Jumat, 20 Juni 2014

SYEKH ABDUL GHONI MERTAKUSUMA AL FATTAH AZMATKHAN, WALIYULLAH MASTUR DARI BETAWI (TRAH ARIA JIPANG DI JAYAKARTA)


Syekh Abdul Ghoni, sebuah nama yang mungkin kurang dikenal pada saat sekarang ini, khususnya bagi warga Betawi dan Jakarta, namun bagi beberapa warga Kayu Putih Utara Jakarta Timur, nama Syekh Abdul Ghoni (kadang dipanggil dengan WAN GANI) begitu melegenda dan menjadi buah bibir, khususnya bagi mereka yang berusia diatas 60 tahun. Syekh Abdul Ghoni buat beberapa orangtua di Kayu Putih adalah sosok yang sangat berjasa dalam penyebaran agama Islam di Betawi. Kisah karomah dari Syekh Abdul Ghoni sendiri begitu mahsyur dikalangan mereka.

Dalam beberapa buku tentang sejarah Betawi, khususnya yang membahas tentang ulama-ulama kenamaan Betawi, memang nama Syekh Abdul Ghoni memang jarang sekali dibahas, beberapa penulis sejarah Betawi atau Jakarta kebanyakan bila berbicara tentang seluk beluk ulama, lebih banyak mereka itu memunculkan nama-nama seperti Syekh Junaid Al  Batawi, Habib Usman bin Yahya, Guru Marzuki, Guru Mahmud, Guru Mansur, Guru Mughni dan beberapa ulama lainnya lagi. Saya sendiri mendapati nama Syekh Ghoni ini setelah bertemu dengan salah satu keturunan Raden Fattah yang ada di Bandung yang kemudian menerangkan bahwa di Betawi khususnya wilayah Kayu Putih Utara ada makam seorang Ulama yang juga Waliyullah dan merupakan keturunan dari Raden Fattah dari jalur Aria Jipang/Aria Penangsang. Berbekal dari informasi serta catatan catatan yang saya peroleh dari saudara saya ini (saya memanggilnya Bang Yu), saya kemudian blusukan ketempat yang dimaksud.

Didalam catatan lama keluarga besar Bang Yu (beliau anak dari ALMARHUM BABE D.GUNAWAN MERTAKUSUMA, Budayawan Betawi dari Trah Aria Jipang Jayakarta) dikatakan bahwa SYEKH ABDUL GHONI dimakamkan di Tanah Tinggi Kayu Putih. Menurut Bang Yu, patokannya tidak jauh dari PULO MAS (Bekas pacuan kuda). Sayapun blusukan kelokasi Pulo Mas ini, namun setelah saya cari kemana-mana ternyata daerah Tanah Tinggi itu tidak ada di Pulo Mas. Justru banyak yang merasa aneh ketika saya tanya daerah Tanah Tinggi di Pulo Mas, setahu mereka Tanah Tinggi itu dekat Pasar Senen (kalau ini saya juga sudah tahu).

Blusukan  pertama gagal, tapi dalam hati saya, “masak gak ketemu……lihat besok….”. Besoknya pas hari minggu pagi, kembali saya melakukan pencarian, kali ini petunjuk lebih kuat karena saya dibekali dengan sebuah nama Mesjid yang diberikan oleh Bang Yu, yaitu Mesjid Al Ghoni di Kayu Putih Utara. Dan memang tidak lama kemudian akhirnya lokasi makam Syekh Abdul Ghoni saya temukan. Sayangnya sesepuh dari keluarga Syekh Ghoni tidak bisa ditemui karena menurut beberapa ibu disana, biasanya sesepuh tersebut sedang berzikir dipagi hari sampai menjelang zuhur. Otomatis Blusukan saya yang kedua ini gagal lagi. Tapi saya masih penasaran, masak sih saya gak bisa ketemu sesepuh dari keluarga SyekH Ghoni. Dan akhirnya di Blusukan ketiga bersama dengan Irfan “Pitung” Azmatkhan dan Mas “Angon” Azmatkhan, kembali saya dan kedua rekan ini mendatangi makam Syekh Abdul Ghoni untuk berziarah, silaturahim dan meneliti keberadaan makam Waliyullah yang satu ini.

Kedatangan kami tidak sia-sia. Kami akhirnya bertemu dengan salah satu anak dari sesepuh tersebut. Kedatangan kami disambut Ustadz Abdurrozak yang merupakan anak dari Sesepuh yang bernama KH MURTADHO. Setelah bertemu kami mengutarakan maksud kedatangan kami kemakam Syekh Abdul Ghoni. Setelah bicara sepatah dua patah kata, kamipun berziarah, setelah berziarah kami mulai mengadakan wawancara dengan Ustadz Abdurrozak ini, tidak lama kemudian Asar tiba. Setelah sholat berjamaah, kami akhirnya dipertemukan oleh KH Murtadho. KH Murtadho ternyata usianya sangat sepuh. Beliau berusia 89 tahun. Namun yang membuat saya salut, beliau ini masih sehat dan segar bugar, hanya mata dan kupingnya saja yang mulai kurang tajam. Namun demikian secara lancar KH Murtadho mampu menceritakan tentang sosok Syekh Abdul Ghoni kepada kami. KH Murtadho ini ternyata anak bungsu dari SYEKH ABDUL GHONI yang lahir ditahun 1925. KH Murtadho ini ternyata muridnya Mualim Abdul Hadi dari Cipinang Cibembem Jakarta Timur, KH Murtadho ini murid paling lama Mualim Abdul Hadi, karena dia belajar sejak tahun 1938, sampai mualim Abdul Hadi wafat. kH Murtadho juga belajar kepada Habib Ali Bungur dan beberapa kyai di Betawi. Dari cerita KH Murtadho, inilah hasilnya..

Syekh Abdul Ghoni menurut KH Murtadho lahir tahun 1801 dan wafat pada tahun 1933. Usia beliau cukup panjang. Pada tahun 1818 Syekh Abdul Ghoni membangun mesjid. Sebelumnya nama daerah ini adalah TANAH TINGGI (nama sebelum Pulo Mas) dan lokasi ini  adalah tempat kediaman DATUK KIDAM yang juga merupakan ulama besar Betawi dan Mujahidin Jayakarta pada Masa itu. Datuk Kidam sendiri adalah kakek dari Syekh Abdul Ghoni. Datuk Kidam dalam catatan sejarah keluarga besar Aria Jipang di Jayakarta telah membuat Pondok Pesantren di Tanah Tinggi itu. Bisa dikatakan Datuk Kidam ini adalah pelopor pendirian Pesantren di Jayakarta atau Jakarta ini. Usaha Datuk Kidam inilah yang kemudian dilanjutkan oleh Syekh Abdul Ghoni dengan mendirikan Masjid dan melanjutkan Kegiatan Pesantren dan Dakwah di tanah tinggi. Pada masa Syekh Abdul Ghoni Masjid dibuat dengan gaya lama (dibuat dengan kayu dan berbentuk Panggung), Syekh Abdul Ghoni sendiri disamping sebagai seorang pengajar, pendakwah beliau juga seorang Waliyullah. Beliau terkenal sebagai sosok yang tawadhu dan selalu menjaga Wudhu serta kuat berpuasa, beliau juga jarang berbicara kalau tidak terlalu penting, apalagi jika itu bukan urusan agama, makanan beliau sangat sedikit sekali, paling kalau makan tiga atau lima sendok sudah cukup. Perkataan beliau juga selalu dijaga, makanan beliau juga tidak sembarangan.

Menurut KH Murtadho beberapa karomah dan kelebihan kelebihan dari Syekh Abdul Ghoni  atau Wan Ghani diantara lain :

  1. Pernah beliau diundang kedaerah Klender Jakarta Timur oleh seorang Ustadz untuk menghadiri sebuah acara Maulid. Sampai disana disana ketika mau diadakan pembacaan maulid Azab, tiba-tiba suara yang perawi maulid tidak keluar sama sekali, suasana jadi hening, sedangkan Syekh Abdul Ghoni atau Wan Ghani terus saja menunduk tawadhu, karena si perawi tidak keluar suaranya, otomatis maulid akhirnya tidak lama acaranya, tidak lama kemudian Wan Ghani pulang kerumah. Kepulangan Wan Ghani rupanya kemudian disusul oleh fihak Klender, fihak klender rupanya menyadari kalau niat mereka (terutama Ustadz dan sang perawi maulid tersebut) dalam rangka  membaca maulid itu untuk pamer suara kepada fihak Wan Ghani. Namun Wan Ghani rupanya mengetahui didalam hatinya. fihak Klender itu akhirnya minta maaf kepada Wan Ghani, sedangkan Wan Ghani sendiri sudah memaafkan lebih awal. Wan Ghani akhirnya memberikan air putih digelas untuk diminum si perawi maulid tersebut, tidak lama minum air tersebut suara sang perawi kembali normal.
  2. Pada suatu saat ada seorang perampok memasuki rumah Wan Ghani, ternyata sampai didalam rumah Wan Ghani, Perampok itu melihat lautan luas, sehingga membuat Perampok itu ketakutan dan kemudian akhirnya minta maaf kepada Wan Ghani.
  3. Wan Ghani adalah orang yang tidak suka rumahnya dicat dengan warna apapun, alasan beliau jika rumahnya dicat maka malaikat tidak akan masuk.
  4. Beliau adalah penganut Thariqoh, kebiasaan beliau sejak habis Isya sampai subuh, beliau tidak pernah tidur.
  5. Tulisan tangan beliau terutama ketika menulis bahasa Arab dan menulis Al Qur’an sangat bagus dan indah, dan biasanya beliau menggunakan tulisan itu dengan bulu angsa.
  6. Beliau mempunyai jubah yang merupakan warisan Datuk Kidam (kakeknya) untuk ibadah
  7. Pernah suatu saat ketika habis pulang dari Cirebon, rumahnya ada alat tanjidor, kemudian beliau mengatakan kalau alat permainan ini haram, dan tidak lama kemudian alat Tanjidor ini beliau pendam didalam tanah
  8. Wan Ghani sering dititipi uang oleh tetangganya, dan anehnya uang itu ditaruh beliau disembarang tempat, kadang di lantai (masih tanah) kadang dihalaman rumah, intinya dimana saja, anehnya uang tersebut tetap utuh, tidak ada yang berani mengambil uang titipan tersebut.
  9. Pernah ada seseorang yang berani mencuri uang Wan Ghani setalen, tidak lama kemudian orang tersebut perutnya membesar (gendut). Orang tersebut akhirnya mengaku kepada Wan Ghani, kemudian Wan Ghani mengobati orang tersebut dengan cara membaca syahadat. Dengan kuasa Allah akhirnya perut orang tersebut kembali normal.
  10. Suatu saat Wan Ghani membeli durian yang ditawarkan oleh seorang pedagang buah. Sang Pedagang meyakinkan Wan Ghani bahwa semua durian yang dijual itu matang, Sang Pedagang menunjukkan dua buah durian yang sangat matang dan harum. Setelah melihat dua buah durian yang sangat matang  dan harum itu, akhirnya Wan Ghani memborong semua durian yang jumlahnya sekitar 30 buah itu. Semua durian itu diberikan kepada anak dan cucunya. Tidak lama diberikan ternyata beberapa anak dan cucunya protes, karena ternyata durian durian tersebut tidak matang, kecuali hanya dua buah. Wan Ghani mendapatkan laporan dari anak dan cucunya, hanya menunduk tawadhu. Tidak lama dari kejadian ini, Sang Pedagang durian ini justru selama satu minggu dagangannya tidak laku-laku. Akhirnya Sang Pedagang tersebut menyadari kesalahannya. Pedagang tersebut kemudian mendatangi Wan Ghani untuk minta maaf karena telah menipu Wan Ghani, Si Pedagang bahkan membawa 30 buah durian yang matang untuk diserahkan secara Cuma-Cuma kepada Wan Ghani. Setelah bertemu, apa yang terjadi? Wan Ghani justru ramah bahkan menasehati sang pedagang tersebut dengan kalimat yang lembut. Namun ketika beliau mau dikasih durian secara Cuma-Cuma, wan Ghani menolak, kata Wan ghoni, “udah tuh durian ente dagangin aja….” Sang Pedagang merasa terharu dan kemudian akhirnya pamit kepada Wan Ghani.
  11. Pernah suatu saat dimalam hari ada pencuri yang ingin mengambil buah pisang hasil tanaman Wan Ghani yang siap panen, buah yang matang dan besar itu sangat mengundang hasrat si pencuri tersebut. Si Pencuri sudah siap untuk memotong pisang tersebut dengan goloknya. Apa yang terjadi? Si pencuri itu ternyata ketika mau memotong buah pisang itu, tiba-tiba dengan kuasa Allah seluruh tubuhnya kaku sambil mengangkat golok yang siap membabat buah pisang itu Posisi kaku seperti patung itu berlangsung dari malam sampai pagi hari, ketika akhirnya dipergoki Wan Ghani barulah Sang Pencuri itu bisa normal kembali, dan kemudian pencuri itu minta maaf kepada Wan Ghani (tentu dengan badan yang luar biasa capeknya).
  12. Saat Wan Ghani pergi haji, uang milik beliau diletakan dilantai begitu saja, dan sampai beliau pulang uang itu tidak yang berani satupun mengambilnya.
  13. Pernah suatu saat pasukan militer Belanda latihan tembak menembak, nah ketika lewat rumah Wan Ghani semua senjata tidak berfungsi, baik pistol ataupun meriam mereka selalu saja  tidak bisa meledak, anehnya ketika lewat radius 1 km pistol dan meriam dan juga senjata-senjata lainnya baru bisa berfungsi, sampai-sampai pasukan belanda tersebut jengkel dan penasaran dengan rumah Wan Ghoni sehingga suatu saat rumah Wan Ghoni mereka geledah, hasilnya? Ya tidak ada apa-apa. Pasukan Militer Belanda benar-benar dibuat kesal, karena setiap lewat rumah Wan Ghani  senjata senjata mereka selalu tidak berbunyi atau tidak berfungsi
  14. Saat menjelang wafat, beliau duduk ditempat tidurnya sambil membaca kalimat tauhid, dan tidak lama kemudian beliau wafat dengan kondisi tenang. Saat menjelang wafat itu beliau berkeringat dikeningnya, dan anehnya keringat beliau ini sangat harum luar biasa. Sampai-sampai ketika jenazah Wan Ghani diperiksa dokter, Sang Dokter berkata, “Apakah wan Ghani dibaluri minyak wangi” sontak keluarga dengan tegas mengatakan, “tidak”. Sang Dokter sangat terkejut, karena baru kali ini dia  melihat dengan mata kepalanya sendiri ada jenazah keringatnya harum semerbak. Sampai-sampai sang dokter menciumi wajah dan kaki wan Ghani yang harum semerbak. Keringat beliau harum, bahkan tempat beliau buang air kecilnyapun harum, hingga tempat buang air kecilnya itu ada yang mengambilnya tanpa sepengetahuan keluarganya.
  15. Saat Jenazah beliau mau dimandikan banyak fihak yang berebutan untuk memandikan jenazah beliau. Dan orang yang paling beruntung dan berhasil memandikan beliau adalah HABIB ALI KWITANG yang merupakan seorang Ulama besar Betawi dan juga Nusantara. Habib Ali Kwitanglah yang memandikan Wan Ghani ini, yang lain karena menghormati Habib Ali hanya menyaksikan saja. Setelah beliau dimandikan dan dikafani jenazah beliau disholatkan, kemudian jenazah beliau ini diperebutkan oleh ribuan orang untuk diantarkan kemakam, dan anehnya jenazah beliau tidak lagi memakai keranda, ribuan jamaah ingin sekali memegang jenazah beliau ini. Beliau akhirnya dimakamkan di Tanah Tinggi (pulo mas Jakarta Timur)
Sayangnya makam Syekh Abdul Ghoni dan juga makam-makam para leluhurnya, akhirnya digusur oleh kepentingan penguasa (saat itu zamannya Ali Sadikin). Pada tahun 1972 Makam Syekh Abdul Ghoni, Datuk Kidam dan juga masjid Al Ghoni digusur oleh rezim saat itu. Semua penduduk asli tanah tinggi “dipaksa” untuk pindah kedaerah Kayu Putih Utara yang saat itu masih merupakan rawa-rawa. Penduduk Asli Tanah Tinggi yang banyak keturunan Aria Jipang harus pindah kelokasi yang baru, bahkan dari mereka akhirnya banyak yang pindah ke bekasi daerah pejuang. Tanah Tinggi yang dulunya merupakan NEGERI DONGENG KARENA KEINDAHAN ALAMNYA DAN KEHIDUPAN YANG MAKMUR, SEJARAHNYA SECARA TRAGIS KINI TINGGAL KENANGAN. Dengan terpaksa karena daerah Tanah Tinggi sudah digusur dan kemudian daerah ini dijadikan arena pacuan  kuda pulo mas, nama Tanah Tinggi lenyap, dan kemudian berganti menjadi PULO MAS. Makam-makam para pahlawan Islam juga digusur, namun ada kejadian yang aneh, setiap alat berat mau menggusur makam-makam tersebut selalu saja tidak berhasil. Akhirnya atas kesepakatan keluarga besar, makam Syekh Abdul Ghoni dan makam-makam Pahlawan Islam lainnya dipindah kekayu putih utara. Dengan diawali dengan doa-doa makam semua makam digali kembali untuk kemudian dipindahkan kelokasi yang baru. Dilokasi yang baru ini akhirnya semua jenazah para pahlawan dan waliyullah SyekH abdul ghoni dimakamkan kembali. Ditempat inipula dibangun masjid dengan nama MASJID AL GHONI. Sampai sekarang lokasi Asli dari makam dan tempat Syekh Abdul Ghoni dan keluarganya tidak pernah berhasil dibangun apapun dan itu sudah saya lihat sendiri, tanah itu sampai sekarang masih terlantar dan tidak diurus.

Kini makam Syekh Abdul Ghoni dan makam Pahlawan Islam lainnya dengan damai bersemayam di Kayu Putih Utara, tepatnya di Masjid Al Ghoni. Kepengurusan makam keluarga besar Syekh Abdul Ghoni dan pahlawan Islam lainnya kini dipegang oleh KH Murtadho dan anaknya. Keluarga Besar Syekh Abdul ghoni sendiri akhirnya banyak menyebar ke wilayah Jabotabek. Semoga para arwah dan ulama tersebut  mendapatkan rahmat dan magfiroh yang datangnya dari Allah SWT…Amin..

Kamis, 12 Juni 2014

KELOMPOK KERJA RISET DAN PENGGALIAN KEBUDAYAAN DAN SEJARAH JAYAKARTA (KIPRAH KELUARGA BESAR ARIA PENANGSANG/ARIA JIPANG DI JAYAKARTA)


Kelompok kerja ini adalah dalam rangka pelurusan sejarah dan budaya Jayakarta, salah satu penulisan sejarah dan budaya Jayakarta adalah dengan mengangkat kembali tokoh-tokoh penting dalam berdirinya Kota Jayakarta. Yang diantaranya adalah ARIA PENANGSANG bin PANGERAN SEKAR SEDA LEPEN bin RADEN FATTAH. Aria Penangsang sendiri ketika berada Di Jayakarta dikenal dengan  panggilan gelar ARIA PINANGSERAYA, ARIA JIPANG. Aria Pinangseraya atau Aria Jipang atau Aria Penangsang ketika di Jayakarta pernah menjabat sebagai Adipati Jayagiri Marunda dan pernah menjadi Mangkubumi Pemerintahan Jayakarta. Bersama Fattahillah yang juga mertuanya, Aria Pinang Seraya atau Aria Jipang atau Arya Penangsang berhasil menegakkan kehormatan negeri Jayakarta. Pada masa Fattahillah dan Aria Penangsang luas wilayah Jayakarta sampai mendekati wilayah Jabodetabek. Wilayah-wilayah tersebut juga telah berhasil mendapatkan dakwah Islamiah. Jayakarta telah menjadi negeri Islam berkat pemerintahan para pejuang pejuang Islam yang diantaranya adalah Fattahillah dan Aria Jipang.
Adapun kronologis penulisan Sejarah dan Kebudayaan Jayakarta yang asli adalah :

Perintis  I :

Kyai Haji Ratu Bagus Ahmad Syar’I Mertakusuma Yaitu sebagai Pejabat GUSTI BANDAHARA VII
Bekerja sejak tahun 1909 s/d 1954.

Perintis II :

1.       Ratu Bagus Abdul Majid Asmuni bin Ratu Bagus Ahmad Syar’I Mertakusuma, jabatan beliau sebagai ketua.
2.       Ratu Bagus Ismail Sukmaatmaja, alias Babe Andung, selaku pini sepuh dan anggota Pokja (Kelompok Kerja)
3.       Ratu Bagus Abdul Halim, alias Engkong Tinggal (Mbah Akung Tinggal) dari Mungga Mertakusuma, beliau anggota bidang pembiayaan Pokja.
4.       Ratu Bagus Abbas dari Munggga Yudakusuma, selaku anggota.
5.       Ratu Bagus Muhammad Nur bin Ratu Bagus Abbas, selaku Anggota
6.       Haji Ratu Bagus Ahmad Kuntara Nitikusuma, selaku anggota (Pendiri Masjid Kuntara Bambu Larangan Cengkareng Jakarta Barat)
7.       Ratu Bagus Mujitaba dari mungga NItikusuma, selaku anggota
8.       Ratu Bagus Mustofa dari mungga Wijayakusuma (Trah Fattahillah)
9.       Ratu Bagus H Munawir bin Salbini dari mungga Wijayakusuma (Trah Fattahillah)

Pokja tersebut memulai langkah awalnya pada tanggal 14 Rabiul Awal 1354 (1935). Kemudian penulisan pertama Riwayat Aria Jipang atau Aria Penangsang dilakukan oleh Ratu Bagus Abdul Majid Asmuni bin Kyai Haji Ratu Bagus Ahmad Syar’I mertasukuma pada tanggal 14 Syawal 1335 atau 20 Januari tahun 1935 Masehi.

Pada kurun waktu tahun 1954 Masehi tepatnya pada hari Ahad tanggal 12 Robiul Awal/Maulid 1375 (7 November 1954),kelompok kerja riset dan penggalian Kebudayaan Jayakarta oleh Generasi Merdeka didirikan kembali. Oleh karena Pokja Angkatan terdahulu itu sudah banyak yang wafat dan usia tua, posisi mereka hanyalah dari segi pendanaan saja seperti Hasan Manggis, Haji Muhammas Aseni (mantan anggota DPRD DKI JAKARTA), maka kemudian didirikan kembali Pokja berikutnya dengan anggota :

1.       Ratu Bagus D. Gunawan Mertakusuma sebagai ketua
2.       Radin Haji Suwandi (Ketua umum Organisasi Kebangkitan Usaha Anak Betawi/KUAD)
3.       Radin Haji Mustofa (pendanaan)
4.       Ratu Bagus Munawr Salbini (pendanaan)
5.       Haji Muhammad Sidik (keluarga Besar Aria Jipang dari Palmerah Rawa Belong
6.       Manuel Maubere (mantu R.A Hadijah/Suami RA Boeniah)
7.       Haji Ali Junaidi (sekretaris Yayasan Al Fatawi)
8.       Mardila Asmara

Pada tahun 1977 kembali pokja didirikan :

1.       Ustadz Muhammad Nur bin Ratu Bagus Muhammad Ali Perang (Yudakusuma), Muhammad Ali Perang adalah salah satu anggota Pitung
2.       Ustadz Soeaiboen Petamburan
3.       Muhammad  Amin Djajasaputra
4.       Boy P Soepriatna Kusumaatmaja
5.       Muhammad  Syafii Masdarkusuma
6.       Gusti Khalifah Imam Raden Haji Drs Soeharoeddin Moeslim dari mungga Nitikusuma, salah seorang keturunan K.H Wasih (terkenal dalam kepemimpinan Pemberontakan Cilegon 1888 Masehi)

Mereka bekerja secara sukarela demi menunaikan bakti kepada bangsa dan Negara serta untuk melestarikan kebudayaan dan sejarah Asli Jayakarta

Penyusun : RATU BAGUS D GUNAWAN MERTAKUSMA
Dalam Catatan : WANGSA ARIA JIPANG DI JAYAKARTA
Penerbit : AGAPRESS JAKARTA
Tahun : 1986


Jumat, 06 Juni 2014

MELURUSKAN SEJARAH PITUNG, TRAH ARIA JIPANG DI BUMI JAYAKARTA, GERAKAN PERLAWANAN KETURUNAN ASLI JAYAKARTA

Bicara tentang Pitung adalah bicara sejarah perjuangan kaum pribumi melawan penjajah kafir sebagai penguasa Jayakarta pada masa masa akhir abad ke 19.  Saya sendiri lebih senang menyebut Pitung adalah Pejuang Jayakarta, karena kenyataannya sampai masa kemerdekaan para keturunan Jayakarta yang asli masih terus melakukan perlawanan terhadap penjajah kafir, termasuk Pitung ini. Pitung sendiri sering digambarkan sebagai sosok pendekar yang Soleh. Ia belajar ngaji plus juga belajar silat. Secara fisik Pitung sering digambarkan berkopiah hitam, memiliki kumis melintang, rambut agak terurai, memakai baju merah atau hitam, ikat pinggang besar dan golok disamping pinggangnya (lihat pakaian pada pakaian acara traidisional palang pintu di Betawi). Gambaran tentang Pitung bahkan terekam begitu kuat dalam film Si Pitung yang diperankan oleh Dicky Zulkarnaen di tahun 1972.

Pertanyaannya sekarang adalah siapakah sebenarnya sosok yang digambarkan sebagai SI PITUNG ini? Apakah Pitung ini sosok satu orang atau sebuah organisasi? Benarkah Si Pitung dalam setiap aksinya selalu melakukan perampokan? Benarkah  Si Pitung ini tewas tidak menikah dan tidak punya keturuunan? Benarkah si Pitung memiliki Ajian Rawa Rontek dan senang memakai jimat untuk mempertahankan kedigdayaannya ? Terus terang dari berbagai literature yang saya pelajari, pada awalnya ternyata cukup sulit juga untuk mencari sejarah sosok yang “misterius” ini. Sejarah tentang sosok ini betul-betul banyak versi dan simpang siur. Ada yang mengatakan bahwa sosok ini hanyalah legenda, ada yang mengatakan bahwa sosok ini memang ada tapi dia bukanlah asli orang Betawi, justru dia itu katanya orang China, ada juga yang mengatakan dari Makassar, Banten, Tangerang, Kemayoran, dll. Sosok Pitung ini bahkan pernah disinyalir sebagai orang yang buta hurup, karena waktu disuruh  saat disuruh menandatangi surat penahahan oleh pemerintah penjajah kafir hanya menggunakan cap jempol saja. Yang juga tidak kalah anehnya Pitung tidak menikah dan dikatakan tidak punya keturunan serta silsilahnya tidak jelas. Jelas hal terakhir yang saya sebutkan ini pasti keluar dari mulutnya para penguasa pada saat itu, yang memang senang mengaburkan silsilah dan sejarah para pejuang Islam beserta kerajaan Islamnya.

Sepertinya memang melacak sejarah si Pitung tidak semudah yang kita bayangkan. Pecalakan sejarah akan terasa lebih sulit ketika sumber datanya itu dari tulisan ilmuwan yang merupakan bagian penjajah kafir, saya bukan anti 100 % terhadap karya tulis mereka, namun berdasarkan pengalaman saya ketika menemukan beberapa tulisan mereka, ternyata ada saja pesan-pesan terselubung yang diselipkan dalam setiap karya mereka untuk mendukung “Tuan Besar” mereka itu. Oleh karena itu sepertinya jauh panggang daripada api kalau kita hanya mengandalkan sumber  tertulis dari mereka, apalagi mengenai Si Pitung yang merupakan musuh besar mereka di Batavia (saya menyebutnya Jayakarta).

Sejarah Pitung menurut saya harus segera diluruskan, jangan sampai ada penilaian jika sosok yang digambarkan Pitung itu adalah fiktif atau legenda. Saya justru merasa aneh jika ada sejarawan mengatakan bahwa Pitung adalah cerita legenda, atau pitung adalah cerita rekaan untuk mengangkat derajat orang Betawi. Lebih aneh jika mereka berani mengatakan hal tersebut tapi tidak pernah melakukan penelitian langsung kelapangan, terutama dengan hal-hal yang berhubungan dengan Pitung termasuk keturunannya.

Jadi sebenarnya siapakah sosok yang dimaksud Pitung ini?

Setelah berkutat dengan berbagai informasi  akhirnya saya mendapatkan sebuah data yang justru berasal dari para keturunan Pitung. Data tersebut bahkan cukup detail mengenai sosok Pitung, bahkan leluhur leluhur Pitung tertera dengan sangat jelas pada data yang luar biasa ini. Anehnya data seperti ini sangat sulit saya dapati diberbagai perpustakaan di Jakarta. Bahkan yang saya tidak habis fikir, kok bisa data seperti ini tidak diolah oleh Pemda DKI  terutama untuk menggali sejarah asli Pitung dan juga Jayakarta, Pemda DKI saya lihat lebih banyak memakai karyanya De Hann dalam mengidentifikasi sejarah Jakarta atau Batavia ini. 

PITUNG berdasarkan data yang saya peroleh bukanlah sosok satu orang, PITUNG adalah Kepanjangan dari kata PITUAN PITULUNG atau bila diartikan sebagai 7 Pendekar Penolong. Artinya sosok PITUNG itu bukan satu orang, PITUNG adalah organisasi perlawanan. Nama Pitung sendiri jika dilihat secara kronologisnya, cukup sulit dicari dalam khazanah bahasa Melayu. Nama orang Betawi pada masa itu sangat Islami dan tidak neko-neko, kalau ada nama yang terasa aneh, biasanya itu terdapat didaerah pedalaman pedalaman, sedangkan keberadaan Pitung berada didaerah ramai dan sarat dengan nilai-nilai keislamannya. Dalam khazanah bahasa Betawi nama Pitung sendiri tidak dikenal. Kata yang satu ini justru berasal dari bahasa Jawa. Kenapa bisa memakai bahasa Jawa? Ya karena para anggota Pitung ini leluhurnya berasal dari Jawa, khususnya Demak (Jawa Tengah.

PITUNG atau PITUAN PITULUNG jelas merupakan gerakan perlawanan terhadap penjajah. Mereka anggota Pitung adalah rumpun keluarga besar Keturunan ARIA JIPANG atau ARIA PENANGSANG yang merupakan cucu dari RADEN FATTAH yang merupakan pendiri Kesultanan Demak Bintoro. Kesultanan Demak Bintoro adalah Kesultanan Islam Pertama di Pulau Jawa. ARIA PENANGSANG atau ARIA JIPANG ini ternyata dalam sejarah Keluarga Besar Pitung pernah diutus oleh Majelis Dakwah Walisongo untuk membantu perjuangan Fattahillah di Kota Jayakarta antara tahun 1522 s/d 1550 Masehi. Bersama Fattahillah,  Aria Penangsang atau Aria Jipang bahu membahu memajukan Kota Jayakarta sebagai Bandar Internasional laut pada masa itu serta memperkuat pertahanan militer. Bersama Fattahillah, Aria Jipang juga telah berhasil menyebarkan dakwah Islamiah dengan cara damai dan santun.

Di Jayakarta inilah Aria Jipang mempunyai beberapa orang anak hasil dari pernikahan dengan istri yang bernama Ratu Ayu Jati Balabar binti Rana Manggala bin Prabu Surawisesa (Raja terakhir di Pajajaran). Diantara sekian banyak anak Aria Jipang, yang merupakan leluhur dari anggota Pitung itu bernama Ki Mas Wisesa Adi Merta. Beliau inilah yang merupakan leluhur anggota Pitung. Jadi jelas anggota Pitung adalah keturunan dari para Bangsawan yang ada di Jayakarta, artinya nasab dan silsilah mereka terang benderang. Di dalam darah keluarga besar Pitung itu ada daerah Kesultanan Demak dan juga darah Kerajaan Pajajaran, jelaslah mereka ini bukanlah keturunan orang biasa. Anggota Pitung itu elas identitasnya, baik secara sejarah maupun secara nasab. Secara kebangsawanan gelar mereka di Jayakarta adalah RATU BAGUS atau RATU BAGUS DININGRAT (RADIN). Gelar RADIN ini kadang sering ditulis dan disamakan dengan gelar RADEN, padahal aslinya adalah RADIN. Namun pemakaian gelar ini pada dasarnya tidak menjadikan keturunan Aria Jipang menjadi Feodal atau gila akan kehormatan, justru mereka ini dalam perjalanan sejarah Jayakarta lebih banyak yang jadi pejuang dan ulama ketimbang penguasa, justru dari mereka ini banyak yang lebih senang membumi dengan masyarakat setempat. Gelar kebangsawanan  ini adalah untuk mengidentifikasikan jika keturunan Aria Jipang itu ada dan eksis dalam perjalanan sejarah Jayakarta. Jadi salah besar jika ada yang mengatakan adanya bangsawan di Jayakarta merupakan sikap feodal, justru adanya bangsawan di Jayakarta itu menunjukkan jika Jayakarta atau Betawi bukan keturunan budak.

Dari mulai masa Ki Mas Wisesa Adi Merta ini, sampai pada masa organisasi perlawanan Pitung, perlawanan tidak pernah padam, perang gerilya selalu dilakukan oleh para keturunan Aria Jipang bekerja sama dengan keluarga besar Jatinegara Kaum, Mataram, Banten, Cirebon dan daerah-daerah lainnya. Jadi pada dasarnya leluhurnya anggota Pitung adalah para Mujahidin Jayakarta. Sejak jatuhnya Kraton Jayakarta ditangan Jan Pieterzoon Coen tanggal 31 Mei tahun 1619, Praktis semua pejuang Mujahidin Jayakarta mundur kearah pedalaman dan terus melakukan perang gerilya. Beberapa markas perlawanan diadakan salah satunya adalah di daerah Palmerah Rawa Belong Jakarta Barat. Disini para keturunan Aria Jipang membuat Kraton Jipang atau wisma Jipang yang digunakan sebagai basis pertahanan di Front Barat dalam menghadapi penjajah kafir.

Perlawanan selama ratusan tahun itu tidak pernah berhenti, dan puncak dari perlawanan itu adalah dengan munculnya organisasi yang bernama Pituan Pitulung. Anggota Pituan Pitulung itu kebanyakan justru orang-orang pintar dan cerdas, baik cerdas secara agama, cerdas secara pendidikan, cerdas dalam bela diri dan juga cerdas dalam melakukan perlawanan dengan penjajah kafir. Anggota Pitung itu rata-rata tegas, berani dan tidak takut mati, mereka semua militant dan siap mati Syahid. Keberadaan organisasi memang cukup rahasia. Keberadaan organisasi ini cukup sulit dilacak oleh para penjajah kafir. Gerakan Pitung memang gerakan perjuangan bawah tanah. Berbagai pemberontakan dan perlawanan di Jayakarta atau Betawi itu, ternyata tokoh-tokoh Pitung dibalik itu semua. Bahkan dedengkotnya Pitung yang bernama KH Ratu Bagus Ahmad Syar’ie Mertakusuma diburu terus oleh Penjajah Kafir, sampai akhirnya tertangkap dan dibuang di Jambi namun kemudian beliau berhasil meloloskan diri hingga akhirnya wafat dan menetap di Palembang Sumatra Selatan.

Dalam setiap aksi perlawanan tidaklah benar jika para anggota Pitung melakukan perampokan perampokan seperti yang dituduhkan fihak penjajah kafir. Anggota Pitung tidak melakukan perampokan seperti caranya Robin Hood, mereka semua adalah santri dan ulama, jadi bohong besar jika ada yang mengatakan kalau mereka adalah segerombolan perampok.  Gambaran Pitung yang sering dikatakan kebal atau pemegang ajian rawa rontek atau penyuka jimat juga tidak benar!, karena ternyata pada kenyataannya beberapa anggota Pitung banyak yang gugur syahid. Diantara anggota Pitung yang gugur Syahid itu yaitu Ratu Bagus Roji’i Mertakusuma (Dji’i), Ratu Bagus Muhammad Ali (Ali Perang atau Macan Petamburan), Ratu Bagus Sholihun bin Nafiun. Ketiga Anggota Pitung ini memang gugur dalam melakukan perlawanan terhadap penjajah kafir, Dji’I tewas tertembak, Sholihun yang terkenal  paling militan (dia bahkan terkenal Selon) juga gugur tertembak, sedangkan Muhammad Ali Perang  yang terkenal akan keberanian dan kependekarannya juga gugur tertembak, setelah gugur kepala dan badannya dipisah oleh fihak penjajah kafir. Karena khawatir kalau tubuhnya masih satu beliau bisa hidup lagi (ini jelas cerita menyesatkan ala penjajah kafir, sebab Muhammad Ali Perang ini seorang ulama yang tidak mengamalkan ilmu-ilmu yang aneh). Penjajah kafir ini sepertinya memang sangat membenci sosok Muhammad Ali Perang ini karena memang beliau ini sosok yang tidak kenal kompromi, perang adalah jalan keluar dalam menghadapi penjajah, tidak ada itu kata damai dan kerjasama dengan Penjajah Kafir, bahkan Muhammad Ali Perang ini pernah memergoki kerjasama bisnis haram antara seseorang yang dia kenal baik dengan fihak Penjajah kafir, Muhammad Ali ini bahkan berapa kali menggagalkan usaha Penjajah untuk melakukan penindasan dan juga berhasil merusak bisnis haram para penjajah kafir. Muhammad Ali Perang memang terkenal keras dan benci pada penjajah kafir, lebih benci lagi jika ia dengar ada pribumi betawi mau kerjasama dengan  Penjajah kafir itu. Bagi mereka orangtua yang asli Petamburan yang usianya kini 80 tahun keatas, nama Muhammad Ali Perang dari Petamburan, Insya Allah masih diingat karena kegigihannya dalam melawan penjajah.  3 orang tersebut memang telah gugur dan mati syahid, sedangkan Pitung-Pitung yang lain banyak yang lolos. Justru Pitung Pitung yang paling dicari Penjajah kafir Belanda itu masih terus bergerak dibawah tanah. Dan itu terus berlangsung sampai pada masa kemerdekaan.

Salah satu anggota Pitung yang paling dicari Penjajah adalah KH .Ratu Bagus Ahmad Syar’ie Mertakusuma atau terkenal dengan panggilan BABE BETAWI & ANAK RAWA BELONG. Beliau inilah sosok yang justru dianggap berbahaya, beliau dianggap berbahaya karena disamping sebagai ulama, beliau juga pandai menggelorakan semangat perlawanan jihad dan juga orang yang sangat faham dengan sejarah JAYAKARTA yang asli. Beliau sendiri rajin mencatat setiap pergerakan pergerakan yang dilakukan oleh keluarga besar Aria Jipang dan keluarga Jayakarta lainnya. Dan ini adalah merupakan warisan para leluhur beliau yang jdulunya uga rajin mencatat sejarah perjuangan mereka. Tidak heran pada tahun 1910 Masehi KH Ratu Bagus Ahmad Syar’ie Mertakusuma telah berhasil menerjemahkan Kitab Al Fatawi kedalam bahasa Melayu yang berisikan sejarah, silsilah dan adat istiadat Jayakarta. Pemakaian kata Jayakarta lebih digunakan, karena ini adalah merupakan bentuk wujud bahwa Jayakarta itu tidak pernah jatuh oleh kekuasaan Penjajah kafir, Jayakarta hanya bisa ditundukkan diwilayah Kota (dekat Museum Fattahillah, Pelabuhan Sunda Kelapa dan sekitarnya), sedangkan wilayah Pedalaman Jayakarta, perlawanan masih terus dilakukan sampai masa kemerdekaan. Dan bintang dari semua itu adalah GERAKAN PITUAN PITULUNG atau PITUNG.

Jadi sudah jelas PITUNG adalah Organisasi Perlawanan yang terdiri dari para  Keturunan Aria Jipang, Pitung jelas bukan sosok satu orang, tapi banyak, sebagai sebuah organisasi bawah tanah, sudah jelas keberadaan sejarah dan serta para anggotanya tidak bisa diberitahukan secara terbuka pada masa itu, karena kalau dilakukan secara terbuka, maka Anggota anggota Pitung lain bisa terlacak keberadaannya,  Kalaupun sekarang ini sejarah Pitung simpang siur, itu karena mereka yang menulis sejarah Pitung tidak mencari akar sejarah dan akar silsilah yang dimiliki tokoh tokoh pejuang ini. Pitung bukan legenda, Pitung adalah fakta sejarah, Pitung juga punya banyak keturunan, keturunan keturunan Pitung tersebut bahkan sudah tercatat dalam kitab nasab Al Mausuuah Li Ansaabi Al Imam Al Husaini. Nasab Keluarga Besar Pitung sampai saat ini sudah tercatat dengan rapi. Anggota Pituan Pitulung sampai saat ini keturunannya banyak menyebar ke berbagai wilayah Nusantara dan yang paling terbanyak adalah di Jayakarta. Pitung adalah pejuang dan mereka adalah bunga bunga harum  dari Bumi Jayakarta, bumi yang pernah dibangun bersama Fattahillah dengan nilai-nilai dakwah Islamiah, Bumi Jayakarta adalah “buminya” Para Pejuang Islam. Jayakarta adalah buminya Keluarga Besar para pejuang sejati

Sumber :

As-Sayyid Ratu Bagus Djaka Gunawan Mertakusuma Al Fattah Azmatkhan, Wangsa Aria Jipang di Jayakarta, Penerbit : Agraspress, 1986

As-Sayyid Bahruddin Azmatkhan & As-Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan, Al Mausuuah Li Ansaabi Al Imam AL Husaini, Penerbit : Majelis Dakwah Walisongo, 1918 - 2014 (terupdate)

As-Sayyid Iwan Mahmud Al Fattah Azmatkhan, Sejarah Aria Penangsang, Jakarta: Tulisan Pribadi,  2005.

Kamis, 05 Juni 2014

SEJARAH PERGERAKAN & KEORGANISASIAN DI JAYAKARTA (BETAWI) PERIODE 1909 S/D 1986

SEJARAH PERGERAKAN & KEORGANISASIAN DI JAYAKARTA (BETAWI) PERIODE 1909 S/D 1986

Oleh : Almarhum Ratu Bagus Djaka Gunawan Mertakusuma (Wangsa Aria Jipang), Dzurriyah Aria Penangsang di Bumi Jakakarta 

NO
NAMA TOKOH
ORGANISASI
JABATAN
TAHUN
KETERANGAN
1
KH.Ratu Bagus Ahmad Syar’ie Mertakusuma
a.Pituan Pitulung (PITUNG)
b. Kerukunan Kaoem Betawi
Ketua
1909 - 1926
Berpusat di Gang Sentul Pasar Baru Jakarta Pusat (Pasar Baru Timur)
2
R.B. M.H.Thamrin Mertakusuma
Kaoem  Betawi
Ketua Umum
1926 - 1943
Gerakan M.H. Thamrin lebih diutamakan terhadap Politik Nasional dan Pemerintahan Batavia/Volksraad, maka kemimpinan Kaoem Betawi dilaksanakan oleh Muhammad Royani.
3
R.B. Muhd. Royani Mertakusuma
Kaoem Betawi
Sekretaris
1935 - 1943
Membantu perjuangan dari M.H. Thamrin
4.
R.B. Abdul Majid Asmuni bin R.B. Ahmad Syar’ie Mertakusuma & Radin Muhammad Masri VII (wafat 1963)
Pemangku Adat Jayakarta
Wali Gusti Bandahara
1926 - 1943
Mewakili Gusti Khalifah VII (yang bermukim dan hijrah ke Palembang Sum-Sel)
5
Radin Muhammad Said Jayalelana Mertakusuma ,  makam di Cimanggis, Jalan Raya Bogor (depan malaktek)
Pemangku Adat Jayakarta
Gusti Khalifah Jagabaya VII
1926 - 1943
Melaksanakan kemimpinan langsung di Masyarakat, Berpusat di Krekot Gang Kartini, Lautze Pasar Baru Utara
6
Muntaco bin Tinggal (wafat tahun 1979)
Keroekoenan Kaoem Betawi Soenda Kelapa
Ketua
1943 - 1949
Berpusat di Gang Masjid Kampung Sentiong. Kegiatan diadakan di Kampung Sentiong (kini jalan Kramat Sentiong) karena rumah M.H.Thamrin di Gang Kenari Jakarta Pusat telah dibobol oleh fihak Belanda
7
Muhammad Nafis
Keroekoenan Kaoem Betawi
Ketua Pengganti Keroekoenan Kaoem Betawi tanpa memakai istilah “Soenda Kelapa”
-
Istilah Soenda Kelapa bermaksud sebagai manifestasi kepribadian Pribumi, sehingga pada masa itu Warga Negara Asing tidak boleh masuk dikarenakan belum ada kewarganegaraan
8
Drs. Ir. Muhammad Tasli Nafis
Perkumpulan Anak Betawi (P.A.B)
Ketua
1949 - 1954
Berpusat dirumah Muhammad Tasli Nafis
9
Muhamad Tasli Nafis
Kebangkitan Usaha Anak Jakarta (KUAD)
Ketua Umum
1954 - 1961
Berpusat dirumah Haji Suwandi Gang Paseban Jakarta Pusat
10
Ratu Bagus Muhammad Nur bin Ratu Bagus Yudakusuma Mertakusuma (Wangsa Aria Jipang)
Ikatan Warga Djayakarta Aria (Iwarda)
Ketua Umum
1954 - 1986
Persatuan para keturunan/Persaudaraan Kaum betawi
11
Muhammad Yusuf banjar
Persatuan Anak Djakarta Raya (PADJAR)
Ketua Umum
1954 -1968
Organisasi Politik, berpusat Jalan Banyumas Menteng Jakarta Pusat
12
Haji Muzaini Ramli
Persatuan Anak Djakarta Raya (PADJAR)
Ketua I/Pelaksanan Organisasi
1966 -1968
“Task Force” Anshor Pangeran Jayakarta.
13
Dr. Abdullah Hasan
Perhimpunan  Kebaktian Djakarta (PKD)
Ketua Umum
1954 - 1960
Organisasi Sosial Budaya
14
Muh. Sobri Husin
Perhimpunan  Kebaktian Djakarta (PKD)
Ketua PKD
1960 -1964

15
Drs. Hamami
Persatuan Pemuda & Pelajar Djakarta (PPPD)
Ketua Umum
1954 -1960

16
Muhammad Sholeh Hadjli
Persatuan Pemuda & Pelajar Djakarta (PPPD)
Ketua
1960 -1965

17
Aziz Saleh & Muhammad Nafis Tadjri
Yayasan MH.Thamrin
Ketua Umum
Pelaksanan Ketua yayasan
1958 - 1979

18
Muhamma Aseni
Lima Rumpun Sedapuran
Ketua Umum
1958 - 1986
Organisasi Kerukunan Warga antar Persaudaraan Keturunan Syuhada/Para Pangeran Jayakarta
19
Ratu Bagus Djaka Gunawan Mertakusuma
Iwarda
Ketua Umum
1961 - 1970

20
Drs.Muhammad Tasli Nafis
Yayasan Djakarta Unija (Universitas Djakarta)
Ketua Yayasan
1961 -1980
-  Penyelenggara Unija
- Penyelenggara SMEA/SMP Tangeran & Kalideres
21
Drs. Asmawi Manaf SH
Djakarta
Ketua Umum
1985  dan seterusnya
Mengkoordinir “Ikatan Keluarga KAUM BETAWI”
22
Radin Muhammad Nur bin Abdul Karim bin Daim Nitikusuma VI
Iwarda
Ketua Umum
1970 - 1975
Merintis Kaum Betawi dalam organisasi politik Golkar
23
Ratu Bagus Djaka Gunawan Mertakusuma
Iwarda
Ketua Umum
1975 – 1980
1980  - 1983
Mempersatukan Kaum Betawi dalam Organisasi Politik Golkar
24
Haji Effendi Yusuf
Bamus Betawi (Badan Musyawarah Organisasi Masyarakat Betawi)
Ketua Umum
1981 - seterusnya
Organisasi Federasi dari 14 organisasi Kaum Betawi
25
Haji Muhammad Aseni
Iwarda
Ketua
1983 -seterusnya
-Organisasi Masyarakat Ibukota DKI Jakarta
-Sebelum itu meliputi Kawasan Jayakarta  (Kotif Depok, Kotif Tangerang dan DKI Jakarta)
26
Muhammad Zain Safri
Persatuan  Keluarga Jakarta Raya (Perkedjar)
Ketua Umum
1958 - 1964
Berpusat di Kampung Keramat Pulo, kemudian pindah di Petamburan rumah Husin Sani
27
Ratu Bagus Djaka Gunawan Mertakusuma
Yayasan Djakarta Al Fatawi
Ketua Umum
1954 - 1964
Menyelenggarakan kegiatan sekolah SMP/SMA Jayakarta dengan Kepala Sekolah Drs. Raden Yuyun Padmadirja
28
Ratu Bagus Djaka Gunawan Mertakusuma
Yayasan Al Fatawi Mangkudat
Ketua Umum
1983 - 1986
Kelanjutan Yayasan Jayakarta Al Fatawi, Penyelenggara Pemangku Keadatan Jayakarta
29
Radin Haji Abi Jamroh
Yayasan Al Fatawi
Ketua Umum
1986 – dan seterusnya
Memindahkan Keluarga besar Betawi Keturunan Asli dari daerah Tanah Tinggi (kini namanya Pacuan Kuda Pulo Mas di tahun 1972 ke Kayu Putih Utara dan Kayu Putih Selatan, dan kemudian bersama sesepuh yang lain mendirikan Masjid Al Ghoni  serta memindahkan makam Datuk Qidam (Pendiri Pondok Pesantren Pertama di Tanah Tinggi Jayakarta)






30
Chairullah Halim
Pusaka Djakarta
Ketua Umum
1958 - 1977
Kelanjutan dari PKD & PPPD
31
Daeng Muhammad Husin Umar
Persatuan Anak Betawi
Ketua Umum
1968 - 1981
Kelanjutan PAB dari Drs .Ir Tasli Nafis, Pusat di Jatinegara
31
Yaqub Rustam Effendi (wafat tahun 1974)
Ikatan Budayawan Nasional Djakarta Asli (IBUNDA)
Ketua Umum
1962 - 1974

32
Muhammad Nafis Tadjri
Dr.ATje Mulyadi
Rusdi Saleh
Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB)
Ketua Umum
1977 – dan seterusnya
Kebudayaan Batavia, hasil Pra Lokakarya tahun 1976
32
Drs Idris Mansyuri
Persatuan Pemuda & Pelajar Betawi
Ketua Umum
1966 - 1983
Penggerak Angkatan 66
Kelanjutan LPPD
33
H.W. Salamoen
Ikrar Kaum Betawi
Ketua Umum
1966 - 1986

34
Abdul Hamid Alwi
Organisasi anak Djakarta Asli (ANDA)
Ketua Umum
1964 –  1986

35
Haji Habibullah Halim
Persatuan Masyarakat Jakarta MH Thamrin (PERMATAN MHT)
Ketua Umum
1977  - 1986
Organisasi Massa Jakarta
36
Drs. Maulana Said
Kumpulan  Kite Kerukunan Masyarakat Jakarta
Ketua Umum
1978 - 1986
Yayasan
37
Drs. Arsani
Keluarga Besar Mahasiswa Betawi (KMB)
Ketua Umum
1972 s/d 1986
Organisasi Kemahasiswaan
38
Ny. Hajjah Emma Agus
Pers Wanita Betawi (PWB)
Ketua Umum
1983 - 1986
Organisasi Kewanitaan
39
Haji Nuri Tahir
Yayasan Sunda Kelapa
Ketua Umum
1984 - 1986
Organisasi Masyarakat Wiraswasta Betawi
40
Drs Haji Asmawi Manaf
Yayasan Ad-Non
Ketua Yayasan
1984 -  1986
Organisasi Pagelaran Kesenian Betawi
41
Ny. Nini Bowo
IKatan Keluarga Djakarta Asli (IKEDA)
Ketua Umum
1984 s/d 1986