dibawa ke demak. Jadi siapa sebenarnya yang berkhianat kepada Majapahit?.

Raden Fattah selama hidupnya tidak pernah menyerang Majapahit baik pada masa pemerintahan Brawijaya 4 atau Brawijaya 5. Bagi pecinta sejarah kerajaan Islam di Jawa, tolong baca kembali secara teliti, apakah memang benar Raden fattah pernah menyerang Majapahit di Era Brawijaya 5 (kertabumi) pada tahun 1478 itu?. Lagipula untuk apa menyerang orang yang selama ini justru sangat akomodatif terhadap perkembangan agama Islam? kenapa Majapahit Mojokerto itu sampai diserang habis-habisan oleh fihak Majapahit Kediri ini? ada apa ini? rivalitas? atau karena salah satu fihak sudah sangat berfihak kepada Islam, sehingga membuat fihak yang mendukung kepercayaan terdahulu tidak terima? anehnya penyerangan yang dilakukan oleh Dyah Ranawijaya ini justru dituduhkan kepada Raden fattah yang selama ini loyal terhadap Majapahit Mojokerto ini, sangat aneh dan tidak masuk akal.................

Wallahu A'lam Bisshowab.......