Minggu, 14 September 2014

PENDIRI PONDOK PESANTREN TEGALSARI JETIS PONOROGO

Oleh : Adi Sucahyono Azmatkhan (Dzurriyah Kyai Ageng Besari)

Ada yang mengatakan kalo pesantren tegalsari adalah pesantren tertua dikota Reog Ponorogo,dibalik Kebesaran pesantren tersebutlah nama seorang Alim Ulama yang berdakwah di daerah ponorogo dan sekitarnya. Pesantren Tegalsari didirikan oleh Kyai Ageng Muhammad Besari setelah beliau selesai nyantri pada Kyai Ageng Donopuro saudara Pangeran Sumende keturunan Sunan Tembayat serta menikahi putri Kyai Noer Salim keturunan Kyai Dugel Kesambi Nglupeng Slahung Ponorogo.
Setelah mendapat ijin dari Gurunya Kyai Ageng Donopuro, untuk membuka tanah disekitar desa Jetis Tegalsari Ponorogo ( sekarang ini ) dan mendirikan Masjid sebagai sarana tempat ibadah dan dakwah, seiring waktu berjalan dan semakin lama Kyai Ageng Muhammad Besari dikenal sebagai seorang yang alim berilmu tinggi, berbudi luhur dan bijaksana hingga dikenal dari desa kedesa sampai ke daerah lain, seningga semakin banyak para pemuda yang ingin nyantri kepada beliau.
Dalam berdakwah untuk syiar Islam beliau mencontoh gurunya Kyai Ageng Donopuro, orang tuanya, serta para alim ulama sholihin sebelumnya, yaitu mengedepankan ahlaqul karimah serta kasih sayang pada yang menderita dan membutuhkan, setelah beliau wafat tgl 12 Selo 1165 H/ pada tahun 1747 masehi dakwah belaiu diteruskan oleh anak keturunanya hingga sekarang ,sehingga kota Ponorogo sekarang selain dikenal sebagai kota santri dengan Pesantren Gontornya yang dikenal hingga ke negara tetangga ( ASEAN ).
Diantara semua murid Kyai Ageng Muhammad Besari yang paling berprestasi dan dianggap mampu mengikuti jejak langkah beliau adalah Syekh Basyariah/Bagus Harun dari trah Keturunan Panembahan Senopati Ingalogo mataram, Bagus Harun selain nyantri, beliau bertugas menyiapkan segala keperluan sehari-hari ( Khodam Pribadi ) Kyai Ageng Muhammad Besari. Syekh Basyariyah pendiri /cikal bakal desa Sewulan-Dagangan Caruban Madiun, diantara keturunan Syekh Basyariyah adalah mantan menteri Agama Maftuh Basuni.
Pada saat Sinuhun Kartasura II/Sunan Kumbul terusir dari Keraton akibat pemberotakan orang cina yang dipimpin oleh Sunan Kuning/Raden Mas Garendi, hingga bertemu dengan Kyai Ageng Muhammad Besari dan mendapat pertolongan beliau yang pada ahirnya para pemberontak dapat diusir keluar keraton dan Sinuhun Sunan Kumbul dapat pulang dan berkuasa kembali. Sebagai tanda jasa ahirnya Tanah Tegalsari dibebaskan dari pajak dan menjadi tanah perdikan hingga keturunan belaiu selanjutnya.
Nasab Beliau adalah sebagai berikut :
1. Sayyidina Muhammad Rasulullah SAW
2. Sayyidah Fatimah Azzahra
3. Sayyidina Al Imam Husein As-Shibti
4. Al Imam Ali Zaenal Abidin/Ali Al Ausath
5. Al Imam Muhammad Al Baqir
6. Al Imam Jakfar Shodiq
7. Al Imam Ali Al Uraidhi
8. Al Imam Muhammad An-Naqib
9. Al Imam Isa Ar-rumi
10. Al Imam Ahmad Al Muhajir
11. Al Imam Ubaidhilah/Abdullah
12. Al Imam Alwi Mubtakir/Alwi Al Awwal
13. Al Imam Muhammad Maula Ashouma’ah
14. Al Imam Alwi Shohib Baitu Jubair/Alwi Atsani
15. Al Imam Ali Kholi’Qosam
16. Al Imam Muhammad Shohib Marbath
17. Al Imam Alwi Ammul Faqih
18. Al Imam Abdul Malik Azmatkhan
19. As-Sayyid Al Amir Abdullah Azmatkhan
20. As-Sayyid Sultan Ahmad Syah Jalaluddin Azmatkhan
21. As-Sayyid Husein Jamaluddin Jumadil Kubro Azmatkhan I
22. As-Sayyid Ali Nurul Alam Azmatkhan/Maulana Malik Israil/Sultan Qonbul/Arya Gajah Mada
23. As-Sayyid Sultan Abdullah Umdatuddin Azmatkhan/Syarif Abdullah/Wan Bo Teri teri/Sultan Champa
24. As-Sayyid Hasan Azmatkhan/Raden Fattah/Sultan Syah Alam Al Akbar Sayyidin Panatagama/Sultan Demak I
25. As-Sayyid Abdurrahman Azmatkhan/Sultan Ahmad Abdul Arifin/Sultan Trenggono/Sultan Demak III
26. As-Sayyid Mukmin/Sunan Prawoto
27. As-Sayyid Musthofa/Pangeran Wirasmara
28. As-Sayyid Ahmad Dinnar/Pangeran Demang/ Ratu Djalu
29. As-Sayyid Zainal Arifin/Ki Ageng Jenggolo/Raden Demang
30. As-Sayyid Abdul Mursyad/Ki Ageng Tukum/Raden Gajah Gamada
31. As-Sayyid Ali Anom Besari/Ki Ageng Gerabahan/Raden Neda Kusuma
32. As-Sayyid Muhammad Besari/Ki Ageng Tegalsari


Masjid Tegalsari setiap saat tanpa batas waktu selalu ramai orang datang untuk berziarah terutama pada hari malam Jum’at dan pada saat 10 hari terahir bulan Ramadhan, mulai dari warga tempatan atau warga lokal Ponorogo hingga luar daerah, layaknya tempat-tempat wisata religi lainnya seperti makam para walisongo dan makam para aulia yang lain, selain Masjid dan pesantren sisa peninggalan yang tersisa saat ini Bangunan Rumah beiau.
Setiap tahun haul Kyai Ageng Muhammad Besari pendiri Masjid dan Pesantren Tegalsari selalu diperingati , yang biasanya jatuh bulan september, mulai tahun 2013 haul diselenggarakan secara besar-besaran oleh Pemda Kota Ponorogo dengan mengundang para alim ulama,habaib serta pejabat daerah.


Sumber :


1. Buku Sejarah/Manaqib Kyai Ageng Muhammad Besari oleh Kyai Muhammad Purnomo.
2. As- Sayyid Bahruddin bin Abdurrozaq Azmatkhan dan As-Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan Al Hafidz, dalam Kitab Al Mausuu’ah Li Ansaabi Al Imam Al Husaini , Halaman 625 Edisi 24 jilid 1 tahun 2014, jakarta, Penerbit : Majelis Dakwah Walisongo.

SAYYID ZAINAL ABIDIN AZMATKHAN HIJRAH DARI TEGALSARI HINGGA KE NEGERI SELANGOR

Oleh : As-Sayyid Adi Sucahyono Azmatkhan

Namanya nasib seseorang siapa yang tahu, jika Allah SWT telah berkehendak untuk mengangkat derajat hambanya, apa yang terjadi menimpa pada seseorang yang menurutnya buruk belum tentu dibalik peristiwa tersebut juga menimbulkan penderitaan bagi dirinya, bahkan mungkin sebaliknya justeru mendatangkan kebaikan, kebahagian dan anugerah besar bagi kehidupan seorang hamba tersebut, sehingga seolah olah segala sesuatu yang dilakukannya hanya main-main tanpa disadari, tetapi mengubah hidupnya secara drastis, tersebutlah seorang pemuda yang bernama “ Zainal Abidin “, dari desa Jetis Tegalsari Ponorogo yang hatinya hancur akibat kegagalan perjodohanya dengan puteri bungsu Tumenggung Cangkring Pacitan.
Kejadian itu bermula dari kedatangan Tumenggung Cangkring Pacitan ke kediaman Ki Ageng Tegalsari yang hendak menjodohkan Putri Bungsunya dengan salah seorang putra lelaki dari Kyai Ageng Tegalsari, dikarenakan keingonan Puteri bungsunya yang jika hendak disuruh menikah mohon dinikahkan dengan salah seorang putra lelaki Kyai Ageng Tegalsari. Sebenarnya Kyai Ageng Tegalsari hendak menjodohkan Putranya yang bernama “ Zainal Abidin “, yang wajahnya tidak tampan dan perawakanya juga tidaklah tinggi, dengan Putri Bungsu Tumenggung Cangkring Pacitan, dengan syarat Zainal Abidin datang sendiri untuk datang melamar ke kediaman Tumenggung Cangkring Pacitan, dikarenakan kondisi wajah dan perawakanya “ Zainal Abidin “, merasa minder untuk datang melamar, sehingga memohon kepada ayahnya Kyai Ageng Tegalsari, supaya kakaknya “ Muhammad Ilyas “ yang datang mewakili dirinya untuk datang melamar putri Tumenggung Cangkring.
Setelah kembali dari kediaman Tumenggung Cangkring Pacitan “ Muhammad Ilyas “ datang menghadap kepada ayahnya, dan menceritakan pertemuannya dengan Tumenggung Cangkring Pacitan dan Puteri Bungsunya yang cantik jelita, bahwasanya 40 hari berikutnya adiknya “ Zainal Abidin “, supaya datang untuk melaksanakan pernikahan. 
Singkat cerita “ Zainal Abidin “, datang dengan diantar oleh para santri yang tidak sedikit jumlahnya dan kelihatan meriah sekali di iringi tabuhan rebana dengan membaca maulid disepanjang jalan, setelah sampai di kediaman Tumenggung Cangkring rombongan penganten pria, dipersilahkan untuk istirahat di pondokan yang telah disediakan.

Setelah mengetahui Pengantin Pria bukanlah yang datang melamar tempo hari, Puteri Bungsu Tumenggung Cangkring menolak untuk dinikahkan dengan “ Zainal Abidin “, tetapi mohon dinikahkan dengan yang datang untuk melamarnya , yaitu “ Muhammad Ilyas “, sehingga akhirnya diputuskan Penganten Pria adalah “ Muhammad Ilyas “, kakaknya. Mengetahui penolakan tersebut alangkah kecewanya perasaan “ Zainal Abidin “ menanggung malu sebagai laki-laki sampai ditolak oleh seorang wanita, sehingga akhirnya Zainal Abidin melarikan diri pulang kembali kerumah dan menceritakan kejadian tersebut kepada ayah bundanya, Kyai Ageng Tegalsari, menasehati agar bersabar dan bersyukur dengan diberikan ujian berat seperti itu.
Ketika acara “ nguduh mantu “ kedua penganten datang ke kediaman Kyai Ageng Tegalsari, Zainal Abidin tidak mau menampakan diri, malah bersembunyi di rumah kakaknya Ishak, yang tinggal di daerah Coper untuk beberapa waktu lamanya, kemudian Zainal Abidin menceritakan kejadian yang dialaminya dan juga keinginannya, untuk pergi dari rumah untuk melaksanakan Ibadah Haji dengan ditemani kakaknya Ishak Coper.
Sebagai saudara lelaki yang lebih tua dan menyayangi adiknya, Ishak Coper menyarankan untuk bersabar dalam menerima ujian dan mengurungkan niatnya untuk pergi dari rumah. Akan tetapi tekad Zainal Abidin sudah bulat dan tidak dapat dicegah lagi, sehingga Ishak Coper menyarankan kembali ke rumah untuk meminta restu ayah bundanya dan bekal untuk bisa sampai ketempat tujuan.

Sesampai dirumah, Zainal Abidin melihat kedua orang tuanya sedang bercengkerama diberanda depan rumah, dengan mengucapkan salam Zainal Abidin duduk menemani ayah bundanya, dan menyampaikan niat hajatnya untuk pergi ziarah haji bersama kakaknya Ishak Coper, Kyai Ageng Tegalsari dengan berat hati mengatakan bahwasanya beliau bukanlah pedagang dan saudagar besar yang punya kapal layar, akan tetapi kerjanya sehari hari cuma mengajar para santri, bagaimana mampu memberi bekal berdua untuk ziarah Haji bersama kakaknya. Zainal Abidin tidak menjawab dan merasa iba kepada kedua ayah bundanya serta mohon pamit untuk kembali ke rumah kakaknya Ishak coper. . Sesampai dirumah Kakaknya Zainal Abidin langsung melapor dan menceritakan apa yang dia dengar dari ayah bundanya, akan tetapi kakaknya Ishak Coper memaksa Zainal Abidin agar kembali kerumah menemui ayah bundanya minta bekal dan harus punya.
Zainal Abidin kembali menghadap ayah bundanya serta mengulangi permintaannya kembali agar diberikan uang saku secukupnya untuk dapat berangkat Ziarah Haji, Kyai Ageng Tegalsari merasa iba serta bangga atas tekat anaknya yang demikian besar untuk dapat berangkat Ziarah Haji ke Makkah, sehingga Kyai Ageng Tegalsari akhirnya mengabulkan permintaannya serta menanyakan kapan hari keberangkatannya, untuk kemudian datang kembali ke rumah mengambil uang saku. Sesampai pada hari yang dijanjikan Zainal Abidin dan Ishak Coper keduanya berangkat menemui ayah bundanya ke Tegalsari. Ketika sampai di rumah keduanya melihat ayahnya Kyai Ageng Muhammad Besari sedang menyelesaikan Sholat Sunnat sehingga menunggu sampai selesai. Kyai Ageng Muhammad Besari untuk kemudian menemui dan menanyakan perihal kepastian keberangkatannya, serta menyuruh keduanya untuk mengambil bekal yang ada dibawah Pasujudan untuk segera diambil, kalau ada emasnya ambilah secukupnya sebagaimana perintah ayahnya Kyai Ageng Muhammad Besari.
Singkat cerita setelah menyelesaikan Ibadah Haji, ziarah kepada para ulama, serta belajar kepada mereka, keduanya lalu pulang untuk kembali ke Kampung Halaman Tegalsari – Ponorogo, dalam perjalanan pulang kapal yang mereka tumpangi singgah di Pelabuhan Selangor Malaya, selama 7 hari. Keduanya kemudian menyempatkan waktu untuk turun ke darat melihat suasana kota Selangor yang ramai sebagai kota Pelabuhan perdagangan dan Maritim yang cukup besar kala itu. Sepekan dikota Selangor tak terasa Kapal yang mereka tumpangi bersiap angkat jangkar untuk melanjutkan perjalanan kembali ke Pulau Jawa, Ishak Coper memanggil adiknya Zainal Abidin untuk lekas naik ke Kapal yang segera akan berangkat, sedangkan layar sudah terkembang tertiup angin, kapal mulai bergerak perlahan bersiap meninggalkan Bandar Pelabuhan Selangor. Zainal Abidin menjawab ajakan kakaknya Ishak Coper, dan menyampaikan bahwasanya dia tidak akan kembali ke Tanah Jawa, tetapi dia akan tinggal dan menetap dinegeri Selangor saja, juga mohon disampaikan kepada ayah bundanya agar diberikan tambahan do’a restu agar supaya cita – citanya merantau dinegeri Selangor dapat tercapai dengan baik dan selamat. Mendengar jawaban adiknya Ishak Coper hanya bisa terdiam dan tidak dapat berbuat apa – apa hanya lambaian tangan adiknya yang semakin lama semakin jauh hilang dari pandangan mata meninggalkan Bandar Pelabuhan selangor.
Zainal Abidin selama di negeri Selangor untuk beberapa waktu lamanya tinggal dan i’tikaf di dalam Masjid Kota, hingga berbulan bulan lamanya. Pada suatu ketika puteri Sultan Selangor sedang menderita sakit yang kian hari bukannya bertambah baik, akan tetapi semakin berat saja sakitnya, sudah banyak tabib dari penjuru negeri dipanggil untuk mengobati sakit puteri sultan, tetapi belum juga ada hasil untuk menyembuhkanya. Akhirnya Sultan Selangor mengadakan sayembara untuk disampaikan kepada seluruh halayak rakyat negeri Selangor dan sekitarnya tanpa pandang bulu, kepada siapa saja yang dapat menyembuhkan putri sultan dari sakitnya, jika lelaki akan diangkat menjadi menantu, dan jika perempuan akan diangkat menjadi anak puteri Sultan Selangor.Sudah banyak para Tabib cerdik pandai nan bijaksana yang datang untuk mengikuti sayembara, akan tetapi belum ada satupun yang berhasil dan dapat menyembuhkan puteri dari sakit yang diderita selama ini.
Suatu pagi sehabis sholat shubuh Zainal Abidin yang sudah beberapa bulan belum pernah meninggalkan masjid ( I’tikaf ), mempunyai keinginan untuk dapat keluar melihat – lihat keadaan suasana diluar masjid, sesampai diluar pintu gapura dan mulai menyusuri jalan, Zainal Abidin mendengar berita bahwa puteri sultan Selangor sedang menderita sakit yang belum juga kunjung sembuh, meski sudah banyak Tabib baik pria maupun wanita, yang datang, untuk dapat mengupayakan kesembuhan bagi sang puteri Sultan. Zainal Abidin meneruskan langkahnya menyusuri jalan menuju Istana Sultan, untuk dapat mengahadap serta menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya, Sultan Selangor mempersilahkan dan mengantarkan Zainal Abidin ketempat peristirahatan sang puteri. Zainal Abidin kemudian memeriksa beberapa bagian tubuh sang puteri guna memastikan penyebab penyakitnya dan juga obat yang akan diberikan, untuk kesembuhan sang puteri. 
Setelah sang puteri diobati Zainal Abidin, beberapa saat kemudian terjadi perubahan pada wajah sang putri yang semula pucat pasi kini perlahan mulai cerah merona, matanya yang semula hanya terpejam kini mulai terbuka meski masih sayu, dan perlahan tubuhnya yang lemah lunglai sedikit demi sedikit mulai dapat duduk dipembaringannya. Melihat tanda – tanda kesembuhan yang terjadi pada diri sang putri, Sultan Selangor merasa lega dan puas hati tak terkira, puja puji syukur kehahadirat Ilahi tak pernah lepas dari bibirnya, sehingga putri dapat sembuh dari penyakit yang diderita serta lepas dari maut.

Sebagai tanda rasa syukur kehadirat illahi Sultan mengajak seluruh rakyat negeri Selangor untuk dapat menghadiri acara tasyakuran atas kesembuhan puterinya, serta perhelatan walimatul nikah Sayyid Zainal Abidin Azmatkhan dengan puteri sultan, seluruh rakyat negeri bersuka cita menyambut mempelai berdua beserta keluarga Sultan yang tengah berbahagia. Selang beberapa tahun kemudian dikarenakan Sultan Selangor telah uzur karena usia tua dan mulai sakit-sakitan, sehingga akhirnya sulthan wafat, atas kesepakatan keluarga besar dan wasiat Sulthan Selangor, Sayyid Zainal Abidin Azmatkhan diangkat menjadi Kerabat dekat Kesultanan Selangor. Di dalam Kitab Al Mausuu’ah Li Ansaabi Al Imam Al Husaini, Sulthan Selangor mempunyai tiga orang Puteri dan yang menggantikan menjadi Sulthan Selangor adalah Zainal Abidin Bin Ibrahim, bukan Zainal Abidin Bin Muhammad Besari Azmatkhan.
Nasab Beliau adalah sebagai berikut :
1. Sayyidina Muhammad Rasulullah SAW
2. Sayyidah Fatimah Azzahra
3. Sayyidina Al Imam Husein As-Shibti
4. Al Imam Ali Zaenal Abidin/Ali Al Ausath
5. Al Imam Muhammad Al Baqir
6. Al Imam Jakfar Shodiq
7. Al Imam Ali Al Uraidhi
8. Al Imam Muhammad An-Naqib
9. Al Imam Isa Ar-rumi
10. Al Imam Ahmad Al Muhajir
11. Al Imam Ubaidhilah/Abdullah
12. Al Imam Alwi Mubtakir/Alwi Al Awwal
13. Al Imam Muhammad Maula Ashouma’ah
14. Al Imam Alwi Shohib Baitu Jubair/Alwi Atsani
15. Al Imam Ali Kholi’Qosam
16. Al Imam Muhammad Shohib Marbath
17. Al Imam Alwi Ammul Faqih
18. Al Imam Abdul Malik Azmatkhan
19. As-Sayyid Al Amir Abdullah Azmatkhan
20. As-Sayyid Sultan Ahmad Syah Jalaluddin Azmatkhan
21. As-Sayyid Husein Jamaluddin Jumadil Kubro Azmatkhan 
22. As-Sayyid Ali Nurul Alam Azmatkhan/Maulana Malik Israil/Sultan Qonbul/Arya Gajah Mada
23. As-Sayyid Sultan Abdullah Umdatuddin Azmatkhan/Syarif Abdullah/Wan Bo Teri teri/Sultan Champa
24. As-Sayyid Hasan Azmatkhan/Raden Fattah/Sultan Syah Alam Al Akbar Sayyidin Panatagama/Sultan Demak I
25. As-Sayyid Abdurrahman Azmatkhan/Sultan Ahmad Abdul Arifin/Sultan Trenggono/Sultan Demak III
26. As-Sayyid Mukmin Azmatkhan/Sunan Prawoto
27. As-Sayyid Musthofa Azmatkhan/Pangeran Wirasmara
28. As-Sayyid Ahmad Dinnar Azmatkhan/Pangeran Demang/ Ratu Djalu
29. As-Sayyid Zainal Arifin Azmatkhan/Kyai Ageng Jenggolo/Raden Demang
30. As-Sayyid Abdul Mursyad Azmatkhan/Kyai Ageng Tukum/Raden Gajah Gamada
31. As-Sayyid Ali Anom Besari/Kyai Ageng Gerabahan/Raden Neda Kusuma
32. As-Sayyid Muhammad Besari Azmatkhan/Kyai Ageng Tegalsari/Kyai Hasan Besari I
33. As-Sayyid Zainal Abidin

Sayyid Zainal Abidin Azmatkhan dilahirkan di Tegalsari Desa Jetis Ponorogo Jawa Timur, sekitar awal permulaan abad ke 17 masehi dalam pernikahan dengan putri Sultan Selangor beliau mendatkan dua orang putra, yang bernama antara lain ;
1. As-Sayyid Muhammad Muhyi Azmatkhan ( Kerabat Kesulthanan Selangor )
2. As-Syarifah Aisah Azmatkhan ( Kerabat Kesulthanan Johor ).

Kalaulah kita memahami sejarah ahlul bait terutama para keturunan Walisongo Azmatkhan, maka tidaklah mengherankan bahwa diaspora keturunan mereka begitu cepat menyebar ke berbagai belahan Nusantara bahkan Dunia, dikarenakan semangat Penjelajahan, Perdagangan dan Dakwah mereka telah meresap hingga ketulang sumsum yang tentunya genenetika sifat tersebut akan terus mengalir kepada darah keturunanya hingga saat ini, juga tidaklah mengherankan jika sekarang ini khususnya penduduk Kota Selangor dan kota Johor banyak bermukim yang asal usul orang tua mereka dari daerah kota Ponorogo Jawa Timur, sehingga ahirnya kesenian “ Reog Ponorogo “ telah menjadi bagian kesenian dan kebudayaan Jawa dari kehidupan mereka sekarang ini.
Wallahu’alam bi showab
Sumber :
1. Buku Sejarah/Manaqib Kyai Ageng Muhammad Besari oleh Kyai Muhammad Purnomo.
2. As - Sayyid Bahruddin bin Abdurrozaq Azmatkhan dan As-Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan Al Hafidz, dalam Kitab Al Mausuu’ah Li Ansaabi Al Imam Al Husaini , Halaman 625 Edisi 24 jilid 1 tahun 2014, jakarta, Penerbit : Majelis Dakwah Walisongo.

KHATAMAN DI MASJID ANGKE JAKARTA BARAT, MASJID BERSEJARAH KELUARGA BESAR AZMATKHAN JAYAKARTA


Seperti biasa setiap tahun, saya selalu melakukan sebuah kegiatan "petualangan religi" dalam pelaknaan puasa Ramadhon, setiap tahun saya selalu melakukan kegiatan khataman Al Qur'an disebuah tempat yang menurut saya memiliki nilai arti yang besar bagi umat Islam khususnya untuk keluarga besar Azmatkhan. Jika pada tahun lalu saya melakukan Khataman Al Qur'an Di Syekh Quro Karawang Jawa Barat, kini tahun ini saya melakukan "ritual" itu di Masjid Angke Jakarta Barat. Masjid Angke sendiri sepengetahuan saya adalah Masjid Yang cukup bersejarah di Jakarta, bahkan sebelum masjid ini berdiri, daerah ini adalah merupakan basis perlawanan di Front Barat dalam melawan penjajahan Belanda (VOC). Ditempat inilah banyak pahlawan pahlawan Jayakarta, termasuk keluarga besar Azmatkhan dari Kesultanan Demak, Banten, Cirebon, dll. Saya sendiri mengakui, kepedulian akan sejarah Masjid yang satu ini baru muncul belakangan ini setelah membaca buku yang ditulis keluarga besar Babe Gunawan Martakusuma Azmatkhan. Budayawan Jayakarta yang wafat pada tahun 1999.

Kegiatan Khataman Al Qur'an di  Masjid Angke ini sebenarnya sudah lama ingin saya laksanakan, namun selama ini selalu terbentur waktu, oleh karena itu kemarin, dengan izin Allah saya bisa berkunjung ke Masjid yang bersejarah bagi keluarga besar Azmatkhan ini. Saya sendiri kemarin itu tidak ada niat ketempat ini, namun entah mengapa, ditengah jalan mendadak pikiran saya muncul ingin ketempat ini. Padahal kemarin itu cuaca kota Jakarta sangat panas sekali. Nyaris saja saya putus asa dan ingin memutuskan untuk kembali kerumah saja, namun karena tekad saya sudah bulat, akhirnya sampailah saya ditempat ini.

Jam 10.30 saya tiba dimesjid yang bersejarah ini. terus terang ketika pertama melihat bentuk masjid ini, saya cukup kaget dan ingatan saya langsung menuju ke Masjid Demak. Bentuk Mesjid Angke memang sangat mirip dengan Masjid Demak. Masjid ini bernama Masjid Al Anwar terletak di Jakarta Barat Indonesia. Pertama saya tiba di Masjid ini saya langsung mengadakan orientasi medan. Tempat yang pertama kali saya kunjungi adalah makam-makam keluarga besar Azmatkhan yang berada disebelah timur Mesjid (Didepan Masjid). Nuansa kuno langsung merebak dihati saya, apalagi bangunan bangunan makam masih banyak yang bernisankan batu batu kuno jaman dahulu. Setelah orientasi medan di Makam Angke tersebut, saya memutuskan untuk masuk ke masjid untuk khataman.

Suasana Masjid sangat sepi, tidak ada satupun orang disitu, kemudian akhirnya sayapun memulai membaca Al Quran. Saat saya membaca beberapa ayat, tiba-tiba ada seorang tua yang merupakan petugas kebersihan masjid yang cukup tua, si bapak tiba-tiba cerita kepada saya dengan hidupnya yang serba prihatin. Saya hanya mengangguk ngangguk saja. Bacaan Al Quran saya selesaikan sekitar jam 1 siang. Setelah khatam saya kemudian menuju makam yang disebelah timur. Di area makam, saya memutuskan untuk berziarah kesalah satu Waliyullah yang ada disana bernama Syekh Ja'far. Setelah berziarah dan berfoto foto saya bertemu dengan pengurus makam dan kemudian kami terlibat obrolan singkat yang menarik. beliau mengatakan kepada saya bahwa makam makam di angke sangat kuno dan ini terbukti dengan batu batu nisan yang masih asli dan kuno, sayangnya beliau mengatakan bahwa beliau kurang menguasai siapa saja yang dimakamkan ditempat itu. Oleh karena itu saya disarankan untuk berziarah di Makam sebelah barat (depan masjid Angke).

Setelah saya berfoto foto, kemudian saya melanjutkan ziarah ke makam yang ada didepan masjid. Makam yang paling menonjol adalah makam Syarif Hamid bin Abdurrahman Al Qodri dari Kesultanan Pontianak yang dibuang oleh Belanda ke Batavia (Betawi). Dimakam ini saya disambut dengan ramah oleh Juru Kunci yang bernama Pak Habib. Saya dipersillahkan untuk langsung berziarah. Saya berziarah di Makam Sultan Hamid. Hanya saja saat saya berziarah ada dua makam Sultan Hamid Al Qodri  yang membuat saya tertarik. Setelah sempat berfoto saya diterima Pak Habib dengan ramah. Diarea makam saya dan beberapa orang berbicara banyak, terutama Pak Habib saya banyak disuguhi data-data yang mengagetkan. Tanpa saya duga ternyata Pak Habib ini adalah keturunan dari tokoh terkenal dari Angke yang bernama Tubagus Angke, bahkan Pak Habib ini menjelaskan silsilah yang dia punya. rupanya Pak Habib ini adalah keturunan dari Tubagus Angke dari anak yang bernama Syekh Ahmad atau Pangeran Papak. Saya cukup kaget ketika mendengar nama Pangeran Papak ini, saya bertanya kepada beliau, "apakah pangeran papak ini yang dimakamkan di garut?" kata saya, ternyata menurut beliau, bukan, nama mereka memang mirip, tapi "kepapakan" mereka berbeda. Justru menurut beliau makam Pangeran Papak atau Syekh Ahmad ini berada di area Cengkareng Grand Jakarta Barat, bahkan makam Syekh Ahmad kurang terawat. Syekh Ahmad ternyata juga seorang Waliyullah. Dari keterangan Pak Habib ini saya baru tahu jika Tubagus Angke memiliki beberapa anak yang menjadi Waliyullah.

Orang-orang yang ada disekitar itu banyak yang kaget ketika Pak Habib bercerita tentang sejarah makam-makam yang ada disana. Bahkan ada beberapa orang yang baru tahu siapa saja yang dimakamkan disana, pernyataan pernyataan Pak Habib keluar setelah saya banyak bertanya. Pak Habibs mengatakan, bahwa pertanyaan saya detail, sehingga beliaupun menjawab dengan secara detail juga. Pak Habib memang sangat terbuka dengan informasi makam yang ada. saya sendiri juga  menjelaskan alasan mengapa datang kemari, saya katakan bahwa kedatangan saya kesini, karena ada beberapa keturunan dari Keturunan Arya Jipang Jayakarta yang dimakamkan di sekitar mesjid ini. Informasi ini saya dapatkan dari kitab Al Fatawi yang disusun oleh Keluarga besar dari Keluarga Besar Aria JIpang Jakarta. Memang Pak Habib kurang mengetahui info yang satu ini, namun karena sebagian makam banyak yang sudah hilang, maka sayapun akhirnya memaklumi. Sayang memang makam-makam  yang ada di area masjid angke banyak yang hilang karena tertelan zaman. Menurut Pak Habib dahulunya makam-makam yang ada di Masjid Angke sangat luas. Bahkan saking begitu luas makam Masjid Angke, jumlahnya itu puluhan hektar. Ini adalah hal yang wajar karena daerah ini sudah hampir 600 tahun berdiri. Keberadaan makam-makam tersebut kini banyak yang hilang. Bahkan saat kami ngobrol, Pak Habib mengatakan bahwa tempat duduk kamipun sebenarnya adalah makam-makam. Wah, saya kaget dan "merinding" juga jika tempat yang saya duduki adalah makam-makam pada masa lalu. Namun beliau membesarkan hati kami, bahwa Insya Allah kita tidak semua salah, karena beliaupun sulit untuk mengidentifikasi makam makam yang hilang itu.

Yang menarik adalah, ketika saya menanyakan, kepada Pak Habib, kenapa Masjid Angke ini mirip dengan Masjid Demak?, beliau menjawab, "yang jelas memang mesjid ini mirip Demak", dan bukan Demak yang meniru tapi justru mesjid angke ini yang meniru, karena memang Masjid ini berkiblat pada Demak. Wah kaget juga saya mendengarnya. Namun berdasarkan nama-nama yang dimakamkan di area ini memang beberapa saya dapati merupakan pejabat Demak. Bahkan memang berdasarkan Kitab Al Fatawi, Keluarga besar Arya Jipang banyak yang dimakamkan ditempat yang bersejarah ini. Sayangnya memang kadang sejarah sering terkalahkan dengan waktu. Kini makam-makam yang sebenarnya jumlahnya sangat banyak itu, hanya tinggal beberapa puluh saja. Diantara sekian banyak makam yang diberikan datanya oleh Bapak Habib adalah :

DEPAN MASJID (SERAMBI BARAT)

1. Pangeran Syarif Hamid bin Abdurrahman Al Qodri
2. Eyang Tubagus Angke
3. Eyang Ja'far Asnan
4. Ibu Ratu Pembayun Fatimah binti Sultan Hasanuddin Banten
5. Raden Bambang Surya Kencana - Ibu Sri Dewi
6. Syarifah Aminah binti Pangeran Sayyid HUsein bin Umar Al Habsyi
7. Eyang Pupu Di Negoro(Pati)
8. Raden Wijayakusuma
9. Habib Sholeh bin  Muhammad Al Habsyi
10.Habib Sholeh bin Umar Al Habsyi
11. Pangeran Panembahan Agung Mataram
12. Syekh Kholilullah Akbar (Pasai)
13. Kumpi Imam Najihun (Pengurus Masjid I)
14. Pangeran Anom Diwiryo (kudus) -Raden Mas Agung (Demak)
15. Kumpi Mawil bin Kumpi Najihun (Pengurus Masjid II)
16. Kumpi Tamrin bin Kumpi Mawil bin Kumpi Najihun (Pengurus Masjid III)
17. Syekh Jalaluddin Al-Kurtubi
18. Syekh Maulana Al-Hinduan
19. Habib Baqir Al Habsyi
20. Kumpi Naseh
21. Kyai Mahfud (gunung pring Jawa Tengah)

BELAKANG MESJID (SERAMBI TIMUR)

22. Syekh Jafar (Waliyullah) - putra Tubagus Angke
23. Syekh Hamzah Zakaria
24. Ki Uyut Jaga Raksa
25. Syekh Abdul Jabbar
25. Umi Syarifah Maryam
26. Ibu Siti Badariah (Banten)
27. Syekh Liong Tan & Tubagus Anjani
28. Ny Tan Nio
29. Kumpi Abdullah (Pengurus  Masjid V)
30. Jidah Fatimah binti Abdullah
31. Jidah Hj. Asmirah binti Arsiman
32. Umi Siti Sa'diyah binti Haji Muhammad Ali
33. Haji Muhammad Ali (Pengurus Masjid ke VI)

Di Serambi Barat Mesjid ini saya banyak mendapatkan data yang cukup "mahal". Saya juga sempat bertanya, dimana sebenarnya makam Tubagus Angke apalagi beliau merupakan  keluarga besar Azmatkhan. Saya sengaja menanyakan nama yang satu ini, karena nama yang satu ini justru merupakan "tokoh kunci" pada daerah tersebut.  Sebelum Masjid Angke Berdiri pada tahun 1700an, Nama Angke sudah lebih dahulu terkenal. Tubagus Angke adalah Penguasa Jayakarta setelah Fattahillah. Pak Habib tersenyum ketika mendapat pertanyaan saya. Beliaupun memberikan Isyarat dimana keberadaan makam itu, dan ketika saya bisa langsung menebak "isyarat" itu, beliau tersenyum, namun beliau berpesan kepada saya, agar keberadaan makam itu "dirahasiakan". jika ingin tahu makam tersebut, siapapun mereka menurut beliau langsung saja menemui Pak Habib. Mendapatkan pesan seperti itu, terus terang sayapun sangat berat menuliskan keberadaan makam beliau disini. Namun saya cukup puas bisa memandangi salah satu penguasa legendaris Jayakarta ini.

Setelah sekian lama ngobrol saya kemudian pamit dengan banyak membawa oleh-oleh data dan foto-foto yang kini saya simpan di dokumentasi data yang saya miliki....

MELURUSKAN NASAB DAN SEJARAH PATI UNUS 2 (RADEN ABDUL QODIR BIN MUHAMMAD YUNUS/ADIPATI JEPARA), LELUHUR MASYARAKAT SUKAPURA & HUBUNGANNYA DENGAN KESULTANAN DEMAK


Mempelajari tentang sejarah Kesultanan Demak sangatlah menarik, Kesultanan Demak yang merupakan pelopor Kesultanan Islam Pertama dipulau Jawa, banyak sekali memiliki kekayaan cerita sejarah, baik yang bersifat tertulis maupun tradisi lisan, baik yang ditulis oleh para sejarawan nasional, lokal atau juga melalui cerita tutur para keturunannya.

Dari sekian cerita sejarah yang banyak beredar ditengah masyarakat Nusantara khususnya pulau Jawa dan Sumatra, ironisnya sisi kelam atau sisi kontroversial Kesultanan Demak lebih sekali dimunculkan ketimbang sisi dakwah Islamiah mereka. Sisi Kontroversial sepertinya lebih “disenangi” sebagian masyarakat kita, tidak “asyik” rasanya jika hal-hal yang bersifat kontoversial itu tidak dibicarakan.

Cerita kontroversial atau cerita kelam Kesultanan Demak akan semakin parah bila kita membaca buku BABAD TANAH JAWI. Buku yang sering dijadikan “rujukan” oleh sebagian masyarakat yang peduli sejarah Jawa ini sangat begitu detail menceritakan episode-episode “berdarah” tentang keluarga besar Raden Fattah yang menjadi tulang punggung dalam keberlangsungan Kesultanan Demak. Padahal jika kita baca secara teliti dan kritis, di Buku BABAD TANAH JAWI, akan banyak kita jumpai berbagai keanehan bahkan tulisan tulisan yang menyesatkan. Buku Babad Tanah Jawi adalah sebuah produk penjajah yang mengatasnamakan lokal. Isi dari buku ini benar-benar sangat mendiskriditkan keberadaan Walisongo dan juga khususnya Keluarga Besar Raden Fattah. Tidak sedikit cerita aneh dan menyesatkan yang saya dapati pada buku ini. Sering kali saya dapati cerita jika antar keturunan Raden Fattah katanya saling bunuh membunuh, padahal faktanya justru banyak sesama keturunan Raden Fattah malah sering mengikat tali persaudaraan terutama lewat jalur pernikahan, faktanya keturunan Raden Fattah banyak yang menjadi ulama ulama besar. Adalah hal yang aneh jika keluarga besar Raden Fattah yang merupakan keluarga didikan Walisongo justru terlibat bunuh membunuh. Dan salah satu biang keladi cerita ini adalah pada buku Babad Tanah Jawi yang diterbitkan oleh pemerintah kolonial belanda itu.

Diantara sekian cerita yang sering membuat saya bertanya tanya atau bahkan membuat bingung beberapa sejarawan adalah cerita sejarah tentang tokoh PATI UNUS. Selama ini dari pengamatan yang saya lakukan yang berkaitan dengan sejarah Pati Unus, telah terjadi pro dan kontra mengenai tokoh yang satu ini. Oleh karena itu demi pelurusan sejarah dan nasab tokoh yang satu ini, saya akan berusaha mengungkap siapakah sebenarnya tokoh yang dimaksud dengan Pati Unus itu.

Dalam sejarah Kesultanan Demak, Pasca wafatnya Raden Fattah pada tahun 1518 Masehi, para Wali mengadakan sidang untuk mengangkat pengganti Raden Fattah. Raden Fattah sendiri dalam riwayat ulama ahli nasab yang bersanad memilik anak sebanyak 15 orang, terdiri dari 13 putra dan 2 orang putri. Data ini sekaligus membantah sejarah, yang sering menulis jika Raden Fattah hanya mempunyai anak 6 orang saja. 15 anak Raden Fattah ini berasal dari 4 orang istri. Data ini juga sekaligus menegaskan jika Raden Fattah mempunyai anak! Terutama anak laki laki. Hal ini kami tegaskan kembali, karena sampai saat ini kami sering menemukan pendapat yang dilontarkan beberapa oknum yang berani mengatakan jika Raden Fattah tidak punya anak laki-laki,  bahkan yang lebih tragis lagi, dengan teganya mereka mengatakan jika semua anak laki laki Raden Fattah yang selama ini telah mahsyur sebagai anak kandung justru dianggap hanya sebagai anak angkat.  Lebih tidak arif lagi orang orang tersebut mengatakan jika nasab Raden Fattah statusnya Majhulun Nasab (istilah nasab yang aneh dan kasar). Raden  Fattah adalah seorang Sultan Islam, tentu beliau diangkat menjadi Sultan dikarenakan berbagai kelebihannya termasuk nasabnya, seorang Sultan tidaklah mungkin diangkat jika nasabnya tidak jelas, sudah tentu anggota walisongo akan mencari nasab yang mulia. Dan sudah tentu sebagai Sultan beliau juga sudah mempersiapkan penerusnya, terutama para anak anaknya. Kesultanan Demak azasnya adalah Islam, dan sudah tentu pemimpin yang harus diangkat adalah laki-laki, apalagi ini adalah kesultanan (baca kitab Ahkamus Sultoniyah yang disusun oleh Al Mawardi). Dan tentu yang bisa dijadikan rujukan dalam pengangkatan Sultan Demak selanjutnya itu adalah sidang yang diadakan oleh Majelis Dakwah Walisongo.

Setelah diadakan sidang wali dalam rangka menggantikan posisi Raden Fattah, maka keputusan yang muncul adalah dengan naiknya Sayyid Muhammad Yunus sebagai Sultan Kedua pada Kesultanan Demak. Naiknya Sayyid Muhammad Yunus sebagai Sultan Demak II adalah hal yang tepat karena memang beliau ini sangat berbakat dan trampil dalam bidang pemerintahan, sekalipun beliau anak kedua (anak pertama adalah Sayyid Qomaruddin/Badruddin/Patih Rodin), namun karena Sayyid Muhammad Yunus ini lebih berbakat, cekatan dan trampil maka dipilihlah beliau menggantikan Raden Fattah, sedangkan Sayyid Qomaruddin/Badruddin sendiri tidak dipilih karena beliau memiliki riwayat kesehatan yang kurang baik.

Sayyid Muhammad Yunus ini dahulunya adalah seorang Adipati pada beberapa wilayah Demak. Setelah beliau naik menjadi Sultan gelarnya adalah Sultan Yunus Surya/Sultan Demak II/Sultan Alam Syal Ak Akbar II. Adapun nama yang dikenal pada diri beliau adalah Patih Unus, Pangeran Seberang Lor.

Lantas dimana letak kontroversi atau kebingungan pada tokoh yang bernama Patih Unus ini?

Ternyata dari sejarah demak yang saya pelajari terutama sejarah dan nasab yang bersumber dari ulama ahli nasab, saya mendapati fakta dan data  jika nama Patih Unus  tidak satu orang! Nah lho, kok bisa? Ya bisa kenapa tidak???  Kenyataannya dalam catatan ahli nasab Keturunan Walisongo, ternyata nama Pati Unus memang ada dua orang dalam sejarah Kesultanan Demak. Siapa saja mereka itu? Mari kita kupas satu persatu.

Yang pertama adalah Sayyid Muhammad Yunus bin Raden Fattah bin Abdullah Umdatuddin bin Ali Nurul Alam/Maulana Malik Israil. Leluhur Raden Fattah yang berada digenerasi 19 dari Rasulullah SAW adalah Amir Abdullah bin Abdul Malik Azmatknan dari Kesultanan Naserabad India lama. Yang pertama ini adalah Sultan Demak II, dahulunya beliau merupakan Patih dan juga sempat menjadi Adipati di beberapa wilayah dalam Kesultanan Demak. Ia sebelum menjadi Sultan Demak II ikut membantu pemerintahan ayahnya, sehingga terkadang beliau disebut dengan Patih Unus. Dalam sejarah Pati Unus atau Sultan Yunus Surya atau Sultan Demak II ini saya tidak akan terlalu panjang lebar membahasnya, justru yang akan panjang lebar saya bahas adalah nasab dan sejarah tokoh yang namanya mirip dengan beliau ini.

Yang Kedua (inilah yang akan kita bahas secara lebar). Sebenarnya pembahasan Pati Unus yang dibawah ini sudah kita dapati dari berbagai sumber tertulis yang ada, oleh karena itu saya justru akan menulis pada sisi yang lain, terutama sisi nasab dan sisi sejarah yang jarang diungkap banyak orang. Bagi saya sisi ilmu nasab dan sejarah yang bersumber dari Ulama yang bersanad itu lebih kuat kredibilitasnya dibandingkan mereka yang tidak mempunyai sanad, apalagi mereka yang percaya dan “pasrah” terhadap data buatan Penjajah kolonial dan pujangga yang non Islam dan penulis penulis yang tidak jelas.

Sosok Pati Unus yang kita akan bicarakan ini adalah Raden Abdul Qodir bin Raden Muhammad Yunus bin Abdul Khaliq Al Idrus bin Muhammad Al Alusy bin Syekh Abdul Muhyi Al Khairi Azmatkhan. Semua leluhur dari Raden Abdul Qodir adalah ulama besar, pengembara dan pendakwah sejati.  Rata-rata makam para leluhur Raden Abdul Qodir ini tersebar diberbagai tempat yang jauh seperti Palestina, Iran,  Mekkah, Madinah. Dan perlu juga diketahui yang dimaksud FAM AL IDRUS yang dipakai oleh buyutnya Raden Abdul Qodir ini, tidaklah sama dengan FAM ALAIDRUS yang dipakai oleh keluarga besar keturunan AL Faqih Muqaddam. Kita perlu tahu, dalam perkembangan ilmu nasab tidak sedikit nama sebuah Fam sering mengalami  kemiripan atau kesamaan, tapi nasabnya berbeda. Sedangkan Sayyid Muhammad Yunus atau ayah Raden Abdul Qodir  yang disini adalah salah satu Adipati Jepara pada masa itu, beliau terkenal dengan Panggilan Wong Agung Jepara, itu menandakan jika Sayyid Muhammad Yunus ini bukanlah orang sembarangan. Adapun Leluhur dari Raden Abdul Qodir ini adalah Sayyid Alwi Faqih Khan bin Abdul Malik Azmatkhan dari Kesultanan Naserabad India Lama. Sayyid Alwi Faqih Khan ini adalah adik dari Amir Abdullah bin Abdul Malik Azmatkhan.  Data nasab ini kami dapati dari Kitab Al Mausuuah  Li Ansaabi Al Imam Al Husaini yang ditulis oleh Al Allamah Sayyid Bahruddin Azmatkhan Al Hafiz. Data nasab yang ditulis oleh Sayyid Bahruddin ini juga sekaligus mengklarifikasi data nasab Raden Abdul Qodir bin Muhammad Yunus  yang selama ini beredar dan diketahui oleh beberapa orang yang menulis jika Keluarga Besar Raden Abdul Qodir bin Muhammad Yunus berasal dari Imam Muhammad bin Ali Atau Al Faqih Muqoddam, ataupun juga berasal dari nasab Jaka Tingkir. Versi dari Al Faqih Al Muqaddam atau Versi Jaka Tingkir bukanlah versi nasab, versi tersebut kemungkinan besar versi tautan nasab atau versi  hubungan keilmuan. Keluarga Besar Raden Abdul Qodir dalam catatan nasab keluarga besar Azmatkhan khususnya catatan nasab dari Sayyid Bahruddin adalah murni berasal dari keturunan Sayyid Abdul Malik Azmatkhan. Leluhur Raden Abdul Qodir yang benama Sayyid Alwi Faqih khan (Azmatkhan) adalah adik dari Sayyid Amir Abdullah Azmatkhan. Sayyid Amir Abdullah Azmatkhan adalah leluhur para Walisongo, sedangkan Sayyid Alwi Faqih Khan (Azmatkhan) leluhur beberapa Kesultanan dan juga beberapa tokoh ulama terpandang di Nusantara. Nah karena sosok yang terkenal disini adalah Sayyid Muhammad Yunus (ayah Raden Abdul Qodir), maka Raden Abdul Qodir yang merupakan anak dari Sayyid Muhammad Yunus atau Wong Agung Jepara ini sering dipanggil banyak orang pada masa itu sebagai Pati Unus. Artinya ketenaran nama ayah Raden Abdul Qodir, menyebabkan dirinya dipanggil dengan nama ayahnya. Kenapa dia dipanggil sebagai Pati Unus? Karena dia adalah seorang Senopati pada Kesultanan Demak. Kenapa beliau (Raden Abdul Qodir) bisa menjadi Senopati pada Kesultanan Demak? Ya karena beliau disamping sebagai tokoh yang trampil dalam bidang militer dan diplomasi, beliau juga terkenal cerdas dan pemberani, dan yang paling penting, beliau juga ternyata merupakan menantu Raden Fattah!. Istri pertama beliau adalah Ratu Mas Nyawa atau Syarifah Jamilah atau Putri Gunung Ledang bin Raden Fattah, dari pernikahan ini lahirlah Raden Abu Bakar yang mati syahid di Malaka. Ratu Mas Nyawa adalah adik dari Pangeran Sekar Seda Lepen yang satu ibu. Ratu Mas Nyawa ini adalah Bibi dari Arya Penangsang bin Pangeran Sekar Seda Lepen, artinya  Raden Abdul Qodir bin Muhammad Yunus adalah Paman dari Arya Penangsang yang merupakan Adipati Jipang Panolan. Adapun istri-istri dari Raden Abdul Qodir bin Muhammad Yunus ini adalah :

1. Syarifah Jamilah/Ratu Mas Nyawa bin Raden Fattah
2. Syarifah Zubaidah bin Sayyid Ismail Pulau Besar (Keturunan Syekh Abdul Qodir Jaelani di Malaka)
3. Ratu Ayu bin Sunan Gunung Jati

Untuk mempermudah mengidentifikasi kedua tokoh Pati Unus ini, kita sebut saja jika yang satu Patih Unus 1 sedangkan yang kedua Pati Unus 2. Sebenarnya kita sudah bisa membedakan antara Senopati dan Patih, namun karena terkadang penulisan itu sering dianggap sama, maka kita sebut saja mereka itu Pati Unus 1 dan Pati Unus 2.  Kemiripan kedua nama ini memang sering menjebak banyak orang untuk menilai jika sosok Pati Unus  itu hanya seorang, padahal sudah jelas jika mereka adalah orang yang berlainan baik sejarah ataupun nasab. Untuk tidak membuat kita bingung mari kita lihat catatan nasab yang sampai kepada Sayyid Abdul Malik Azmatkhan :

1. Muhammad Rasulullah SAW
2. Fatimah Azzahra
3. Husein As-Shibti
4. Ali Zaenal Abidin
5. Muhammad Al Baqir
6. Jakfar Asshodiq
7. Ali Al Uraidhi
8. Muhammad An-Naqib
9. Isa Arrumi
10. Ahmad Al Muhajir
11. Ubaidhillah
12. Alwi Al Mubtakir
13. Muhammad Maula Asshouma’ah
14. Alwi Atsani
15.Ali Khali’ Qosam
16. Muhammad Shohib Marbath
17.Alwi Ammul Faqih
18. Abdul Malik Azmatkhan
     19A.Abdullah Azmatkhan (Leluhur Sayyid Muhammad Yunus bin Raden Fattah)
     19B.Alwi Faqih Khan/Azmatkhan (Leluhur Raden Abdul Qodir bin Sayyid Muhammad Yunus)

Paparan nasab diatas jelas menunjukkan adanya perbedaan nasab, satu dari jalur anak tua satu lagi dari jalur anak bungsu.

Kiprah kedua Patih Unus ini memang tidak lama. Namun sekalipun  tidak lama, perjuangan mereka dalam menegakkan Islam itu sangat luar biasa, terutama sosok Pati Unus 2. Pada saat penyerangan ke II di Malaka tahun 1521 (sebelumnya tahun 1518 mengalami kegagalan karena kurangnya persiapan), Pati Unus 2 ditugaskan oleh Pati Unus 1 sebagai Sultan Demak III sebagai Panglima Perang Angkatan Laut Kesultanan Demak yang juga bergabung dengan Banten dan Cirebon. Penyerangan Ke II di Malaka itu terdiri dari 375 armada laut perang dan 10 ribu pasukan. Kapal kapal laut dibuat sedemikian rupa agar nanti bisa bergerak lincah diperairan Malaka. Saat itu Pati Unus 2 juga didampingi oleh Fattahillah dari Kesultanan Pasai. Sayangnya dalam penyerangan ini fihak Demak dkk mengalami kegagalan karena banyak faktor, dan tragisnya dalam penyerangan besar-besaran dibawah pimpiinan Raden Abdul Qodir atau Pati Unus 2 ini, beliau tertembak oleh fihak Portugis sehingga beliau akhirnya mati Syahid, begitu juga salah satu anaknya yang bernama Raden Abu Bakar Malaka. Tertembaknya Pati Unus 2 dan Anaknya yang bernama Raden Abu Bakar jelas sangat mengguncang hati seorang Ratu Mas Nyawa atau Syarifah Jamilah yang merupakan istri pertama Pati Unus 2. Pada penyerangan ke Malaka ini, Ratu Mas Nyawa ternyata mengikuti jejak perjuangan suaminya itu. Perlu diketahui bahwa Ratu Mas Nyawa ini bukanlah wanita sembarangan, beliau disamping istri Pati Unus 2 beliau ini juga wanita tangguh dalam perjuangan menegakkan Islam, beliau Ratu Mas Nyawa sangat cekatan dalam peperangan. Ratu Mas Nyawa disamping lembut, beliau ini juga ahli beladiri dan cerdas. Tidak heran syahidnya Pati Unus 2 tidak membuat diri Ratu Mas Nyawa ini jatuh secara mental, gelora jihad fisabillah bahkan tidak padam dalam diri Ratu Mas Nyawa ini. Pati Unus 2 sendiri akhirnya syahid didekapan istrinya itu. Dan sudah tentu Pati Unus 2 setelah mati syahid, beliau langsung dimakamkan di Malaka. Tidak mungkin seorang yang mati syahid tidak dimakamkan segera ditempat yang terdekat dari lokasi mati syahidnya, tidak mungkin jasad yang mati syahid dibawa pulang ke Demak, sudah pasti makam beliau berada di Malaka, oleh karena itu makam Pati Unus yang ada di Demak adalah Pati Unus 1 atau Sayyid Muhammad Yunus (Sultan Demak II) bin Raden Fattah.

Syahidnya Pati Unus 2 tentu sangat menggoncangkan mental pasukan demak, apalagi Fattahillah kala itu juga menyaksikan bagaimana canggihnya peralatan tempur pasukan portugis. Fattahillah yang kemudian menggantikan posisi Pati Unus 2 bersama  dengan Pasukan Demak, Banten, Cirebon  akhirnya lebih memilih mundur ketimbang banyak korban yang berjatuhan. Fattahillah lebih memilih menyelamatkan pasukan serta menarik kembali Ratu Mas Nyawa dan juga beberapa anak Pati Unus dari Istri yang lain ke Tanah Jawa. Tindakan ini dilakukan ini karena Fattahillah melihat kondisi medan yang sudah tidak kondusif, tentu sebagai fihak yang sangat faham dengan perairan Malaka, Fattahillah sangat heran kenapa kekuatan demak dkk bisa mudah ditebak oleh kekuatan Portugis yang sebenarnya tidak besar itu, lebih mengherankan lagi bagi Fattahillah, Pati Unus 2 yang merupakan sosok sentral dalam perang Malaka itu ternyata keberadaannya sudah diketahui oleh musuh dengan mudah, tentu sebagai orang yang kenyang dalam bidang militer, timbul tanda tanya besar dalam diri Fattahillah terhadap kondisi yang seperti ini, oleh karena itu dengan melihat kondisi yang sudah tidak stabil itu, Fattahillah lebih memilih mundur ketimbang terjebak dengan strategi licik yang diterapkan Portugis Penjajah Kafir  itu. Saya sendiri juga berani mengatakan bahwa Strategi Perang yang seharusnya rahasia dari Demak itu, tentu sudah bocor oleh mata-mata Portugis, entah siapa yang menjadi mata-mata itu. Padahal sebelum penyerangan besar besaran itu, Fihak Demak, Banten, Cirebon sudah merancangnya dengan begitu teliti, rapi dan rahasia, apalagi perairan Malaka itu sangat dikuasai medannya oleh banyak fihak termasuk Fattahillah.Tentu yang dikirim dalam perang Malaka II itu adalah orang-orang terbaik dan kapal kapal perang yang juga baik, namun apa boleh buat, strategi licik Portugis berhasil memporak porandakan kekuatan demak dkk, terutama kekuatan mental mereka, apalagi pasca tewasnya Pati Unus 2. Tentu Tewasnya seorang Pati Unus 2  sangat menggoncang pasukan demak dkk. Betapapun demikian sebagian pasukan Gabungan Demak, Banten, Cirebon masih sempat  mendarat dipantai Malaka dan akhirnya mereka bahkan bisa melakukan pertempuran sengit selama 3 hari 3 malam. Pertempuran antara Pasukan Gabungan Demak, Banten, Cirebon berlangsung juga dengan heroik, Pasukan Demak dkk berjuang dengan semangat jihad fisabilillah, gema takbir terus menggema dalam pertempuran yang luar biasa ini. Pertempuran 3 hari 3 malam ini betul betul membuat Portugis kewalahan. Tidak heran pertempuran ditahun 1521 Masehi tidak tertera secara detail dalam sejarah Portugis (kasus ini sama seperti pertempuran di Sunda Kelapa tahun 1527 yang tidak pernah tercatat dengan detail dalam sejarah Portugis, mungkin mereka malu mengakui fakta ini).

Pasca syahidnya Pati Unus 2 beserta salah satu anak dari Ratu Mas Nyawa yang bernama Raden Abu Bakar, salah satu anak Pati Unus 2  yang berasal dari istri bernama Syarifah Zubaidah (Keturunan dari Syaikh Abdul Qodir Jaelani) bernama Raden  Abdullah Malaka/Raden Abdullah Wirawangsa berhasil meloloskan diri dari petaka dan jebakan di perang Malaka II itu. Raden Abdullah yang keberadaannya dicari cari Portugis berhasil meloloskan diri hingga sampai ke Jawa Barat dengan selamat. Keberadaan Raden Abdullah ini juga diikuti oleh beberapa bangsawan dari Kesultanan Melayu di Malaka yang tidak sudi tunduk pada kekuasaan Portugis. Dengan kesetiaan mereka ini, Raden Abdullah secara rahasia dikawal menuju Jawa Barat. Di Jawa Barat bersama dengan Raden Abdullah ini mereka berdakwah. Kelak dikemudian hari tempat mereka singgah dan menetap itu disebut  TASIKMALAYA (Danaunya Orang-orang Melayu/Malaya).

Raden Abdullah yang merupakan Anak kedua dari Pati Unus 2 ini akhirnya menetap di Jawa Barat khususnya daerah Sukapura (Tasikmalaya, hampir berdekatan dengan daerah Garut). Raden Abdullah dikenal di  Sukapura dengan nama RADEN ABDULLAH WIRAWANGSA/ TUMENGGUNG WIRADADAHA I. Beliau kemudian mempunyai anak yang bernama RADEN ANGGADIPA/TUMENGGUNG  WIRADADAHA III/DALEM SAWIDAK. Sedangkan RADEN ANGGADIPA ini mempunyai anak bernama PANGERAN ABDUL/RADEN ANGGADIPA 2 (PATIH PERTANIAN SUKAPURA, kemudian beliau mempunyai anak yang bernama Temunggung wiradadaha V. Semua nama yang disebutkan ini didaerah Beganjing Sukaraja Tasikmalaya.

Di Sukapura inilah akhirnya Raden Abdullah mempunyai banyak keturunan yang terdiri dari para ulama dan pejabat pemerintahan setempat maupun juga nasional. Dari Trah Raden Abdullah ini cikal bakal keturunan Pati Unus 2 bermunculan. Keturunan Raden Abdullah yang ada disini terkenal dengan nama KELUARGA BESAR SUKAPURA.  Sampai sekarang keturunan SUKAPURA Terus menjaga nasab mereka dengan rapi. Semua catatan keturunan Sukapura sangat terpelihara. Raden Abdullah Wirawangsa sendiri dalam sejarahnya cukup berjasa dan mempunyai hubungan baik dengan beberapa Pemimpin Kesultanan Demak, Banten, dan Cirebon. Tidak heran pada masa itu kiprah keluarga besar Raden Abdullah ini cukup harum dan cukup dikenal dimata keluarga besar Kesultanan Kesultanan tersebut, apalagi juga diketahui bahwa beliau juga mengikat tali pernikahan dengan beberapa kerabat kesultanan tersebut.

Jika Raden Abdullah Wirawangsa berhasil eksis dengan nasabnya, bagaimanakah nasib ibu tirinya yang bernama Ratu Mas Nyawa? Ratu Mas Nyawa pasca wafatnya Pati Unus 2, beliau kemudian menikah lagi dengan anak Sunan Gunung Jati, namun dengan suaminya yang kedua ini, ternyata juga tidak bertahan lama, karena suaminya tersebut  wafat dalam keadaan muda, namun beliau mempunyai anak. Setelah menjanda yang kedua kalinya. Ratu Mas Nyawa akhirnya menikah kembali dengan Fattahillah Sang Pahlawan Perang Sunda Kelapa. Fattahillah sendiri juga merupakan mertua dari Aria Penangsang bin Pangeran Sekar bin Raden Fattah. Ratu Mas Nyawa kelak dimakamkan di Gunung Sembung berdampingan dengan suaminya.

Bagaimana pula dengan keberadaan Sultan Yunus Surya atau Pati Unus 1  ?

Pada saat penyerbuan ke II di Malaka, Sultan Yunus Surya atau Sultan Demak II ini tetap menjalankan roda pemerintahan, namun sayangnya usia beliau ini memang tidak panjang, sehingga pemerintahannyapun kemudian digantikan oleh Sultan Trenggono. Usia Sultan Yunus Surya atau Sayyid Muhammad Yunus ini memang agak berdekatan dengan Pati Unus 2, baik tahun hidup dan wafatnya, sehingga wajar jika sosok mereka sering dianggap satu orang. Pati Unus 1 sendiri akhirnya dimakamkan berdampingan dengan ayahnya. Lantas bagaimana keberadaan keturunan Pati Unus 1 ini? Apakah beliau ini mempunyai anak?, atau tidak punya anak? (seperti yang ditulis dalam beberapa sejarah demak, bahwa Pati Unus 1 ini tidak punya anak). Berdasarkan data nasab kitab Al Mausuuah Li Ansabi Al Imam Al Husaini, ternyata Pati Unus 1 mempunyai anak, dan anak beliau ini ternyata mempunyai keturunan yang terus berlangsung sampai sekarang. Tidak naiknya anak Pati Unus 1 menjadi Sultan menggantikan ayahnya, karena memang beliau belum dewasa, dan setelah dewasapun beliau tidak tertarik menjadi Sultan, beliau lebih tertarik menjadi seorang ulama sufi ketimbang menjadi pejabat pemerintahan, keturunan dari Pati Unus 1 ini menyebar keberbagai daerah.

Kesimpulannya adalah sosok Pati Unus dalam sejarah Kesultanan Demak itu ada dua.

1. Raden Abdul Qodir bin Muhammad Yunus bin Abdul Kholiq AL Idrus yang berasal dari keturunan Alwi Faqih Khan bin Abdul Malik Azmatkhan
2. Raden Muhammad Yunus bin Raden Fattah bin Abdullah Umdatuddin bin Husein Jamaluddin yang berasal dari keturunan Amir Abdullah bin Abdul Malik Azmatkhan

Dua data ini sekaligus mengklarifikasi bahwa jalur nasab Keluarga Besar Pati Unus 2 atau Raden Abdul Qodir bukanlah berasal dari Al Faqih Muqaddam dan Jaka Tingkir, tapi murni berasal dari anak kedua Sayyid Abdul Malik Azmatkhan.

Kedua-duanya adalah Sayyid, Kedua-duanya Azmatkhan, kedua-duanya adalah Pejabat Penting Kesultanan Demak, kedua-duanya wafat dalam usia yang tidak berjauhan, kedua-duanya terkenal pemberani dan trampil dalam bidang militer dan tata negara. Raden Abdul Qodir sendiri adalah adik ipar dari Raden Muhammad Yunus. Kedua-duanya juga mempunyai keturunan yang terus eksis sampai sekarang

Sumber :

Al Mausuuah Li Ansaabi Al Imam AL Husaini, Sayyid Bahruddin Azmatkhan Al Hafizh & Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan (Mufti Kesultanan Palembang), Penerbit Madawis Jakarta, 2014.
Silsilah KH Raden Muhammad Zen (KebunSuuk Cikurutuk Cicalengka), KH Ahmad Dimyati, Penerbit Keluarga Besar KH Raden Muhammad Zen, 2014.

SEJARAH SINGKAT & NASAB ASSAYYID IBRAHIM ZAENUDDIN AL AKBAR AS-SAMARKANDY/IBRAHIM ASMOROKONDI, WALISONGO TERTUA DI JAWA TIMUR, LELUHUR BEBERAPA WALIYULLAH DARI TANAH SUNDA

Profil beliau jarang sekali diangkat, padahal dari beliaulah hampir 50 % walisongo itu muncul. 3 orang Walisongo senior adalah anak beliau, yaitu Sayyid Fadhol Ali Murtadho/Raden Santri/Sunan Gresik/Empu Prapanca (kakek Sunan Kudus), kemudian Maulana Ishak (ayah Sunan Giri) dan Sunan Ampel (ayah Sunan Drajat, Sunan Bonang), serta selain Walisongo juga ada anak beliau yang lain seperti Syarifah Zaenab (ibu Raden Fattah), Sultan Pamijahan 1 (leluhur Sunan Cipancar Garut), Syekh Pamijahan (Leluhur Syekh Abdul Muhyi Pamijahan), dan masih banyak lagi anak anak beliau yang merupakan ulama ulama besar.
Jika kita bicara siapa walisongo tertua, saya berani mengatakan jika As-sayyid Ibrahin Zaenuddin al Akbar As-Samarkandy/Ibrahim Asmoro beliaulah orangnya. Pada saat saya berziarah ke Sunan Ampel ditahun 2012, ada seorang penziarah yang mengatakan kepada saya, bahwa bagi orang yang sudah berziarah ke Sunan Ampel tapi tidak berziarah Ke Makam Ibrahim Asmoro, itu menurut dia kurang beretika, bagaimana mungkin anaknya dikunjungi tapi ayahnya tidak, Saya begitu dikasih data seperti itu, cukup kaget juga.
Pada tahun 2012 saat saya menuju dari makam Maulana Malik Ibrahim di gresik, lagi lagi saya ingat kata kata itu, sayangnya ketika selesai dari makam Sunan Giri menuju makam Sunan Bonang di Tuban, saya ketiduran dan memang sudah kelelahan, ketika pas mendekati kota Tuban, saya ditanya oleh salah satu penumpang mobil mengenai tujuan saya, saya katakan kalau saya mau ketuban, salah seorang penumpang menyayangkan saya, kata orang tersebut, kenapa anda tidak mampir dulu ke makam Ibrahim Asmoro? padahal beliau itu makam tertua dan ayahnya sunan ampel?, saya katakan, mungkin lain waktu kali pak....mereka tetap menyayangkan saya.
Terus terang pada waktu itu, saya kurang sekali mendalami tentang sejarah beliau ini, namun pasca saya selesai berziarah 9 wali ditahun 2012, saya langsung mempelajari sejarah dan nasab beliau ini, terus terang saya sangat menyesal ketika saya tahu jika Sayyid Ibrahim Asmoro ini adalah Ulama besar yang hebat. Begitu saya mempelajari sejarah beliau ini, saya tersentak hebat, dan betul betul menyesal karena terlambat mempelajari sejarah beliau, padahal jasa beliau dalam menyebarkan agama Islam di Nusantara ini tidak kalah hebatnya dengan walisongo yang lain. Saya lebih fokus untuk mempelajari walisongo yang sudah populer, padahal disamping Walisongo yang sudah populer itu, masih banyak lagi Walisongo yang lain, yang usianya jauh lebih tua dari Walisongo-walisongo yang populer itu.
Sayyid Ibrahim Zaenuddin Al Akbar As-Samarkandy Azmatkhan atau Ibrahim Asmorokondi, atau Ibrahim Asmoro adalah anak tertua dari Leluhur Walisongo yang awal yaitu Sayyid Husein Jamaluddin Jumadhil Kubro yang dimakamkan di Wajo. Sayyid Ibrahim Asmoro adalah anak ke 1 dari 19 bersaudara. Semua saudara beliau adalah ulama ulama besar diberbagai negara. Beberapa adik adiknya bahkan banyak menurunkan sultan sultan di Nusantara dan Melayu. Kita bisa bayangkan jika 18 saudaranya saja keturunannya banyak yang jadi ulama besar, apalagi beliau. Keluarga Besar Azmatkhan di Asia Tenggara ini memang identik dengan Keturunan Sayyid Husein Jamaluddin Jumadhil Kubro termasuk Sayyid Ibrahim Asmoro ini.
Sayyid Ibrahim ini di Jawa terkenal dengan panggilan IBRAHIM ASMORO. Terkadang ada yang menafsirkan jika Asmoro itu berkaitan dengan Cinta (dan memang beliau terkenal akan Kecintaannya kepada anak anaknya. Namun sebenarnya pengertian Asmorokondi, adalah perubahan kata kata dari As-Samarkandy. As-Samarkandy sendiri adalah sebuah wlilayah di Uzbekistan sekarang, sampai saat ini daerah itu masih ada. Kenapa beliau dinamakan Ibrahim As-Samarkandy? itu karena beliau banyak berdakwah diwilayah tersebut. Namun demikian beliau ini tidak hanya ditempat ini, beliau juga berdakwah dinegara negara lain, terutama Champa dan Jawa. Di Champa (kini masuk daerah Vietnam, Ibrahim Asmoro bisa menikah dengan putri bangsawan Champa pada masa itu, ini menandakan jika sosok Ibrahim Asmoro ini sangat disegani dan terpandang, bahkan salah satu putrinya yang bernama Syarifah Zaenab dinikahkan dengan Sultan Champa yaitu Sayyid Abdullah Umdatuddin hingga lahirnya Raden Fattah yang merupakan pendiri Kesultanan Demak. Artinya Sayyid Ibrahim Asmoro ini adalah kakek dari Raden Fattah dari jalur ibu.
Dari Champa Sayyid Ibrahim ini kemudian hijrah menuju Jawa dalam rangka Dakwah Islamiah, HIjrahnya Sayyid Ibrahim Asmoro ke Jawa (Majapahit, disamping berdakwah di Wilayah Majapahit, beliau juga menghindari kondisi Champa yang saat itu kurang begitu nyaman lagi dalam melakukan dakwah karena adanya rongrongan fihak fihak yang tidak senang dengan Islam. Kedatangan beliau ini didampingi oleh Walisongo yang lain seperti Sunan Ampel, Maulana Ishak serta Wali-wali yang lain. Sebagai seorang Wali Senior, tentu keberadaan beliau sangat dihormati oleh wali wali yang lain, apalagi jam terbang beliau lintas negara, sudah tentu pengalaman beliau dalam bidang dakwah sangat hebat. Oleh karena itu ketika beliau tiba di Majapahit, beliau diterima dengan hormat oleh Penguasa Majapahit pada masa itu. Penguasa Majapahit saat itu sangatlah kooperatif terhadap beliau ini dan juga walisongo yang lain. Di Majapahit bahkan Sayyid Ibrahim ini pernah menjadi Mufti. Kedudukan beliau yang menjadi Mufti ini tentu memudahkan anak anaknya dalam kegiatan dakwah di Pulau Jawa, tidak heran nama-nama Sunan Ampel, Maulana Ishak, dan Sayyid Fadhol Murtadho, menjadi orang orang penting pada kerajaan majapahit ini. Sayyid Fadhol Ali Murtadho bahkan menjadi pujangga hebat dengan nama EMPU PRAPANCA, sayangnya hasil karya dari beliau ini banyak yang dibelokkan oleh penulis penulis yang tidak senang dengan dakwah Islamiah, bahkan karya karya agung beliau banyak yang sudah tidak asli lagi seperti Kitab Negara Kertagama.
Sayyid Ibrahiim Asmoro sendiri mempunyai anak 18 orang, tersebar diwilayah Asia Tenggara, namun yang terbanyak adalah di Jawa dan Malaysia. Adapun semua anak Sayyid Ibrahim Asmoro ini adalah pendakwah, diantara sekian anak beliau itu, ternyata ada dua orang anaknya juga menjadi Penyebar Islam di daerah Jawa Barat, sayangnya hal ini jarang diungkap, padahal kiprah mereka tidak kalah hebatnya. Kedua putra beliau yang hijrah ke Jawa Barat untuk berdakwah itu adalah Syekh Pamijahan dan Sultan Pamijahan 1, kelak kedua Waliyullah keturunan Sayyid Ibrahim Asmoro ini menurunkan banyak waliyullah yang tersebar dibeberapa wilayah Jawa Barat seperti Garut diantaranya adalah Sunan Cipancar Limbangan Garut dan juga Syekh Abdul Muhyi Pamijahan.
Jika diteliti lebih jauh lagi banyak sekali keturunan dari Sayyid Ibrahim Asmoro ini menjadi ulama besar dan Waliyullah yang bertebaran di Tanah Nusantara dan Melayu, tinggal kita saja mau apa tidak mempelajari siapa siapa saja anak beliau itu. Yang jelas dari beberapa anak yang sebutkan itu saja, Islam di Nusantara bisa berjaya.
Adapun Nasab dari beliau itu adalah sebagai berikut :
1. Sayyidina Muhammad Rasulullah SAW
2. Sayyidah Fatimah Az-Zahra
3. Al-Imam Husein As-Shibti
4. Al-Imam Ali Zaenal Abidin
5. Al-Imam MUhammad Al Baqir
6. Al-Imam Jakfar As-Shodiq
7. Al-Imam Ali Al Uraidhi
8. Al-Imam Muhammad An-Naqib
9. Al-Imam Isa Arrumi
10. Al-Imam Ahmad Al Muhajir
11. Al-Imam Ubaidhillah
12. Al-Imam Alwi Almubtakir
13. Al-Imam Muhammad Maula Ashouma'ah
14. Al-Imam Alwi Shohib Baitu Jubair
15. Al-Imam Ali Kholi' Qosam
16. Al-Imam Muhammad Shohib Mirbath
17. Al-Imam Alwi Ammul Al Faqih 
18. Al-Imam Abdul Malik Azmatkhan 
19. As-Sayyid Al-Amir Abdullah Azmatkhan
20. As-Sayyid Sultan Ahmad Syah Jalaluddin Azmatkhan 
21. As-Sayyid Husein Jamaluddin Jumadil Kubro Azmatkhan 
22. As-Sayyid Ibrahim Zaenuddin Al Akbar As-Samarkandy

Inilah nasab dari beliau, semoga nasab ini bisa menjadi tawassul bagi mereka yang merupakan keturunan dari Wali Besar dari Tanah Jawa ini
Wallahu A'lam Bisshowab.....
Sumber :
Al Mausuuah Li Ansaabi Al Imam Al Husaini, Oleh Sayyid Bahruddin Azmatkhan, Penerbit Madawis, 2014

PUNCAK KEBESARAN PONDOK PESANTREN GEBANG TINATAR TEGALSARI PONOROGO

Oleh : As-Sayyid Adi Sucahyono Azmatkhan

Dalam sejarah perkembangan Pondok Pesantren Tegalsari sejak didirikan Kyai Ageng Muhammad Besari/Kyai Hasan Besari I, hingga ke generasi cucunya Kyai Hasan Besari II Bin Muhammad Ilyas, Pondok Pesantren Tegalsari/Gebang Tinatar , mengalami masa puncaknya hingga mempunyai santri kurang lebih sekitar 10,000 orang dari berbagai penjuru daerah terutama disekitar Jawa. Sehingga banyak diantaranya para santri membangun pondokan di desa-desa sekitar Tegalsari diantaranya mereka banyak bermukim di desa Jabung/Nglawu, Bantengan dan lain-lain.
Desa Tegalsari adalah merupakan desa Perdikan sejak masa Sunan Kumbul/Pakubuwono II berkuasa kembali setelah sebelumnya nyantri di Pesantren Tegalsari, disebabkan beliau terusir dari Keraton akibat pemberontakan sekumpulan orang cina yang dipimpin oleh Raden Mas Garendi. Atas do’a dan usaha Kyai Ageng Muhammad Besari beserta para santri akhirnya Pemberontakan dapat ditumpas dan Sinuhun Sunan Kumbul dapat kembali berkuasa, sehingga hak Pengelolaan Tanah dan Pemerintahan desa Tegalsari diberikan kepada Kyai Ageng Tegalsari, serta dibebaskan dari pungutan Pajak selamanya hingga ke anak cucu.
Kyai Hasan Besari II, selain sebagai Ulama yang ber aqidah Ahli Sunnah wal Jama’ah serta mengajar para santri beliau juga merupakan Kepala Desa Tegalsari, dalam mengatur pemerintahan beliau selalu mengutamakan musyawarah untuk mufakat serta gotong royong, sehingga desa Tegalsari dikenal sebagai desa yang subur makmur, guyub-rukun, aman dan sentausa, semakin hari desa Tegalsari menjadi semakin banyak penduduknya, dakwah Syiar Islam semakin berkembang pesat sampai-sampai Pesantren Tegalsari dikenal dipenjuru pelosok daerah sekitarnya sebagai sumber ilmu Agama Islam. Diwaktu itu penduduk yang ketahuan mencuri dan tertangkap hukumannya dipotong jari tangannya dan yang berzina akan digebuki sampai 80 kali gebukan, sehingga desa Tegalsari menjadi desa yang aman dan tenteram, banyak diantara desa-desa disekitarnya ikut menerapkan peraturan seperti yang diajarkan dan dicontohkan oleh Kanjeng Rasul Muhammad SAW seperti halnya desa Tegalsari.
Berita bahwa Kyai Hasan Besari II, membuat dan menjalankan peraturan sendiri dalam mengatur desa yang dipimpinnya, serta dianggap menyimpang dari kaidah yang diberlakukan oleh Pemerintahan Sinuhun Keraton Surakarta, membuat Bupati Ponorogo segera melaporkan kejadian tersebut yang berujung Sinuhun Surakarta terkejut serta memerintahkan untuk segera menangkap dan membawa Kyai Hasan Besari II, untuk diperiksa dan diadili, sesampainya di Keraton Surakarta dilaksanakanlah sidang pengadilan, serta diputuskan, bahwa Kyai Hasan Besari II, bersalah serta dijatuhi hukuman selong/ buang/diasingkan keluar jawa.
Singkat cerita tibalah masa pelaksanaan hukuman buang atau diasingkan keluar pulau Jawa, Kyai Hasan Besari II, dibawa ke Kota Batavia/Jakarta, serta dinaikkan di Kapal Laut untuk diasingkan keluar Pulau Jawa, begitu jangkar Kapal diangkat serta layar sudah terkembang,
mendadak mesin kapal mogok tidak mau hidup, hingga mesin dicoba dihidupkan untuk beberapa kali tetapi tetap saja tidak mau hidup, padahal mesin kapal kondisi baik dan terawat, sungguh mengherankan dan tidak seperti lazimnya, kemudian atas inisiatip Penguasa, akhirnya Kyai Hasan Besari II diturunkan dari Kapal, serta mesin kapal laut dicoba untuk dihidupkan kembali dan ternyata mesin kapal tidak mogok, Kyai Hasan Besari II, dinaikkan kembali ketas Kapal Laut dan siap untuk berangkat, akan tetapi kemudian mesin Kapal Laut yang beliau tumpangi kembali mogok tidak mau hidup, dan kejadian tersebut sampai berulang hingga 3 kali, sehingga diputuskan Kyai Hasan Besari II tidak jadi diasingkan keluar Pulau Jawa, serta dibawa kembali ke Keraton Surakarta namun masih sebagai tawanan dan ditempatkan disalah satu ruang bangunan Masjid Agung Surakarta.

Ketika memasuki bulan Maulud, Kyai Subawaih yang tinggal di Pesantren Tegalsari, mewakili Kyai Hasan Besari II, untuk mengajar para santri selama beliau masih ditawan di Surakarta. Kyai Subawaih memberikan maklumat dan perintah agar para Santri pergi ke Surakarta untuk melihat “ Grebeg Maulud “ sekalian menengok Kyai Hasan Besari II, dikarenakan beliau mendengar berita bahwa Kyai Hasn Besari tidak jadi diasingkan keluar pulau Jawa, tetapi masih ditawan di dalam Masjid Agung Surakarta. Kurang lebih sebanyak 500 orang Santri laki-laki pergi menjenguk Kyai Hasan Besari II, di dalam Masjid AgungSurakarta mereka para Santri merasa iba dan banyak diantaranya yang meneteskan air mata melihat penderitaan gurunya, mereka memaksa untuk dapat diijinkan membuka rantai yang membelenggu tangan Kyai Hasan Besari, akan tetapi gurunya menasehati bahwasanya kalau Gusti Allah SWT, hendak melepaskannya bukan dengan jalan diputuskan borgolnya, akan tetapi yang melepaskannya haruslah orang yang membelenggu tangannya dari semula, jadi beliau hanya bisa pasrah menunggu keputusan yang diberikan Gusti Allah SWT.
Menyambut malam Maulud dan menghormati kelahiran Kanjeng Nabi Muhammad SAW, Kyai Hasan Besari juga menganjurkan kepada salah seorang Santri untuk menghadap dan meminta ijin kepada Penghulu Keraton Surakarta, agar dapat diperkenankan mengadakan pembacaan Perjanjen dan Shalawatan di dalam Masjid Agung Surakarta. Pada waktu itu belum banyak Ulama yang bisa membacakan Perjanjen dan Shalawatan, setelah ada ijin dari penghulu Keraton Surakarta, akhirnya untuk pertama kali Kyai Hasan Besari memimpin pembacaan dengan di iringi 500 orang Santri, sampai pada waktu tengah malam saat pembacaan asyroqol, suara Jama’ah Sholawatan terdengar ramai membahana namun sungguh mampu melunakkan relung-relung hati yang keras, suasana malam itu membawa atmosphere kesejukan hati dan kedamaian, banyak diantara jama’ah yang hadir menjadi haru dan meneteskan air mata.
Keadaan yang baru terlaksana ini, membuat puas hati dan senangnya para pinisepuh, punggawa dan seluruh keluarga besar keraton Surakarta, tak terkecuali salah seorang puteri Kanjeng Sinuhun Surakarta merasa tertarik dengan keindahan suara Kyai Hasan Besari, hingga meminta pada ayahandanya untuk dapat berjodoh dengan Kyai Hasan Besari, jika tidak lebih baik membujang seumur hidup. Sebenarnya puteri sudah di jodohkan dengan puteranya Pangeran Yogyakarta, tetapi puteri Sinuhun Surakarta tetap berkeras ingin dinikahkan dengan Kyai Hasan Besari, saat menghadap dan ditanya mengenai perjodohannya dengan salah seorang puteri Sinuhun Surakarta, Kyai Hasan Besari berusaha menolak dengan halus, karena sebagai Ulama yang kerjanya tiap hari hanya mengajar para santri, tentu tidak mempunyai penghasilan yang layak untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup seperti halnya saat tinggal di dalam Keraton, mendengar alasan penolakan halus Kyai Hasan Besari akhirnya Sinuhun Surakarta memberikan sawah seluas 100 bahu, sebagai bekal selama hidup berkeluarga, Kanjeng Sinuhun Surakarta sendiri berkenan sebagai wali dan menikahkannya, walimatul nikah diselenggarakan dan dihadiri oleh beberapa kerabat Keluarga besar Keraton Surakarta, para punggawa, pinisepuh serta para santri dari Tegalsari, setelah sepekan selesai pernikahan akhirnya Kyai Hasan Besari beserta isteri mohon ijin untuk pulang kembali ke Tegalsari karena sudah lama meninggalkan Pesantren, serta kembali untuk mengajar para santri.
Singkat cerita setelah beberapa waktu lamanya usai pernikahan Puteri Sinuhun Surakarta dengan Kyai Hasan Besari, salah seorang Paman dari Kanjeng Sinuhun Surakarta datang berkunjung dan mempertanyakan perihal pernikahan cucunya dengan seorang Ulama dari Tegalsari yang dianggap tidak sederajat, putri seorang Raja layaknya juga menikah dengan putra seorang Raja, Paman Sinuhun Kesulthanan Surakarta ingin bertemu dan mengenal lebih dekat dengan Kyai Hasan Besari, sehingga diperintahkan utusan untuk menjemput Kyai Hasan Besari bersama istri untuk datang menghadap ke Keraton Surakarta.
Beberapa hari kemudian sampailah utusan di Pesantren Gebang Tinatar Tegalsari dan dihadapan Kyai Hasan Besari disampaikan bahwasanya beliau beserta istri diminta untuk datang menghadap ke Keraton Surakarta, Paman Sinuhun Sulthan Surakarta, sedang berkunjung dan ingin mengenal Kyai Hasan Besari, kereta dan kuda sudah disiapkan untuk diperintahkan berangkat Kyai Hasan Besari mempersilahkan istrinya untuk berangkat lebih dahulu dan kuda untuk Kyai Hasan Besari dibawa kembali saja.

Setelah beberapa hari perjalanan sampailah Nyai Hasan Besari beserta rombongan pengawal di Keraton Surakarta dan mendapatkan Kyai Hasan Besari ternyata sudah lebih dahulu sampai di Keraton dan bertemu dengan Sinuhun serta Eyangnya. 
Singkat cerita dari pertemuan Kyai Hasan Besari dengan Paman Sinuhun Surakarta adalah merupakan cerita yang terlalu dibesar-besarkan dan kemungkinan besar bukan seperti itu cerita sesungguhnya ( versi Tulisan Kyai Purnomo ), tetapi kesimpulanya dari pertemuan dengan Paman Sinuhun Surakarta adalah silaturahmi untuk mengenal lebih dekat baik secara silsilah keturunan, nasab dan sejarah Keluarga Kyai Hasan Besari pastinya.

Kyai Hasan Besari adalah salah seorang anggota Wali Songo Angkatan ke-10, Periode tahun 1751 – 1897 M, diantara anggota lainnya adalah sbb ;
1. Pangeran Diponegoro [ menggantikan gurunya, yaitu: Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan] 
2. Sentot Ali Basyah Prawirodirjo, [menggantikan Syaikh Shihabuddin Al-Jawi]
3. Kyai Mojo, [Menggantikan Sayyid Yusuf Anggawi [Raden Pratanu Madura]
4. Kyai Kasan Besari, [Menggantikan Syaikh Haji Abdur Rauf Al-Bantani]
5. Syaikh Nawawi Al-Bantani. …
6. Sultan Ageng Tirtayasa Abdul Fattah, [menggantikan kakeknya, yaitu Sultan Abulmufahir Muhammad Abdul Kadir]
7. Pangeran Sadeli, [Menggantikan kakeknya yaitu: Sultan Abulmu'ali Ahmad]
8. Sayyid Abdul Wahid Azmatkhan, Sumenep, Madura [Menggantikan Syaikh Abdul Ghafur bin Abbas Al-Manduri]
9. Sayyid Abdur Rahman (Bhujuk Lek-palek), Bangkalan, Madura, [Menggantikan kakeknya, yaitu: Sayyid Ahmad Baidhawi Azmatkhan]

Semua anggota Walisongo Angkatan ke-10, selalu aktif dalam Syiar Dakwah Islam, maupun Jihad melawan kaum Penjajah Belanda, sehingga tidak mengherankan apabila Perang Diponegoro 1825 – 1830 M, merupakan Perang Jawa terbesar yang mampu menguras Keuangan Belanda hingga hamper Bangkrut, setelah Pemerintahan gubernur Jendral Hindia Belanda Deandels dianggap gagal, untuk selanjutnya Penjajah Kolonial Kerajaan Belanda, mengirimkan Gubernur Jendral baru yang bernama Thomas Stampford Raffles ( dianggap penemu bunga bangkai/Rafflesia Arnoldy ), dengan kekejaman yang sama Raffles menerapkan Politik Tanam Paksa dan Kerja Paksa ( Rodi ), sehingga penderitaan rakyat semakin tak tertahankan, pada tahun 1830 – 1900 M [Majelis Dakwah Wali Songo dibekukan oleh Pemerintah Penjajah Kolonial Belanda, dan banyak diantaranya para ulama’ keturunan Wali Songo yang dipenjara dan dibunuh].
Nasab Kyai Hasan Besari adalah sebagai berikut :

1. Sayyidina Muhammad Rasulullah SAW
2. Sayyidah Fatimah Azzahra
3. Sayyidina Al Imam Husein As-Shibti
4. Al Imam Ali Zaenal Abidin/Ali Al Ausath
5. Al Imam Muhammad Al Baqir
6. Al Imam Jakfar Shodiq
7. Al Imam Ali Al Uraidhi
8. Al Imam Muhammad An-Naqib
9. Al Imam Isa Ar-rumi
10. Al Imam Ahmad Al Muhajir
11. Al Imam Ubaidhilah/Abdullah
12. Al Imam Alwi Mubtakir/Alwi Al Awwal
13. Al Imam Muhammad Maula Ashouma’ah
14. Al Imam Alwi Shohib Baitu Jubair/Alwi Atsani
15. Al Imam Ali Kholi’Qosam
16. Al Imam Muhammad Shohib Marbath
17. Al Imam Alwi Ammul Faqih
18. Al Imam Abdul Malik Azmatkhan
19. As-Sayyid Al Amir Abdullah Azmatkhan
20. As-Sayyid Sultan Ahmad Syah Jalaluddin Azmatkhan
21. As-Sayyid Husein Jamaluddin Jumadil Kubro Azmatkhan 
22. As-Sayyid Ali Nurul Alam Azmatkhan/Maulana Malik Israil/Sultan Qonbul/Arya Gajah Mada
23. As-Sayyid Sultan Abdullah Umdatuddin Azmatkhan/Syarif Abdullah/Wan Bo Teri teri/Sultan Champa
24. As-Sayyid Hasan Azmatkhan/Raden Fattah/Sultan Syah Alam Al Akbar Sayyidin Panatagama/Sultan Demak I
25. As-Sayyid Abdurrahman Azmatkhan/Sultan Ahmad Abdul Arifin/Sultan Trenggono/Sultan Demak III
26. As-Sayyid Mukmin Azmatkhan/Sunan Prawoto
27. As-Sayyid Musthofa Azmatkhan/Pangeran Wirasmara
28. As-Sayyid Ahmad Dinnar Azmatkhan/Pangeran Demang/ Ratu Djalu
29. As-Sayyid Zainal Arifin Azmatkhan/Kyai Ageng Jenggolo/Raden Demang
30. As-Sayyid Abdul Mursyad Azmatkhan/Kyai Ageng Tukum/Raden Gajah Gamada
31. As-Sayyid Ali Anom Besari/Kyai Ageng Gerabahan/Raden Neda Kusuma
32. As-Sayyid Muhammad Besari Azmatkhan/Kyai Ageng Tegalsari/Kyai Hasan Besari I
33. As-Sayyid Muhammad Ilyas Azmatkhan. 
34. As-Sayyid Hasan Besari Azmatkhan Al Husaini/Kanjeng Kyai Hasan Besari II.

Kyai Hasan Besari wafat dalam usia 100 tahun, beliau dianggap banyak berjasa dalam Syiar Dakwah Islam khususnya daerah Jawa Timur Kearah Barat bagian selatan hingga ke lereng-lereng Gunung Lawu dan sebagian lereng Gunung Wilis bagian selatan, dikarenakan saking gencarnya Dakwah Islam beliau banyak difitnah dengan segala macam tuduhan-tuduhan yang menyakitkan, hingga saat ini terekam jelas dalam “ SERAT GATOLOCO “ yang tidak jelas siapa penulisnya tapi anehnya begitu popular, mungkin karena isinya memuat banyak hal Kontraversi sehingga lebih menarik minat pembaca, kalau kita membaca judulnya sekilas orang akan mudah tertarik untuk segera ingin tahu apa sih isinya, waah bikin penasaran pastinya.

Meskipun Dewan Dakwah Walisongo Angkatan ke-10, telah dibekukan oleh Penjajah Kolonial Belanda namun beliau tidak pernah berhenti dalam menyiapkan generasi baru untuk pengkaderan dalam meneruskan perjuangan dan perlawanan terhadap penjajah Belanda, diantara generasi penerus perlawanan terhadap penjajah diantaranya adalah Sayyid Bagus Burhan Azmatkhan/Raden Ronggo Warsito beliau meninggal karena diracun diduga beliau sebagai Ulama yang banyak menulis Kitab yang anti terhadap penjajah Belanda dan dianggap membahayakan kedudukan Belanda, serta Sayyid HOS Cokroaminoto Azmatkhan salah seorang pendiri maupun pengurus Organisasi Syarikat Dagang Islam/SDI, kemudian Syarekat Islam/SI, dari beliau banyak lahir tokoh-tokoh muda dalam Pergerakan Kemerdekaan Indonesia diantaranya Ir. Sukarno, SM. Kartosuwiryo, Moeso dan Tan Malaka.
Wallahu’alam bi showab
Sumber :
1. Buku Sejarah/Manaqib Kyai Ageng Muhammad Besari oleh Kyai Muhammad Purnomo.
2. As - Sayyid Bahruddin bin Abdurrozaq Azmatkhan dan As-Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan Al Hafidz, dalam Kitab Al Mausuu’ah Li Ansaabi Al Imam Al Husaini , Halaman 625 Edisi 24 jilid 1 tahun 2014, jakarta, Penerbit : Majelis Dakwah Walisongo.