Selasa, 11 November 2014

BIOGRAFI KYAI HAJI RATU BAGUS SYAH AHMAD SYAR’I MERTAKUSUMA (PAHLAWAN BETAWI YANG TERLUPAKAN, MUFTI LEMBAGA KEADATAN JAYAKARTA) & SEJARAH ASLI KIPRAH KAUM PEJUANG & MUJAHIDIN BETAWI BAGI JAYAKARTA DAN BANGSA INDONESIA

Sejarah tentang tokoh yang satu ini akan saya tuliskan secara bertahap, karena begitu banyaknya catatan-catatan yang beliau himpun didalam perjalanan hidupnya, sampai sampai saya sendiri bingung mana dulu yang harus saya munculkan. Sebagai seorang pejuang sejati yang mungkin telah banyak dilupakan orang, alangkah baiknya jika nama beliau ini kita angkat kembali dalam khazanah sejarah bangsa ini. Bagi saya pribadi ketika membaca biografi beliau, saya berkesimpulan bahwa beliau ini bukanlah tokoh biasa, beliau bukan hanya milik Betawi tapi beliau juga milik bangsa ini. Saya berani katakan bahwa sosok beliau ini termasuk sosok pejuang besar bagi bangsa ini. Sayangnya kesadaran kita untuk menghargai jasa para pahlawan kita masih minim, akibat  minimya penghargaan kita kepada para bunga bunga bangsa, nama KH AHMAD SYAR”I sendiri banyak yang tidak mengetahuinya, khususnya di Tanah Betawi, sebagian malah lebih tahu Muhammad Husni Thamrin atau Pitung, padahal dua nama yang saya sebut ini adalah berkat jasa  dan andil dari seorang KH AHMAD SYAR’I MERTAKUSUMA ini.

KH Ahmad Syar’i Mertakusuma seperti yang saya baca di beberapa catatan anak dan cucunya serta Kitab Al Fatawi adalah merupakan sesepuh atau ketua Lembaga Adat Jayakarta yang visi dan misinya mengikuti jejak dan ajarannya Rasulullah SAW serta para sahabat. Gelar-gelar yang disandangnya nanti, khususnya yang berkaitan dengan adat dan istiadat Betawi di Jayakarta bukanlah sebuah bentuk fanatisme akan nilai-nilai feodalisme, justru adanya gelar gelar tersebut untuk menjaga nilai-nilai kehidupan dan ajaran Jayakarta yang sebenarnya memakai ajaran dan nilai nilai Islam. Sejak didirikannya Jayakarta oleh Kesultanan Demak melalui Fattahillah, hukum-hukum adat semuanya bersendikan pada ajaran dan nilai nilai Islam Ahlussunah Wal Jamaah seperti yang pernah dibawah Walisongo. Sekalipun pada tanggal 30 Mei 1619 Masehi  Jan Pieterzoon Coon (JP COEN)  mengambil alih Jayakarta dan menggantinya dengan nama BATAVIA, namun semenjak itulah para keturunan JAYAKARTA yang ada di luar Benteng Batavia masih tetap terus dan istiqomah memegang ajaran yang sudah dicanangkan oleh Fattahillah dan penguasa penguasa Jayakarta sebelumnya. Jayakarta jelas sejak dulu adalah Islam dan itu dibuktikan dengan adanya gelar adat yang disandang oleh KH  Ahmad Syar;i Mertakusuma  ini dengan nama GUSTI KHALIFAH BENDAHARA VII. Gelar ini adalah gelar turun temurun, gelar ini sudah ada sejak tahun 1680 Masehi menggantikan fungsi keadatan sebelumnya pasca berpindahnya para keturunan Jayakarta dari Kraton Jayakarta yang telah berubah menjadi benteng Batavia. Pemakaian gelar KHALIFAH menunjukkan jika adat istiadat Jayakarta adalah Islam. Tidak heran sampai saat ini Jayakarta yang kini bernama Jakarta dengan suku Betawinya terkenal sebagai penganut Islam yang kuat dan fanatik, bicara Betawi atau Jayakarta itu adalah bicara Islam.

Sampai pada masanya Kyai Haji Ahmad Syar’i Mertakusuma ini, Lembaga Adat Jayakarta masih terus dipertahankan dan gerakan mereka kebanyakan adalah gerakan jihad fisabilllah untuk melawan penjajah kafir belanda baik itu berupa perlawanan fisik, politik  maupun perlawanan melalui tulisan. Lembaga Keadatan Jayakarta sendiri banyak menghasilkan Mujahidin Mujahidin Jayakarta, yang diantara paling terkenal adalah GERAKAN PENDEKAR PITUAN PITULUNG (PITUNG). Setelah berakhirnya era PITUNG maka muncullah era “PEMBERONTAKAN  KI DALANG  pada tahun 1914 yang salah dedengkotnya lagi-lagi adalah KH AHMAD SYAR’I MERTAKUSUMA ini. Akibatnya sepanjang hidup beliau, beliau tidak lepas dari incaran fihak Belanda.  Namun Allah memang kuasa, sepanjang hidupnya sosok beliau ini selalu lolos, padahal teman teman seperjuangannya banyak yang tertangkap dan ditembak mati atau dihukum gantung Belanda. Sebagai buruan kelas wahid penjajah belanda, sudah tentu menyebabkan beliau selalu melakukan hijrah keberbagai tempat, hingga akhirnya beliau tinggal dan wafat di Palembang Sumatra Selatan, sekarang ini saya sendiri yakin jika di Palembang, tidak banyak yang tahu bahwa ada tokoh besar yang menetap dan dimakamkan disana. Mudah mudahan Fihak Pemda Palembang bisa memperhatikan salah satu pahlawan Betawi yang terlupakan ini.

Inilah biografi atau Riwayat Hidup beliau serta kiprahnya dalam memperjuangkan kemerdekaan Kaum Betawi di Jayakarta dan Bangsa ini..
  1. NAMA : SYAH AHMAD SYAR’I
1.Gelar : Ratu Bagus Diningrat (Radin), Wali Al Ahad Gusti Khalifah Kaum Betawi.
2.Gelar Al Haj : Mungga Haji pada tahun 1310 hijriah sampai tahun 1315 Hijriah.
3.Gelar Adat : Gelar Adat sebagai Khulafatussholihin  dengan istilah Adat “Gusti Khalifah Bandahara ke VII telah disandangnya pada waktu beliau berusia 32 tahun, yaitu pada tahun Dal Jum’at Kliwon, tanggal 10 Maulid 1319 Hijriah.
4. Nama Panggilan : Babe Syari’i (artinya Bapak Pembuat peraturan hukun Syara’ Islam/Fiqih). Dalam pengembaraannya di Palembang beliau terkenal dengan nama  BABE BETAWI.

II.TEMPAT TANGGAL LAHIR : 

Jayakarta, Kampung Jawa Rawa Sari (termasuk Tanah Tinggi  Pulo Mas Jakarta Timur), Tanggal 8 Rajab tahun 1287 Hijriah
  1. PEKERJAAN :
Tani dan Pedagang, kemudian mengkhususkan pekerjaan dalam jabatan Gusti Khalihah Bandahara ke VII.
  1.  KELUARGA :
    1. Menikah Pertama kali dengan Siti ‘Ainin bin Radin Ismail Somawijaya dari Tangerang (kini masuk Provinsi Banten). Radin Ismail Somawijaya  terkenal dengan panggilan ENGKONG MAIL atau BABE ANDUNG. Mertua Kyai Haji Ahmad Syar’i ini bekerja di Hotel Des Indes sebagai TOLOK atau Ahli Bahasa Inggris. Radin Ismail Somawijaya ini dahulunya juga pernah menjadi Klasi Kapal dan lama bermukim di Inggris, beliau terkenal sebagai JAGOAN oleh masyakat KAMPUNG PETOJO GANG SCHASE/JL Pembangunan. Dari istrinya yang bernama Ainin ini Kyai Haji Ahmad Syar’i Mertakusuma mempunyai 4 orang anak diantaranya :
      1. Syah Marhum (wafat pada waktu bayi)
      2. Syah Abdul Majid Asmuni, lahir tahun 1900 Masehi.
      3. Syah Sema’un Rameni, lahir tahun 1905 M di Medan Sumatra Utara.
      4. Siti Barkah, wafat usia 2 tahun di Medan.
      5. Menikah yang kedua kalinya dengan Putri Haji Junaidi (adik dari Haji Sholihun) Gang Abu Pecenongan Jakarta Pusat. Haji Sholihun ini terkenal dalam kisah Nyai Dasima. Dari pernikahan ini Kyai Haji Ahmad Syar’i Mertakusuma  mempunyai anak :
        1. Syah Ahmad Basri, Ratu Bagus.
        2. Syarifah Hadijah, Ratu Ayu.
        3. Syah Ahmad Junaidi, Ratu Bagus.
        4. Syah Muhammad Akib, Ratu Bagus.
        5. Syarifah Masmun, Ratu Ayu.
        6. Syarifah Aminah, Ratu Ayu.
        7. Syarifah Masni, Ratu Ayu.
  1. PENDIDIKAN ;
    1. Madrasah Al Husna – Jembatan Serong Kampung Jawa Rawasari/Rawamangun Jakarta Timur.
    2. Kyai Al Haji Muhammad Idris Al Haddad Madrasah Baitul Betawi Mekkah Arabia (tahun 1311 – 1314 Hijriah). Di Madrasah ini beliau mempelajari Ilmu Ushuluddin, Ilmu Fiqih, Tassawuf, Ilmu Takwa, Ilmu Sabar dan Ilmu Wara’.
    3. Mempelajari Ilmu Politik dari para Perintis Kemerdekaan, diantaranya ; H.O.S COKROAMINOTO, KH KASMAN SINGODIMEJO di Cempaka Putih Jakarta Pusat dan Dr. GUNAWAN MANGUNKUSUMO, SEMAUN  di Rawa Mangun JAKARTA TIMUR..
    4. Mempelajari Sejarah Kerajaan Pasai di SIPIROK (atas petunjuk  AL HAJ SUTAN SAUTI MUAR MALAYA) kepada seorang AHLI SEJARAH bernama UMAR KHATTAB alias TUANKU SUTAN MARTUA RAJA /GURU NORMAAL SCHOOL.
    5. Belajar menulis huruf Arab Gaya Melayu kepada KH MANSUR – Madrasah AL Mansur Kampung Sawah Lio Jembatan Lima Jakarta Barat.
    6. Belajar Ilmu Pencak Silat SERATUS JURUS kepada berbagai ahli silat di Kawasan Jayakarta dan Bogor dan Cianjur di Jawa Barat. Kyai Haji Ahmad Syar’i Mertakusuma adalah murid guru silat yang bernama ENGKONG INDRA dari KEMAYORAN BENDUNGAN JAGO (Sera’ Cikalang). Kemayoran Bendungan Jago kini berada di Kawasan Jakarta Pusat.
  1. PERJUANGANNYA :
    1. Sebagai salah seorang Wali Al Ahad Khulafatussholihin, beliau sudah melakukan tugas “JAJAR TAPAK” (NAPAK TILAS) dibekas-bekas Ikhwanul “Mujahid Jayakarta”, dimana beliau berhasil menyambung kembali tali silaturahim pada waritsun Mujahid (Generasi Pejuang Jayakarta). Tujuannnya ialah untuk  mendapatkan kebulatan tekad demi melanjutkan perjuangan. Pada masa itu keadaan telah menjadi sepi akibat telah gugurnya Pendekar Pituan Pitulung yang bernama Radin Muhammad Ali bin Radin Syamsirin yang merupakan Ketua Gerakan Perlawanan Pitung 1.
    2. Setelah mendapatkan kesepakatan yang bulat, maka dengan ditandai tahun masehi 1906 telah didirikan sebuah organisasi yang bernama PERKOEMPOELAN KEROEKOENAN KAUM BETAWI (PKKB) yang bertempat di GANG SENTOEL PASAR BARU JAKARTA PUSAT.  Adapun Formasi susunan kepengurusannya masih tetap merupakan formasi organisasi Kerapatan Adat, yaitu :
      1. Ketua Umum/ Gusti Khalifah Bendahara ke VII;  KH syah Ahmad Syar’ie Mertakusuma.
      2. Ketua Bidang Imam : Radin Daim Abdurl Karim Nitikusuma.
      3. Ketua Bidang Kesejahteraan dan Pembelaan /Gusti Khalifah Jagabaya : Radin Muhammad Said Jayalaksana
      4. Ketua Bidang Kemakmuran dan Perusahaan Warga/Gusti Khalifah Kertapati ; Radin Abdul Karim (dari Keluarga Somawijaya Tangerang, kini masuk Provinsi Banten)).
      5. Ketua Bidang Sekretariat dan Sosial (‘Amal/Baitul Mal) Gusti Khalifah Kumitir : Radin Sami’un dari Tangerang (kini masuk Provinsi Banten).

PROGRAM PERJUANGAN PERKOEMPOELAN KEROEKOENAN KAUM BETAWI (PKKB):

1) Mempersatukan kembali Kaum Betawi di bawah Pembinaan Kaun Betuwe Jayakarta, supaya Kaum Betawi yang sudah bertebaran dan sudah tiada difahami lagi warnanya menjadi satu kerukunan dan ‘Adat Istiadat Kaum Butuwe Jayakarta” yang mulus.

2) Melakukan pertentangan terhadap gejala-gejala yang timbul dalam kurun tahun itu, dimana sudah terdapat kesimpangsiuran istilah BETAWI yang disandangkan kepada KAUM MUHAJIRIN ASING, terutama yang non Islam. Bahwa dengan tegas PKKB menentang aliran KAUM BETAWI dari golongan SNOFLIET dan WIJHAMER.
a. SNOFLIET menyandang IDIOLOGI POLITIK MARXISME – KOMUNISME.
b. WIJHAMER menyandang IDIOLOGI POLITIK NASIONALISMENYA Dr. SOEN YAT SEN. Kemudian terkenal  dengan nama PAH WONGO dengan IDIOLOGI GENERALISMO TSIANG KAI-SEK.
c. Dari fihak Policy Pemerintahan Gemente Batavia, sedang melancarkan Kampanye dengan tujuan untuk mendapatkan dukungan dar massa rakyat di kawasan BATAVIA dan menindas KAUM PUNTI/ASLI JAYAKARTA yang bernama BETAWI. KAMPANYE itu ialah memberikan penafsiran yang keliru, bahwa BETAWI itu asalnya dari nama BATAVIA. Dengan Idialisme seperti itu fihak Kolonial Belanda akan menciptakan kehidupan SOSIAL BATAVIA seperti Kehidupan SOSIAL DI KOTA SINGAPURA. Mereka akan menggantikan TSAQOFAH ISLAMIAH kepada peradaban baru dari pengaruh Nasrani.

3) Hubungan dengan Kaum Politisi Nasional yang pada zaman itu sudah dirintis    oleh BOEDI OETOMO Cabang Weltervreden sudah mulai akrab. Beberapa kali sudah diadakan pertemuan, antara PKKB dengan pimpinan Cabang Boedi Oetomo dengan bertempat di KAMPUNG KEPU, rumah MUHAMMAD ROYANI, di KAMPUNG KRAMAT KRAMAT, rumah penghulu AL HAJ SYAFRI, dan di Kampung Cikini, rumah M. Zailani. Para pimpinan Boedi Oetomo telah banyak memberikan info bahwa Kerajaan Belanda di Nederland sedang goyah, disebabkan akan meletusnya Perang Dunia  ke I, mereka telah mengadakan rencana,  apabila fihak sekutu Nederland beroleh kekalahan, maka Pejuang Nusantara telah siap untuk MELAKUKAN PEREBUTAN KEKUASAAN atas pemerintahan KOLONIAL NEDERLAND INDIE.

4)Kaum Betuwe Jayakarta dibawah pimpinan MAJELIS AL FATAWI dan  pelaksanaannya oleh PKKB telah mendirikan ORGANISASI PEMBERONTAKAN  yang diberikan nama “KI DALANG”. Jika zamannya PENDEKAR PITUAN PITULUNG (PITUNG)  pemimpinnya terdiri dari 7 (TUJUH) orang, maka pada zaman “KI DALANG” terdiri dari 3 (tiga) orang yaitu :
a. KI SAMA’UN , yang berpusat di Teluk Naga Kampung Melayu Tangerang (kini masuk wilayah Provinsi Banten)
b. KI SYAR”IE (KH AHMAD SYAR”IE MERTAKUSUMA), berpusat di Bambu Larangan Cengkareng Jakarta Barat.
c. KI ABDUL KARIM DAIM, berpusat di Kampung Duri Gang Jamblang.
Pemberontakan “KI DALANG” (asalnya dari istilang DALLA, artinya PENUNJUK, PEMBIMBING,ataupun PEMBINA). Pemberontakan dimulai pada bulan Maulud 1332 Hijriah, ataupun bersamaan dengan bulan Maret 1914 Masehi.

Dengan diletuskannya pemberontakan pada bulan Maret TAHUN 1914 itu telah dapat menggagalkan  aktivitas Partai Komunis, dimana mereka sedang mencari dukungan kepada Kaum  Buruh S.S Kereta Api yang akan dimulai di Tangerang. Sebab jika rakyat yang terdiri dari Kaum Buruh Kereta Api sudah dipengaruhu fihak Komunis, maka berarti perjuangan Kaum Punti/Kaum Asli Bangsa Nusantara akan lumpuh, Alasan itu sebagai berikut :
  1. Kekuasaan  Sosial Politik Boedi Oetomo yang sedang merintis kegiatan kebangsaan Universal Nusantara dikalangan Kaum Ningrat Solo dan Yogya akan lumpuh. Kelumpuhan itulah yang paling diharapkan oleh TUAN HORGRONYE dan VAN DER VLAS. Terutama sejak Gubernur Jenderal J.B Van Heutsz, A.W.F, Idenburg, dan sampai pada jaman itu, G.J J.P. Van Limburg  Stirui (1904 – 1916/1921).
PKI akan menjadikan Kaum Ningrat Jawa sebagai titik bidik yang serius. Jika Kaum Ningrat itu telah kehilangan pedoman hidup karena telah dilanda rakyat yang anti Pejuang dikawasan itu, maka dengan mudah RUMPUN KEADATAN dikawasan lainnya juga menjadi lumpuh.
  1. Kekuatan Sosial Politik Boedi Oetomo Cabang Wiltervreden yang paling banyak dipengaruhi oleh Mujahidin Kaum Betawi Yang Islamistis. Jika PKI pada zaman itu telah mempunyai pengaruh yang kuat, maka rakyat tidak ada lagi yang suka beribadah menurut ajaran Islam, karenanya maka “Jiwa Dendam” kepada penjajah Belanda akan sirna dan jika JAYAKARTA lumpuh, maka lumpuhlah seluruh Jiwa berkorban JIHAD AL WATHON NUSANTARA.
Perlu diketahui, bahwa PKI (Partai Komunis Indonesia) sebetulnya ada di Negeri Belanda dan berkiblat kepada Russia.

5) Melakukan Kegiatan Syiar Keadatan Kaum Betawi Jayakarta, demi menggalang kekuatan Kaum Muslimin supaya Agama Islam tidak dirusak oleh Kolonial Belanda melalui antek anteknya yang sudah mendapatkan Besluit  dari Pemerintah Gemente Batavia.

  1. Setelah Pemberontakan dianggap usai pada tahun 1924, dimana sebagian besar pemimpinnya sudah tertangkap, maka perjuangan “bawah tanah” terus dilakukan dengan cara mengadakan kontak dengan Syah Muhammad Husni  bin  Tabri Thamrin (Muhammad Husni Thamrin).
Terhentinya aksi Pemberontakan disebabkan :
  1. KI Sema’un telah gugur di Kota Tangerang.
  2. Ki Dalang telah dinyatakan sudah tidak ada
  3. KI SYAR’I  telah ditangkap bersama :
1). Radin Abdul Karim Daim Nitikusuma
2). Entong Geger dari Jati Padang, Pasar Minggu Jakarta Selatan.
3). Entong Gendut dari Kampung Condet Jakarta Timur yang bergerak di wilayah Tanjung Barat.

Keempat orang pemimpin Mujahid Jayakarta itu telah dihukum dengan cara dibuang ke Jambi Sumatra.
  1. Selanjutnya  KI Syar’i (KH AHMAD SYAR”I MERTAKUSUMA) berhasil melarikan diri dan kemudian kembali Ke Jawa. Radin Abdul Karim Daim Nitikusuma dipindahkan di Tanjung Pinang. Kemudian terdengar kabar beliau telah wafat pada tahun 1940 dirumah sakit Sungai Liat. Entong Geger telah gugur bersama Entong Gendut dirumah tahanan/Penjara di Jambi. Sedangkan KH Ahmad Syar’i Mertakusuma kemudian melarikan diri Ke Bandung Jawa Barat.  Kemudian beliau tertangkap oleh P.I.D, dan telah dijatuhi “HUKUMAN GANTUNG” di KRAWANG, tetapi tidak sampai meninggal dunia, seterusnya beliau berhasil kembali melarikan diri dan kembali ke Medan Sumatra Utara, dan dari Medan kemudian beliau melarikan diri lagi dan akhirnya bermukim di Palembang Sumatra Selatan sejak tahun 1926. Keluarga yang masih berada di Jayakarta telah hijrah turut bermukim di Palembang Sumatra Selatan.

SUMBER :

Kitab AL Fatawi, KH Ahmad Syar’i Mertakusuma, Penerbit Lembaga Keadatan Jayakarta Al Fatawi, tahun 1897 s/d 1954
Wangsa Aria Jipang di Jayakarta, Ratu Bagus Gunawan Mertakusuma, Penerbit Agapress Jakarta, 1986.
Inti Sari Kitab Al Fatawi, Ratu Bagus Gunawan Mertakusuma, Penerbit Al Fatawi Jakarta. 1983.

Kamis, 06 November 2014

SEJARAH PERJUANGAN MUHAMMAD HUSNI THAMRIN & BABE AHMAD SYAR'I DALAM MENEGAKKAN KEHORMATAN KAUM BETAWI DIHADAPAN PENJAJAH BELANDA

Tanggal 28 Oktober 1928 adalah HARI SUMPAH PEMUDA, sebuah peristiwa sejarah yang sangat fenomenal bagi bangsa ini. 28 Oktober 1928 sebuah peristiwa sejarah yang berhasil menyatukan para pemuda dalam “semangat” perlawanan kepada penjajah. Dalam peristiwa besar tersebut tersebutlah salah seorang tokoh yang memiliki andil yaitu Muhammad Husni Thamrin, bagi masyarakat Betawi nama beliau ini cukup terkenal karena sepak terjang perjuangannya. Namun disamping nama beliau ini, ternyata ada juga tokoh yang sebenarnya memberikan pengaruh kuat pada diri seorang Muhammad Husni Thamrin, yaitu KH AHMAD SYAR’i MERTAKUSUMA. Kyai Ahmad Syar’i atau BABE SYAR’I  ini bahkan orang yang paling keras mengkritik Muhammad Husni Thamrin jika apa yang telah diikrarkan ditanggal 28 Oktober 1928 hanyalah seperti sebuah “LIPSTIK” apalagi jika sampai mau bekerja sama dalam bentuk apapun dengan penjajah kafir Belanda. Babe Syar’i sendiri MENGHARAMKAN KERJASAMA DENGAN PENJAJAH KAFIR BELANDA DALAM BENTUK APAPUN. Bagi beliau Belanda adalah kafir dan mereka wajib dihadapi dengan jihad fisabillah, bahkan saking bencinya beliau dengan penjajah ini, beliau paling muak jika mendengar ada ulama mau bekerja sama dengan penjajah, sekalipun si ulama itu mempunyai niat "melindungi" salah satu anak bangsa. Bagi KH Ahmad Syar'i sekali penjajah tetaplah penjajah. Mereka yang "SETIA" dengan PENJAJAH sering beliau sindir dengan "GOLONGAN BATAVIEREN". BATAVIEREN adalah untuk orang-orang pribumi yang mau tunduk, manut, dan setia terhadap Penjajah. Beliau sering mengkritik keras dan pedas kepada mereka yang masih mengatakan bahwa Sumber Sejarah yang shohih milik bangsa ini adalah berasal dari PENJAJAH. Dalam hidupnya ketika beliau menghadapi mental-mental "BATAVIEREN" ini, KH Ahmad Syar'i sampai-sampai harus hijrah Ke Sumatra. 

Akibat sikap keras dan tajamnya itu dalam menyikapi pernyataan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, Babe Syar’i  telah membuat beberapa  tokoh pemuda dari beberapa daerah kaget karena di Betawi yang merupakan kandang singanya para penjajah kafir belanda, ternyata masih ada orang yang “nekat” dan berani melawan penjajah kafir dengan cara yang frontal dan konfrontatif. Muhammad Husni Thamrin sendiri menghadapi sikap tegas beliau tetaplah menerima, karena Muhammad Husni Thamrin tahu sekali watak KH Ahmad Syar'i yang memang sejak dulu paling benci dengan hal-hal yang berkaitan dengan penjajah, namun  walau bagaimanapun hubungan batin pada kedua tokoh tersebut tidaklah bisa dipisahkan. Muhammad Husni Thamrin sangat menghormati Babe Syar’i sebagai pini sepuh masyarakat Adat Jayakarta pada saat itu, begitupun Babe Syar’i sudah menganggap Muhammad Husni Thamrin sebagai anaknya sendiri, dimata KH AHMAD SYAR'I Muhammad Husni Thamrin adalah pemuda Betawi yang berakhlak luhur.

Oleh karenanya dalam rangka menyambut Hari Sumpah Pemuda ini, saya akan coba mengetengahkan Sejarah Tentang Muhammad Husni Thamrin serta hubungannya dengan Keluarga Besar Jayakarta, khususnya Babe Ahmad Syar’i Mertakusuma.

Inilah Sejarah Singkat beliau

NAMA :  Syah Muhammad Husni

GELAR : Syah sebagai tanda Kaum Betuwe Jayakarta, telah diberikan oleh Radin Abdul  Wahab Mertakusuma kepada Al Mushonaf Al Habib di Masjid Angke pada tahun 1900 Masehi, Turut serta  bertanggungjawab adalah KH Ahmad Syar’i Mertakusuma, atas permintaan Syarifah Aminah.

NAMA PANGGILAN : Husni

TEMPAT TANGGAL LAHIR : Jakarta, 16 Februari 1894 Masehi

SILSILAH :
  1. Kumpinya seorang Sultan Pontianak bernama Sultan Syah Abdul Hamid Al Qodri Ke I
  2. Kakendanya bernama Pangeran Syarif Abdurrahman Al Qodri
  3. Ayahandanya bernama Muhammad Tabri Thamrin
  4. Ibundanya seorang wanita dari keluarga Mertakusuma yang hanya terkenal dengan panggilan Ibu Syarifah.
PEKERJAAN :
  1. Kantor Patih dari GEMENTEE BATAVIA (Pemerintahan Kota Madya).
  2. Boekhouder K.P.M (Koningklijke Paketvaart Maatschappij) atau Perusahaan Dagang Partikelir KPM
  3. Pada tanggal 27 Oktober 1919 terpilih menjadi Anggota Gemeenteraad Batavia (Tetap sebagai pegawai KPM)
  4. Pada tahun 1921 telah diangkat menjadi Wethouder (Pembantu Walikota).
  5. Pada tahun 1928 duduk dalam Fraksi Nasional.
  6. Pada tahun itu pula telah diangkat menjadi Loco Burgermeester II (Wakil Walikota II), selanjutnya menjadi anggota Volkraad pada tanggal 16 Mei 1927. VOLKRAAD adalah (DEWAN PERWAKILAN RAKYAT HINDIA BELANDA)
PERJUANGANNYA :

Syah Muhammad Husni bersekolah di Instituut Van Den Bosh, kemudian melanjutkan di Koning  Willem III (sama dengan HBS). Semasih dalam sekolah belum tampak tanda tanda bahwa beliau seorang yang memiliki kepribadian yang besar sebagai pemimpin bangsanya. Sebab dengan pergaulannya bersama SINYO-SINYO EROPA/BELANDA dan ayahandanya  yang seorang Pamong Kolonial berpangkat “TUAN KOMANDAN” yang kemudian istilah itu diganti menjadi “WEDANA”

Meskipun beliau bermukim di Kampung  Sawah Besar yang pada saat sekarang dinamakan dengan nama Gang Wedana, tetapi beliau sering tampak bermain-main di Kemayoran Bungur Besar bersama Sinyo-Sinyo Belanda.

Dari situlah beliau berkenalan dengan seorang Indo (dari semarang) yang bernama SNOFLIET yang mengaku sebagai “Orang Betawi”. Pergaulan ini terus dilanjutkan, meskipun beliau sudah bekerja  sebagai KLERK di Kantor Patih, Kaum Indo Eropa/Belanda, Peranakan China dan Peranan Asing lainnya telah mendirikan sebuah organisasi yang bernama JONG BATAVIEREN. Kemudian pada tahun 1920an nama itu telah dirubahnya dengan nama KAUM BETAWI, karena beliau telah diangkat menjadi ketuanya.

Pada suatu hari ketika ia mengendarai sepedanya melintasi Jembatan Pintu Besi beliau telah diserang  oleh rombongan Pemuda yang menamakan dirinya KAUM MUDA NURBAIK (ISTILAH NURBAIK adalah SINAR BANGSAWAN KAUM PUNTI/ASLI). Oleh GEMEENTE BATAVIA nama NURBAIK itu telah dirubah menjadi NOOR WIJK.

Nasib baik masih berfihak kepada Pemuda Husni ini,  pada saat Husni diserang muncullah seorang pemuda yang bernama MUNTAKO. Muntaco muncul dari arah Kemayoran dan berhasil melerai keributan ini. Kemunculan MUNTAKO telah menyelamatkan jiwa Husni, dia tidak mengalami cidera yang parah, namun kondisinya babak belur dan nyaris pingsan. Oleh Pemuda Muntako (Muntako yang dimaksudkan disini bukanlah MUNTACO ayah dari FIRMAN MUNTACO dari Gang SCHASE) adalah MUNTAKO yang pada tahun 1940an telah mendapat besluit jasa karena menemukan cara pembuatan Garam Buket (Garem-Gundu) dari pemerintah Guvernemen Batavia. Pemuda Husni setelah kejadian tersebut dibawa ke rumahnya yang berada di Gang Wedana atas petunjuk salah seorang dari anggota Pemuda Nurbaik itu.

Sejak peristiwa itu pemuda MUNTAKO dari Kampung Kemayoran Ketapang itu telah menjadi sasaran “Gerombolan” Pemuda Indo Kemayoran. Akibatnya timbul perkelahian para remaja zaman itu. Pemuda-pemuda Indo menamakan “gerombolannya” dengan ‘KEKE-LING” yang mereka artikan “PEMUDA GEREJA”. Kemunculan gerombolan ini mengundang rasa sentimen golongan muslim, sehingga para pemuda muslim diberbagai tempat telah bersatu padu mendirikan “PEMUDA SYARIKAT ISLAM” dengan singkatan PEMUDA SELAM. Dengan munculnya organisasi PEMUDA SELAM mulailah tampak gejala-gejala pertentangan agama. Memandang  demi kepentingan politik yang serius, maka tiga orang pemuda yang mempunyai nama yang  sama telah berinisiatif untuk berunding dengan pemuda Husni. Akhirnya didirikanlah Organisasi Bawah Tanah dengan nama ZWARTE BONDE. Senjatanya sama, yaitu “CINCIN RANGKE”. Cincin Rangke terbuat dari logam besi atau timah. Cara memakainya yaitu cincin cincin yang berangkai empat buah liang dan bergagang dibagian talapak tangan, adalah semacam senjata untuk memukul musuh pada bagian rahang atau muka. Apabila terkena pukulan dengan cincin tersebut maka wajah si korban akan cidera berat. Kemudian “KERKELING” ikut ikutan memakainya juga, sehingga CINCIN RANGKE itu memperoleh nama KERAKELING.

Kembali kepada tiga serangkai pemuda yang disebutkan diatas, mereka mempunyai nama yang sama yaitu ABDUL MAJID, masing-masing mereka adalah :
  1. Pemuda Abdul Majid dari Kampung Nurbaik, memakai nama Abdul Majid Merapi.
  2. Pemuda Abdul Majid dari Gang Schasse, memakai nama Abdul Majid Asmuni.
  3. Pemuda Abdul Majid yang menjadi “GURU” mereka dalam Ilmu Pencak Silat “SI PECUT”, pemuda ini menamakan dirinya Abdul Majid Indrajid (Belakangan terkenal dengan nama ABDUL AJID). Pemuda ini berasal dari Kampung Tegal Parang (Warung Buncit  Jakarta Selatan) yang belajar Pencak Silat ILMU SERA’CIKALANG dari Kampung Kemayoran dengan gurunya yang bernama BABE INDRA.
Organisasi ZWARTE BONDEN adalah nama yang umum, namun didalam organisasi mereka, mereka tetap mengakui keanggotaan PEMUDA SELAM.
Demikian kompaknya  organisasi itu sehingga segenap Pemuda yang beragama Islam telah memasuki organisasi itu dengan Ikatan Disiplin yang sangat kukuh.

P.I.D akhirnya telah dikerahkan untuk menangkapi setiap pemuda yang menjadi anggota organisasi “ZWARTE BONDEN”. Tetapi penangkapan tersebut tidak pernah berhasil secara tuntas. Karena setiap anggotanya  tidak mengetahui arti dari ZWARTE BONDEN itu. Akhirnya P.I.D (Polisi Intelijen Belanda) tetap menuduh kepadal gerombolan pemuda Indo baik yang di Kemayoran  maupun yang berada dipemukiman-pemukiman lainnya yang memang terkenal akan kenakalannya, terutama tangsi-tangsi seperti  KW DRIE, Tangsi Batalion X Gang Menjangan Senen Jakarta Pusat. Yang paling nakal adalah mereka yang menamakan dirinya  “JONG KLEINE ROTERDAM” di Komplek Gedung Sositet Harmoni (kini menjadi jalan Majapahit).

Dampak adanya aktivitas “PEMUDA SELAM” itu telah membangkitkan Pemuda Husni  untuk bergerak lebih maju. Beliau telah yakin bahwa Kekuatan Kaum Betawi pada masa itu adalah suatu kekuatan yang maha ampuh. Maka pada tahun 1922 beliau mendirikan sebuah organisasi yang bernama KAUM BETAWI.

Sebagian besar lawan politik dan para “abdi dalem” Gubernemen tidak menyetujui dengan nama KAUM BETAWI, sebab kekuatan sosial politik lainnya telah mempergunakan bahasa modern yang paling sedap (keren) pada masa itu, bahkan mereka lebih menyukai dan menikmati dengan istilah “JONG”. Demikian pula bagi organisasi yang didirikan Pemuda Husni. Organisasi beliau dianjurkan oleh seorang ulama berkebangsaan arab agar juga menggunakan “JONG BATAVIEREN”.

Pemuda Husni tidak menghiraukan kritik-kritik tersebut, sebab beliau akan kehilangan massa dikalangan Kaum Punti/Asli Jayakarta ini jika tidak menggunakan istilah yang dianggap keramat yaitu “KAUM BETAWI”.

Babe Ahmad Syar’i yang pada waktu itu masih  “bergumul” dengan siasat dan taktik perang gerilya bersama para Mujahid Jayakarta di Kampung Melayu wilayah Tangerang, sehingga belum memperdulikan tentang kiprah seorang pemuda Husni. Tetapi tiba-tiba bagaikan disambar geledek disiang hari bolong, dari fihak pemuda-pemuda yang bermarkas di KAMPUNG BAMBU LARANGAN JAKARTA BARAT telah menyantroninya dengan memberikan kata-kata pedas dan tajam.

“Apakah kita orang-orang Betawi ini berjuang buat tujuan memperkuat Politik Penjajah Batavia?”

Babe Syar’i Menjawab : “ Apakah anda semua sudah rela pula melacurkan makna dan hakekat perjuangan Betawi hanya untuk ambisinya seorang yang bernama Syah Muhammad Husni?”

Mereka menjawab: “Lalu apakah sikap kita sekarang?”

Salah seorang rombongan pemuda itu berkata, “Sesuatunya akan dapat kita peroleh dari hasil mudzakaroh, segera persiapkan sesuatunya, tempat yang akan kita pakai tetap Masjid Bambu Larangan”.

Beberapa hari kemudian di Masjid Kuntara Kampung Bambu Larangan sudah berkumpul para Mujahid Jayakarta dari segala golongan. Mulai dari Mujahid Remaja, Pemuda, dan para tetua yang sudah siap untuk melakukan “Jihad Fisabilillah” demi mempertahankan Al Wathon Jayakarta.

Kesimpulan dari hasil Mudzakaroh itu adalah dengan akan dikirimnya utusan untuk menemui Pemuda Husni dirumahnya, dengan harapan  bagaimanakah sikap sebenarnya terhadap KAFILAH KAUM BETAWI yang sedang “dikendarainya”, padahal “KENDARAAN” yang didirikannya itu berada diatas jalur ”POLITIK BATAVIA”. Demi menjamin ketertiban dan menjaga agar fihak P.I.D tidak mencurigai pertemuan itu, maka utusan untuk menghadap pemuda Husni hanya tiga orang saja yaitu :
  1. K.H Syah Ahmad Syar’i Mertakusuma
  2. Muhammad Royani dari “KAUM BETAWI”
  3. Abdul Majid Asmuni dari ZWARTE BONDEN/PEMUDA SELAM
Pada hari yang telah ditentukan, yaitu Ba’da Asar, tiga orang utusan itu telah sampai dirumahnya Husni. Mereka telah disambut dengan segala sikap kehormatan sebagaimana layaknya seorang warga menerima kehadiran seorang Kepala Adat. Mereka kemudian mengobrol di ruang tengah. Babe Syar’i mengucapkan Doa yang diikuti oleh hadirin yang lainnya, kemudian beliau menanyakan keadaan famili pemuda Husni tentang kesehatan dan keberkahan yang datangnya dari Allah SWT. Pemuda Husni menjawab bahwa dirinya serta keluarga berada dalam keadaan sehat wal afiat berkat doa para pini sepuh. Dalam pertemuan ini terjadilah perbincangan panjang seperti yang dibawah ini.

Babe Syar’i : Kafilah Majelis Al Fatawa sangat mengharapkan jawaban anda, hendak dibawa kemanakah Kaum Betawi dalam kendaraan anda pada masa sekarang ini?

Pemuda Husni : Sudah tentu  kemerdekaan “Rakyat Nusantara”

Babe Syar’i : Apakah Kaum Betawi akan menjadikan “tumbal” dengan pengorbanannya yang sudah tidak terhitung nilainya ini?

Pemuda Husni : Sudah pasti saya tidak akan mengorbankan Kaum Betawi, saya tetap mempunyai tekad yang bulat demi kemuliaan Kaum Betawi.

Babe Syar’i : Apakah dengan duduknya anda sebagai Anggota “Dewan Gemeente Batavia” itu berarti Kaum Betawi ini sudah melacurkan dirinya?

Pemuda Husni : Saya yakin, Babe Selaku Kepala Adat Kaum Betawi sudah memiliki bekal yang kuat dalam perjuangan dan dalam peperangan gerilya melawan pemerintahan penjajah dan sekaligus untuk mengusirnya dari negeri kita Jayakarta pada khususnya dan dari TANAH TUMPAH DARAH BANGSA NUSANTARA pada umumnya.  Tentunya bukan saja senjata yang kita harus pergunakan, tetapi taktik dan strategi harus pula turut membekalinya. Nah, saya berperang dengan mempergunakan senjata otak supaya memiliki kemantapan di dalam mempermainkan siasat. Babe harus memegang teguh strategi, karena strategi tidak boleh harus dikalahkan dengan siasat. Saya berperang di mulutnya Singa, Babe berperang ditengkuknya Singa.

Pemuda Royani nyeletuk : “Pada saatnya yang sudah matang, maka dua arah panah ini harus menembus di jantungnya Sang SINGA OMPONG”..(mereka tertawa semuanya....)

Suara Adzan Magrib yang dipadu dengan bunyi beduk sudah membisingi dan memasuki ruang tempat mereka berbincang bincang, Pemuda Husni mengajak para tamunya ke ruang belakang, dimana dalam sebuah kamar terhampar tikar-tikar permadani untuk sholat.

Seusai sholat mereka memasuki ruang lainnya dimana sudah tersedia santapan untuk dahar bersama sama. Sebagaimana Lazimnya Orang Betawi, dalam acara makan tidak mempergunakan sendok dan garpu, mereka duduk bersila dan sambil berceloteh dengan nada gembira, maka acara daharpun telah usai. Para pembantu rumah Pemuda Husni menampakkan kesibukannya membenahi alat-alat makan dari hamparan tikar itu dan dibawanya keruang lain, seorang  diantaranya membersihkan tikar permadani dan mereka kemudian memulai lagi untuk melanjutkan acara perbincangan tersebut. Pemuda Husni mendahului perbincangan itu dengan mengatakan : “Adalah lebih Afdhol kalau kita meneruskan ngobrol disini saja, jika badan merasa pegal, lumrahlah kita melonjor dan kalau perlu rebaan....” (para tamu geli hatinya dan tanpa mereka sadari,  pemuda husni telah membuat mereka kerasan karena akhlak seorang Penghulu utamanya yang bernama Syah Muhammad Husni bin Tabri Thamrin).

Pemuda Husni meminta diri untuk mengambil sesuatu dari dalam lemarinya yang tidak jauh dari situ. Kemudian sehelai kertas bergulung dengan ukuran panjang dikeluarkannya dari sebuah bumbung bambu betung yang indah ukirannya. Dan beliau mulai berkata lagi, “Barangkali Babe masih ingat, karena tatkala surat ini dibikin keadaan saya masih kecil. (Babe Syar’i memperhatikan seraya mempermainkan senyuman kepada rekannya yang duduk bersimpuh keheranan).

Pemuda Husni menggelar gulungan kertas dihadapan para tamunya seraya berkata-kata :

Pemuda Husni : Babe jangan tersinggung, maaf!

Babe Syar’i : Oh tidak, malahan saya sangat berbahagia (babe syar’i berkata sambil menghapus air matanya tanpa adanya bunyi tangis dan wajah murung). Malahan saya berdoa mudah-mudahan GENERASI KAUM MUDA mendatang akan terdapat juga akhlak yang mulia seperti anda, Tuan Syah Muhammad Husni.

Pemuda Husni : Oh Tentu, tentu saja! Malahan mereka akan lebih unggul dari kita yang hidup  pada zaman sekarang ini.

Babe Syar’i : Saya mengharapkan demikian juga, Tuan Syah Muhammad Husni tampaknya berpakaian BATAVIA, tetapi hati dan jiwanya adalah BETAWI yang murni dan asli. Saya bersedih, karena dimasa yang akan datang, belum tentu terdapat seorang dari KAUM BETAWI yang pada lahirnya tampak BATAVIA tetapi pada hati dan jiwanya BETAWI. Saya telah meramalkan malahan akan terjadi sebaliknya, yaitu dilahirnya tampak seolah-olah BETAWI, tetapi pada hati dan jiwanya munafik, ingkar. Karena mereka tidak memiliki idealisme KAUM BETAWI. Mereka akan kebanyakan terdiri dari orang-orang yang mengejar keuntungan materi/uang, sesungguhnya di zaman yang akan datang kelak, pada waktu kita sudah tiada didunia ini, akan terjadi suatu peristiwa yang berlarut larut. Mereka pada hakekatnya mengejar nama untuk pangkat dan kekayaan diri sendiri, tetapi pada kenyataannya mereka semua seperti KUDA TROYA buat kepentingan tunggangan perang menahlukkan tabiat kuasa dan uang kepada fihak lawan atau temannya sendiri.

Demikianlah setelah mereka melakukan Sholat Isya berjamaah para tamu dan Pemuda Husni Thamrin telah kembali ketempatnya masing-masing.

Sumber :

Dikutif dari Kitab Al Fatawi -Surat Al Tarikh Jayakarta, Halaman 203 s/d 289, Tahun penulisan 1909 – 1954 oleh KH Ratu Bagus Ahmad Syar’i Mertakusuma (Gusti Khalifah Bendahara VII/MuftiLembaga Keadatan Jayakarta).

Catatan Harian & Inti Sari Kitab Al Fatawi  Ratu Bagus D Gunawan Mertakusuma, Biografi MH Husni Thamrin, Penerbit Al Fatawi, 1983.

KABUT DI KOTA BATAVIA (KERASNYA SIKAP & MILITANSI KAUM BETAWI ASLI DALAM MENYIKAPI PERISTIWA SUMPAH PEMUDA 28 OKTOBER 1928)

Dua tahun telah berlalu sejak petemuan BABE SYAR’I dan MH THAMRIN mengadakan pertemuan dari hati kehati,fihak lawan dan kawan MH THAMRIN merasakan telah terjadi keanehan-keanehan. Jika sebelumnya  mereka telah memberikan julukan “SINYO SAWAH”  sebagai konco-konconya  “SINYO-SINYO Kemayoran dan SINYO-SINYO DE KLEINE ROTERDAM dan KLEINE AMSTERDAM, maka pada masa itu MHTHAMRIN mudah mendapatkan julukan ABANG. Padahal Istilah ABANG dizaman BATAVIA sekitar kurun tahun 1920an sangat dipandang hina. Mereka  terbiasa dengan panggilan panggilan seperti : OOM, TANTE, MAMI, PAPI, BROER dan MENEER serta NYONYA BESAR. Kepada seorang MH THAMRIN sudah dimulai dengan panggilan BROER, tapi pada masa itu akhinrya MH THAMRIN sudah dibiasakan untuk dipanggil dengan ABANG THAMRIN. Syah Muhammad Husninya justru sudah nyaris hilang. Seharusnya yang harus kedengaran adalah gelar “SYAH”, sebagai layaknya cirri khas bagi para MUJAHIDIN JAYAKARTA PERADABAN MELAYU.

Abang THAMRIN sangat dekat perasaannya dengan panggilan ABANG. Seolah olah benar benar jiwa BETAWI sudah melekat pada segenap insan di KOTA SINGA BATAVIA itu. Malahan bukan hanya sebutan, beliau hamper-hampir tidak pernah cas cus (Berbicara) bahasa BELANDA(Hollands Preken). Beliau tidak pernah menggunakan kata seperti IKE atau YOU kepada lawan bicaranya. Beliau lebih senang dengan menggunakan kata saya dan anda.

Fihak P.I.D (Intelijen HindiaBelanda) sudah mulai dikerahkan untuk mengamati tindak tanduk Abang Thamrin.Malahan didalam VOLKSRAAD sudah terdapat semacam kewajiban yang pasti sebagai “disiplin tauladan” para “ABDI DALEM GEMEENTE BATAVIA”. Abang Thamrin dalam percakapan biasa tidak lagi memakai basa basi Belanda, tetapi Melayu dengan dialek BETAWI yang memakai akhiran E.

Masyarakat Mujahid yang memperhatikan tabiat dan akhlak Abang Thamrin yang sudah meniggalkan ciri-ciri Inlander sudah mulai unjuk gigi lagi.

Majelis Ta’ilm, Langgar, Masjiddan Balai-balai Kerukunan Adat dimana-mana berbicara tentang Perjuangan Kaum Betawi.

Seekor anak kucing yang sudah jadi Macan kini benar benar sudah  berada didalam “Loji Belanda”. SINGA OMPONG takkan lama lagi membiarkan dirinya betah dan segeralah sirna Batavia. Tetapi lain lagi dengan ulah ulama-ulama yang mendapatkan pembinaan dari TUAN VAN DERPLASH. Salah seorang Ulama berkebangsaan Arab sudah mendapatkan “MEDALI RATU WIHELMINA”. Suatu kebanggaan yang tinggi bagi Kaum Muhajirin Asing. Sebab kaum mereka akan menjadikan diri mereka sebagai “Tuan-tuan tanah/Raja Kampung.

Seandainya gerakan PENDEKAR PITUAN PITULUNG (PITUNG) yang telah dimulai dari kurun waktu tahun 1880 sampai tahun 1903 itu memperoleh kemenangan, maka bekas-bekas OFSIR TITULER MILITERVOC/BATAVIA yang dibina sejak zaman Jan Pieterzoon Coen (JP COEN) dan telah dibubarkan pada masa zamannya Pemerintahan British Republik Batavia, maka  bekas-bekas OFSIR itu tidak akan menjadi RAJA KAMPUNG YANG MEMBUAT RAKYAT MENJADI MELARAT.

Tetapi pada kurun waktu tahun1920an itu, mereka betul-betul sedang berada di puncak kemegahannya. Namun demikian gerakan pemberontakan KI DALANG adalah jawaban yang mengerikan kepada TUAN TUAN TANAH termasuk Pemerintah GEMEENTE/GUPERNEMEN BATAVIA.

Meskipun gerakan MH THAMRIN sudah demikian gigih, tetapi ekses masyarakat Muhajirin yang mengaku “orang betawi” telah menanggapi dan menggangap MH THAMRIN adalah ANTEK KOLONIAL BATAVIA. MH THAMRIN bagi kaum BETAWI yang asli saja masih diragukan. Mereka tidak mau mengerti bagaimana caranya perang diplomasi dan bedanya perang fisik bersenjata pembunuhan manusia atas manusia.

Maka tatkala menjelang akan diselenggarakannya  Kongres Pemuda Indonesia Ke II, dimana kongres yang pertama belum membawa hasil yang diharapkan, BABE SYAR’I telah diundang hadir ke Jakarta.

Dalam satu pertemuan MAJLIS DIMASJID KUNTARA KAMPUNG BAMBU LARANGAN CENGKARENG, Pemuda-pemuda Pendekar Pemberontakan KI DALANG telah memberikan bantahan-bantahan dengan Golok erhunus. Mereka dipimpin oleh Muksin dan Roji’ih (sampai tahun 80an mereka inimasih hidup).
Terpaksa BABE SYAR’I dimintakan kembali menjadi KETUA DELEGASI menghadap MH THAMRIN, apabila MH THAMRIN tidak bersedia maka harus “disingkirkan”.

Untunglah ALLAH SWT masih melindunginya, Malahan MH THAMRIN dinikahkan dengan putri RATU BAGUS MUHAMMAD NUR MERTAKUSUMA yang juga kerabat dekat BABE SYAR’I disuatu tempat di Kampung Cikini. Pada masa itu pula MH THAMRIN sudah bulat tekadnya. ADAT ISTIADAT harus berperan penting demi berhasilnya PEMUDA MELAKUKAN KONGRES yang ke II itu pada tanggal 28 OKTOBER1 928.

Dari sanalah MH THAMRIN betul-betul laksana SYUHADA PANGERAN JAYAKARTA itu yang mengangkat beliau kepada jenjang karir politik yang paling dominan pada masa itu. MH THAMRIN adalah bintangnya Kaum Pemuda pada masa itu.

MH THAMRIN adalah salah satu “bintang” pada peristiwa SOEMPAH PEMUDA 28 Oktober 1928. Ikrar SOEMPAH PEMOEDA yang dilakukan oleh para pemuda yang menamakan dirinya PERMUFAKATAN PERHIMPUNAN POLITIK KEBANGSAAN INDONESIA (PPPK). Mereka telah menyatakan Aksi Kebulatan tekad:

1.Terus berjuang sampai Indonesia Merdeka
2.Bendera Kebangsaan Indonesia adalah MERAH PUTIH
3.Satu Bahasa, Bahasa Indonesia
4.Satu Bangsa, Bangsa Indonesia
5.Satu Tanah Air, Tanah Air Indonesia.

Didalam PPPK itu termasuk KAUM BETAWI, bukn JONG BATAVIER (meskipun pada mulanya MH THAMRIN mau mempertahankan nama itu, tetapi akhirnya beliau bersedia memakai nama KAUM BETAWI saja. Inipun hasil dari musyawarah yang diadakan di JL CIKINI/RADEN SALEH).

Setelah terjadinya SOEMPAH PEMOEDA maka suhu Politik menjadi panas. KH AHMAD SYAR’I yang telah memerlukan  hadir dalam peristiwa SOEMPAH PEMOEDA itu telah memberikan pernyataan kepada kepada MH THAMRIN, bahwa KAUM BETAWI belum mencabut “TEKADNYA” yaitu “MENGHARAMKAN BEKERJASAMA DENGAN PEMERINTAH BELANDA, padahal MH THAMRIN berada didalam PPPK dengan mamakai nama KAUM BETAWI. Peristiwa ini telah mengagetkan beberapa pemimpin bangsa Indonesai, karena dimulutnya Sang Singa masih ada Pejuang yang berani menggugah semangat perjuangan. Yah kalau tidak demikian maka SOEMPAH PEMOEDA itu hanya akan jadi “GINCU DI BIBIR SAJA”.  Betapapun demikian hubungan MH THAMRIN dan KH AHMAD SYAR’I tetap masih terjalin baik.

Bung Karno Di Bandung telah mengirimkan Bingkisan berupa “SISIR dan GINCU (LIPSTIK)”, maka marahlah Rakyat Bandung, juga dari fihak PPPK yang kemudian menamakan dirinya “DEWAN RAKYAT” telah mengirimkan ancaman-ancaman  kepada Pemerintah Belanda untuk menentang POENALEMSANCTIE dan pembatasan pembatasan lainnya terhadap golongan BOEMI POETRA BANGSA INDONESAI (9 November 1928).

Sebulan kemudian, yaitu pada tanggal 29 Desember 1929 APARAT KEKUASAAN BELANDA telah melakukan pembersihan besar besaran terhadap rumah penduduk, bukan saja wilayah Jayakarta (termasuk Batavia), tetapi juga di semua wliayah  diJawa terutama di Bandung. Pada tanggal 18 Agustus 1930 para pemimpin Indonesia banyak yang dipenjarakan Dan pada tanggal 17 April 1931 RAAD VAN JUSTITIE telah memutuskan, semua pemimpin Indonesia dipenjarakan.

SUMBER :

Dikutif dari Kitab Al Fatawi -Surat Al Tarikh Jayakarta, Halaman 203 s/d 289, Tahun penulisan 1909 – 1954 oleh KH Ratu Bagus Ahmad Syar’i Mertakusuma (Gusti Khalifah Bendahara VII/MuftiLembaga Keadatan Jayakarta).

Catatan Harian & Inti Sari Kitab Al Fatawi  Ratu Bagus D Gunawan Mertakusuma, Biografi MH Husni Thamrin, Penerbit Al Fatawi, 1983.


PANTUN PERJUANGAN DARI KH AHMAD SYAR'I MERTAKUSUMA/BABE BETAWI (Ulama Betawi yang divonis hukuman gantung oleh Penjajah)

Jadilah Tuan Ibarat emas
Meskipun terpendam di lumpur
Nilai Tuan tidak akan lumas
Jika Tuan pantang akan kufur
  
Cilincing batangnye tuju
di laut tuju muare
Dipandang lanang beratu
Diturut lagu perente

Kampung Tugu bukan Ciliwung
Tempat berunding Anak Pangeran
Kepelan Guru Kalo disambung
Sejagat Bale bukan Pantangan

Sepanjang Kali Ciliwung
Kagak Mangpeb Ayer Ke ilir
Sepanjang Idupnye murung
Asal jangan jadi kapir

Ciliwung mumpung-mumpung
Tapi kite bukan Patung
Jangan Kite pade Bingung
Di akhir cucunye nulung

Sepanjang Kali Ciliwung
Pada Numbu Garda Hayat
Sepanjang rinduin Untung
Jangan lupa amal ibadah

"Katakanlah, kebenaran telah datang
dan yang batil tidak akan mulai (lagi)
dan tidak pula akan kembali
(Al Qur'an Surat As-Saba ayat 49)

Oleh : KH Ratu Bagus Ahmad Syar'i Mertakusuma
Pertanda : 1365 HIjriah

GUBERNUR DKI ERA 80AN LETNAN JENDERAL COKROPRANOLO DI MAKAM PANGERAN WIJAYAKUSUMA BIN FATTAHILLAH

Bang Noly (Letnan Jendral Cokropranolo), Gubernur DKI era tahun 80an, beliau tahun 1981 ini berada di Makam Pangeran Wijayakusuma Jelambar (Jalan Raya Tubagus Angke) Jakarta Barat, beliau hadir dalam rangka menghormati Jasa para pahlawan Jayakarta. Pangeran Wijayakusuma adalah Pahlawan Jayakarta/Jakarta. Pangeran Wijayakusuma adalah Anak Fattahillah Pendiri Kota Jakarta. Acara tersebut banyak dihadiri para sesepuh Betawi, kegiatan saat itu Peragaan Pencak Silat dan juga pemberian beberapa senjata Pusaka Jayakarta.

Kedekatan Bang Noly dengan beberapa sesepuh Betawi memang sangat kuat. Beliau sangat menghormati budaya dan sejarah Jayakarta. Perhatian beliau terhadap Para Pahlawan Jayakarta juga sangat baik, tidak heran karena kepedulian beliau akan sejarah dan budaya Jayakarta, beliau diberikan beberapa pusaka asli Jayakarta.

Sayangnya dari beberapa data Pangeran Wijayakusuma saat ini justru kurang begitu diekspos, bahkan cenderung gelap, browsing di internetpun sangat sulit melacak data tokoh yang satu ini, padahal beliau dalah seorang pahlawan Jayakarta.

Adapun keterangan mengenai Pangeran Wijayakusuma sebenarnya secara jelas terdapat didalam kitab Al Fatawi, kitab sejarah dan silsilah Jayakarta yang dicatat dan disusun oleh para MUSSONIF (pencatat sejarah Jayakarta).

(Dokumentasi Al Fatawi)

KERIS PENTA (LAMBANG SENJATA KEPANGERANAN JAYAKARTA) SIMBOL KELUARGA BESAR JAYAKARTA, SENJATA KHAS BETAWI TEMPO DULU

Senjata adalah simbol bagi sebuah daerah atau juga simbol seseorang. Setiap daerah di Nusantara ini biasanya punya senjata ciri khas, Di Aceh ada Rencong, Di Kalimantan ada Mandau, di Madura ada Clurit, di Jawa Barat ada Kujang, dll.

Bagaimana dengan Jayakarta sendiri? Dari kajian yang saya pelajari, biasanya untuk menunjukkan identitas senjata yang berkaitan dengan daerah Jayakarta ini, sering disebut bahwa salah satu ciri khasnya adalah senjata Golok. Berbagai macam golok khas Betawi banyak sekali saya temukan. Dan secara kebetulan saat saya ke Kwitang untuk ngaji, ada beberapa orang yang menjual senjata-senjata tersebut. Saya kadang-kadang sering kagum jika mendengar pembicaraan antara pedagang tersebut dengan pembelinya, betapa mereka itu tahu betul mana senjata yang berkelas mana yang "recehan" bahkan beberapa dari mereka tahu mana "urat" golok yang bagus.

Berangkat dari hal inilah saya jadi penasaran, apakah Jayakarta yang penduduknya sering disebut suku Betawi ini ada senjata khasnya, oleh karena itu lagi-lagi untuk yang kesekian kalinya saya mencoba untuk membuka lagi referensi yang telah saya peroleh dari keluarga besar Jayakarta, khususnya keluarga besar Nitikusuma dan Mertakusuma yang merupakan marga keluarga besar Pendekar Pituan Pitulung (Pitung).

Ternyata dari data-data yang saya peroleh khususnya yang terdapat dalam beberapa buku seperti Kitab Al Fatawi, Wangsa Aria Jipang Jayakarta, Kitab Adat Istiadat Jayakarta, saya menemukan sebuah senjata khas yang kiranya bisa disebut sebagai simbol dari daerah Jayakarta. Saya semakin yakin dengan sejarah senjata itu, karena sampai tahun 1991 senjata itu pernah dihadiahkan kepada GUBERNUR DKI dan juga pernah diberikan kepada sesepuh Betawi. bahkan senjata itu dijadikan lambang organisasi dari keturunan Jayakarta (AL FATAWI MANGKUDAT).
Apakah senjata itu ?

Senjata itu adalah KERIS PENTA (lihat dibawah ini)

Dalam sejarah yang tertulis di Kitab Al Fatawi PENTA adalah KERIS PARA PANGERAN JAYAKARTA. Penta yang pertama dibuat sudah dinyatakan hilang, lenyapnya Penta yang pertama terjadi pada masa Radin Rana Manggala dari Banten. Adapun setelah hilangnya Penta yang pertama itu maka dibuatlah beberapa keris Penta untuk beberapa Pangeran di Jayakarta. Namun pada perkembangannya KERIS PENTA ini akhirnya menjadi simbol bagi mereka yang merupakan keturunan Jayakarta. Bahkan kemudian Keris Penta sering digunakan untuk kepentingan budaya. Sampai saat ini beberapa Keris Penta tersimpan dengan baik dibeberapa keturunan Jayakarta. Beberapa orang tua Betawi yang saya ketahui dari data Al Fatawi bahkan masih menyimpan KERIS PENTA Ini. Keris ini memang bentuknya unik bila dibandingkan dengan keris keris pada umumnya.

PENTA adalah lambang jiwa kesatria, seseorang yang tidak memiliki iman untuk menjadi manusia kesatria tidak akan memperoleh kemuliaan. PENTA hanyalah sebuah benda, namun menghormati benda PENTA mempunyai arti menghormati leluhur kita, tanpa memuliakan leluhur kita, maka kita akan tersesat dan kehilangan rasa bakti kita itu kepada mereka.

Demikianlah keterangan singkat mengenai Keris Kebanggaan Jayakarta ini. Sejak dulu Keris ini sudah menjadi lambang para Kesatria Jayakarta, sejak dulu Keris Penta ini juga sering digunakan Para Mujahidin Jayakarta dalam melakukan perang fi sabililah dengan Penjajah Kafir.
Mudah mudahan ini bisa menjadi pengetahuan bagi kita semua.....

SUMBER :

Kitab Al Fatawi, KH Ratu Bagus Ahmad Syar'i Mertakusuma, Penerbit Majelis Keadatan Al Fatawi, Ditulis 1897 - 1954.
Wangsa Aria Jipang Jayakarta, Ratu Bagus Gunawan Mertakusuma, Penerbit Agapress Jakarta, 1986.
Kitab Petunjuk Tentang Disiplin Ilmu Adat, Ratu Bagus Gunawan Mertakusuma, Penerbit Al Fatawi, Jakarta 1992.